Syafaat dan Tawassul: Haramkah ?

Maret 25, 2007 at 12:46 pm 55 komentar

Wahai wahabiyun Al-majnunun…. Lihatlah…. dan apakah kalian tidak pernah membaca dan mentelaah Al-quran..? baca dan telitilah kisah para nabi dan wali-wali Allah swt dalam Al-quran. Gunakan nalar dan fitroh suci kalian….. Jangan asal mendakwa dan gemar mengkafirkan mazhab lain..? Sirnakan segera klaim dan kata-kata jorok TBC [Tahayul, Bid’ah dan Churafat] itu. jika kalian masih ingat kisah nabi Isa as yang menyembuhkan orang sakit tatkala salah satu dari ummatnya bertawassul kepadanya supaya di sembuhkan oleh Allah dari penyakitnya, [Al-quran, Ali Imron: 38-39 atau Al-anbiya: 81] atau jika kalian masih ingat cerita tentang anak-anak Nabi Ayyub as yang meminta kepada ayahandanya supaya Allah mengampuni dosa-dosanya karena mereka telah berbuat maksiyat kepada Allah swt dengan menganiaya Nabi Yusuf as [Al-quran, Yusuf: 97] maka bersegeralah kalian ayyuhal wahabiyyun……..bertaubat..sebelum azab Allah swt. turun diatas kepala kalian!!.

Syafaat dan Tawassul: Haramkah ?

Salah satu akidah islamiyah yang hampir semua mazhab Islam menghalalkanya dan sudah menjadi sunnah nabi adalah Syafaat dan Tawassul. Dalam makalah pendek ini kita akan membahas tentang syafaat dan tawassul dilihat dari Al-quran dan hadist supaya kita tidak terjebak dengan klaim palsu dan kata-kata JOROK sebagaimana dzikir-dzikir kaum KHURAFAT, BID’AH dan SYIRIK dari Jammah Takfiriyah ala pengikut Muhammad Abdul Wahhab al-Yahud atas sunnah-sunnah nabi. Muhammad Abdul Wahhab dalam kitab Kasyfu Subhhat fi At-tauhid li Muhammad bin Abdul Wahhab cetakan Al-qhohirah, Halaman 6 dikatakan bahwa barangsiapa yang bertawassul kepada auliya Allah dan hamba-hamba yang dicintai Allah adalah Musrik [Lihat juga kitab Tafsir Al-fatihah li Muhammad bin Abdul Wahhab, cetakan Ar-riyadh, Maktabah Al-haramain cetakan pertama 1407 H]. atau lihat juga klaim Wahabi atas musriknya orang yang bertaawassul dan minta syafaat dari auliya Allah dalam kitab Tarikh Al-mamlakah As-saudiyah li Salahuddin Al-mukhtar, cetakan Beirut, jus 2 Halaman 344.

Syafaat dan Tawassul dalam Al-quran

Benarkah tawassul dan Syafaat itu haram..??. Jika benar bahwa klaim mazhab takfiriyah ini benar bahwa tawassul dan syafaat adalah haram, pelakunya adalah musrik dan harus di panggang di api neraka maka, semua anbiya dan auliya Allah adalah musrik dan pasti masuk neraka. Kenapa demikian..?. Sebab anbiya dan auliya Allah pun ternyata melakukan Tawassul dan memberikan Syafaat. Loh kok bisa..??

Wahai wahabiyun Al-majnunun…. Lihatlah…. dan apakah kalian tidak pernah membaca dan mentelaah Al-quran..? baca dan telitilah kisah para nabi dan wali-wali Allah swt dalam Al-quran. Gunakan nalar dan fitroh suci kalian….. Jangan asal mendakwa dan gemar mengkafirkan mazhab lain..? Sirnakan segera klaim dan kata-kata jorok TBC [Tahayul, Bid’ah dan Churafat] itu. jika kalian masih ingat kisah nabi Isa as yang menyembuhkan orang sakit tatkala salah satu dari ummatnya bertawassul kepadanya supaya di sembuhkan oleh Allah dari penyakitnya, [Al-quran, Ali Imron: 38-39 atau Al-anbiya: 81] atau jika kalian masih ingat cerita tentang anak-anak Nabi Ayyub as yang meminta kepada ayahandanya supaya Allah mengampuni dosa-dosanya karena mereka telah berbuat maksiyat kepada Allah swt dengan menganiaya Nabi Yusuf as [Al-quran, Yusuf: 97] maka bersegeralah kalian ayyuhal wahabiyyun……..bertaubat..sebelum azab Allah swt. turun diatas kepala kalian!!.

Ummat nabi Isa as yakin bahwa Allah swt memberikan kekhususan dan kelebihan atas nabinya ketimbang ummatnya. Ingat bahwa para nabi Allah dan auliya Allah adalah orang yang taat kepada Allah swt sehingga mereka layak mendapatkan maqam untuk memberikan syafaat kepada umatnya. Bukankah Allah swt dalam hadist Qudsi berkata:”Ati’ni takum misli ida arada syaian an taqula kun fayakun..” .Taatilah Aku maka, engkau akan seperti Aku. Jika menginginkan sesuatu maka cukup bagikmu “jadi” maka jadilah. Dan maqam kun fayakun ini dimiliki oleh Nabi Allah dan auliya Allah.

Kisah yang sama berkenaan dengan pemberian syafaat Kanjeng Nabi saw atas ummatnya juga tercatat dalam Al-quran lihat [Al-quran, An-nisa: 64]. Kalau para nabi Allah dan ummat mukmin terdahulu juga melakukan hal itu kenapa kita dengan sembrono dan latah mengkafirkan perbuatan itu..??

Syafaat dan Tawassul dalam Hadist

Belum pernah ada catatan sejarah satu pun dari para ulama Islam baik dahulu maupun sekarang yang mengatakan haramnya tawassul kecuali dari Muhammad Abdul Wahhab dan Ibnu Tai-miyyah laknatullah alaihima dan cs nya. Banyak sekali riwayat yang memperbolehkan dan menganjurkan untuk bertawassul. Berikut ini beberapa contoh sedikit dari riwayat-riwayat tersebut:

Di riwayatkan oleh Usman bin Hanif: “Seorang laki-laki buta datang ke hadapan Rasulullah saw dan berkata, ‘Berdoalah kepada Allah supaya Dia menyembuhkanku.’ Rasulullah saw bersabda, ‘Jika kamu ingin, niscaya aku berdoa; namun jika kamu mau, kamu dapat sabar, dan itu lebih baik.’ Laki-laki buta itu berkata, ‘Berdoalah.’ Rasulullah saw memerintahkannya untuk berwudu dengan cara yang paling bagus, kemudian salat dua rakaat, lalu berdoa dengan doa sebagai berikut, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, dan menghadap kepada-Mu, dengan perantaraan Nabi-Mu Muhammad, Nabi yang penuh kasih sayang. Hai Muhammad, sesungguhnya aku menghadap Tuhanku dengan perantaraanmu, supaya Dia memenuhi kebutuhanku. Ya Allah, jadikanlah dia sebagai pemberi syafaat bagiku.,” Usman bin Hanif berkata, “Demi Allah, belum sempat kami berpisah, dan belum lama kami berbicara, sehingga laki-laki buta itu menemui kami dalam keadaan bisa melihat dan seolah-olah tidak pernah buta sebelumnya. [Lihat Kitab: Sunan Ibnu Majah, jld 1, hal 331; Mustadrak al-Hakim, jld 1, hal 313; Musnad Ahmad, jld 4, hal 138; al-Jami' ash-Shaghir, hal 59; Talkhish al-Mustadrak, adz-Dzahabi.]

Semua ulama sepakat bawwa sanad hadist diatas adalah sahih dan tidak ada keraguan tentang kesahihan sanad hadis ini. Bahkan, pemimpin kalangan Wahabi (yaitu Ibnu Taimiyyah) mengakui kesahihan sanad hadis ini, dengan mengatakan, ‘Sesungguhnya yang dimaksud dengan nama Abu Ja’far yang terdapat di dalam sanad hadis ini adalah Abu Ja’far al-Khaththi. Dia seorang yang dapat dipercaya.’

Raffa’i, seorang penulis Wahabi abad ini, yang berusaha mendaifkan hadis-hadis yang khusus berkaitan dengan tawassul, telah berkata tentang hadis ini, Tidak diragukan bahwa hadis ini sahih dan masyhur. Telah terbukti tanpa ada keraguan sedikit pun bahwa seorang yang buta dapat melihat kembali dengan perantaraan doa Rasulullah saw.” [lihat kitab: Al-Tawashshul ila Haqiqah at-Tawassul, hal 158]

Raffa’i berkata di dalam kitabnya at-Tawashshul, “Hadis ini telah diriwayatkan oleh Nasa’i, Baihaqi, Turmudzi dan Hakim di dalam kitab Mustadraknya. Zaini Dahlan, di dalam kitabnya Khulashah al-Kalam, menyebutkan hadis ini beserta dengan sanad-sanadnya yang sahih, yang kesemuanya berasal dari Bukhari di dalam tarikhnya, serta Ibnu Majah dan Hakim di dalam Mustadrak mereka berdua. Jalaluddin as-Suyuthi juga menyebutkan hadis ini di dalam kitabnya al-Jami’. [Lihat Kitab: Kasyf al-Irtiyab, hal 309, menukil dari kitab Khulashah al-Kalam. Dan kitab: At-Tawashshul ila Haqiqah at-Tawassul, hal 66]

Di
sana juga terdapat riwayat-riwayat lain yang banyak sekali, yang tidak akan kita sebutkan, demi ringkasnya pembahasan. Untuk lebih memperdalam, silahkan merujuk kepada hadis bertawassulnya Adam kepada Rasulullah saw. Sebagaimana yang terdapat di dalam kitab Mustadrak al-Hakim, jilid 2, halaman 15; kitab ad-Durr al-Mantsur, jilid 1, halaman 59; dengan menukil dari Thabrani, Abu Na’im al-Ishfahani. Demikian juga hadis tentang bertawassulnya Rasulullah dengan hak-hak para nabi sebelumnya. Sebagaimana juga Thabrani meriwayatkannya di dalam kitabnya al-Kabir dan al-Awsath. Begitu juga Ibnu Hibban dan al-Hakim, mereka berdua mensahihkannya. Selanjutnya, hadis bertawassul kepada orang-orang yang memohon, yang terdapat di dalam sahih Ibnu Majjah, jilid 1, halaman 261, bab al-Masajid; dan begitu juga di dalam musnad Ahmad, jilid 3, halaman 21. Demikian juga dengan riwayat-riwayat yang lain.

Di samping itu, sesuatu yang menunjukkan diperbolehkannya tawassul ialah, ijmak kaum Muslimin, dan begitu juga sejarah hidup orang-orang yang sejaman dengan Rasulullah saw. Kaum Muslimin, sejak dahulu hingga sekarang, mereka bertawassul kepada para nabi dan orang-orang saleh. Tidak ada seorang ulama pun yang memprotes dan mengharamkan perbuatan tawassul kecuali pengikut Wahabiy al-yahudi ini.

Ikhwan kita rasa cukup sampai di sini pembahasan mengenai seputar keyakinan-keyakinan Wahabi yang berkenaan tentang Tawassul dan Syafaat. Jika kalian mau memperdalam lagi silahkan rujuk ke kitab mereka yang berjudul Kasyf al-Irtiyab fi atba ‘i Muhammad bin Abdul Wahhab.

Allahu A’lam

About these ads

Entry filed under: abdul wahhab, ahmad bin hanbal, As-Salafiyah, bid'ah, Blogroll, ibnu Taimiyah, Islam, mazhab salafi, mazhab wahabi, Salaf, salafi, salafi/y, salafy, syirik, tabarruk, tawassul, Uncategorized, Wahabi/Salafi, Wahabisme, wahhab, wahhabi, ziarah kubur. Tags: .

Melacak Wahabi Salafy/i: Mendulang Fakta Menjawab Soalan Jammaah Takfiriyah

55 Komentar Add your own

  • 1. abdullah  |  Maret 26, 2007 pukul 5:42 am

    ya akhi yg dimaksudkan dilarangnya tawasul adalah tawasul kepada orang
    yang telah mati.

    Sedangkan minta didoakan kepada orang yg masih hidup tidaklah mengapa.

    Seperti semasa rasulullah masih hidup banyak para sahabat yg meminta di
    doakan oleh rasulullah, namun setelah beliau wafat, apakah para sahabat
    masih meminta kepada beliau di kubur2 beliau? tentu saja tidak.

    Namun mereka ada yg berpindah meminta didoakan oleh al ‘abbas, paman
    beliau.

    Sepertinya antum belum paham bahwa tawasul yg dilarang adalah tawasul
    kepada orang yg telah mati.

    Jadi jangan asal tuduh, baca dulu karangan syaikhul islam ibnu taimiyah
    dengan baik dan benar mengenai tawasul ini ya akhi.

    ————————————–
    Ahlan wa sahlan…..
    jangan khawatir, akan saya tunjukkan Alquran dah Hadistnya tentang pertanyaan antum. Tunggau artikel saya selanjutnya.

    Balas
  • 2. abdullah  |  Maret 26, 2007 pukul 5:55 am

    tambahan,

    para sahabat ketika meminta al ‘abbas untuk mendoakan mereka semasa al
    ‘abbas masih hidup, sepeninggal rasulullah.

    Jadi bedakan yaa akhiy, meminta-minta kepada orang mati,
    dengan meminta-minta kepada orang yg masih hidup,
    adakah 1 ayat al qur’an yg mengisyaratkan bahwa tawasul kepada
    orang yg telah mati diperbolehkan? Datangkanlah jika engkau mendapati
    nya…
    ana tunggu.

    meminta-minta kepada orang mati bisa apa mereka?
    ketika kita mencela orang2 yg meminta2 kepada pohon, berhala, dll
    namun kita tidak mencela mereka yg meminta2 kepada kuburan
    para wali, yang telah mati pula, bisa apa mereka, orang2 yg telah mati
    bahkan menguburkan diri2 mereka sendiri juga tidak mampu

    Balas
  • 3. Aswaja  |  Maret 30, 2007 pukul 12:45 am

    abdullah…… lihat janji saya telah saya penuhi. ingat …!artikel saya tidak sekedar jawaban tapi butuh jawaban juga.

    Balas
  • 4. Ind. F.B  |  April 4, 2007 pukul 1:04 am

    syafaat itu adalah hak prerogatif rosululloh, dan waktunya nanti di yaumil akhir. tidak usah diperdebatkan. sedangkan tawasul kepada orang yang sudah wafat, jelas saja hukumnya TBC. apakah anda semua tidak memiliki kepercayaan diri, sehingga untuk berdoa kepada ALLAH saja memerlukan calo.

    Balas
  • 5. Angga  |  April 10, 2007 pukul 4:41 am

    Assallammualaikum Wr Wb

    Kenapa sih, tulisan ini terlalu memojokkan suatu golongan atau kaum, Ibnu Taymiyah atau juga Muhammad Abdul Wahhab hanyalah manusia yang coba untuk memurnikan ajaran Muhammad SAW yang mulai dikotori oleh pemikiran manusia.

    Manusia selalu berfikir untung atau rugi, kalau bisa mudah kenapa harus susah, atau juga daripada begini kan lebih baik begini. Padahal dalam beribadah hal seperti ini tidak dapat dibenarkan.

    Jika sudah datang perintahNYA maka lakukanlah, demikian pula jika telah nyata laranganNYA maka tinggalkan.

    Percaya nggak bahwa ada manusia yang masuk neraka karena dia sholat. Kerna dia selalu sholat di atas kuburan, ada manusia yang tidak diterima amal ibadah fatihahnya, karena ketika sholat dia membaca Fatihah pada waktu rukuk.

    Jelas suatu yang baik akan tetapi dilakukan atau ditempatkan bukan pada tempatnya, atau tidak sesuai dengan perintahNYA, tentunya akan berakibat buruk pula.

    Janganlah kita baru sedikit mengetahui tentang sesuatu, atau baru bisa membaca satu atau dua kitab, atau juga baru khatam Qur’an 100 kali. atau juga merasa sudah berguru kepada seratus orang guru sudah merasa berhak menghakimi seseorang sebagai Laknatullah, Nauzubilla Min Zalik. Apakah anda wakil Allah dimuka bumi ini

    Sesungguhnya kemampuan kita dibandingkan dengan beliau-beliau yang anggap sebagai Laknatulah tersebut tidak ada apa-apanya. Sejak kapankah saudara mulai bisa baca Al Quran?, sudah berapa banyak buku yang anda baca? sudah berapa guru yang anda datangi?. Sebandingkah anda dengan beliau-beliau tersebut diatas

    Balas
  • 6. joesatch  |  April 11, 2007 pukul 8:15 am

    Kenapa sih, tulisan ini terlalu memojokkan suatu golongan atau kaum, Ibnu Taymiyah atau juga Muhammad Abdul Wahhab hanyalah manusia yang coba untuk memurnikan ajaran Muhammad SAW yang mulai dikotori oleh pemikiran manusia.

    kalo saya pribadi, seandainya saya tidak dipojokkan maka saya tidak akan memojokkan.

    saya cuma meradang jika diserang.

    menganggap golongan kalian adalah yang paling benar itu wajar, selama hal itu untuk konsumsi pribadi golongan kalian. tapi hal itu menjadi suatu ketidak-wajaran ketika kalian menyalah-nyalahkan secara ekstrim apa yang kebetulan tidak sepaham dengan anda. apalagi jika tindakan menyalahkan itu disertai caci maki dan hujatan seperti yang selama ini saya alami.

    silahkan cek tulisan di blog saya yang berjudul “bertemu salafy, bantai salafy!”

    Balas
  • 7. jamal  |  April 12, 2007 pukul 7:28 am

    Oo berarti orang-orang Wahabi itu menganggap Rasulullah Saw sudah menjadi bangkai NAUZU BILLAAAH.. bukankah Allah berfirman WALA TAHSABANNAL LADZIINA QUTILU FI SABILILLAAHI AMWAATAA… “janganlah kalian menganggap orang-orang yang mati syahid itu sebagai mayyat (sudah mati)” apakah menurut kalian kanjeng Nabi tidak mati Syahid. apakah kalian lebih mendengar ucapan dedengkot kalian Ibnu Taimiyah dan Ibnu Wahhab dari pada Firman Allah? Astagfirullaaaah bertaubatlah kalian semua!
    perlu diketahui kami ahlusunnah tidak mencemooh siapa pun,namun kami memerangi akidah-akidah Wahabi yang sangat bahaya, kami tidak ingin negara kami seperti Afghanistan yang hancur dan banyak pertumpahan darah kaum Muslimin gara-gara kolompok taliban yang WAHHABI ITU.
    UNTUK PAK KIAI, TERUS PANTANG MUNDUR! TERUSKAN PERJUANGAN ANTUM! JAZAKUMULLAH KHOIROL JAZAA’

    Balas
  • 8. Ind. F.B  |  April 12, 2007 pukul 9:34 am

    Oo jadi orang-orang salafy mau menghina rosululloh dengan beribadah walaupun tanpa contoh dari rosul, alasannya karena itu adalah hal yang baik.,berarti menganggap rosul tidak baik karena tidak melakukan ibadah tersebut.

    Balas
  • 9. sawiji  |  April 14, 2007 pukul 9:21 am

    wahai saudaraku semua janganlah kamu membuat julukan-julukan yang tidak menyenangkan untuk orang lain, kita tetap bisa berjidal tanpa menyakiti, kita bersama mencoba mencari kebenaran, bukan kemenangan, jado mohon istilahkanlah semua dengan bahasa yang baik. keras tidak berarti kasar, halus bukalah lembek, namun kebenaran adalah hakiki dan ada di dalam nurani kita.
    kita tahu perbedaan yang antum sampaikan semua itu bukanlah perbedaan baru kemarin ada, tetapi perbedaan itu telah ada sejak munculnya faham Ibn Tamimiyah dan Abdullah bin Wahab, dan para ulama terdahulu telah menyampaikan hujjah, kita hanya perlu myaring hujjah tersebut untuk diri kita dan ummat yang meyakini kebenaran hujjah mereka. dan kita tidak berhak melihat isi hati orang lain, apalagi meragukan keimanan orang lain, bahkan seorang pelacurpun bisa jadi mempunyai iman tertinggi dan masuk surga.
    jadi mari kita saling berbagi ilmu, bukan berbagi cacian.

    Balas
  • 10. sawiji  |  April 14, 2007 pukul 9:28 am

    sekarang tolong saya dibagi ilmu kepada siapa saja yang mengerti:
    nabi adam bertawasul kepada muhammad, yang saat itu belum dilahirkan, berarti kepada siapa dia bertawasul? tentunya kepada ruh muhammad, khan?
    kemudian orang bertawasul kepada nabi muhammad sewaktu masih hidup, kepada siapa dia bertawasul, kepada jasad/raga nabi muhammadkah? tidakkah nabi sendiri secara jasad mengaku bahwa beliau hanya makhluk biasa, seperti kita, hamba Allah?berarti secara hakekat orang bertawasul saat nabi hidup, adalah bertawasul kepada ruhnya!
    kemudian orang bertawasul kepada nabi setelah wafat, apakah ia bertawasul kepada jasad nabi? tidak juga, mereka bertawasul kepada ruh nabi!
    demikina ilmu yang ada pada saya, tolong saya diberi pemahaman yang lain sehingga apa yang saya pahami adalah kebenaran yang haq.

    Balas
  • 11. jamal  |  April 15, 2007 pukul 5:58 am

    Tidak semua Ibadah harus ada contohnya dari Rasul, Rasul tidak pernah mencontohkan shalat tarawih dan shalat dhuha, tapi sampai sekarang kita masih melakukannya. lagi pula tawassul itu tidak termaksud ibadah hingga menurut anda perlu dapat contoh dari Rasulullah, artinya ia tidak seperti shalat atau haji yang memiliki tata cara dan persyaratan tersendiri, tetapi kapan, dimana dan bagaimana pun kondisi seseorang, ia dapat bertawasul kepada Rasulullah. dan juga perlu ditekankan, bahwa segala pekerjaan yang kita lakukan jika kita niatkan LILLAAHI TA”ALA maka ia akan menjadi Ibadah.

    Balas
  • 12. jacky  |  April 16, 2007 pukul 7:53 am

    Allah dekad dengan hambanya yang bertaqwa, semangkin tingginya ketakwaan seseorang semangkin bertambah kedekataanya dengan Allah Swt, semangkin dekatnya seseorang kepada Allah maka do’a, permohonan dan permintaannya pun akan lebih didengar dan cepat dikabulkan. keberadaan kita memang dekat dengan Allah namun hati kita masih jauh dengan-Nya. terbukti banyak do’a2 kita tidak dikabulkan oleh Allah karena dosa yang kita lakukan. menurut kami ahlussunnah, Rasulullah saw adalah orang yang paling dekat dengan Allah, oleh karena itu kami bertawasul dan meminta syafaat dari beliau, dengan catatan bahwa beliau hanya memintakan ampun untuk kami kepada Allah, dan bukan beliau sendiri yang memberikan ampunan kepada kami, beliau hanya memintakan kepada Allah agar hajat akami dikabulkan bukan beliau sendiri yang mengabulkan hajat kami. apakah kalau kami melakukan hal demikian anda katakan kami adalah MUSYRIK. dimana letak kemusyrikannya? tolong tunjukan kepada kami!

    Balas
  • 13. Said  |  April 27, 2007 pukul 12:36 pm

    Ya, tulisan ini, sangat tidak sesuai pada tempatnya, lihat aja mengatakan majnun pada orang lain. dan betul pada pak Abdullah bahwa meminta doa kepada orang yang masih hidup gak papa, tetapi bertawasul pada orang yang mati jelas musyrik.

    Balas
  • 14. Said  |  April 27, 2007 pukul 12:45 pm

    Mengapa sih, hanya untuk memberikan pendapat harus menggunakan kata kata kasar seperti dedengkot dan lain. dan mengklaim kitalah yang paling benar. Karena surga adalah hak Allah bukan keputusan kita akhi. kita tidak tahu, kita masuk neraka atau surga

    Balas
  • 15. Said  |  April 27, 2007 pukul 12:45 pm

    Mengapa sih, hanya untuk memberikan pendapat harus menggunakan kata kata kasar seperti dedengkot dan lain. dan mengklaim kitalah yang paling benar. Karena surga adalah hak Allah bukan keputusan kita akhi. kita tidak tahu, kita masuk neraka atau surga. Dan yakinlah bahwa segala doa kita dikabulkan Allah

    Balas
  • 16. aidyl nurhadi  |  April 30, 2007 pukul 3:52 pm

    jauhilah wahabism….hanya satu jalan..jalan yang benar iaitu Ahl SUnnah Wal Jama’ah. Perlukan Penerangan tentang Tawassul? bacalah Al-Haqiqah Al-Tawassul Wa Al-Waseelah oleh Musa Mohamad Ali dan ‘Umdat Al-Salik oled Ahmad Ibn Naqib al-Misri anak murid Imam Taqiuddin Al-Subki. Wahai muslimeen…janganlah keluarkan fatwa-fatwa yang tidak berasas. Tiada sesiapa disini mujtahid. Tawassul tidak bermaksud du’a..tolong prejelaskan bahasa arab sebelum mengeluarkan pendapat yang boleh memeningkan si pembaca.

    Balas
  • 17. FURKON  |  Mei 4, 2007 pukul 6:20 am

    WAHABAIAN ENYAH ENTE DARI MUKA BUMII

    Balas
  • 18. abu ghonam  |  Mei 5, 2007 pukul 5:14 am

    masya Allah…wahai alawiyyin yang ngaku2 keturunan ali bin abi thalib….dari jazirah atau di indonesia…mengapa kalian tak henti2nya menyerang apa yang kalian namakan wahabi…paahal syaikh sendiri (muhammad bin abdul wahhab) adalah pahlawan tauhid, bacalah sirahnya dngan apriori dan jujur wahai orang2 bangkrut…!kenapa anda begitu membenci saudi arabia? apakah karena mereka mngambil apa yang dinamakan hak kalian? demi Allah, bermodalkan keturunan saja tidak akan mengantarkan kalian ke syurga…jika kalian mengaku ahlus sunnah maka teladanilah atsar rasulullah dan para sahabat…dan orang2 yang mengikuti merek sampai kiamat kelak…

    Balas
  • 19. narimo  |  Mei 5, 2007 pukul 7:14 am

    Ind.FB, berkata
    syafaat itu adalah hak prerogatif rosululloh, dan waktunya nanti di yaumil akhir. tidak usah diperdebatkan. sedangkan tawasul kepada orang yang sudah wafat, jelas saja hukumnya TBC. apakah anda semua tidak memiliki kepercayaan diri, sehingga untuk berdoa kepada ALLAH saja memerlukan calo.
    ————
    benar akhi, itu prerogatif, tetapi untuk mendapatkannya kita kan perlu usaha, bukan hanya nunggu durian runtuh aja
    Kalo calo, dalam arti perantara, ana yakin memang perlu juga koq, sebab antara Tuhan dan Makhluk bagaimanapun berjarak. Mungkin yang bisa komunikasi langsung hanya satu Nabi Musa. Yang lain ya butuh perantara, Nabi muhammad diperantarai oleh Malaikat Jibril dalam penyebaran risalahnya, tapi terus terang saja saya sangat sakit kalo hal seperti itu disebut calo.
    Bahkan anda lahir juga dicaloin sama bapa dan ibu anda khan?

    Balas
  • 20. Muhammad Ali  |  Mei 9, 2007 pukul 5:41 pm

    Buah Abu Ghonam,

    Ana sungguh terkejut dengan tulisan anda yang nampaknya sangat membenci kaum Alawiyin. Saya jadi teringat ayat: Innasyaa niaka hu al ABTARr ( QS 108:3). ( Sesungguhnya orang-orang yang membencimu yang akan terputus )

    Asbabunnuzul dari ayat tersebut adalah ketika Al Ash bin Wail mengatakan bahwa Rasulullah saw sebagai Al ABTAR ( yang berarti orang yang terputus keturunannya ) karena beliau tidak memiliki anak lelaki yang hidup sampai dewasa, mereka semua wafat pada waktu kanak-kanak. Makna lain dari ayat tersebut adalah bagi Nabi saw akan berlaku sebaliknya ( keturunannya berlanjut ).

    Saya tahu sejak dulu banyak fihak yang berbahagia dengan wafatnya anak-anak lelalki Rasulullah saw dan yang terkenal adalah Al Ash bin Wail ( Allah yal’anuh ) sampai dia dimasukkan dalam ayat qur’an tersebut diatas. Tetapi nampaknya hari ini pun masih ada Al Ash bin Wail yang lain yaitu Abu Ghonam, nampaknya anda sangat membenci golongan yang diakui oleh seluruh dunia Islam sebagai Keturunan nabi saw. Terlalu banyak dalil yang mendukung keberadaan keturunan nabi saw yang juga dikenal sebagai :
    1. Ahlul Bait
    2. Alawiyin
    3. Aal Muhammad
    4. Sadaah
    5. sayid
    6. Syarif
    7. Dzuriyah rasul.
    8. Itrah rasul
    9. dll.

    Pada waktu rasulullah saw pulang dari haji wada ( perpisahan ), beliau berhenti disuatu tempat yang bernama Ghadir Khum. Disitu beliau berkhotbah khusus : Aku akan meninggalkan kalian ( maksudnya wafat ), tetapi Aku tinggalkan pada kalian 2 hal yang berharga, yang pertama adalah kitabullah yang berisi cahaya dan tuntunan kebaikan, yang kedua adalah ahlul bait ku ( ini diulangi sampai 3 kali ) ( HR Muslim ). Hadis ini memiliki banyak syahid ( hadits saksi ) diantaranya Hadits dari Tirmidzi yang memiliki tambahan : keduanya ( kitabullah dan ahlul bait ) tidak akan berpisah sampai hari kiamat ( perjumpaan di telaga nabi ), maka perhatikan bagaimana kalian memperlakukan keduanya sepeninggalanku. ( HR Tirmidzii ).
    Nampaknya Abu Ghonam tidak mau memperhatikan wasiat nabi saw ini, tidaka alasan baginya kecuali dia adalah seorang pembenci Nabi saw atau kemungkinan kedua ( ini yang paling mungkin ) adalah rasa hasad, iri dan dengki .

    Mereka ( ahlul bait/Alawiyin ) telah banyak berjasa bagi Islam terutama dalam mengislamkan wilayah-wilayah didunia. Mereka mengislamkan negara-negara musyrik dengan akhlak yang mereka warisi dari rasulullah saw bukan dengan pedang, mereka mendapatkan doa dari rasul saw dan seluruh umat islam yang ahlus sholat setiap hari paling tidak lima kali, sedang anda hanya bisa mencaci mereka ( saya tidak tahu apakah anda mengerjakan sholat atau tidak ).

    Nanti akan datang salah seorang dari mereka ( imam Mahdi ) yang akan mengisi dunia dengan keadilan ( Riwayat ini adalah Mutawatir ) dan anda atau kalangan and nampaknya akan berseberangan dengan imam ini karena anda sudah membencinya sebelum kelahiran beliau ( anda membenci semua kalangan Alawiyin ).

    Satu hal anda harus ingat, kalau anda berhadapan dengan mereka berarti anda berhadapan dengan kami seluruh umat Islam yang patuh dan ta’at dalam menjalankan wasiat nabi diatas !!!!!!

    Balas
  • 21. razifuddin  |  Juni 1, 2007 pukul 5:24 pm

    Saudi? Wahabi?
    yang sekarang jadi anteknya Inggris wa Amerika?
    yang dewan asatidnya disangoni secara rutin dari Bani saud? (thoriqotul fulussiyah)
    yang orang-orangnya pemalas dan hobi kawin misyar? (sohibul farji)
    yang kitab fathul majid termaktub “allahu jalasa alal kursy…” (ini mah aqidah Yahudi)
    yang meringkas-ringkas syarah Bukhary – Muslim (Albani emang kurang kerjaan)
    yang hobinya mentakfir sesama muslim non-wahabi
    yang berganti nama salafy
    yang masayekhnya gemblung-gemblung
    yang anti takwil (dalam beberapa ayat mutasyabihat tidak mentakwil sehingga alur pemahamannya menjadi mujassim)
    yang mengaku paling muwahid abad ini (TAUHID dari Hongkong…??)

    au ah gelab (tingak-tinguk)

    Balas
  • 22. Abu Abdirrohman Al Atsary  |  Juni 13, 2007 pukul 9:46 am

    Subhanalloh, jika agama dipikirkan dan disampaikan dengan amarah maka tidak akan ada manfaatnya, Al ashlu fiddakwan lien, asal dari dakwah adalah lembut dan tidak kasar serta tidak saling mencela. Ana sampaikan pada orang-orang yang mengaku ahlu sunnah baik dari pihak salafy maupun alawy, berkatalah dengan lembut dan jangan kasar. Jika anda berjidal, maka berjidallah dengan baik dan dengan dalil yang kuat bukan saling mencela yang tidak ada dasarnya. INGAT DALAM BERJIDAL ADALAH DENGAN DALIL UNTUK MENCARI KEBENARAN DAN BUKAN MENCARI KEMENANGAN. Andaikan saling bertolak belakang hadistnya maka lihatlah dan carilah mana yang dhoif dan shohih, jika bingung mana yang lemah dan kuat maka rujuklah pada kitab para ulama yang menjelaskan ttg orang-orang yang dianggap perowi yang shohih. misal kitab jarh wa ta’dil. Jangan saling mengolok2 karena dengan saling mengolok2 yang diolok2 tidak akan menjadi mau menerima bahkan menjadi semakin menjauh dan menolak. Menolak bukan karena tahu itu salah tapi menolak karena benci dengan cara yang disampaikan. Jika kalian saling membantah coba datangkan kitabnya yang dipermasalahkan kemudian jangan dipotong-potong sesuai keinginan kita dan karena sudah benci duluan. Siapakah Ibnu Taimiyah, siapakah Muhammad bin Abdul wahhab, siapakah Musa Mohamad Ali, siapakah Ahmad Ibn Naqib al-Misri, siapakah Imam Taqiuddin Al-Subki. dan yang lainnya ? maka carilah biografinya dulu baru komentar. Carilah dalil dulu baru menyimpulkan dan bukan sebaliknya cari kesimpulan baru cari-cari dalil yang dirasa pas. Jika ga tahu dalil maka diam lebih baik, Ingatlah Setiap kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kita katakan dan lakukan. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati kita serta seluruh anggota badan kita akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Alloh. Ana yakin jika kita berniat mencari kebenaran diiringi doa yang sungguh-sungguh kepada Alloh maka kita pasti Alloh beri petunjuk. Semoga yang sedikit ini menjadi pencair suasana dan tidak dianggap menggurui. Baarokallohu fiikum

    Balas
  • 23. Annajma  |  Juni 13, 2007 pukul 7:08 pm

    Salam untuk muslim semua.

    Janganlah gampang berbicara untuk memusyrikkan sesama muslim, atas segala sesuatu yang sifatnya untuk beribadah pada Allah swt.

    Anda kaum wahabiyun, bukankah anda2 sekalian muslim…?
    dan kami dari ahlusunnah dimulai dari barat sampai timur Alhamdulillah masih menganggap kalian wahabiyun adalah saudara kami sesama muslim.

    Maka janganlah terlalu gampang menyebut2 kami Ahlusunnah sebagai : Musyrik, atau bahkan kafir, dengan alasan ” Bid’ah “.

    Saudaraku ketahuilah Naby Muhammad saw tidak pernah memerintahkan Firman Allah swt untuk ditulis menjadi ALQUR’AN.

    Saudaraku ketahuilah Naby Muhammad saw, tidak pernah memerintahkan Segala perkataan dan Segala perbuatannya ( Hadist )untuk ditulis dalam sebuah kitab.

    Saudaraku ketahuilah Naby Muhammad saw, tidak pernah memerintahkan atau mencontohkan untuk ADZAN 2 KALI pada waktu shalat Jum’at.

    Saudaraku ketahuilah Naby Muhammad saw, tidak pernah memerintahkan atau mencontohkan untuk shalat TARAWIH pada waktu bulan Ramadhan dan apalagi untuk memerintahkan dan mencontohkan pula berapa raka’at shalat TARAWIH itu seharusnya dilakukan.

    Saudaraku ketahuilah Naby Muhammad saw, tidak pernah memerintahkan untuk menulis masalah FIQIH, TAUHID, dsbnya.

    Jadi bukankah :
    1. Alqur’an,
    2. HADIST,
    3. ADZAN 2 kali pada waktu shalat jum’at,
    4. Shalat Tarawih,
    5. dan segala kitab-kitab FIQIH, TAUHID, IQRA

    adalah hasil dari BID’AH ?????

    Dan anda Wahabiyun bukankah anda sekalian memakai/menggunakan hasil daripada BID’AH..??? yang telah dilakukan oleh para SAHABAT, dan para Tabi’ Tabi’iin.

    Tetapi di – lain sisi anda gembar-gembor ini BID’AH itu BID’AH…???
    Seakan – akan anda telah mengharamkan HAL-HAL yang tidak pernah di HARAMkan atau DILARANG oleh RASUL SAW …???
    Bukankah inilah BID’AH Syari’at yang sesungguhnya ???

    Sabda Rasul saw :
    ” Barang siapa membuat-buat hal baru yang baik dalam ISLAM, maka baginya pahalanya dan pahala bagi orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya,

    dan barang siapa yang membuat-buat hal baru yang buruk dalam ISLAM, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tidak dikurangkan sedikitpun dari dosanya”
    (SHAHIH MUSLIM no.1017) demikian pula diriwayatkan pada SHAHIH Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqy Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi.

    Hadist ini menjelaskan Bid’ah terbagi 2 :
    Yaitu Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Dholalah.

    Tetapi kenapa pada saudaraku Wahabiyun Bid’ah tidak ada yang hasanah ?
    Padahal sudah jelas2 Hadist diatas menerangkan Bid’ah Terbagi 2, Hasanah dan Dhalalah.

    Semoga kita sebagai ummat dapat bersatu kuat, dan jangan sampai ada perpecahan diantara kita.

    Wallaahu a’lamu maa fissamaawaati wal ardhi

    Balas
  • 24. Annajma  |  Juni 13, 2007 pukul 7:58 pm

    Allah yang berbicara :

    ” Hai orang-orang yang BERIMAN, bertaqwalah/patuhlah kepada ALLAH swt dan carilah perantara yang dapat mendekatkan kepada ALLAH swt dan berjuanglah di jalan ALLAH swt, agar kamu mendapatkan keberuntungan” (QS.Al-Maidah 35).

    Berarti ALLAH swt jelas-jelas menganjurkan kita ( yang BERIMAN ) untuk mencari PERANTARA antara kita dengan ALLAH swt.

    Dan SIAPA sebaik2 perantara antara kita dengan ALLAH swt ???
    Selain Naby MUHAMMAD saw RASUL ALLAH swt ???

    Rasul yang berbicara :

    “Barang siapa mendengar Adzan lalu menjawabdengan Do’a :

    ” Wahai Allah Tuhan Pemilik Dakwah yang sempurna ini,dan Shalat yang dijalankan ini, berilah Muhammad (saw) hak menjadi PERANTARA dan limpahkanlah Anugrah, dan bangkitkan untuknya KEDUDUKAN yang terpuji sebagaimana yang telah kau janjikan padanya”.

    “Maka halal baginya SYAFA’ATKU ”
    (Shahih Bukhari no.589 dan no.4442)

    Perkataan Rasul saw ini menunjukkan bahwa Beliau saw tidak melarang tawassul pada Beliau saw, bahkan orang yang bertawassul kepada Rasul saw sudah dijanjikan akan mendapatkan SYAFA’ATNYA Beliau saw.

    Wallaahu a’lamu maa fissamaawaati wal ardhi

    Balas
  • 25. Annajma  |  Juni 13, 2007 pukul 8:14 pm

    Dan bolehkah bertawassul dengan selain Naby..???

    “Umar bin khatab ra shalat istisqa lalu berdo’a kepada Allah swt dengan do’a :
    ” Wahai Allah swt, sungguh kami telah mengambil perantara (bertawassul) padaMu dengan Nabi kami Muhammad saw agar kau turunkan hujan lalu kau turunkan hujan, maka kini kami mengambil perantara (bertawassul) padaMu Dengan Paman NabiMu (Abbas bin Abdulmuthalib ra) yang melihat Beliau sang Nabi saw maka turunkanlah hujan” maka hujanpun turun dengan derasnya.
    (SHAHIH BUKHARI no.964 dan no.3507)

    Riwayat diatas menunjukkan :

    1. Para Sahabat Khulafaurrasyidin bertawassul pada Nabi saw dan dikabulkan oleh Allah swt.
    2. Para Sahabat Khulafaurrasyidin bertawassul pada keluarga Nabi saw dan dikabulkan oleh Allah swt.

    Jadi bertawassul selain kepada Nabipun boleh juga dilakukan ummat.

    Wallaahu a’lamu maa fissamaawaati wal ardhi

    Balas
  • 26. abu yusuf  |  Juni 15, 2007 pukul 11:38 am

    mudah-mudahan bermanfaat
    TAWASUL DENGAN PERANTARA PARA NABI DAN ORANG-ORANG SHALIH

    Oleh
    Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta

    Pertanyaan.
    Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya : Bolehkan seorang muslim bertawasul kepada Allah dengan (perantara) para nabi dan orang-orang shalih ? Saya telah mendengar pendapat sebagian ulama bahwa bertawasul dengan (perantaraan) para wali tidak apa-apa karena do’a (ketika) bertawassul itu sebenarnya ditujukkan kepada Allah. Akan tetapi, saya mendengar ulama yang lain justru berpendapat sebaliknya. Apa sesungguhnya hukum syariat dalam permasalahan ini ?

    Jawaban
    Wali Allah adalah siapa saja yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bertaqwa kepadaNya dengan mengerjakan segala yang diperintahkan oleh Nya Subhanahu wa Ta’ala dan meninggalkan segala yang dilarangNya. Pemimpin mereka adalah para nabi dan rasul ‘alaihimus salam. Allah berfirman.

    “Artinya : Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa” [Yunus : 62-63]

    Tawassul kepada Allah dengan (perantaraan) para waliNya ada beberapa macam.

    Pertama.
    Seseorang memohon kepada wali yang masih hidup agar mendoakannya supaya mendapatkan kelapangan rezeki, kesembuhan dari penyakit, hidayah dan taufiq, atau (permintaan-permintaan) lainnya. Tawassul yang seperti ini dibolehkan. Termasuk dalam tawassul ini adalah permintaan sebagian sahabat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar beristsiqa (meminta hujan) ketika hujan lama tidak turun kepada mereka. Akhirnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon kepada Allah agar menurunkan hujan, dan Allah mengabulkan doa beliau itu dengan menurunkan hujan kepada mereka.

    Begitu pula, ketika para sahabat Radhiyallahu ‘anhum beristisqa dengan perantaraan Abbas Radhiyallahu ‘anhu pada masa kekhalifahan Umar Radhiyallahu ‘anhu. Mereka meminta kepadanya agar berdoa kepada Allah supaya menurunkan hujan. Abbas pun lalu berdoa kepada Allah dan diamini oleh para sahabat Radhiyallahu ‘anhum yang lain. Dan kisah-kisah lainnya yang terjadi pada masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan setelahnya berupa permintaan seorang muslim kepada saudaranya sesame muslim agar berdoa kepada Allah untuknya supaya mendatangkan manfaat atau menghilangkan bahaya.

    Kedua.
    Seseorang menyeru Allah bertawassul kepadaNya dengan (perantaraan) rasa cinta dan ketaatannya kepada nabiNya, dan dengan rasa cintanya kepada para wali Allah dengan berkata, “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepadaMu agar Engkau memberiku ini (menyebutkan hajatnya)”. Tawassul yang seperti ini boleh karena merupakan tawassul dari seorang hamba kepada rabbnya dengan (perantaraan) amal-amal shalihnya. Termasuk tawassul jenis ini adalah kisah yang shahih tentang tawassul tiga orang, yang terjebak dalam sebuah goa, dengan amal-amal shalih mereka. [Hadits Riwayat Imam Ahmad II/116. Bukhari III/51,69. IV/147. VII/69. dan Muslim dengan Syarah Nawawi XVII/55]

    Ketiga.
    Seseorang meminta kepada Allah dengan (perantaraan) kedudukan para nabi atau kedudukan seorang wali dari wali-wali Allah dengan berkata –misalnya- “Ya Allah, sesunguhnya aku meminta kepadaMu dengan kedudukan nabiMu atau dengan kedudukan Husain”. Tawassul yang seperti ini tidak boleh karena kedudukan wali-wali Allah –dan lebih khusus lagai kekasih kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, sekalipun agung di sisi Allah, bukanlah sebab yang disyariatkan dan bukan pula suatu yang lumrah bagi terkabulnya sebuah doa.

    Karena itulah ketika mengalami musim kemarau, para sahabat Radhiayallahu ‘anhum berpaling dari tawassul dengan kedudukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berdoa meminat hujan dan lebih memilih ber-tawassul dengan doa paman beliau, Abbas Radhiyallahu ‘anhu, padahal kedudukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada diatas kedudukan orang selain beliau. Demikian pula, tidak diketahui bahwa para sahabat Radhiyallahu ‘anhum ada yang ber-tawassul dengan (perantraan) Nabi setelah beliau wafat, sementara mereka adalah generasi yang paling baik, manusia yang paling mengetahui hak-hak Nabi Shallalalhu ‘alaihi wa sallam, dan yang paling cinta kepada beliau.

    Keempat.
    Seorang hamba meminta hajatnya kepada Allah dengan bersumpah (atas nama) wali atau nabiNya atau dengan hak nabi atau wali dengan mengatakan, “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta ini (menyebutkan hajatnya) dengan (perantaraan) waliMu si-Fulan atau dengan hak nabiMu Fulan”, maka yang seperti ini tidak boleh.

    Sesungguhnya bersumpah dengan makhluk terhadap makhluk adalah terlarang, dan yang demikian terhadap Allah Sang Khaliq adalah lebih keras lagi larangannya. Tidak ada hak bagi makhluk terhadap Sang Khaliq (pencipta) hanya semata-mata karena ketaatannya kepadaNya Subahanhu wa Ta’ala sehingga dengan itu dia boleh bersumpah dengan para nabi dan wali kepada Allah atau ber-tawassul dengan mereka. Inilah yang ditampakkan oleh dalil-dalil, dan dengannya aqidah Islamiyah terjaga dan pintu-pintu kesyirikan tertutup.

    [Fatawa Li Al- Lajnah Ad-Da’imah 1/498-500, Pertanyaan ke-2 dari Fatwa no. 1328 Di susun oleh Syaikh Ahmad Abdurrazzak Ad-Duwaisy, Darul Asimah Riyadh. Di salin ulang dari Majalah Fatawa edisi 3/I/Dzulqa’dah 1423H]

    Balas
  • 27. Annajma  |  Juni 15, 2007 pukul 7:28 pm

    Syaikh Ahmad Abdurrazzak Ad-Duwaisy, Darul Asimah Riyadh.

    Tolong sebutkan SANAD GURU dari yang tersebut diatas secara jelas dan terperinci ?

    Balas
  • 28. abu yusuf  |  Juni 19, 2007 pukul 2:34 pm

    Selama bersumber dari AlQuran dan As Sunnah shohihah maka kita sebagai umat islam yang setiap hari bersaksi bahwa Muhammad adalah utusanNya, harus bertaslim(menerima apa adanya). Kebenaran itu tetap kebenaran meskipun datang dari musuh kita. Wallohu a’lam

    Perkataan Ulamaâ Tentang Menentang Hadits

    1. Imam Abu Hanifah rohimahullohu

    Tidak halal bagi seorang pun untuk mengambil perkataan kami jika dia tidak tahu dari mana kami mengambilnya.
    Jika saya menyampaikan perkataan yang bertentangan dengan Kitabulloh dan hadits Rosululloh, maka tinggalkanlah perkataanku.
    2. Imam Malik rohimahullohu

    Sesungguhnya saya hanyalah manusia, kadang salah dan kadang benar, maka telitilah pendapatku. Yang sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah ambillah dan yang tidak sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah tinggalkanlah.
    Pendapat semua orang dapat diterima atau ditolak kecuali perkataan Nabi shollallohu alaihi wa sallam.
    3. Imam Syafii rohimahullohu

    Jika suatu hadits itu shohih, maka itulah pendapatku.
    Seluruh kaum muslimin sepakat bahwa jika ada yang mengetahui hadits Rosululloh, maka dia tidak boleh meninggalkannya karena mengikuti pendapat seseorang.
    Imam Ahmad rohimahullohu

    Janganlah engkau mengekor kepadaku, Malik, Syafii, Auzai, dan Ats-Tsaury. Ambillah dari sumber mereka mengambil.
    Barang siapa menolak hadits Rosululloh maka dia dalam jurang kehancuran. (Lihat Sifat Sholat Nabi hal 47-53).

    Balas
  • 29. narimo  |  Juni 30, 2007 pukul 8:00 am

    assalamu’alaikum
    sumber memang terpercaya, tetapi apakah pemahamannya???

    Balas
  • 30. Badari  |  Juli 6, 2007 pukul 10:20 am

    Salam ‘alaikum.
    Kepada penolak Wahabi, hindarilah penggunaan kata2/kalimat yg sarkastik; gunakan penuturan yg santun utk menggugah akal & rasa. Menurut saya, argumen yg logis sulit utk bisa diterima pihak lain bila pihak lain itu dalam kondisi emosi yg tersinggung karena penuturan awal ke arah mereka dengan memvonis/memberi label2 negatif (apalagi label2 yg berlebihan).

    Kepada penolak tawasul dgn Nabi saw. yg telah wafat, mungkin saya bisa gugah sedikit sbb. Anda setuju bertawasul kpd Nabi saw. ketika beliau saw. masih hidup, tapi Anda menyatakan bertawasul kpd Nabi saw. setelah beliau saw. wafat adalah perbuatan syirik.
    Marilah kita periksa vonis syirik tsb dgn menghadapkannya dgn data2 lain (yg kita sepakati) & tentunya dgn konsep tauhid dan konsep syirik itu sendiri.

    1.) Syirik artinya mengimani adanya ilah (tuhan) di samping Allah, baik ilah tsb dianggap sebagai ilah yg setara/setanding maupun yg lebih lemah dari Allah. Muslimin yg bertawasul kpd Nabi saw. -sekalipun setelah beliau saw. wafat- tidak menganggap Nabi sebagai ilah selain Allah. Mereka mengimani “Laa ilaaha illaa Allah” dan mereka mengimani bhw Nabi adalah manusia yg juga merupakan hamba-Nya & rasul-Nya. Kalau ada orang yg bertawasul kpd Nabi dgn menganggap bhw Nabi itu ilah di samping Allah, tanpa diragukan orang tsb adalah musyrik sekalipun tawasulnya dilakukan sewaktu Nabi masih hidup.
    Jadi, kriteria pengukur tawasul seseorang itu syirik atau tidak adalah apakah orang yg bertawasul tsb. menganggap wasilahnya sebagai ilah selain Allah ataukah tidak.

    2.) Mengapa tawasul kpd Nabi setelah beliau saw. wafat adalah perbuatan syirik, sedangkan tawasul ketika beliau saw. masih hidup bukan perbuatan syirik? Mungkin pendukung Wahabi akan menjawab karena Nabi saw. telah wafat sehingga sudah menjadi sesuatu yg takbernyawa (=mati), tidak ada lagi ruhnya, atau istilah bahasa Arabnya “laa arwaaha lahum”, seperti takbernyawanya batu, patung, api, gunung, matahari, dll.
    Pendapat tsb -saya nilai- muncul dari pikiran yg terlalu menitikberatkan pada jasad fisik Nabi saw. yg sudah wafat yang sudah menjadi sesuatu yg takbernyawa. Sekalipun jasadnya telah berhenti berfungsi utk hidup, ruh Nabi saw. sendiri tetap ada, tidak hilang, tidak lenyap. Tawasul kpd Nabi saw. setelah wafatnya adalah kpd ruh Nabi saw. tsb. [Catatan: Tawasul kpd Nabi ketika hidupnya pun sebenarnya bertawasul kpd ruhnya Nabi yg ketika itu masih bersama dgn jasadnya]. Ruh Nabi saw. tetap ada, tetap hidup, hanya tidak kita fahami dimensi ruang dari alam ruh tersebut; kita tidak bisa menunjuk arah lokasi alam ruh tsb.
    Jadi, mohon kita teliti untuk tidak menyamakan Nabi saw. yg telah wafat dgn benda2 mati seperti batu, patung, bangunan, dll. Nabi saw. yg kita maksudkan adalah ruhnya, bukan lagi jasad fisiknya.

    3.) Mungkin akan timbul penolakan: ruh Nabi saw. tidak bisa dimintai bantuan doa karena setelah Nabi saw. wafat, Nabi saw. tidak bisa diajak berbicara, tidak bisa diajak berkomunikasi.
    Saya akan balik bertanya: Bukankah kita bisa [& disunnahkan] mengucapkan salam kpd orang mukmin yg kuburnya kita lewati/datangi? Ucapan salam tsb kita sampaikan dgn kata ganti orang kedua [antum = kamu, engkau, kalian] yg berarti kita menyapa ahlikubur. Bukankah itu berarti kita bisa mengajak berbicara orang mukmin yg sudah wafat? Kalau ucapan salam kita tidak didengar oleh ruh mukmin yg sudah wafat, tentu sia-sia Nabi saw. mengajarkan kita doa salam kpd ahlikubur itu; tentu tidak mungkin tuntunan Nabi saw. sia-sia. Kita juga mengucapkan salam kpd Nabi saw. dalam sholat dgn ungkapan memanggil Nabi berupa “Al-salamu ‘alaika ayyuha al-Nabiyyu ….”, dan tentu ucapan salam kita itu sampai kpd beliau saw., sekali lagi sampai kpd ruh Nabi yg tetap ada & hidup.

    4.) Mungkin ada yg berkata: Mengucapkan salam adalah mendoakan. Kita bisa mendoakan Nabi saw. yg sudah wafat, tapi tidak bisa sebaliknya: meminta doa dari Nabi yg sudah wafat tidak bisa & tidak boleh.
    Bagaimana kalau saya menjawab sbb. Kalau kita bisa menyampaikan salam kpd Nabi itu artinya kita bisa menyampaikan ucapan/kalimat dari diri kita kpd Nabi & Nabi mendengarnya. Tidak saya temukan -sejauh ini- dalil yg mengecualikan kalimat yg bisa kita sampaikan kpd Nabi yg sudah wafat. Kalimat permintaan bantuan doa kpd Nabi adalah juga kalimat, yg bisa kita sampaikan kpd Nabi & Nabi mendengarnya. Bila berkenan, Nabi -dalam dimensi alam ruhnya- akan memohon doa kpd Allah untuk kita yg memintanya. Ini sama seperti ketika kita mengucapkan salam kpd Nabi, salam kita didengar oleh Nabi, lalu, Nabi -di alam ruhnya- menjawab kita dgn mengucapkan salam juga kpd kita; salam Nabi tsb tentu adalah satu contoh bentuk doa dari Nabi -yg dalam keadaan sudah wafat- kpd kita yg masih hidup.

    5.) Komentar bhw bertawasul menunjukkan sikap tidak percaya diri utk. memohon langsung kpd Allah, saya nilai, komentar ini kurang pada tempatnya. Bukankah kita menerima hadis “datangnya seseorang kpd Nabi meminta bantuan doa Nabi utk dirinya”? Apakah kita memvonis orang tsb tidak percaya diri utk berdoa langsung kpd Allah, sedangkan Nabi tidak memvonis orang tsb sbg tidak percaya diri, bahkan Nabi justru mengabulkan permintaan bantuan doa tsb?
    Ayat Al-Quran yg maknanya “Bila mereka menzhalimi diri sendiri, kemudian mereka mohon ampun atas dosa2 mereka, dan Rasul pun memohon ampun utk mereka, ….” dalam pengamatan saya memberi arahan agar orang yg meminta bantuan doa Nabi juga melakukan perbuatan memohon ampun langsung kpd Allah. Ayat itu menuntunkan kita memohon ampun kpd Allah langsung dan memohon ampun kpd Allah melalui doa Nabi. Keduanya disebutkan sejalan, tidak dipertentangkan. Jadi, komentar “tidak percaya diri” itu -saya nilai- adalah komentar yg berkecenderungan mempertentangkan 2 modus permohonan kpd Allah (langsung & melalui tawasul), padahal Al-Quran tidak mempertentangkannya.

    6.) Ada 1 point yg pernah saya dengar dari saudara kita yg bermazhab Syiah, bhw bertawasul dibenarkan hanya dengan/kepada orang2 suci, yaitu dari kalangan para nabi & rasul, dan (ini khusus sudut pandang Syiah) dengan orang2 suci selain nabi, yaitu Fathimah Al-Zahra dan 12 Imam Ahlulbait.
    Ini mungkin bisa jadi masukan utk menambah wawasan sekaligus mempertimbangkan argumen2 secara lebih luas.

    Saya gembira bila ada yg menanggapi jawaban saya di atas dgn jawaban keberatan atau argumen2 yg menunjukkan titik lemah pendapat saya. Saya akan mempelajarinya. Ditunggu. Terima kasih.
    Salam ‘alaikum.

    Balas
  • 31. Sayid Husein Alaydrus  |  Juli 8, 2007 pukul 6:02 pm

    Baik Wahabi maupun Ahlussunnah cobalah jangan merasa paling benar sendiri! Ketahuilah tidak ada satu kelompok atau mazhab manapun yang boleh memonopoli kebenaran karena masing-masing mazhab adalah hasil ijtihad manusia yang bisa benar dan bisa salah.Berlapang dadalah dengan perbedaan dan jangan saling bermusuhan ikutilah perintah nabi dan ahlul baitnya agar kita memiliki sisi-sisi persamaan yang lebih besar daripada sisi-sisi perbedaan biarlah Islam tetap sebagai agama yang damai rahmatan lil alamin.

    Balas
  • 32. narimo  |  Juli 10, 2007 pukul 7:06 am

    berarti pendapat ibnu taimiyah dan ibn abdul wahabpun boleh kita tolak, karena berdasar riwayatnya mereka berdua adalah orang yang layak untuk tidak dipercaya

    Balas
  • 33. Andra  |  Juli 12, 2007 pukul 4:47 am

    Yang saya syukuri sampai hari ini adalah masih adanya para sayyid, syarief…habaib…dzurriyah Nabi Saww…….karena antum semua yang paling pantas mengajarkan agama….dan masih ada di sisi kita….

    Saya teringat sabda Nabi Saww yang kurang lebih…Yaa ‘Ali tidaklah mencintaimu kecuali orang mu’min dan tidaklah membencimu kecuali munafik
    Yaa Alloh jadikan aku orang mu’min dengan sadar dan ikhlas mencintai keluarga NabiMu. Amien

    Balas
  • 34. abu yusuf  |  Juli 14, 2007 pukul 4:57 pm

    Benar sekali seandainya kita menemukan dari apa yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab yang tidak berdasar kepada Al Quran dan AsSunnah dengan pemahaman generasi terbaik yaitu para salfushsholoh maka kita berhak untuk menolaknya. Wallohua’lam

    Balas
  • 35. Abu BH  |  Juli 16, 2007 pukul 6:44 am

    Hare gene masih ngeributin tawasul………?

    ente-ente yang pada ngga percaya kalo kirim fatihah nyampe,
    coba deh pade mati duluan ntar ane kirimin

    Hehehehehe

    Balas
  • 36. Abu BH  |  Juli 16, 2007 pukul 8:46 am

    lha wong akidahnya Yahudi Zionist, Kristen Trinitas, Ibnu Taemiyah, dan Abdurrahman alu Syaikh sama-sama menyebut TUHAN duduk, Subhanallah maha suci Allah dari pensifatan demikian

    Kalau dari aqidahnya keliru jangan ambil sebagian ilmu atau seluruhnya,

    Tidak akan pernah tegak khilafah dengan akidah macam sarang laba-laba tersebut…!
    Ibnu Taemiyah sebagai simbol tegaknya khilafah??
    khilafah dari Hongkong…?

    -Burhan Hasan-

    Balas
  • 37. HE_HE_HE  |  Juli 18, 2007 pukul 2:58 pm

    ORANG NU, KALO MAU TAHLIL, MULUDAN, RAJABAN, TAWASULLL BISUL KEQ SILAHKAN … MONGGOOOOO ….. PAKE DUPA ALIAS MENYAN SEKILOOOO BIAR KULIT KAKEK KALIAN DIASEPIN TERRUSSSSS …. BIAR AWEEEETTTTT……. MONGGOOOOOOOOOOOO ….,

    NYANG MENGABDI SAMA AMERIKA DI JAZIRAH ARAB SANA, SILAHKAN ,…. MONGGGOOOOOOO …..

    GUWE NYANG BIKIN ONAR INI REPUBLIK KAFIR ….. DIMONGGGOIN GAK SICHHHH …………

    MONGGGOOOOOOOOOOO NYANG MAU GABUNG AME TERORIS … MONGGGOOOO …….

    Balas
  • 38. AZA  |  Juli 29, 2007 pukul 9:51 am

    Kita kembali ke titik permasalahan “TAWASSUL”

    Assalam…….
    Saya akan menyebut istilah “SALAFI” untuk orang-2: Wahabi, Irsyadi, Muhammadi, Persis iyun, Taliban.
    Salafi membolehkan Tawasul kepada orang yg masih hidup minan nabiyyin wa solikhin, betul tidak. dan memusyrikkan orang yang bertawasul kepada orang mati.

    Dibawah ini saya hanya me-resume pendapat ikhwan dari non Salafi:

    1- Salafi mencampur adukkan antara “JAHL” (bodoh) dan “Muslim Aam”, misalnya mereka megkafirkan muslim yang ziarah ke kuburan, karena dibenak salafi orang tsb datang untuk meminta-minta ke sohibul kubur, ini tuduhan yg tidak benar, sebaiknya saudara tanya ke orang tsb apa betul mereka meminta-2 ke sohibul kubur, kalau dia menjawab Ya! berarti orang ini dikategorikan ke Al-JAHL” , sebab Muslim Aam tidak melakukan hal seperti itu. (memang saya lihat ada juhala’ yg melakukan hal itu yg masih terpengaruh tradisi kejawen, hinduisme) Al qolil la yu’tabar.

    baik Aswaja ataupun Syiah berkeyakinan bahwa meminta sesuatu ke sohibul kubur bi-ghairillah adalah Musyrik, jadi jelas ayyuhal Wahabiyyun kita bukan Abbadul Qubr. jangan pikir anda saja yg tahu Tauhid.

    2- Bertawasul pada orang yg Mati.

    Wahai orang yg beriman “Ittaqullah wabtaghu Ilaihil Wasilah”

    ada ikhwan yang bereferensi bahwa salam kepada ahli kubur menunjukkan eksistensi dari kehidupan mereka, artinya mereka hayyun yurzaq di alam ruh,
    Saya cuma menambahkan disini selain ayat “wala tahsabannal….dst” , setiap hari kita mengucap salam di 5 waktu sholat “Assalamu Alayka Ayyuhan Nabiyu (Nabi)… Assalamu Alayna (Kita)… wa Ala Ibadillahi solihin(hamba Saleh), ass wr wb…”

    Mengucapkan Salam adalah SUNNAH sedang menjawab salam adalah WAJIB, jadi sewaktu kita mengucapkan salam kepada “Nabi, Kita, dan Hamba Soleh”, maka bagi “mereka” adalah WAJIB menjawabnya, seandainya Ruh mereka mati tidak bisa menjawab, buat apa Allah swt memerintahkan Salam pada setiap sholat kita.
    ini adalah dalil bahwa “Nabi, Kita, Auliyaus Solihin” adalah mendengar, hayyun yurzaq dan tidak terputus dari kehidupan kita.

    Juga didalam salam tersebut ada kata “kepada kita” yang berarti pada saat tsb ketiganya “Kita dan beliau” mendengar salam secara bersamaan.

    Allah menjadikan rosulnya Syahidan wa Mubasyiran kepada umatnya, Syahidan berati menyaksikan keadaan kita sekarang ila yaumil qiyamah.

    3- Saya heran kepada Ibn Abdul Wahab dan Ibn Taymiah” kok berani-beraninya menentang Salaf-2 mereka.
    contohnya kedua org itu membolehkan menghancurkan kubah-kubah baqie, juga ada niat menghancurkan Kubah Nabi, dan Aiimah Ahlil Bait dan kuburan2 AuliyaAllah di Madinah.

    Bukankah anda mengatakan untuk selalu mengikuti ASLAF dan anda berkeyakinan bahwa ASLAF lebih baik dari yang dataqng sesudahnya.

    – ASLAF anda membiarkan kubah-kubah baqie dibangun (baru dihancurkan sekitar tahun tujuh puluhan oleh Wahabi-Kel. Saud).
    – Para Sahabat juga menguburkan Nabi, Abubakar, Umar didalam rumah Nabi, dan ASLAF membangun kubah diatas pusara mereka.

    Jadi perbuatan anda termasuk SUPER BID’AH karena anda bertolak belakang dengan ASLAF anda dan sekaligus Memusyrikkan NABI dan SAHABAT, Nauzubillah!! SEBAB beliau lupa tidak memberitahu sahabat yg lain untuk tidak memakamkan beliau didalm rumah dan memasukkan kedalam masjid.

    Wahai Salafi patutkah anda mengikuti Ibn Taymiah, Ibn Abdul Wahab, Ibn Baz, Ibn La Din, ibn Jibrain dan Ibn,Ibn yg lain sedangkan anda telah
    menafikkan ASLAF anda dan juga Nabi saaw. cerahkan pemikiran islam anda wallahu Mustaan.

    Allahumma Solli al Muhammad wa A-li Muhammad.
    A.Z.A.

    buat HE_HE_HE , pesan saya pada anda, “kelebihan Manusia dari Hewan adalah AKAL” pergunakan AKAL Anda supaya Anda menjadi manusia yang berakal.
    “berkatalah yg Baik atau Diam!” hadis

    Balas
  • 39. samaranji  |  Agustus 6, 2007 pukul 10:36 am

    ASSALAMU’ALAIKUM WR. WB.

    katur kagem sedulur he_he_he (siapapun anda)
    SUMONGGO anda berpendapat sak’udele dw

    ISLAM itu rahmatan lil ‘alamin
    seorang Muslim tak mungkin ngomongnya ngelantur kayak gitu
    kalaupun adam dipertanyakan tuh ke”Islam”annya

    WASSALAMU’ALAIKUM WR. WB.

    Balas
  • 40. kyai sableng  |  Agustus 6, 2007 pukul 4:25 pm

    gue jadi sedih kalo baca yang ditulis ame orang orang yang suka men bid’ahkan orang.. gue betawi asli…dari kecil dah ngaji…banyak ulama ulama besar yang udah pade meninggal…setau gue hampir semue ulama nyang udeh pade meninggal …ampe nyang masih idup ..pade ngelaksanain maulid….pas gue bace disini…kate nyang punye sorge…maulid itu bid’ah dan bid’ah tempatnye di neraka……berarti hampir semua ulama / habaib nyang ngerjain maulid tempatnye di neraka dong…… tolong nyang punye sorge…kasian guru guru gue…kalo ujung ujungnye di neraka….kalo bace tulisan ente…kayaknye ente lebih dari wali…..

    wassalam ….betawi gatot Subroto

    Balas
  • 41. abu ghonam  |  Agustus 11, 2007 pukul 7:12 am

    Sodara Muhammad Ali….

    siapa yang membenci alawiyyin secara keseluruhan…na’udzubillah…
    adapun yang dimaksud ana dengan tulisan di atas adalah alawiyyin yang sesat, semisal di suryah, lebanon, dan lain-lain yang berafiliasi kepada syi’ah yang sesat di mana beberapa di antaranya menuhankan ali…adapun alawiyyin jika berpegang kepada agama tulen dan sunnah nenek moyangnya (rasulullaah) ataupun keturunannya dari kalangan ahlil bait yang mulya dan para sahabatnya, atau di sebut ahlus sunnah maka itu adalah alawiyyin yang berjalan lurus….semisal contoh alawiyyin di negeri kita yang sesat adalah mereka2 yang berafiliasi kepada syi’ah ataupu bertarekat tasawuf yang gemar menyembah kubur….wallaahu a’lam

    Balas
  • 42. safaat  |  Agustus 28, 2007 pukul 6:52 am

    Assalamualaikum wr.wb
    wahai saudarasaudaraku islam kalian tidakperlu takut dari ancaman ancaman orang orang yang dzalim kepada kita .Kerana Allah pasti akan memberi laknat kepada orang yang telah menzalimi kita.Walaupun kita dihina sebagai bangsa yang bo doh tetaplah kita ingat pada Tuhan kita yaitu Allah SWT

    dan ingatlah firman Allah bahwa Allah tidak akan mengubah nasip suatu bangsa jika kita bangsa tersebut tidak berusaha mengubah nasibmya .

    Wassalamualaikum WR.WB

    Balas
  • 43. Wibi  |  September 14, 2007 pukul 7:32 am

    Salam,
    Ayat2 didalam Quran itu adalah petunjuk dan kebaikan bagi kita semua. Setiap ayat seharusnya kita amalkan di kehidupan kita sehari2. Baik Fiqh, Syariat, Sejarah, dll. Nah, selama ayat itu belum dihapus (Nasikh) maka ayat tersebut dapat kita amalkan dan berlaku hingga akhir zaman. Berikut adalah bukti ayat2 tentang Tawassul (Wasiilah) yang tidak dihapus.

    Al-Maa’idah: 35
    “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya”

    Sumber Ahlussunnah: Mengenai ayat tersebut, Abu Al-Hadid (Ulama besar Ahlussunnah) menulis dalam kitab “Syarah Nahjul Balaghah” bab 1, juz.16 bahwa Sayyidah Fathimah Az-Zahra berkata, “Segala puji bagi Allah yang karena keagungan-Nya, cahaya-Nya mewajibkan semua makhluk yang ada di langit dan bumi untuk mengambil perantara (wasiilah). Dan kami (Ahlulbait) adalah perantara makhluk-Nya”

    Al-A’raaf: 134

    Bertawassul kepada Allah melalui Nabi Musa a.s:
    “Dan ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu) merekapun berkata: “Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu dan pada kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu.”

    Yusuf: 97-98

    Bertawassul kepada Allah melalui Ya’qub:
    Mereka berkata: “Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa).” Ya’qub berkata: “Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

    An-Nisaa: 64

    Bertawassul kepada Allah melalui Nabi Muhammad SAW:
    “Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

    Well, ayat2 diatas adalah bukti dalil petunjuk bagi kita untuk berdoa dengan cara bertawasul dengan orang2 soleh (suci).

    Perhatikan ayat An-Nisaa: 64, Allah tidak mengutus seorang Rasul melainkan untuk ditaati, dan Dia juga mengatakan, dan apabila manusia berbuat dosa dan datang kepada Rasul Saw kemudian meminta kepada Nabi agar beliau memohon ampun kepada Allah bagi kita, maka kita akan mendapatkan ijabah terkabulnya doa kita. Sekarang, untuk apa Allah menurunkan ayat tersebut kalau hanya berlaku disaat Nabi masih hidup? Ayat Allah itu tidak ada yang sia2. Bukankah Ayat2 (Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Ali Imran: 138). Jadi, apapun ayat itu selama tidak ada ayat penghapusnya (Mansukh) maka, ayat tersebut adalah petunjuk bagi orang2 beriman untuk dapat diikuti hingga akhir zaman.

    Rasul Saw itu mengetahui segala hal yg kita kerjakan di dunia ini. “Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah: 105). Berarti indikasi disini adalah beliau juga mendengar segala perkataan2 umatnya. Bukti lain lagi yg sangat jelas bahwa beliau juga dapat mendoakan umatnya hingga akhir zaman adalah setiap kali sholat kita selalu dan wajib memberikan salam kepada beliau, apa gunanya? tidak ada yang sia2 segala hal (risalah) yang telah sampai kepada kita, semuanya ada maksudnya, hasilnya, manfaatnya dll. Sekarang, apa hukumnya menjawab salam? Wajib bukan? Mungkinkah Rasul tidak akan menjawab salam kita? Dan apa sih isi dari salam itu? Bukankah itu sebuah doa? dan menjawab salam adalah kita mendoakan kembali untuk orang yang mendoakan kita. Jelas, Rasul adalah manusia agung, diapun juga menjawab salam kita yg berupa doa dan akan selalu mendoakan kita sebagai umatnya. Jangan samakan orang2 biasa yang mati dengan orang2 suci yang wafat (Syahid), sesungguhnya mereka itu tidak mati, mereka itu hidup disisi Allah dan mendapat rizki!

    Salam atasmu ya Rasulullah, ya habibullah, sampaikanlah kepada Allah agar dosa2 kami semua diampuni, karena doamu pasti didengar oleh-Nya, dan tiada doa yang keluar dari mulut sucimu kecuali ijabah oleh Allah SWT, karena engkau adalah kekasih Allah yang agung!

    Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
    Yaa Allah, sampaikanlah shalat atas Muhammad dan keluarga Muhammad
    Wassalam
    Wibi

    Balas
  • 44. rauddoh  |  September 16, 2007 pukul 12:51 pm

    Assal;amualaikum wr.wb

    Wuluuuh ini mah cerita lamaa sodara2 tapi mudah2an kita tetap termasuk yang mendapatkan hidayah dari Allah,memang banyak orang yang berilmu 0,5 % eeeh ngomongnya dah kayaa orang yang berilmu 70% ato 100%dalam ilmu agama.seperti kita ketahui ilmu agama itu adalah Qur’an, Hadist dan Assunah selanjutnya kita tak bisa menterjema’ahkan al-quran dengan se-ena’e dewe,,se-enae udelle, se-ena’e endase (kaum syiah yg melakukan seperti ini) ,intinya semua penjelasan Al-quran ada dalam Assunnah dan hadist…gituu ajaa kok report mudah2an Allah memberikan hidayah pada kita semua,, saya baca ada para komentar yang daah pada cerdas2, menanggapi dengan ilmu tulisan di atas.
    marilah kita belajar lebiih banyak, buka wawasan kita,,,,,tak sedikit orang2 yang berniat meruntuhkan agama Allah…..,,,,,,,islam itu telah sempurna ,perlu kita ingat bahwa Al-haq itu hanya ada satu carillah kawaaaan, jangan mengklaim kita sebagai ahli sunnah wal-jamaa’h tapi justru malah jauh dari sifat ahli sunnah wal-jama’ah karena kita tak tau apa itu Ahli Sunnah waljama’ah dan siapa mereka……,,,,, gitu aja kok repot

    matuur nuwuuunn

    Balas
  • 45. Tong Kie Too  |  Oktober 11, 2007 pukul 3:33 am

    Saya sangan sependapat dengan AZA atas komentarnya tentang Kita kembali ke titik permasalahan “TAWASSUL”. Alam Barzah itu adalah alam kehidupan sesudah mati, hanya dimensi keruhaniannya sangat kental. Tetapi mereka yang ada di Barzah itu benar2 hidup, kalau tidak hidup bagaimana kita bisa memahami makna siksa kubur dan nikmat kubur? Rukun Iman yang pertama kali disebut dalam AlQuran (Al Baqarah ayat 3) adala Iman kepada yang Ghaib (nah ini adalah cikal bakal dari cabang2 Iman yang selanjutnya). Iman kepada yang Ghaib secara esensial mendorong kita untuk Iman Kepada Allah, Mlaikat dan Nabi dan seterusnya. Keberadaan Nabi SAW pun dalam keterkinian bersifat Ghaib, karena kita tidak pernah melihat langsung. Makanya Nabi SAW sangat respek dan memberi nilai plus justru kepada mukminin yang tidak pernah hidup sejaman dengan beliau.
    Untuk itu kita harus beriman atas eksistensi alam barzah walaupun kita tidak dikaruniai kemampuan untuk bisa menembus alam itu. Bahwa alam itu ada dan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu telah dibuktikan dengan pertumuan Nabi SAW dengan Nabi Musa AS pada saat Nabi SAW miraj. Jadi antara kita dengan ahli kubur itu adalah hubungan antara sesama makhluk hidup. Seperti dijarkan Nabi SAW,kita pun dianjurkan memberi salam kalau masuk kuburan juga dalam doa salat kita. Jadi kalau kita datang ke makam Nabi kita boleh saja berbicara seolah2 kita sedang berhadapan kalau dengan cara itu ekspresi kecintaan kita kepada Nabi SAW dapat tersalurkan dengan lebih intens tidak masalah. Karena Beliau itu benar2 hidup dalam dimensi yang lebih cerah. Ibarat filem kita itu filem hitam putih sedang Nabi dalam alam yang nyata dan tiga dimensi atau mungkin 4 dimensi. Rasanya kita tidak menjadi musyrik hanya karena bicara dengan sesama yang hidup, sejauh dalam hati kita mengatakan bahwa kita sedang berhadapan dengan Nabi SAW dan bukan denga Tuhan. Kita boleh minta apa saja ke Nabi SAW ketika kita berziarah, misal, mint amaaf kalau selama ini kelakuan kita memempermalukan Nabi SAW, minta dimasukkan ke dalanm list yang akan diberi syafaat oleh beliau baik diakhirat nanti, minta dimohonkan Ampun kepad Allah SWT, minta ketemu lewat mimpi, minta dimohonkan rizki yang luas kepad aAllah SWT denga alasan kalau minta langsung merasa nggak pantas. Bukankah doa Nabi SAW sebagai kekasih Allah selalu dikabulkan?
    Ketika saya dulu ziarah ke Makam Nabi saya melakukan hal2 seperti itu dan terasa sekali seolah2 terjadi perjumpaan dengan Nabi SAW hingga menangis tersedu2 karena merasa malu bertemu beliau dan minta macam2. Suasana menjadi hidup dan saya yakin Nabi SAW melihatnya dan mendengarnya. Mungkin anda bertanya, lho Nabi SAW kan gak bisa bahasa indonesia? Pertanyaan yang sama juga akan saya tanyakan, bukan kah Nabi Musa AS juga gak bisa bahas Arab? Toh beliau berdua bisa berkomunikasi. Karena Alam kubur Nabi SAW adalh alam yang tidak divatasi ruang dan waktu maka beliau bisa berkomunikasi dengan umatnya secara bersamaan dalam tempat2 yang berbeda2 dan waktu yang berbeda pula dan semua bisa dijawabnya.Ketika solat kita disuruh membaca: Assalaamualaika ayyuhan nabiyyu dst, dan itu alaika berarti kepadamu. Jadi Ruh Nabi sudah meliputi seluruh dunia orang2 muslim diseluruh dunia hingga kiamat nanti.
    Wallahua’lam

    Balas
  • 46. man-man  |  November 12, 2007 pukul 2:05 pm

    bertawassul boleh tetapi mestilah kepada orang yang masih hidup. kalau bertawassul kepada orang yang telah mati adalah salah/haram/.nabi semua telah mati maka tidak boleh lagi kita bertawassu kepada merekal. begitu juga kepada para auliyaa.itu yang saya faham

    Balas
  • 47. ken  |  November 17, 2007 pukul 2:13 pm

    Wahabi lagi Wahabi lagi….Bosen……………………
    Hai orang2 wahabi….kalian tuh tidak mau di koreksi oleh orang lain,tapi maunya mengoreksi orang ,gmn seeeh?bahkan kalian tidak segan2 mengkafirkan aliran lain.
    Apa kalian tidak ingat?bahwa kehidupan di dunia itu sementara?tapi kehidupan di aherat itu abadi.
    Kaum Wahabi keras, itu karena kerja sama dengan Dinasti Saudi. Itu yang penting. Penting sekali. Dinasti Saudi ini mengidap rasa rendah diri. Kenapa? Karena mereka keturunan Musailamah al-Kadzab.(tentunya anda tau siapa itu Musailamah al-Kadzab?).
    Pada jaman Nabi Muhammad SAW, Musailamah al-Kadzab (Sang Penipu) pernah mengaku menjadi nabi. Dia dulu tinggal di Yalamlam, daerah antara Jedah dan Yaman. Dinasti Saudi dulu menamai istananya dengan Istana Yalamlam.Jadi, sikap rendah diri itu lalu ditutupi dengan sikap seolah paling benar sendiri. Wahabi dijadikan alat untuk menutupi masa lalu Dinasti Saud saja.bersa gaaaak?
    Terus untuk di indonesia orang2 kalian itu tidak mengakui pancasila sebagai dasar negara RI.kalao kalian mau menegakkan hilafah km tegakkan aja di saudi sono,kalo kalian teliti lebih mendalam soal pancasila saya pastikan semua itu ada dalam ajaran alquran.dan perlu anda fikirkan kelompok anda jangan seenaknya mengganti pancasila,karena pancasila yang merumuskan adalah para ulama dan orang yang ikut andil dalam kemerdekaan republik ini(FAHAM WAHABI TIDAK IKUT ANDIL).
    SEKIAN

    Balas
  • 48. ken  |  November 17, 2007 pukul 2:26 pm

    Tong Kie Too berkata,

    Oktober 11, 2007 @ 3:33 am

    Saya sangan sependapat dengan AZA atas komentarnya tentang Kita kembali ke titik permasalahan “TAWASSUL”. Alam Barzah itu adalah alam kehidupan sesudah mati, hanya dimensi keruhaniannya sangat kental. Tetapi mereka yang ada di Barzah itu benar2 hidup, kalau tidak hidup bagaimana kita bisa memahami makna siksa kubur dan nikmat kubur? Rukun Iman yang pertama kali disebut dalam AlQuran (Al Baqarah ayat 3) adala Iman kepada yang Ghaib (nah ini adalah cikal bakal dari cabang2 Iman yang selanjutnya). Iman kepada yang Ghaib secara esensial mendorong kita untuk Iman Kepada Allah, Mlaikat dan Nabi dan seterusnya. Keberadaan Nabi SAW pun dalam keterkinian bersifat Ghaib, karena kita tidak pernah melihat langsung. Makanya Nabi SAW sangat respek dan memberi nilai plus justru kepada mukminin yang tidak pernah hidup sejaman dengan beliau.
    Untuk itu kita harus beriman atas eksistensi alam barzah walaupun kita tidak dikaruniai kemampuan untuk bisa menembus alam itu. Bahwa alam itu ada dan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu telah dibuktikan dengan pertumuan Nabi SAW dengan Nabi Musa AS pada saat Nabi SAW miraj. Jadi antara kita dengan ahli kubur itu adalah hubungan antara sesama makhluk hidup. Seperti dijarkan Nabi SAW,kita pun dianjurkan memberi salam kalau masuk kuburan juga dalam doa salat kita. Jadi kalau kita datang ke makam Nabi kita boleh saja berbicara seolah2 kita sedang berhadapan kalau dengan cara itu ekspresi kecintaan kita kepada Nabi SAW dapat tersalurkan dengan lebih intens tidak masalah. Karena Beliau itu benar2 hidup dalam dimensi yang lebih cerah. Ibarat filem kita itu filem hitam putih sedang Nabi dalam alam yang nyata dan tiga dimensi atau mungkin 4 dimensi. Rasanya kita tidak menjadi musyrik hanya karena bicara dengan sesama yang hidup, sejauh dalam hati kita mengatakan bahwa kita sedang berhadapan dengan Nabi SAW dan bukan denga Tuhan. Kita boleh minta apa saja ke Nabi SAW ketika kita berziarah, misal, mint amaaf kalau selama ini kelakuan kita memempermalukan Nabi SAW, minta dimasukkan ke dalanm list yang akan diberi syafaat oleh beliau baik diakhirat nanti, minta dimohonkan Ampun kepad Allah SWT, minta ketemu lewat mimpi, minta dimohonkan rizki yang luas kepad aAllah SWT denga alasan kalau minta langsung merasa nggak pantas. Bukankah doa Nabi SAW sebagai kekasih Allah selalu dikabulkan?
    Ketika saya dulu ziarah ke Makam Nabi saya melakukan hal2 seperti itu dan terasa sekali seolah2 terjadi perjumpaan dengan Nabi SAW hingga menangis tersedu2 karena merasa malu bertemu beliau dan minta macam2. Suasana menjadi hidup dan saya yakin Nabi SAW melihatnya dan mendengarnya. Mungkin anda bertanya, lho Nabi SAW kan gak bisa bahasa indonesia? Pertanyaan yang sama juga akan saya tanyakan, bukan kah Nabi Musa AS juga gak bisa bahas Arab? Toh beliau berdua bisa berkomunikasi. Karena Alam kubur Nabi SAW adalh alam yang tidak divatasi ruang dan waktu maka beliau bisa berkomunikasi dengan umatnya secara bersamaan dalam tempat2 yang berbeda2 dan waktu yang berbeda pula dan semua bisa dijawabnya.Ketika solat kita disuruh membaca: Assalaamualaika ayyuhan nabiyyu dst, dan itu alaika berarti kepadamu. Jadi Ruh Nabi sudah meliputi seluruh dunia orang2 muslim diseluruh dunia hingga kiamat nanti.
    Wallahua’lam

    NAH KALO ORANG ORANG SAUDI SONO (YANG UMUMNYA BERFAHAM WAHABI)MASUK KEMANA DOONG?DI JAMIN MASUK SORGA?………..ENAK BENER TUH…..
    SAYA JUGA MAU BERTANYA PADA KALIAN HEY WAHABIAH……
    INI SERING TERJADI DI TEMPAT KERAJAAN WAHABI (SAUDI)APA HUKUMANNYA BAGI YANG MEMPERKOSA ,MENYIKSA ,TIDAK MEMBAYAR GAJI PEGAWAINYA DAN BAHKAN SERING TERBUNUH?………HAMPIR TIDAK ADA KEADILAN TENTANG ITU KAN?…
    TENTANG MENHUKUMI FAHAM LAIN KAFIR?COBA DEH CARI DALILNYA KALO TIDAK SEFAHAM SAMA KALIAN ITU KAFIR,DAN COBA BACA APA KATA NABI KETIKA KALIAN MENGKAFIRKAN SESAMA MUSLIM.
    WASSALAM

    Balas
  • 49. abu sayev  |  November 23, 2007 pukul 9:48 am

    kebodohan kaum kuburiyyun sering mereka tutupi dengan membodoh-bodohkan, sedang kebodohan itu berpihak kepada mereka karena kesesatanya, seharusnya kalau mereka mensikapi pembelaan mereka terhadap tawasul, yang di yakini bid’ah oleh kami dengan memberikan dalil yang berkorelasi dengannya.

    seperti semisal bahwa yang kita yakini tawasul sebagai praktik kebid’ahan yang bisa mendekatkan potensi kepada kesyirikan adalah tawasul kepada orang mati, yang akhirnya bisa menjadi penyembahan kepada kuburan.

    mengapa yang menjadi argumen untuk membantah adalah hujjah tentang bertawasulnya kepada orang yang masih hidup.

    padahal perbedaan pemahaman tentang tawasul telah terjadi berabad-abad lamanya, kenapa mereka tidak memahami tentang perbedaan itu, dan sering keliru membawakan dalil.

    Balas
  • 50. Ummul Musthafa  |  Desember 16, 2007 pukul 1:10 pm

    salam, …
    kepada Anda yg membolehkan tawasul pd org yg msh hidup, kalo skrg anda hendak bertawasul bagaimana caranya tuh dan kepada siapa?!! kalo toh memang (lumrah) anda melakukan tawasul melalui orang yg msh hidup!! …
    saya yakin anda tdk pernah bertawasul sekalipun kpd org yg msh hidup…

    Yang ini jelas nggak tahu apa-apa,asal ngomong doang….. tunggu artikel saya selanjutnya

    Balas
  • 51. fikri irawan  |  Januari 16, 2008 pukul 5:56 am

    Yang mengatakan wahabi benar, mana sanad guru-guru wahabi, mana sanad hadist-hadistnya, apakah sampai kerasulullah saw. Hati-hati saudaraku, carilah guru-guru yang bersanad kepada rasulullah saw yang mengamalkan sunnahnya. Ini untuk pencari kebenaran http://www.majelisrasulullah.org. Adakah guru-guru kalian yang bergelar hafidh yang sudah hafal puluhan bahkan ratusan ribu hadist. TUNJUKKAN, JANGAN ASAL COMOT BUKU SANA-SINI.

    Balas
  • 52. Nartono  |  Januari 28, 2008 pukul 5:59 am

    Saya cuman numpang dikit. Misalnya gini, kalo kita mengajukan proposal sama PRESIDEN,tentunya biar CEPAT di kabulkan kita harus melalui orang yg dekat dengan PRESIDEN. Kecuali kalo kita memang sudah dekat dengan PRESIDEN kita ga perlu lagi melalui bawahannya. Jadi orang yg ga tawasul dengan para Auliya Allah apalagi dengan RASULULLAH yg dekat dengan Allah itu sama dengan kesombongan karena merasa sudah dekat dengan Allah. Terima kasih penjelasan daari orang bodoh ini.

    Balas
  • 53. Nartono  |  Januari 29, 2008 pukul 11:26 pm

    kalo pahamnya cuman segitu ya mau apalagi? seharusnya harus mencari ilmu yg lebih dalam lagi biar lebih paham. JAngan nyampe sgitu aja udah merasa cukup. Emang kalian akalnya ga didalam kepala. adanya didalam PANTAT.Duh wahabi wahabi. Pindahin tu akal kalian yg ada di PANTAT,biar pahamnya benar,he,he,…

    Balas
  • 54. Aminuddin  |  Februari 6, 2008 pukul 3:26 am

    Wahai wahabiyun Al-majnunun…. Lihatlah…. dan apakah kalian tidak pernah membaca dan mentelaah Al-quran..? baca dan telitilah kisah para nabi dan wali-wali Allah swt dalam Al-quran. Gunakan nalar dan fitroh suci kalian….. Jangan asal mendakwa dan gemar mengkafirkan mazhab lain..? Sirnakan segera klaim dan kata-kata jorok TBC [Tahayul, Bid’ah dan Churafat] itu. jika kalian masih ingat kisah nabi Isa as yang menyembuhkan orang sakit tatkala salah satu dari ummatnya bertawassul kepadanya supaya di sembuhkan oleh Allah dari penyakitnya, [Al-quran, Ali Imron: 38-39 atau Al-anbiya: 81] atau jika kalian masih ingat cerita tentang anak-anak Nabi Ayyub as yang meminta kepada ayahandanya supaya Allah mengampuni dosa-dosanya karena mereka telah berbuat maksiyat kepada Allah swt dengan menganiaya Nabi Yusuf as [Al-quran, Yusuf: 97] maka bersegeralah kalian ayyuhal wahabiyyun……..bertaubat..sebelum azab Allah swt. turun diatas kepala kalian!!.

    Anda salah tangkap kali …….mas.
    Bertawasul itu boleh, siapa yang melarang, tetapi ada batasannya….
    Yang boleh digunakan bertawasul adalah:
    1. Asmaul Husna
    2. Amal terbaik kita
    3. Orang yang masih hidup (maksudnya minta dido’akan)

    Bertawasul kepada orang yang sudah mati jelas dilarang.
    Dan orang yang sudah mati itu nggak bisa berbuat apa-apa, jangankan untuk orang lain, untuk dirinya sendiri aja sudah nggak bisa.

    Itulah umat sejak Nabi Nuh, dia selalu menyembah selain Allah, diantaranya : Kuburan, Bebatuan (arca dan sjenisnya) serta Pepohonan.
    Dan perbuatan semacam ini berlanjut sampai sampai saat ini (termasuk sebagian umat islam).
    Tanyakan pada nurani kita…

    Balas
  • 55. microwave  |  Februari 18, 2008 pukul 4:43 pm

    Bagi saya sih kalau berdoa ya kepada Allah SWT. minta pertolongan juga kepada Allah SWT.

    Dan bagi saya juga, kalau saya menyebut suatu golongan saya gak akan menyebut golongan tersebut dengan kata2 yang buruk. Bagi saya ketika dua golongan, dan dua-duanya saling menyebut dengan julukan yang buruk maka keduanya sudah jatuh ke lembah dengki dan takabur.

    @Aminuddin: kenapa Anda menyuruh orang tanya ke hati nurani? ketika Anda memanggil orang lain dengan Al-majnunun. Tanya juga ke hati nurani Anda, apakah pengetahuan akan bahasa hanya digunakan untuk menghina orang seperti itu.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Subscribe to the comments via RSS Feed


KOMUNITAS

PALING BENER..!?

Preman Agama

WARNING..!

Assalamualaikum wr wb. Diberitahukan kepada semua pengunjung blog ini, bahwa setiap komentar yang hanya made in copy paste kami anggap "SPAM". Kami mengharap, komentator menunjukkan kemampuan bernalar, berlogika dalam analisa, hujjah bahkan kritik liar di setiap artikel yang tersaji. Setiap komentar bisa di komentari secara timbal balik sehingga tercipta diskusi yang segar. Sekalipun muatan komentar itu asal muasalnya bukan hasil perenungan atau karya sendiri tetapi coba hindarilah pendapat yang meng-ekor “KATANYA” abu fulan bin abu-abu dengan cara copy paste. Berfikirlah bebas..!, liar…!! jangan sekedar jadi kacung.!! Wassalam wr wb. Best Regard. ASWAJA. Hn Wawan.

Harga Blog Ini


My blog is worth $30,485.16.
How much is your blog worth?

JUMLAH POPULASI

  • 110,309 PENDUDUK

TAMU YANG HADIR

TANGGALAN

Maret 2007
M S S R K J S
    Apr »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

NEWS UPDATE

ARSIP PADA


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: