ASWAJA MENGGUGAT

Maret 4, 2007 at 8:17 pm 53 komentar

Menggugat Wahabisme di Tanah Air

Assalamualaikum wr wb

Saya benar-benar gelisah sekaligus resah ketika membaca rintihan pak Masdar F. Mas’udi yang dimuat di berbagai media cetak tanah air. Saking gelisahnya, saya langsung tancap gas dan cek akan kebenaran cerita dan rintihan pak Masdar. Astaghfirullah…….. alangkah tersentak jiwa aswaja saya….. ketika menyaksikan tragedi itu benar-benar menimpa warga seakidah saya. Dimana-mana, hampir di seluruh pojok tanah air, masjid-masjid dan pondok-pondok yang notabene adalah milik warga Nahdliyin, sekarang ini telah di rampas ….di rusak oleh preman-preman berjubah dengan megadopsi kalimat agung Salafus saleh yang sebenarnya adalah [Wahabi].

Pemandangan yang dipastikan dapat mengusik nurani siapa saja yang membela kebebasan, kerukunan, dan kebersamaan. Tragis dan menyedihkan, tradisi suci warisan leluhur dari kanjeng Nabi saw, dan sudah menjadi bagian dari tubuh kaum Nahdliyin hampir-hampir saja punah dan moksa oleh virus Bid’ah, Syirik dan khurafat ala jamaah takfiriyah. Tradisi yang disunahkan oleh Islam itu, kini di cap dan diberi segel sesat dan menyesatkan. Sedih…

Yasinan, tahlilan, muludan, ziarah kubur dan amalan hasanah lainnya dengan mudah dan enak dianggap sampah bid’ah, khurafat dan tahayul.

Kini Masjid-masjid, pondok-pondok, langgar-langgar itu, sepi dari bacaan sunah hasanah tapi rame karena menjadi tempat hunian, tongkrongan gerombolan berjenggot, berjubah, dan bercelana panjang semata kaki yang menamakan diri mereka sebagai malaikat pembawa surga.

Berangkat dari cerita sedih pak Masdar F. Mas’udi, dan umat Islam secara umum, saya mencoba menggali hakekat mereka, menelusuri jejak-jejak gerombolan preman yang mendakwa pembawa risalah Muhammadi.

Salafiyah atau sebutan keren mereka adalah Wahabiyah yang berpusat di Saudi dan Kuwait ini, berbohong atas nama Islam dengan mendakwa membawa kunci-kunci surga yang akan diberikan kesegenap umat manusia. Attauhid adalah dakwaan risalah mereka, Kafir, Bid’ah adalah wiridan mereka, Tebas leher yang tidak seakidah adalah slogan mereka.

Sebagai Ahlu Sunnah wal Jamaah tentu saya tidak berpangku tangan begitu saja. Oleh karena itu, melalui blog sederhana ini kami berupaya membongkar kebejatan mereka dengan mengunakan kekuatan logika.

Doakan kami

Wassalamualaikum wr wb

ASWAJA

HN Wawan

Iklan

Entry filed under: Wahabisme.

Melacak Wahabi Salafy/i: Mendulang Fakta

53 Komentar Add your own

  • 1. yogakasep  |  Maret 23, 2007 pukul 1:20 am

    assalamualaikum

    berikami satu dalil saja bahwa ketika rasulullah meninggal para sahabat melakukan tahlilan ? yang shahih ya ? kalau ada Insya Allah saya akan rujuk pada antum….

    —————————————————————-
    Waalaikum salam wr. wb

    Pertanyaan kamu ini mirip pertanyaan saya ketika saya meminta jawaban berdasarkan hadist shahih. pertanyaan saya sangat sederhana begini: “Tunjukan kepada saya hadist shahih tentang diperbolehkannya berdakwah melalui internet, kalau tidak ada jawaban maka semua yang kamu lakukan ini adalah BID’AH, KHURAFAT, dan SYIRIK dan apakah Kanjeng Nabi juga pernah melakukan dakwah islam ini melalui internet.?. oleh karena itu saya akan menjawab dengan hadist shahih pertanyaan kamu jika kamu bisa menunjukkan satu kalimat saja yang mengisyaratkan adanya dakwah rasul melalui internet, atau yang para sahabat, tabiin, dan tabiin tabiin pernah memakai Hand Phone. sederhanakan.??

    Ya akhi… tahlilan adalah uapaya kita membacakan doa kepada si mayyit agar Allah mengampuni dosa dosa si mayyit. apakah kita mendoakan orang lain itu BID’AH, SYIRIK dan KHURAFAT..?. Mungkin kamu akan bilang bukankah ketika orang meningal dunia yang akan di hisab adalah amal amalnya, sementara doa orang lain sama sekali tidak akan merubah keadaan si mayyit..?.

    Balas
  • 2. yogakasep  |  Maret 25, 2007 pukul 2:28 pm

    afwan pak haji, hukum ibadah itu asalnya haram kecuali ada dalil yang membolehkan makanya saya tanya ada dalil gak ?

    adapun urusan chating dan urusan dunia lainnya itu termasuk perkara mubah, yang hukum asalnya boleh dia terkena haram jika ada dalil pengharaman, jadi gak perlu dalil untuk itu…jusrtu kebalikannya kalau chating haram apa dalilnya ?

    jadi pak haji fahami dulu ushul fiqih nya ya…

    khwatir cape gawe teu kapake kata orang sunda mah hihihii 😀

    Balas
  • 3. yogakasep  |  Maret 26, 2007 pukul 4:03 am

    lamanya waktu bukan berarti akan faqihnya ilmu seseorang, walaupun sudah pasti ilmu itu bisa didapat dengan cara terus menurus dan butuh waktu yang lama…

    permasalahannya dengan siapa kita menuntut ilmu dan bergaul maka kearah mana orang itu akhirnya akan ketebak…

    Imam Syafii adalah panutan anda…apakah Imam syafii termasuk bodoh sehingga tidak melakukan tahlilan, padahal untuk melakukan tahlilan di jaman kapan pun bisa karena tidak terkait dengan teknologi.. Kenapa Rasul para sahabat dan Imam syafii tidak melakukan ? Karena emang itu bukan urusan agama Islam… maka barang siapa yang mengatakan itu bagian dari Islam tolong tunjukan dalilnya….

    adapun perkara chating, email dsb itu terkait teknlogi, rasul pun dulu pernah berkirim surat kepada raja heraklius, kl dulu sudah ada email..mungkin rasul akan menggunakan email karena lebih praktis… pun rasul akan menggunakan mobil atau pesawat terbang kalau memang sudah ada, gak akan nunggang onta terus menerus….

    jadi kaidah bid’ah disisi syar’i aja kang haji gak faham….karena emang di pesantren gak diarahkan kesana…bahkan diarahkan untuk memahami bahwa adanya bid’ah hasanah dst…..

    sedikit tapi mengikuti sunnah itu lebih baik kang, daripada banyak tapi bertabur bid’ah (secara syar’i tentunya bukan bid;ah secara bahasa), jika kang fasih bahasa arab..kok ujung2nya beda tafsir sama yang orang arab aslinya yang dituduh wahabi….ekekkekekek

    orang awam aja kang tahu, kalau mau belajar “tahu sumedang” yang asli ya datang lah ke sumedang atau berguru sama orang yang belajar langsung dari orang sumedang, kalau mau belajar Islam yang asli ya datanglah ke mekkah dan madinah atau berguru sama yang sudah belajar ke mekah dan madinah…dan hasilnya bisa ditebak kang, lulusan mekah dan madinah jauh banget ama lulusan gontor…..

    sementara Islam tidak diturunkan di tempat kang…..sayang sekali…..

    —————————————
    rasul pun dulu pernah berkirim surat kepada raja heraklius, kl dulu sudah ada email..mungkin rasul akan menggunakan email karena lebih praktis…
    Pertanyaan buat antum…. kok bisa-bisanya rasul menulis… bukankah rasul itu Ummi..?? yang ngak bisa baca dan tulis..?? . Jawab kang.

    Balas
  • 4. Ali  |  Maret 26, 2007 pukul 6:50 am

    Pak Haji

    Setahu saya, yang berdakwah memakai internet tidak merasa wajib ketika menggunakan sarana internet tersebut. Artinya, tidak ada internetpun tidak apa-apa, dakwah tetap jalan dengan cara lain. Internet bukan segala-galanya. Ini cuma kecanggihan jaman sekarang. .

    Kalo dulu Nabi dan sahabat ngak pake internet ya karena belum diketemukan tekhnologi seperti ini di jaman itu. Jadi Nabi dan para sahabat tidak memakai internet yang memang bukan jamannya.

    Sedang tahlilan, apa perlu nunggu jaman canggih baru Nabi dan sahabat tahlilah. Dijaman mereka apa susahnya sih tahlilan kalo itu memang baik. Lalu kenapa mereka ngak tahlilan?. Kata Ibnu katsir. LAUKAANA KHOiRON LASABAKUUNA ‘ALAIH, kalo sekairanya baik, pasti mereka (sahabat) mengerjakannya

    Dan parahnya lagi (inilah bid’ahnya), yang biasa tahlilan merasa berdosa kalo ngak tahlilan. Sedang yang memakai Internet, ngak merasa berdosa tuh ngak pake internet

    Coba berpikirlah

    Balas
  • 5. Ali  |  Maret 26, 2007 pukul 7:12 am

    tambahan lagi pak Haji

    Dulu sebelum diketemukan Kapal terbang, orang-rang indonesia yang mau pergi haji mengunakan kapal laut. Yang satu daratan dengan Mekkah mereka menggunakan kuda. Sedang nabi memakai onta.

    Apakah Kami mengatakan bahwa kapal terbang adalah bid’ah? Tidak. Ini adalah Masholihul mursalah. Perkara-perkara baik yang belum ada dijaman Nabi.

    Yang kami anggap Bi’dah adalah: ‘Segala bentuk amal ibadah yang bertujuan mendekatkan diri kepada Alloh sedang Nabi dan sahabat tidak mencontohkan padahal mereka bisa melakukannya’. Contoh tahlilan tadi. Maulid Nabi. Isra’ Mi’raj. dan alin sebagainya.

    Pada jaman Nabi dan sahabat, tabi’in dan tabi’ut, apa susahnya sih merayakan Maulid atau Isra’ Mi’raj? Ngak perlu nunggu Toa dan Speaker diciptakan. Ngak perlu menggu terbentuknya Panitia Maulid. Pasti mereka (para sahabat) orang yang pertama kali melakukan kegiatan tersebut.

    Lalu kenapa mereka tidak melakukannya?? Masalahnya apa. Apa Para sahabat tidak tahu ada kebaikan didalam kegiatan2 tersebut sebagaimana sanagkaan kalian yang suka merayakan kegiatan2 tersebut?

    Hmm. Menghina sekali. Padahal didalam Alqur’an, mereka lah kaum yang mendapat ridho dari Alloh ta’ala. Hingga ketima nama mereka disebut selalu diakhiri dengan rodhiallohu anhum.

    Balas
  • 6. Asep Suryana  |  Maret 28, 2007 pukul 9:43 am

    Ass. Wr. Wb.
    Saya sering ajukan pertanyaan kepada para wahabi, tunjukkan satu hadis bahwa Rasulullah pernah mengucapkan shalawat kepada para sahabatnya ! Tidak ada. Tapi mengapa mereka bershalawat kepada para sahabat Nabi dengan mengatakan : “…. wa ashabihi ajma’iin.”
    Kalau mereka mau konsisten dengan konsep bid’ah, seharusnya mengucapkan shalawat untuk para sahabat juga bid’ah.

    Balas
  • 7. Ali  |  Maret 29, 2007 pukul 5:59 am

    Buat Asep:

    Pernah tanya kesiapa anda bahwa wahabi sering membaca shalawat kepada para sahabat? Siapa yg anda maksud?

    Silakan hadirkan bukti, di kitab2 mana orang2 wahaby yang anda maksud sering bersalawat kepada sahabat

    Kalo cara anda menulis tanpa bukti, apa anda mau saya menulis disini “bahwa asep telah berzina”.

    Coba anda perhatikan Bacaan muqoddimah para asatidz yang anda juluki wahaby tersebut. Tidak akan anda temukan kalimat salawat kepada sahabat.

    atau silakan anda buka web: http://www.assunnah.or.id/artikel/masalah/1khotbah.php

    Disitu anda akan temukan susunan muqoddimah (khutbatul hajat) pada setiap kali mengawali pembicaraan.

    Balas
  • 8. april  |  Maret 29, 2007 pukul 2:55 pm

    assalamu’alaikum

    pertama-tama kalau boleh saran, alangkah baiknya menghindari diskusi/debat
    kusir,tapi dengan menggunakan akal sehat dan dalil.

    kalau benar bahwa saudaraku ingin mencontoh Rasulullah SAAW, maka
    pertanyaannya adalah benarkah apa yang didengung-dengungkan
    adalah sesuai dengan contoh Rasulullah dan ahlul bait beliau.
    Sedangkan hanya dalam tempo beberapa tahun dari wafatnya beliau SAAW
    cucu dan keluarga nabi di bantai di karbala?Apakah kita tidak bisa berpikir jernih. Lalu bagaimana perubahan-perubahan yang terjadi setelah nabi wafat
    yang memenuhi kitab-kitab hadist?

    Andai kata, engkau wahai saudaraku konsisten mengenai hal ini, maka
    banyak sekali yang tidak konsisten atas sikap tersebut.

    satu hal yang paling konkret.simple dan jelas-jelas adalah para ulama keturunan
    Nabi yang memenuhi hadramaut yang mengikuti madzab syafiie, sesungguhny
    mereka lebih mengetahui dan paham ttg ajaran kakek-kakek mereka
    saya hanya bisa sedih saja melihat akal yang tertutup. Bahkan saya yakin
    orang yang punya pikiran jernih saja paham akan hal ini.
    MAri buka mata buka telinga

    Balas
  • 9. boby  |  Maret 31, 2007 pukul 4:41 am

    ali maksud asep adalah, pada saat mereka sholawat kepada nabi mereka menggandengkannya dengaan /ke shobat…
    cuma anda dengar kalo pembukaab khotbah mereka/anda

    Balas
  • 10. yogakasep  |  Maret 31, 2007 pukul 5:22 pm

    h.wawan says “Pertanyaan buat antum…. kok bisa-bisanya rasul menulis… bukankah rasul itu Ummi..?? yang ngak bisa baca dan tulis..?? . Jawab kang.”

    disini aja pak haji tidak teliti membaca tulisan saya, simak pak saya katakan rasul berkirim surat bukan menulis surat. berkirim atas nama rasul, tentu yang menulisnya adalah para sahabat dan mungkin saja sekretaris beliau zaid bin tsabit.

    kayak presiden SBY aja pak kalau berkirim surat sama wak haji, pasti bukan pak SBY yang nulisnya, pak SBY cuma tanda tangan aja, padahal SBY gak umi lo..kalau kagak ngarti juga kebangetan deh….

    Balas
  • 11. Ind. F.B  |  April 4, 2007 pukul 1:36 am

    Yogakasep berkata :
    afwan pak haji, hukum ibadah itu asalnya haram kecuali ada dalil yang membolehkan makanya saya tanya ada dalil gak ?

    adapun urusan chating dan urusan dunia lainnya itu termasuk perkara mubah, yang hukum asalnya boleh dia terkena haram jika ada dalil pengharaman, jadi gak perlu dalil untuk itu…jusrtu kebalikannya kalau chating haram apa dalilnya ?

    jadi pak haji fahami dulu ushul fiqih nya ya…
    ———————-
    yoga kasep pasti orang sunda, sama seperti ind FB yang juga kasep, he3.

    SAYA SETUJU SAMA YOGA….
    PAHAMI DULU KAIDAH FIQIHNYA…
    ibadah itu semuanya haram, kecuali yang diperintahkan dengan dalil yang kuat (sohih)…………….. jadi kalo pak haji mengatakan tahlil adalah sebuah ibadah sunah, mana dalil PERINTAHNYA ????
    masa pak haji mau melawan dengan dalil internet, karena internet tidak pernah digunakan rosul…….
    saya sarankan pak haji belajar dulu konsepnya…..
    internet itu perkara muamalah, yang pada dasarnya semuanya adalah boleh, kecuali yang dilarang. jadi kalo pak haji mengatakan internet itu adalah TBC, tunjukan dalil yang melarangnya ???

    mohon maaf, saya adalah orang yang bodoh dalam agama. tapi selalu berusahan sekuat mungkin untuk menghindari hal-hal yang tidak jelas atau subhat. dari pada mempertahankan ibadah-ibadah yang gak jelas dalilnya, menurut saya masih banyak ibadah-ibadah berdalil kuat yang bisa kita lakukan. bahkan kalo kita mau melakukan semuanya, niscaya waktu kita yang hanya 24 jam sehari gak akan cukup.

    Balas
  • 12. abu hanifa  |  April 9, 2007 pukul 12:06 pm

    Aswaja Wrote :
    ……..tradisi suci warisan leluhur dari aknjeng Nabi itu dan sudah mendarah daging di tubuh kaum Nahdliyyin hampir-hampir saja punah dan moksa oleh virus Bid’ah, Syirik dan khurafat. ……

    Komentar : Apa maksud tradisi suci warisan leluhur dari Kanjeng Nabi, Apakah yang antum maksud adalah Tahlilan Yasinan dst …. . Kalau memang benar yang maksud antum itu TOLONG BAWA DALIL YANG SHOHIH BAHWA RASULULLAH SHALALLAHU ALAIHI WASALAM DAN PARA SAHABAT RIDWANULLAH JAMIAN PERNAH MELAKUKANNYA ?????

    Antum juga harus buktikan kalau yang antum maksud Wahabi dengan ZIONIST ? Bukankah malah ke balik Tokoh NU bergandengan dengan Israel sampai mendapat bintang jasa, Jadi siapa yang Zionis Ya ????

    Yasinan, tahlilan, muludan, ziarah kubur dan lain-lain dengan mudah dan enaknya di anggap rendahan sebagai bid’ah, khurafat dan tahayul. Kini Masjid dan pondok-pondok itu mulai sepi tapi rame di huni dan di jadikan sebagai tongkrongan kelompok yang menamakan SALAFY/I [Wahabi] ini

    Komentar : Coba antum belajar sedikit ilmu mustholaah hadist supaya tahu derajat Hadist TAHLILAN DAN YASINAN ” ATAU kalau antum merasa Pengikut Imam Syafii Rahimahullah bacalah Kitab AL UM karyar beliau, disitu ada pendapat beliau tentang TAHLILAN.

    Mari kita berdiskusi dengan ILMU bukan dengan NAFSU.

    Balas
  • 13. jamal  |  April 12, 2007 pukul 7:29 am

    pembahasan tentang bid’ah memang luas, namun intinya tahlilan, yasinan, mauludan dsb tidak termaksid bid’ah karena kita tidak mengatagorikannya sebagai bagian dari agama. tidak perlu semua ibadah yang kita lakukan itu harus ada ayat atau hadistnya secara khusus, tapi cukup ada nash yang mengisyaratkannya walaupun secara umum, misalkan ada perintah dari ayat dan riwayat untuk kita menyebarkan agama islam, maka dakwah islam itu dianjurkan, terserah methodenya bagaimana. Islam memerintahkan kita untuk mendoakan mayyit, menbaca do’a, menghormati Rasul Saw dll, maka kita harus melakukannya terserah bagaimana bentuknya.
    jadi memang ada perbedaan antara Sunni dan Wahhabi akan makna Bid’ah, kalau Wahabi mengatakan bid’ah itu yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi Saw, Sahabat, Tabi’in dan Tabi’in tabi’in. sekarang saya mau tanya sama kelompok salafy, apakah difinisi bid’ah ini kalian dapatkan dari Nabi Saw atau para Shabatnya yang mulia. jika makna ini adalah sesuatu kebaikan mengapa mereka tidak merumuskannya? apakah mereka tidak mengerti akan makna Bidah?

    Balas
  • 14. Ind. F.B  |  April 12, 2007 pukul 9:26 am

    Wahabi, salafy, wahabi, salafy. itu terus yang dibahas. dengan tuduhan anda bahwa yang anti tahlilan itu semua adalah wahabi, berarti anda telah mewarisi sifat wahabi yang anda sebut, yaitu senang menuduh orang lain.

    saya orang yang anti tahlilan, tapi saya baru tahu tuh ada sebutah wahabi.

    pelajari dulu ushul fiqihnya, ibadah itu pada hukum asalnya haram, kecuali yang diperintah, jadi kalo anda mengatakan tahlil itu sunnah atau bahkan sebagian nahdiyin mengatakan wajib, tunjukan dalil perintahnya.

    pasti para penuduh wahabi mau melawan dengan dalil bahwa internet juga tidak ada di jaman rosul, dan kaum wahabi menggunakan sebagai sarana dakwah. kembali lagi pahami dulu ushul fiqihnya. internet itu adalah teknologi, dan teknologi adalah hal yang bersifat muamalah, yang hukum asalnya boleh kecuali yang dilarang. jadi kalo anda mengatakan internet itu bid’ah, tunjukan dalil yang melarangnya

    Balas
  • 15. joesatch  |  April 14, 2007 pukul 8:37 am

    lho, siapa bilang internet itu bid’ah?

    wong maulid nabi aja menurut kami nggak bid’ah, apalagi hal yang (mungkin) lebih remeh seperti internet

    Balas
  • 16. jabroot  |  April 15, 2007 pukul 5:57 am

    saya sepakat dengan kang jamal. Bid’ah itukan; “idkholu ma laisa minaddin fid diin” mengatagorikan sesuatu yang bukan agama sebagai bagian dari agama. ini devinisi yang diterima oleh ulama ahlus sunnah, jadi tahilan, mauludan, yasinan dll tidak termaksud bid’ah karena kita tidak mengatakannya bahwa itu semua bagian dari agama, akan tetapi kita melakukannya karena berdo’a, mencintai Rosulullah, mendoakan mayat dll adalah perintah dari Allah dan Rasul-Nya. kalau ada yang mewajibkan amalan-amalan tsb, maka ia ternaksud orang2 yang bego’, dan ucapan orang2 bego tidak bisa dijadikan dalih untuk membidahkan amalan2 tsb.

    Balas
  • 17. Ind. F.B  |  April 16, 2007 pukul 1:21 am

    kata siapa tahlilan, mauludan, yasinan tidak termasuk bagian dari agama ?? padahal orang yang melakukannya meniatkannya untuk ibadah. ibadah itu bagian dari agama. jadi tahlilan, mauludan dan yasinan dalam hal ini adalah bagian dari agama bagi orang yang melakukannya. karena islam tidak pernah mengajarkan ibadah yang model begitu berarti hukumnya bid’ah, dan semua bid’ah adalah dolalah, mustahil ada bid’ah hasanah dalam ibadah.

    gak usah aneh-aneh lah… masih banyak ibadah-ibadah lain yang berdalil kuat, dan niscaya waktu kita yang hanya 24 jam sehari tidak akan cukup jika kita mau melakukan semuanya.

    Balas
  • 18. safina  |  April 16, 2007 pukul 10:31 am

    kalo boleh nanya: kaidah dari mana yang mengatakan :ibadah itu semuanya haram, kecuali yang diperintahkan dengan dalil yang kuat (sohih)…………….. siapa yangmenshohokan kaidah ini?.

    jangan jangan kaidah ini juga bit’ah belaka..sehingga mengunakannya menjadi dholal..

    ingat :aslinya firman Ilahi :fa’buduni….ini aslinya..

    Balas
  • 19. Ind. F.B  |  April 18, 2007 pukul 8:11 am

    sepertinya de safina harus mengaji lagi…
    saya sarankan belajar yang bener dulu de.
    kalo semua ibadah kita dibolehkan asal dengan niat baik, buat apa ada agama, buat apa ada firman, buat apa ada hadits,…. gak usah ada lagi yang namanya agama islam, kalo manusianya ingin beribadah sesuai kehendak kepalanya.

    Balas
  • 20. Syah  |  April 20, 2007 pukul 2:24 am

    Ini ana copy pastekan dari email yang ana dapat:

    Jika Mereka Meneladani Imam Syafi’i rahimahullah.

    Imam Syafi’i rahimahullah dilahirkan pada tahun 150 H di Ghuzzah, ada yang mengatakan di ‘Asqalan dan ada pula yang mengatakan di Yaman. Beliau adalah seseorang yang berparas tampan, berkulit putih, berperawakan tinggi besar dan berwibawa. Beliau dikenal dengan kedermawanan, kebaikan niat dan keikhlasan.

    Ketika Imam Syafi’i masih kecil, ayahandanya meninggal dunia, kemudian dibawa ibunya ke Mekkah dan tumbuh di Mekkah, kemudian di masa dewasanya beliau menuntut ilmu hingga ke Madinah, Yaman dan Irak. Beliau telah menghafal al Qur’an ketika berusia tujuh tahun dan hafal Kitab al Muwaththa’ ketika berusia 10 tahun.

    Diantara guru-guru beliau adalah Sufyan bin ‘Uyainah, Fudhail bin ‘Iyadh, dan Malik bin Anas. Sedangkan salah seorang murid beliau yang terkenal adalah Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah. Dan sang murid (Imam Ahmad) pernah mengatakan, “Umar bin Abdul Aziz (mujaddid) pada awal seratus tahun pertama dan asy Syafi’i pada permulaan seratus tahun yang kedua”.

    Imam Syafi’i rahimahullah adalah termasuk barisan ulama pembela sunnah, imamnya para ulama, lautan ilmu, mujtahid mutlak dan penghancur bid’ah. Beliau rahimahullah pernah berkata,

    “Sungguh, jika seorang hamba menemui Allah dengan semua dosa kecuali dosa syirik, (maka) itu lebih baik baginya daripada bertemu dengan-Nya dengan suatu kebid’ahan” (Barisan Ulama Pembela Sunnah Nabawiyyah, hal. 14)

    Pandangan fiqh beliau dan madzhabnya banyak diikuti oleh kaum muslimin terutama di Mesir, Kurdistan, Yaman, Aden , Hadramaut, Mekkah , Pakistan , Malaysia dan Indonesia . Awalnya pandangan fiqh beliau disebut disebut qadim (pendapat beliau yang pertama) ketika beliau berguru dan bersahabat dengan para ulama madzhab Hanafi, namun pada tahun 198 H beliau hijrah ke Mesir dan disana beliau menyusun pendapat beliau yang baru (qaulul jadid).

    Al Imam asy Syafi’i rahimahullah wafat di Mesir pada akhir Rajab tahun 204 H dalam usia 54 tahun. Semoga Allah Ta’ala meridhai dan menempatkan beliau dalam keluasan Jannah-Nya.

    Sikap Imam Syafi’i terhadap tahlilan.

    Jika memang kaum muslimin terutama di Indonesia yang mayoritas bermadzhab Syafi’i meneladani dan mencintai Imam Syafi’i rahimahullah maka tentunya mereka tidak akan mengadakan acara tahlilan, karena Imam Syafi’i mengatakan,

    “Aku benci al ma’tam yaitu berkumpul – kumpul di rumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbaharui kesedihan” (al Umm I/318)

    Ucapan beliau itu selaras dengan atsar sahabat. Dari Jabir bin Abdullah Al Bajalii, ia berkata, “Kami (para sahabat Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam) menganggap bahwa berkumpul – kumpul di tempat ahli mayit dan membuat makanan sesudah ditanamnya mayit termasuk dari bagian meratap (niyahah)” (HR. Ibnu Majah no. 1612 dan ini adalah lafazhnya serta Imam Ahmad dalam Musnadnya 2/204)

    Al Imam an Nawawi rahimahullah di kitabnya al Majmu’ Syarah Muhadzdzab (5/319-320) telah menjelaskan tentang bid’ahnya berkumpul-kumpul dan makan-makan di rumah ahli mayit dengan membawakan perkatan penulis Kitab asy Syaamil dan ulama yang lain serta beliau menyetujuinya dengan hadits Jarir yang beliau tegaskan sanadnya shahih.

    Sikap Imam Syafi’i terhadap dzikir jama’i

    Mereka tentu juga tidak melakukan dzikir jama’i baik dengan suara keras ataupun tidak, serta melazimkannya kecuali hanya untuk memberikan pengajaran dzikir dan doa. Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan,

    “Dan aku lebih memilih bagi para imam dan makmum untuk berdzikir setelah shalat dengan cara menyembunyikannya, kecuali bila imam harus mengajarkannya kepada makmum, maka ia boleh mengeraskannya sampai mereka bisa mengikutinya, tetapi kemudian ia (imam) kembali menyembunyikannya, karena sesungguhnya Allah telah berfirman,

    ‘Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan jangan pula merendahkannya’” (al Umm I/127)

    Al Imam an Nawawi rahimahullah, seorang imam dan ulama yang meneladani Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan,

    “Dan telah disunnahkan untuk berdzikir dan berdoa setiap setelah selesai dari salam, dengan cara menyembunyikan bacaan, terkecuali bila seorang imam yang hendak mengajarkan bacaan-bacaan dzikir tersebut, maka dia boleh mengeraskan bacaannya. Namun, bila dia melihat bahwa orang-orang telah belajar darinya bacaan-bacaan tersebut, maka hendaklah dia kembali untuk menyembunyikannya” (at Tahqiq hal. 219)

    Sikap Imam Syafi’i terhadap yasinan

    Demikian pula mereka tidak akan mengadakan acara yasinan setiap malam Jum’at atau pada waktu dan tempat yang dikhususkan lainnya. Karena Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan,

    “Idzaa shah-hal hadiitsu faHuwa madzHabii” yang artinya “Apabila suatu hadits telah jelas shahih, maka itulah madzhabku” (Syaikh al Albani mengatakan dalam Sifat Shalat Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam hal. 65, “Imam an Nawawi dalam referensi tersebut di atas dan asy Sya’rani I/57 lalu beliau menyandarkannya kepada al Hakim dan al Baihaqi”)

    Dan diketahui bahwa tidak ada hadits-hadits yang shahih yang berkaitan dengan mengkhususkan membaca surat yasin bersama-sama atau pun sendirian di malam jum’at ataupun di hari lainnya, kemudian mendapatkan ganjaran pahala seperti ini atau seperti itu. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

    “Abdullah bin Mubarak mengatakan, ‘Semua hadits yang mengatakan, ‘Barangsiapa yang membaca surat ini akan diberikan ganjaran begini begitu, (maka) semua hadits tentang itu palsu. Mereka (pemalsu hadits) mengatasnamakan sabda Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam. Sesungguhnya orang-orang yang membuat hadits-hadits itu telah mengakui mereka memalsukannya’’” (Periksa al Manarul Munif fis Shahih wadh Dha’if, hal. 113-115, tahqiq : Abdul Fatah Abu Ghudah)

    Khatimah

    Demikianlah sikap Imam Syafi’i rahimahullah terhadap permasalahan tahlilan, dzikir jama’i dan yasinan, yang kesemuanya itu merupakan perkara-perkara yang baru (muhdats) dalam agama. Dan jika perkara-perkara yang baru dalam agama diamalkan maka tertolaklah ia, sebagaimana sabda Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam,

    “Man ‘amila ‘amalan laysa ‘alaiHi amrunaa faHuwa raddu” yang artinya “Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang tidak kami perintahkah maka ia tertolak” (HR. Muslim no. 1718 dan al yang Bukhari meriwayatkannya secara mu’allaq dalam Al Buyu’ dan Al I’tisham)

    Maka dari itu hendaklah kaum muslimin, khususnya kaum muslimin yang berada di Indonesia yang mengaku mengikuti, meneladani dan mencintai Imam Syafi’i rahimahullah, untuk mengikuti jejak dan napak tilas beliau dalam beragama yaitu memahami agama ini sebagaimana pemahamannya para salafus shalih.

    Semoga pengakuan itu tidak hanya sebatas pengakuan,

    “Berapa banyak orang yang mengaku cinta pada laila,
    tetapi laila memungkiri cinta mereka semua”

    Maraji’ :

    1. Al Masaa-il Jilid 2, Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, Darus Sunnah Press, Jakarta , Cetakan Ketiga, 1426 H/2005 M.
    2. Apa Kata Imam Syafi’i tentang Dzikir Berjama’ah, Ustadz Ibnu Saini bin Muhammad bin Musa, Pustaka al Ilmu, Cetakan Pertama, 1428 H/2007 M.
    3. Barisan Ulama Pembela Sunnah Nabawiyyah, Ustadz Abu Aisyah Arif Fathul Ulum, Media Tarbiyah, Bogor, Cetakan Pertama, Dzul Hijjah 1426 H/Januari 2006 M.
    4. Fiqh Islam, H. Sulaiman Rasjid, Sinar Baru Algensindo, Bandung , Cetakan ke Tiga puluh Delapan, 2005 M.
    5. Sifat Shalat Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam, Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Shafar 1427 H/Maret 2006 H.
    6. Yasinan, Ustadz Abdul Qadir Jawas, Pustaka Abdullah, Jakarta, Cetakan Ketiga, 27 Jumadil Awal 1426 H/4 Juli 2005 M.

    Semoga Bermanfaat.

    Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki- Nya. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar” (QS. An Nisaa’ : 48)

    Dari Abu Dzar ra., Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Jibril berkata kepadaku, ‘Barangsiapa diantara umatmu yang meninggal dunia dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka pasti dia masuk surga’” (HR. Bukhari) [Hadits ini terdapat pada Kitab Shahih Bukhari]

    Balas
  • 21. jamal  |  April 21, 2007 pukul 8:05 am

    Bismillahhir Rahmaanir Rahiim.

    UNTUK TEMAN-TEMAN YANG MENGAKU SALAFY..
    Islam adalah agama yang luwes dan toleran, Rosulullah saw diutus untuk membawa rahmat bagi seluruh alam. oleh karena itu, ajaran2 ajaran Islam selalu mengekspresikan persahabatan dan kasih sayang. kita yang mengaku sebagai umat islam jangan sampai menampilkan Islam sebagai agama yang kaku dan menakutkan seraya mengatakan barang siapa yang tidak sesuai dengan ideologi kelompok kami, maka ia adalah ahli bid’ah dan Musyrik. lihatlah gerakan dan sikap thaliban yang sangat kaku dan agresif, bagaimana ia telah mencoreng agama Islam di mata dunia, sehingga banyak orang2 yang telah simpati kepada Islam berbalik menjadi muak dan merinding mendengar kata2 Islam.
    coba kita merenung kembali, kita boleh berbeda pendapat namun jangan menuding kelompok yang lainnya dengan syirik, bid’ah dan sesat! apakah anda tidak menyadari kalau kata2 ini pasti akan menyebabkan perpecahan diantara kita? bukankah masing2 dari kita memiliki argument tersendiri atas amalan yang kita lakukan? mengapa anda tidak mau mendengar dan menghargai pendapat orang lain? apakah anda merasa sebagai orang yang paling alim di dunia ini, sehingga apa yang anda katakan adalah yang paling benar dan100% sesuai dengan kenyataan? Afwan! Allah dan Rasul-Nya selalu mengajak kita untuk berfikir dan tidak mengajarkan untuk berfanatik.
    Islam menyatakan bahwa segala sesuatu yang kita lakukan dengan niat LILLAHI TA”ALA maka itu adalah bagian dari ibadah. apakah anda tidak tahu hal ini? kalau anda mengetahuinya, lantas mengapa anda mengatakan seluruh Ibadah itu adalah bagian dari agama? patut anda ketahui yang dimaksud dengan bagian dari agama ialah, kita mengatakan bahwa apa yang kita lakukan itu bersumber dari ayat atau riwayat. bahwa amalan yang kita lakukan telah diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. jadi kalau kami membaca tahlilan kemudian kami mengatakan bahwa praktek tahlilan, yasinan, mauludan dll itu disunnahkan dan terdapat dalam ayat atau riwayat, maka layak anda katakan bahwa kami adalah ahli bid’ah, musyrik dan khurofat. namun kami tidak mengatakan hal demikian, kami tidak mengatakan kalau praktek2 tsb diajarkan dalam Kitab dan Sunnah akan tetapi hal itu hanya merupakan ekspresi dan manifestasi dari perintah Allah yang menekankan kita untuk membantu sesama muslim, mendoakan mayit, mencintai Nabi saw dsb. selain itu kami pun memiliki argumen yang kuat yang dapat membuktikan bahwa praktek2 tersebut bukan termaksud bid’ah.
    tidak perlu anda membawa-bawa ucapan Imam kami Syafi’i, semua agamawan telah mengetahuai kalau aqidah yang anda bawa adalah berasal dari IBU TAIMIYAH yang wafat pada tahun 728 H, itu pun dengan pertentangan dan perlawanan dari para ulama dan pembesar empat mazhab sunni. ini menandakan bahwa sebelum munculnya Ibnu taimiyah tidak ada yang memiliki ideologi semacam itu,jadi kalau kami mau balik menuding, kami dapat katakan bahwa ideologi andalah yang bid’ah, karena ideologi anda disisipkan kedalam ajaran Islam semenjak munculnya Syekh anda tersebut, yang mana sebelum itu, sejak zaman Nabi saw tidak ada yang mengatakan bahwa ziarah kubur, tawasul, maulid adalah syirik dan bid’ah. ditambah lagi anda mengatakan bahwa ideologi ekstreem tersebut adalah ajaran Allah dan Rasul-Nya, maka sempurnalah alasan kami untuk mengatakan bahwa ideologi anda adalah Bid’ah. Kalau memang anda anti bid’ah tolong katakan kepada ulama anda yang berada di Saudi bahwa Rasulullah saw dan Khulafa’ Rosyidin RA tidak pernah mendirikan kerajaan dalam Islam, kalau memang sistem kerajaan adalah yang paling baik mengapa mereka tidak menjalankannya? kalau anda mengatakan bahwa kelauarga Saudi mengikuti jejaknya Muawiyah sahabat Nabi, kami katakan: apakah Muawiyah lebih alim dari Rasul dan para Khulafa sehingga ia lebih mengetahui akan baiknya sistem kerajaan dibanding mereka semua? Apakah Allah memerintahkan kita untuk lebih mengikuti Muawiyah dari pada Rasul? Naudzubillah. cobalah anda kembali merenung yang dalam!!
    pada akhirnya saya minta maaf, semoga apa yang saya tulis dapat bermanfaat bagi orang2 yang berhati tulus dan haus kebenaran.

    Balas
  • 22. Nahdliyin  |  Mei 3, 2007 pukul 10:27 am

    وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

    Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Hasyr 59: 10)

    Syaekhul Islam Al-Imam Ibnu Taimiyah dalam Kitab Majmu’ Fatawa jilid 24, berkata: “Orang yang berkata bahwa do’a tidak sampai kepada orang mati dan perbuatan baik, pahalanya tidak sampai kepada orang mati,” mereka itu ahli bid’ah, sebab para ulama’ telah sepakat bahwa mayyit mendapat manfa’at dari do’a dan amal shaleh orang yang hidup.

    Balas
  • 23. Nahdliyin  |  Mei 3, 2007 pukul 10:36 am

    “Barang siapa mengkafirkan seorang muslim maka ia telah
    kafir”

    لاَّ خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَاهُمْ إِلاَّ مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلاَحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتَغَاء مَرْضَاتِ اللّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْراً عَظِيماً
    Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma`ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.

    Balas
  • 24. Nahdliyin  |  Mei 3, 2007 pukul 10:51 am

    Intinya adalah segala amal itu tergantung pada niatnya. Bila kita berniat untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT maka keridhaan-Nyalah yang akan kita dapat. dan tidak ada satupun yang bisa membaca niat seseorang yang sesungguhnya.

    Memang Ibadah dan Muamalah memiliki perbedaan :
    Yang dipermasalahkan di sini adalah ketika kita membedakan ibadah dan muamalah kita memiliki perbedaan dan tidak bisa mengklaim bahwa muamalah menurut orang lain itu salah bahkan justru memasukkannya dalam kaidah ibadah. Masalah tempat, waktu, tatacara, jenis dan jumlah sekolahpun memiliki tempat, waktu, tatacara, jenis dan jumlah. Berbicara masalah ada bacaan ibadah, sebelum belajar di sekolah kitapun membaca basmallah. Bila anda bermain internet apakah bisa di tempat yang tidak ada internetnya? bolehkah jika waktunya mengganggu sholat wajib?. Berbicara mewajibkan, itu hanya persepsi anda saja kalo tahlilan, maulid nabi, marhabanan dan sebagainya diwajibkan (tidak ada satupun ulama NU dan Nahdliyin yang memahaminya wajib atau sunnah), tidak juga tidak apa-apa ko’, justru anda yang mewajibkan tidak boleh, masa orang mau tahlilan tidak boleh. Di sini ketika berbicara hadiths tidak bisa kita menterjemahkannya hanya dengan persepsi kita yang awam. Kita harus tahu terlebih dulu asbabul wurud hadithsnya, dan lagi bahasa indonesia dan arab itu berbeda, kita hanya menggunakan persamaan makna bukan maksud. Hemat saya “Lana ‘amaluna wa Lakum ‘amalukum”

    Balas
  • 25. Kristiawan  |  Mei 8, 2007 pukul 4:26 am

    Saudara-Saudara Tercinta,

    Kebenaran ada ketika pikiran kita berhenti, penganus mistisme Islam, Kristen, Hindu, Budha dapat duduk berdampingan tanpa beradu urat leher. Berdebat tentang hal-hal seperti ini hanya akan menghabiskan energi kita,”lihatlah keluar” aplikasi sains dan teknologi Islam telah dikuasai orang-orang non muslim, sementara kita hanya bisa menonton dan mengklaim saja, Oh..itu telah ada dalam Al-Qur’an, Oh itu telah ada dalam hadits, tetapi kita hanya bisa menonton dan menjadi pengekor saja, energi kita, kita habiskan hanya untuk berdebat tanpa henti dan sampai muak!!!
    Tolong Saudara-Saudara fokuskanlah energi kita untuk kejayaan dan kemajuan Islam, jangan hanya saling mengklaim surga dan kebenaran. Semoga kita tidak hanya puas dengan kejayaan masa lalu saja, tapi berbenah karena dunia kita (Islam) sedang terpuruk.

    Balas
  • 26. andy  |  Mei 8, 2007 pukul 9:16 am

    boss…
    saya mo nanya nih..
    dapatkah syaitan atau jin’ menyerupai nabi muhammad di alam mimpi??

    dan apakah orang yang jarang-jarang solatnya bisa mimpi bertemu nabi muhammad??

    Balas
  • 27. Kaezzar  |  Mei 10, 2007 pukul 9:07 am

    Waduuh, jgn cuma karena tahlilan kita dicap bid’ah apalagi kafir…tega amat

    Tahlilan itu kan cuma definisi alias label saja, kalo saya bilang :

    “saya mao pergi baca doa buat mayyit di rumah teman”
    kira2 itu bid’ah g? apa saya jadi kafir cuma gara2 itu?
    saya nurutin anjuran agama loh untuk mendoakan mayyit :p

    Belajar itu bagian dari agama bukan ya?
    Pastinya dong, g perlulah dibawa dalilnya kan
    Tapi apa iya dulu Rasul n sahabat belajar matematika? integral & derivatif? belajar fisika beserta hukum relativitas? belajar biologi beserta bedah hewan? atau mungkin mendalami psikologi?

    Apa Fisika itu bid’ah? di zaman itu Fisika g ada sama sekali loh?
    Atau mungkin jangan2 anda g belajar apa2 termasuk bahasa inggris, bahkan bahasa indonesia?
    Masalahnya Rasul n sahabat dulu juga g belajar bahasa Indonesia n berkomunikasi cuma dgn bahasa arab :p

    Kalo alesan anda “Pokonya kebaikan itu sudah dilakuin semua oleh Rasul n sahabat” itu BENER ko…smua kebaikan udah dilakuin sama mereka

    Tapi poin yg saya kira keliru dipahami adalah :
    TAHLILAN, MAULID DKK >>> ini sama sekali BUKAN SEBUAH KEBAIKAN

    Why??? mereka cuma istilah !!!
    Kebaikan dari TAHLILAN itu adalah MENDOAKAN MAYYIT
    Kebaikan dari MAULID itu adalah MENDOAKAN RASUL

    Jadi bagian dari agama/tauhid itu bukan istilah TAHLILAN ataw MAULID sendiri, melainkan MENDOAKAN MAYYIT ataw MENDOAKAN RASUL

    Karena memang perintahnya/dalilnya adalah MENDOAKAN MAYYIT, bukan TAHLILAN !
    Lalu kenapa ada kata ini muncul?

    x telah meninggal dunia
    a : “ada apa si di rumah si x?”
    b : “si x meninggal”
    a : “innalillahi wainnailaihi rojiun…trus lagi pada ngapain?”
    b : “lagi berdoa untuk si x”

    dateng si c

    c : “ada apa si di situ”
    b: “lagi berdoa buat arwahnya x”
    c: “ooh…”

    dateng si d
    .
    .
    dateng si e
    .
    .
    dateng si f
    .
    .

    f : “ada apa si?”
    b : “lagi baca TAHLIIILLL!!!”

    dan lahirlah kata ini 😀
    cuma istilah kan???
    iya, daripada repot njawab tiap kali :
    ” lagi pada berdoa buat si mayyit sesyuai anjuran Islam ”
    so, TBC??? where??? v n_n

    Balas
  • 28. abu yusuf  |  Mei 30, 2007 pukul 11:51 am

    Ikhwan rokhimani wa rokhimakumulloh, mungkin bertanya sebenarnya bid’ah itu apa sih? saya coba untuk mengutipkan beberapa definisi bid’ah, atau baca sendiri buku Mengupas Sunnah membedah Bid’ah terbitan Darul Haq:

    1.Definisi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiah berkata,Bidah dalam agama adalah perkara wajib maupun sunnah yang tidak Allah dan rasu-Nya syariatkan. Adapun apa-apa yang Ia perintahkan baik perkara wajib maupun sunnah maka diketahui dengan dalil-dalil syriat, dan ia termasuk perkara agama yang Allah syariatkan meskipun masih diperslisihkan oleh para ulama. Apakah sudah dikierjakan pada jaman nabi ataupun belum dikerjakan.

    2. Definisi Imam Syathibi
    Beliau berkata,Satu jalan dalam agama yang diciptakan menyamai syariat yang diniatkan dengan menempuhnya bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah.

    3.Definisi Ibnu Rajab
    Ibnu Rajab berkata,Bidah adalah mengada-adakan suatu perkara yang tidak ada asalnya dalam syariat. Adapun yang memiliki bukti dari syariat maka bukan bidahwalaupun bisa dikatakan bidah secara bahasa

    4.Definisi Suyuthi
    Beliau berkata,Bidah adalah sebuah ungkapan tentang perbuatan yang menentang syariat dengan suatu perselisihan atau suatu perbuatan yang menyebabkan menambah dan mengurangi ajaran syariat.

    Dengan memperhatikan definisi-definisi ini akan nampak tanda-tanda yang mendasar bagi batasan bidah secara syariat yang dapat dimunculkan ke dalam beberapa point di bawah ini :

    1. Bahwa bidah adalah mengadakan suatu perkara yang baru dalam agama. Adapun mengadakan suatu perkara yang tidak diniatkan untuk agama tetapi semata diniatkan untuk terealisasinya maslahat duniawi seperti mengadakan perindustrian dan alat-alat sekedar untuk mendapatkan kemaslahatan manusia yang bersifat duniawi tidak dinamakan bidah.

    2. Bahwa bidah tidak mempunyai dasar yang ditunjukkan syariat. Adapun apa yang ditunjukkan oleh kaidah-kaidah syariat bukanlah bidah, walupun tidak ditentukan oleh nash secara husus. Misalnya adalah apa yang bisa kita lihat sekarang: orang yang membuat alat-lat perang seperti kapal terbang,roket, tank atau selain itu dari sarana-sarana perang modern yang diniatkan untuk mempersiapkan perang melawan orang-orang kafir dan membela kaum muslimin maka perbuatannya bukanlah bidah. Bersamaan dengan itu syariat tidak memberikan nash tertentu dan rasulullah tidak mempergunakan senjata itu ketika bertempur melawan orang-orang kafir. Namun demikian pembuatan alat-alat seperti itu masuk ke dalam keumuman firman Allah taala,Dan persiapkanlah oleh kalian untuk mereka (musuh-musuh) kekuatan yang kamu sanggupi.Demikian pula perbuatan-perbuatan lainnya. Maka setiap apa-apa yang mempunyai asal dalam sariat termasuk bagian dari syariat bukan perkara bidah.

    3. Bahwa bidah semuanya tercela.

    4. Bahwa bidah dalam agama terkadang menambah dan terkadang mengurangi syariat sebagaimana yang dikatakan oleh Suyuthi di samping dibutuhkan pembatasan yaitu apakah motivasi adanya penambahan itu agama. Adapun bila motivasi penambahan selain agama, bukanlah bidah. Contohnya meninggalkan perkara wajib tanpa udzur, maka perbuatan ini adalah tindakan maksiat bukan bidah. Demikian juga meninggalkan satu amalan sunnah tidak dinamakan bidah. Masalah ini akan diterangkan nanti dengan beberapa contohnya ketika membahas pembagian bidah. InsyaAllah.

    Inilah definisi-definisi terpenting tentang bidah yang mencakup hukum-hukumnya. Telah nampak dari sisi-sisinya batasan bidah dan jelas pula kaidah-kaidahnya yang benar untuk mendefinisikannya. Adapun cakupan setiap definisi itu bagi hukum-hukum bidahmaka berbeda-beda

    Menurut anggapanku definisi bidah yang paling menyeluruh dengan hukum-hukumnya yang membatasi pengertian bidah secara syari dengan batasan yang rinci adalah definisi Imam Syathibi.

    Dengan demikian definisi Imam Syathibilah yang terpilih dari definisi-definisi tersebut di atas karena mencakup batasan-batasan yang menyeluruh yang mengeluarkan apa-apa yang tidak termasuk perkara bidah. Wallahu Alam. mudah-mudahan bermanfaat

    Balas
  • 29. Abu Hudzaifah  |  Juni 8, 2007 pukul 9:45 am

    Musibah..Inilah yang dinamakan Tadlis Iblis terhadap kaum yang bodoh murokkab..yang Halal itu jelas dan yang Haram itu jelas! Mengapa kalian semakin terperosok ke dalam jurang bid’ah,karena kurangnya ILMU kalian kepada agama Islam ini yang kamil.
    Orang yang berbuat bid’ah memang lebih sulit untuk bertaubat daripada pelaku maksiat.Karena menggangap perbuatannya itu benar padahal ia hanya bersandar kepada sarang laba-laba yang lemah!
    Berilmu sebelum beramal bukan sebaliknya beramal sebelum memiliki ilmu..Islam ini telah sempurna sebelum kaum yang gemar berbuat bid’ah ini lahir.Apa-apa yang tidak menjadi agama pada saat itu maka tidak akan menjadi agama sampai saat ini walaupun hari kiamat sekalipun.
    Yasinan,Tahlilan,Muludan,dll semacamnya adalah Bid’ah Dholalah..
    Ana sarankan antum para pelaku bid’ah untuk lebih banyak belajar tentang hukum-hukum syari’at,karena bagaikan lautan ilmu Syari’at itu bagaikan lautan samudera yang luas serta dalam,sedangkan antum para pelaku bid’ah hanya baru mengarungi ilmu permukaannya saja.Dalamilah ilmu nya,pasti antum akan menemukan kebenaran yang sesungguhnya..Kesempurnaan dan Kemurnian Agama Islam yang tidak perlu ditambah-tambah ataupun dikurangi.
    Wallohu Taufiq.

    Balas
  • 30. ompu  |  Juni 11, 2007 pukul 7:21 am

    ini nih situs NU dan simpatisannya, masdar f mashudi kan orang NU dan JIL yang menggampangkan semua urusan agama . sudah jelas banyak ngelakuin bid’ah bahkan ada yang sampe tawassul ke kuburan kok ngaku aswaja…yang ada juga asjawa..

    Balas
  • 31. abu yusuf  |  Juni 11, 2007 pukul 1:26 pm

    Akhi fillah rohimany wa rohimakumulloh
    Adalah sebuah fakta Jika keseluruhan umat Islam ditanya Siapa Robbmu? pasti menjawab Alloh. Juga sebuah fakta jika ditanya siapa Nabimu? pasti menjawab Muhammad Sholallohu’alaihi wasallam. Akan tetapi juga sebuah fakta jika mereka itu yang mengaku sebagai muslim, yang mengaku sebagai muslim, yang mengaku sebagai orang islam jika ditanya siapakah yang kamu ikuti? Maka antara yang satu dengan yang lain pasti akan berbeda-beda. Ada yang mengikuti bahkan mengagungkan orang kafir dan bertasyabbuh kepadanya macem bintang-bintang film ato pesepak bola, ada juga yang mengikuti ahli filsafat tersesat, ada juga yang mengikuti pemahaman orang komunis, ada juga yang mengikuti pemahaman sepilis(sekularis, pluralis,liberalis), ada juga yang ta’ashub (fanatik) kepada amir, syaikh, dan lain-lain.
    Ya ikhwan
    Bukankah Alloh, Dia yang menciptakan langit dan bumi, Dia yang mengatur segala urusan, Dia yang Maha Segalanya Yang tiada tuhan selain Dia, bukankah Alloh telah memberikan jawaban dalam Quran Surat Al Ahzab “sungguh pada diri rosululloh itu terdapat suritauladan yang baik…” dan juga dalam juz 29 Surat Al Qolam Alloh memuji beliau “sesungguhnya engkau(Muhammad) di atas budi pekerti yang agung”. Kalau Alloh saja Yang Maha Segalanya itu menunjukkan kepada kita semua bahwa Nabi Muhammad itu adalah sebaik-baik teladan, maka patutkah kita yang mengaku sebagai muslim mencari sosok figur untuk dijadikan teladan. Dan Rosululloh yang dipuji Alloh juga menunjukkan dalam sabdanya bahwa “sebaik-baik manusia adalah qurunku kemudian yang menyusulnya, kemudian yang menyusulnya” dari hadits riwayat Bukhori dan Muslim tersebut jaman beliau adalah beliau dan para sahabat, kemudian yang mengikutinya yaitu tabi’in kemudian yang mengikutinya lagi adalah tabi’ut tabi’in.
    Ya ikhwan
    Kalau saja Alloh, kalau saja Rosululloh yang setiap hari kita bar syahadat atas keduanya telah menunjukkan siapa yang harus diikuti, maka patutkah, maka pantaskah kita yang bangga mengaku sebagai muslim, yang mengaku sebagai orang Islam menganggap ada yang lebih baik untuk diikuti daripada yang Alloh dan Rosulya tunjukkan. Bukankah Alloh yang kita sembah yang tiada tuhan selain Dia adalah Pencipta diri kita? dan bukankah Muhammad itu adalah utusanNya dan utusan berhak untuk dipatuhi perkataannya.
    Ya ikhwan
    Pantaskah, beranikah, seandainya kita Alloh dan RosulNya mengatakan ini harom maka kita melanggarnya. Pantaskah kita ketika diperintah maka menyanggahnya dan beralasan macam-macam. Pantaskah ketika Rosululloh menyuruh , “peliharalah jenggotmu” dan kita beralasan dan membantah”ya Rosululloh bukankah ini jaman modern, bukankah ini jaman teknologi canggih, lha nanti kalau saya pelihara jenggot dikira nggak jaga kebersihan, ketinggalan jaman, jorok, nanti dimarahi sama atasan, dan alasan-alasan lain”
    Wallohi walloh Ya ikhwan
    lebih kuasa mana antara atasan kita dengan Alloh, lebih modern mana teknologi manusia dengan teknologi Alloh yang makhluk sekecil nyamuk mampu membawa racun mematikan. lebih kuasa mana? Pantaskah kita yang mengaku muslim berbicara seperti di atas? Pantaskah?
    Bagaimana pendapat kita jika Rosululloh makhluk mulia itu mengatakan bahwa setiap bid’ah itu sesat? akankah kita beralasan? membantah?
    Wallohua’lam

    Balas
  • 32. ompu  |  Juni 15, 2007 pukul 4:14 am

    bismillah…ini neh situs orang-orang yang ngaku-ngaku ASWAJA (Ahlul Sunnah Wal Jamaah) tapi mereka tuh jauh banget dari sunnah rasulullah, sebenernya mereka ini golongan ASJAWA (ASal JAWA) cos mereka cuma mau denger ‘fatwa’ dari ‘kyai, ajengan or ustadz’ mereka adja yang kebanyakan memang dari Jawa, jadi gak bakal mau dengerin ulama ahlusunnah yang udah diakui keilmuannya di seluruh dunia, contoh ‘ulama atau ustadz’ ASJAWA itu ya orang-orang NU dan sekitarnya (contohnya pembuat situs/blog ‘cemen’ ini) hehe…. oiya terusin deh mas ngebela maulid,tahlilan, ngalap berkah/tawassul ke kuburan dan semua bid’ah serta kesyirikan yang laen, ntar antum bakalan kaget kalo mulut antum udah penuh tanah (udah di kubur maksud ane), tapi kalo masih bisa tobat ya buruan…

    Balas
  • 33. HE_HE_HE  |  Juli 18, 2007 pukul 2:51 pm

    ORANG NU, KALO MAU TAHLIL, MULUDAN, RAJABAN, SILAHKAN … MONGGOOOOO ….. PAKE DUPA ALIAS MENYAN SEKILOOOO BIAR KULIT KAKEK KALIAN DIASEPIN TERRUSSSSS …. BIAR AWEEEETTTTT……. MONGGOOOOOOOOOOOO ….,

    NYANG MENGABDI SAMA AMERIKA DI JAZIRAH ARAB SANA, SILAHKAN ,…. MONGGGOOOOOOO …..

    GUWE NYANG BIKIN ONAR INI REPUBLIK KAFIR ….. DIMONGGGOIN GAK SICHHHH …………

    MONGGGOOOOOOOOOOO NYANG MAU GABUNG AME TERORIS … MONGGGOOOO …….

    Balas
  • 34. aq  |  Agustus 2, 2007 pukul 3:57 am

    Assalammu’alikum Wr.Wb

    Kenapa kamu HE_HE_HE
    Lagi demam ya ????????

    Balas
  • 35. Bagus  |  Agustus 3, 2007 pukul 3:59 am

    bagaimana kita (Islam) mau bersatu, masalah hal begitu saja diributkan, ambil yang baik buang yang buruk, kadang kita juga sering munafik, dimana ada kesenangan disitu kita ada, akan tetapi juga ada kekusahan kita lari, untuk itu mari kita berkeyakinan masing-masing sajalah mau tahlil, maulid dll lain-lian itu terserah masing-masing individu saja, yang ga suka tahlil ga usah marah, yang suka tahlil ga usah menghina.

    Balas
  • 36. samaranji  |  Agustus 6, 2007 pukul 11:03 am

    ASSALAMU’ALAIKUM WR. WB.

    katur kagem sedulur he_he_he (siapapun anda)
    SUMONGGO anda berpendapat sak’udele dw

    wong bodho kalahe karo wong pimter,
    tapi sayang… isih ono sing biso ngalahke wong pinter, yoiku
    wong NGEYEL

    WASSALAMU’ALAIKUM WR. WB.

    Balas
  • 37. kyai sableng  |  Agustus 6, 2007 pukul 4:01 pm

    gue pusing baca pikirannye wahab, salaf ame tetek bengeknye.
    gue orang islam, kalo bace sholawat buat nabi gue takut bid, ah , nyang gue tau kalo maulid kan bace nyang baek naek tentang nabi……
    ape lagi gue caci maki nabi….busyet dah… di neraka kali bareng lu pade….tapi kagak kali… soalnye sorge cuman buat golongan wahabi ame salafy ….nyang laen di neraka….gue jadi bingung jadi umat islam…

    kalo gue cuman sholat, puase..bayar zakat..pegi haji kire kire bakal masuk sorge gak yeh…’
    tahlil kan setau gue memuji asma Alloh.. kok bid ‘ah ye..mo’ ngapain aje bid’ah …bingung gue…..
    kalo maen judi ..mabok…bid’ah kagak yeh….

    Balas
  • 38. ompu  |  Agustus 9, 2007 pukul 7:37 am

    buat bang HE_HE_HE, ni orang mau bikin onar kok pengumuman..??
    pasti beraninya di blog aja…??kapan ngebomnya bang??hehehe
    tipe orang yang nakal gak tapi kalo alim masih jauh…piss

    Balas
  • 39. Danang  |  Agustus 29, 2007 pukul 10:46 am

    saudara2 sekalian lambok yo diskusi siang apik2 yo, gak usah gowo ras lan suku, lawong islam iku rohmatallalilngalamin je…….

    diskusinye ngak bakalan berakhir, karena punya pijakan dan pemahaman yang berbeda, jadi kalo masih mau berlanjut ya monggo diskusinya yang lebih educatif gitu loh………….

    Balas
  • 40. Mohd Faisal Omar  |  September 8, 2007 pukul 5:12 pm

    Sila -free download mp3,video dan e-book imam syafie mengharamkan tahlilan

    Balas
  • 41. kacung  |  September 26, 2007 pukul 1:04 am

    Salafy dengan penuh keyakinan bahwa peringatan maulid nabi,tahlil,peringatan isro mi’roj,ulang tahun kelahiran,ulang tahun negara RI dls adalah bid’ah,sesat dan neraka..Itu hak setiap individu maupun kolektif untuk meyakininya.

    Kelompok yang lain punya keyakinan yang tidak sama,bahwa peringatan maulid nabi,tahlil,isro mi’roj dll adalah boleh bahkan sesuai dengan syariat agama.bukan sesat atau bahkan bisa masuk neraka.

    Masing2 kelompok punya argumentasi sendiri2.Dan masing2 bertanggung jawab dengan keyakinanya.dan keyakinan seseorang tidak bisa dipaksakan untuk orang lain.Lebih2 hanya karena soal perspektif yang berbeda dalam memandang makna sebuah hadits atau ayat alquran.

    Yang tidak melakukan peringatan2 juga tidak masalah,yang memperingati juga sama.Karena ya tadi..keyakinan apa yang dianggapnya benar itu.Yang pro dan kontra juga banyak terdiri dari ulama2 besar baik yang faqih,muhaddits dll.

    Tentunya yang terbaik adalah saling menghargai apa yang menjadi keyakinan orang lain.Tanggung jawab akan dipikul masing2.tak boleh kita memaksa orang lain agar setuju dengan apa yang kita yakini.Karena hal itu bisa mengundang konflik dan saling membenci.Menuduh,menfitnah dan pada akhirnya kekuatan umat islam semakin rapuh dan hancur.

    peace….
    tebarkan salam dan budayakan silaturrahmi.
    wassalamualaikum war wab

    Balas
  • 42. netral  |  September 27, 2007 pukul 2:44 am

    Kalau bicara sama orang salafi seakan mereka yang paling benar seolah mereka 100% masuk surga, bergaya hidup seperti jaman rasul sehingga TKW dianggap budak sehingga patut digauli, lalu apa reaksimu kaum Salafi apakah ini diperbolehkan menurut ajaran salafi ?

    Balas
  • 43. endsalafy  |  September 28, 2007 pukul 3:46 am

    coba bandingkan org salafy dgn yg bukan, org salafy itu bermuka masam, angkuh, dan suka menyalahin org.
    kalau mau bersifat seperi itu masuk saja ke salafy.
    kata mereka untuk kebenaran memang harus tegas.
    kalau begitu bunuh saja ibumu

    Balas
  • 44. ABU WAHABI  |  Oktober 1, 2007 pukul 3:07 pm

    MUTUU BI GHOIDZIKUM !!!

    Balas
  • 45. ABU WAHABI  |  Oktober 1, 2007 pukul 3:18 pm

    alahamdulillah dakwah salafiyyah berkembang di tanah air , ini semua berkat rahmat Alloh Yang Maha Sayang kepada kaum muslimin shg di bukalah pintu hidayah untuk mrk, anda yang phobi dgn da’wah , laa ta’jalanna ya akhi, bacalah hujjah salfiyyin dgn hati yang jernih dan mintalah petunjuk dgn sungguh2 kpd Alloh, dan jangan marah2 , sebab marah dari syetan. Alloh yahdikum

    Balas
  • 46. Capek deehhh  |  Oktober 5, 2007 pukul 2:41 am

    ABCD…Aduh Bok Capeeek Dyeehh…udah deh pada mending ini aja:
    Udah tau belon kalo skrg nih lg banyak bukaan cpns? ada dari depnaker,depdagri,dephut,lipi,dephan,dll.
    So..buat ente2 yang msh nyari gawe…cepetan tuh pd ngedaptar! waktunya terbatas loh! So..ayo kita rame2 dftar cpns!! pan menurut kabar mulai ton 2009 bsk udh ngga ada lagi bukaan cpns loh!! daripada ribut2 kayak diatas ayo kita rame2 daftar pns-an….hehehe.

    Balas
  • 47. abdudiof  |  Oktober 19, 2007 pukul 12:50 pm

    @yogakasep berkata,

    Hukum ibadah itu asalnya haram kecuali ada dalil yang membolehkan !
    ————————————————————————————————-
    Mas yoga kalimat tersebut Hadits apa Al Qur’an setahu saya kalimat tsb perkataan Ibnu Taimyia yang di ijmakan oleh para pengikutnya a.l Syeik Utsaimin Azzaujiah, jadi orang lain bolehkan tidak mengikuti ucapanya ?!

    Balas
  • 48. cabil  |  November 1, 2007 pukul 3:06 am

    Perkenalanku dengan manhaj Salafi sejak awal sampai dengan saat ini adalah pengalaman buruk yang sungguh penuh hikmah. Dimulai dari buruknya sikap orang-orang yang mengaku Salafi dari cerita-cerita orang (yang aku tidak yakini 100% kebenarannya), sikap orang-orang yang mengaku salafi yang aku temui secara nyata (sebagian kecil buruk tabiatnya), hasil penyusuranku di dunia maya (90% buruk tabiatnya) mulai dari (maaf) Kang ….salafi alias ….Maulud (tapi jujur sekarang saya lihat ada perubahan yang cukup bagus diblognya yang pasti setelah ada fatwa dari Syaikh Rabi’—kasihan ya, nunggu fatwa dulu untuk berubah baik), ….salma (sekarang saya lihat juga ada perubahan), persinggungan ‘klaim’ antar salafi sendiri, dakwah buruk dengan takfir (mengkafirkan), tabdi’ (membid’ahkan), tafsiq (memfasiqkan) dan tadlil (menyesat-nyesatkan) terhadap ulama dan jamaah lain. Semuanya penuh tanda-tanya besar. “Apakah itu yang disebut pengikut as-Salafus Shalih?” (Tanyaku dalam hati). “Ah tidak! pasti mereka hanya orang-orang yang ifrath (melalaikan) dan tafrith (berlebihan/ghuluw) terhadap manhaj dan jamaahnya dibarengi dengan sikap ta’ashub dan ashabiyyah yang berlebihan!”. Perdebatan keras antar paham Wahabi dan diluar Wahabi. Aku yakin, pasti ada Salafi yang as-Salafus Shalih. Seperti halnya ada IM yang as-Salafus Shalih, JT yang as-Salafus Shalih, NU yang as-Salafus Shalih & Muhammadiyah yang as-Salafus Shalih yang semuanya termasuk Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang sangat hati-hati terhadap diennya.

    Balas
  • 49. Titi  |  November 19, 2007 pukul 3:52 am

    Kalo mau mendoakan si mayit, gak perlulah dateng berkumpul2 di rmh mayit, apalagi yang dijadwalkan pada hari ke sekian dan sekian, itu malah akan mengungkit duka keluarganya. Apalagi pihak keluarga harus repot2 memberikan makanan yang tidak “ala kadarnya” bukannya kita malah disarankan untuk membantu memberikan makanan kepada pihak yg ditinggalkan? kok malah ngerepotin keluarga mayit seeeh….? tetep aja, itu namanya bid’ah

    Balas
  • 50. aria  |  November 22, 2007 pukul 2:40 am

    Sikap yang ambigu, disatu pihak memuja dan memuji beliau Nabi s.a.w, tetapi dilain pihak melarang memperingati (mengenang) nya. Dengan alasan bid’ah maka penghormatan, mengenang dan memperingati kelahiran beliau sebagai ekspressi kecintaan kepada beliau Nabi Muhammad s.a.w kok dilarang-larang.
    Apakah kecintaan kepada beliau hanya patut ditunjukkan semasa beliau hidup saja?.
    Bukankah Qur’an mendukung sikap kecintaan terhadap Nabi maupun para wali, orang-orang shaleh mukmin, baik yang hidup maupun yang sudah meninggal?.

    Sikap yang persis sama dilakukan kaum yahudi sekarang terhadap nabi Musa.Sikap yang ambigu, disatu pihak memuja nab Musai, tetapi tidak memperingati (mengenang) nya.

    Inilah hasil dari cara berfikir yang sempit dan kaku (jumud)

    Balas
  • 51. nihil  |  November 26, 2007 pukul 7:02 pm

    Mengais kebenaran dimana/gimana dia yaa??

    Balas
  • 52. m.mustofa  |  Desember 10, 2007 pukul 2:15 am

    Saudara2 ku kaum muslimin
    Assalamu’alaikum ww
    marilah kita bersma2 saling menghormati apa yang menjadi keyakinan masing2.
    Mari kita rapatkan barisan untuk bersama2 memikirkan kesetaraan dunia pendidikan bagi anak2/adik2 kita, yang jauh tertinggal dibandingkan dengan penganut minoritas dinegeri kita.
    – Bagaimana caranya menggalang dana pendidikan
    – Bagaimana caranya masuk sekolah2 favorit
    – Bagaimana caranya masuk ke perusahaan bonafid
    Agar kita kaum muslim tidak menjadi obyek pelecehan terus menerus.
    Matur nuwun saudaraku
    Wassalam
    Kalau ada yang setuju mari bergabung bersama kami.

    Balas
  • 53. teu nyaho  |  Desember 10, 2007 pukul 2:51 pm

    Kang boleh ikutan diskusinya ga??? kayanya seru banget!!!!!!!!!!!!! klau ga salah nich, ane perhatiin dari awal ampe akhir kayanya belum ada yang menang ya? kalau boleh ane ngasih saran, sebaiknya ente2 pada nahan diri dech!…. klau ente yakin ma kebenaran keyakinan ma ibadah ente2, ya udah!!! liat aje nanti siapa yang bakal diterima ma Allah. kan beres!!!! dari pada debat yang ga ada ujung pangkalnya LEBIH BAIK MIKIRIN PERUT ORANG ISLAM YANG PADA KELAPERAN… kan jelas menfaatnya!!!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


KOMUNITAS

PALING BENER..!?

Preman Agama

WARNING..!

Assalamualaikum wr wb. Diberitahukan kepada semua pengunjung blog ini, bahwa setiap komentar yang hanya made in copy paste kami anggap "SPAM". Kami mengharap, komentator menunjukkan kemampuan bernalar, berlogika dalam analisa, hujjah bahkan kritik liar di setiap artikel yang tersaji. Setiap komentar bisa di komentari secara timbal balik sehingga tercipta diskusi yang segar. Sekalipun muatan komentar itu asal muasalnya bukan hasil perenungan atau karya sendiri tetapi coba hindarilah pendapat yang meng-ekor “KATANYA” abu fulan bin abu-abu dengan cara copy paste. Berfikirlah bebas..!, liar…!! jangan sekedar jadi kacung.!! Wassalam wr wb. Best Regard. ASWAJA. Hn Wawan.

Harga Blog Ini


My blog is worth $30,485.16.
How much is your blog worth?

JUMLAH POPULASI

  • 129,477 PENDUDUK

TAMU YANG HADIR

TANGGALAN

Maret 2007
M S S R K J S
    Apr »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

NEWS UPDATE

ARSIP PADA


%d blogger menyukai ini: