Maulid Nabi antara Halal dan Haram: Kritik atas Jamaah Takfiriyah

April 1, 2007 at 9:55 pm 48 komentar

Dan salah satu bentuk untuk mengenang dan meneladani beliau adalah dengan selalu mengingatnya. Persis kaum Wahabi ketika mengenang Ibnu Taimiyah dan Muhamad bin Abdul Wahhab dengan cara menukil dan menghidupkan manhaj TBCnya, hanya saja mereka tidak sadar bahwa dengan menghidupkan manhaj dan menukil fatwa-fatwa TBC itu pada hahekatnya adalah mengenangnya dan memperingatinya. Dan kesalahan fatal yang di lakukan oleh kaum wahabi adalah dengan klaim bahwa setiap tindakan atau perbuatan yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh Kanjeng Nabi s.a.w adalah sunnah. Padahal tidak “mesti” [dalam tanda kutip] demikian.

Maulid Nabi antara Halal dan Haram: Kritik atas Jamaah Takfiriyah

Assalamualaika Ya Sulalatul Wujud…. Assalamualaika Ya Sofwatul Wujud…. Assalamualaika Ya Zubdatul Wujud, Assalamualaika Ya Musthofa Muhammad s.a.w.

Kepada Kaum Muslimin dan Muslimat, Saya Ucapkan “Selamat Atas kelahiran manusia suci, manusia agung, nuurul wujud Muhammad s.a.w”.

“Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali”. [Lihat Al-quran
surat Maryam, Ayat 15]

Seperti biasa, di setiap bulan Rabiul Awwal, seperti tahun-tahun lalu, umat Islam di pojok dan sudut dunia, kembali memperingati hari kelahiran [maulid] Nabi Muhammad s.a.w. Seperti biasa pula umat Islam tumpah ruah bergembira menyambut hari kelahiran sang Matahari petunjuk segenap manusia. Muhammad s.a.w di lahirkan untuk menyobek tirai kegelapan dunia dan arab jahili. Namun demikian ada diantara umat manusia yang mengaku sebagai penerus dan penegak risalah Muhammadi s.a.w. tapi menghardik dan menyematkan dzikir TBC [Tahayul, Bid’ah, Churafat] tepat di kening umat Islam yang memperingati hari kelahiran sang Zubdatul Wujud ini.

Ada apa ini…?? Kenapa musti pangkat TBC..?? apakah dengan alasan bahwa Kanjeng Nabi s.a.w tidak pernah melaksanakan bahkan untuk memerintahkannya sehingga kita layak menjadi tumbal TBC..?. Sesederhana inikah alasannya…? Dan yang tidak kalah pentingnya adalah mengapa umat Islam merasa perlu dan harus memperingati hari kelahiran Nabi, padahal seperti kita ketahui Nabi s.a.w tidak pernah melakukannya bahkan memerintahkannya ?. TBCkah perbuatan ini..?

Jayyid…. Dalam makalah sederhana ini kita mencoba menyingkap makna dibalik peringatan Maulid Nabi s.a.w ini.

Kanjeng Nabi s.a.w dalam Al-quran

Banyak ragam cara manusia di alam ini ketika me-apresiasi sesuatu yang agung dan yang di agungkan, apalagi pangkat “agung” itu yang menyematkan adalah Allah s.w.t yang Maha Agung. Allah s.w.t. dalam Al-quran, Allah s.w.t. ketika mensifati keagungan Kanjeng Nabi s.a.w berfirman: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat atas Nabi. Hai orang-orang yang beriman, ucapkanlah shalawat dan salam kepadanya dengan sempurna.” [Lihat QS Al-Ahzab, 33 : 56]. Begitu juga Allah s.w.t ketika mensifati Kanjeng Nabi s.a.w sebagai “Rahmatan lil Alamin” dalam Al-quran berfirman: “Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk [menjadi] rahmat bagi semesta alam”. [Lihat QS Al-Anbiya, 21 : 107.]

Salah satu pujian Allah s.w.t. terhadap Kanjeng Nabi s.a.w adalah dengan memerintahkan kepada semua ciptaannya untuk bershalawat kepadanya. Malaikat sekalipun. Oleh karena itu Kanjeng Nabi s.a.w layak mendapat titel “Rahmatan lil alamiin” karena memang dalam diri beliau selalu tercurah rahmat Allah dan kemudian rahmat tersebut beliau sebarkan ke seluruh makhluk Allah s.w.t. Sementara itu, agar manusia dapat menyerap rahmatNYA, tidak ada jalan lain kecuali dengan mencintai dan mengikuti teladan beliau. Untuk menanamkan kecintaan kepada beliau, maka kita pun selayaknya untuk selalu mengenang beliau.

Dan salah satu bentuk untuk mengenang dan meneladani beliau adalah dengan selalu mengingatnya. Persis kaum Wahabi ketika mengenang Ibnu Taimiyah dan Muhamad bin Abdul Wahhab dengan cara menukil dan menghidupkan manhaj TBCnya, hanya saja mereka tidak sadar bahwa dengan menghidupkan manhaj dan menukil fatwa-fatwa TBC itu pada hahekatnya adalah mengenangnya dan memperingatinya. Dan kesalahan fatal yang di lakukan oleh kaum wahabi adalah dengan klaim bahwa setiap tindakan atau perbuatan yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh Kanjeng Nabi s.a.w adalah sunnah. Padahal tidak “mesti” [dalam tanda kutip] demikian.

Contoh kecil adalah kalau saja setiap yang di lakukan atau yang tidak di lakukan oleh kanjeng Nabi s.a.w adalah sunnah apakah ketika beliau mengendarai onta juga di anggap sunnah dan wajib bagi kita untuk mengikutinya..?? atau apakah ketika rasul tidak berdakwah melalui internet dan kita melakukan dakwah melalui internet adalah TBC..? dan banyak sekali contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari kita yang tidak dilakukan oleh kanjeng Nabi, Sahabat, Tabiin, dan Tabiin Tabiin. TBCkah kita..?

Zubdatul Basyariyah

Allah s.w.t. Maha Karim wa yuhibbul karom. Dalam Al-quran disebutkan: “Laqad karramna Bani Adam…” dan :”Yarfaullahul ladhina aamanu minkum..”. dan :”Walladhina uutul ilma darajah..”. atau :”Inna akramakum indallahi atqakum”. Semua ayat diatas adalah menceritakan betapa Allah swt menyaring di antara makhluknya dan memulyakanNYA dengan memberikan beberapa afdholiyah dan kemulyaan. Dan inilah yang oleh Allah swt mereka disebut sebagai “Al asholatul Basyariyah” . Dan maqam serta kemulyaan ini hanya dihuni dan dimiliki oleh mereka-mereka yang beriman, berilmu, dan bertaqwa. Dan dari makhluk Allah swt yang tersaring itu, Allah swt juga menyaring lagi yang didalamnya di huni oleh para Anbiya Allah , para Auliya Allah yang dikenal dengan sebutan “Sulalatul Basyariyah”. Belum berhenti sampai disitu Allah swt juga menyaring lagi diantara anbiya Allah yang kita kenal dengan Nabi Ulil Azmi, yang disebut sebagai “Sofwatul Basyariyah”.

Lalu dimana letak dan kedudukan Kanjeng Nabi s.a.w..?. Karena Kanjeng Nabi s.a.w adalah inti sari dari semua makhluk Allah s.w.t., maka disinilah letak keangungannya yang tidak tertandingi oleh makhluk dari zaman Nabi Adam a.s. hingga hari kiamat nanti. Dari makhluk di bumi maupun dilangit. Oleh karena itu karena Kanjeng Nabi s.a.w adalah inti sari dari semua makhluk, perasan dari segala inti maka beliau disebut sebagai “Zubdatul Basyariyah”. Oleh karena itu Allah s.w.t bersahalawat kepadanya dan menyeru kepada alam hatta malaikat untuk bershalawat kepadanya. Maka ayyuhannas….. !! bershalawatlah atasnya.

Perbedaan diantara maqam keempat itu adalah bahwa Asshulalah dan Asshoffah adalah inti sari dari Alasholah, semantara Zubdah adalah inti sari dari keduanya. Maka ayyuhannas…Renungkanlah kedudukan Rasul kecintaan Allah s.w.t. ini..!! [Lihat kamus lisanul Arab].

Syiar dan Maulid Nabi

Begitulah kedudukan Kanjeng Nabi s.a.w. disisi Allah s.w.t. Sulit untuk diterjemahkan dalam kata dan tulisan. Wa ma adroka Muhammad illa Muhammad !!

Memperingati kelahiran Nabi s.a.w adalah salah bentuk dari sebuah penghormatan dan pengagungan, menghidupkan kembali keafdholiannya, bentuk lain dari syiar. Jika dalam memperingati hari kelahiran Kanjeng Nabi s.a.w itu di anggap TBC hanya gara-gara sebagian kecil dari pelaku di “anggap keterlaluan” [Lihat Majmu’ Fatawa fii Arkanil Islam, soal no. 89] kenapa yang di anggap TBC adalah memperingatinya..?? dan bukan pelaku yang di anggap menyimpang..??. Bukankah Allah s.w.t dalam Al-quran juga mengucapkan selamat atas Nabi Isa a.s….?. “Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali”. [Lihat Al-quran surat Maryam, Ayat 15].

Kenapa kita di cap terkena penyakit TBC ketika kita mengucapkan selamat datang wahai Zubdatul Basyariyah dalam kitab Al-barjanji…??. Bukankah Allah s.w.t. juga melakukanya kepada Kekasihnya [Nabi Isa a.s]…??

Masuk nerakakah kita, ketika bersyukur atas Kanjeng Nabi s.a.w dengan membaca Qasidah dan pujian-pujian atas Kanjeng Nabi s.a.w…??. Dan adakah jaminan masuk surga ketika kaum Wahabi mengucapkan pujian-pujian dan qasidah terhadap Ibnu Taimiyyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab cs..? bukankah itu juga bentuk dari TBC..??. Hat lana dalil ala dakwatika…..

Allahu A’lam

Iklan

Entry filed under: abdul wahhab, ahmad bin hanbal, As-Salafiyah, bid'ah, Blogroll, ibnu Taimiyah, Islam, mazhab salafi, mazhab wahabi, Salaf, salafi, salafi/y, salafy, syirik, tabarruk, tawassul, Uncategorized, Wahabi/Salafi, Wahabisme, wahhab, wahhabi, ziarah kubur.

Menjawab Soalan Jammaah Takfiriyah Manusiakanlah Manusia: Untuk Jamaah Takfiriyah

48 Komentar Add your own

  • 1. orido  |  April 2, 2007 pukul 2:39 am

    menurut saya, segala sesuatunya kembali pada niat masing2…
    apakah niatnya utk ibadah kepada Allah swt ato utk org lain (termasuk Rasulullah)..???

    Balas
  • 2. Ibn Achmad  |  April 2, 2007 pukul 7:47 am

    Apakah para shahabat Rasulullah merayakan maulid beliau setiap tahun?
    jika para shahabat beliau tidak merayakan maulid apakah lantas mereka dianggap tidak mencintai beliau?
    padahal mereka adalah orang yg paling besar cintanya kpd beliau, mereka rela mengorbankan apapun demi Rasulullah, meskipun dgn harta bahkan nyawa.
    Tapi tidak pernah ada dlm sejarah para shahabat merayakan maulid Nabi.

    Balas
  • 3. Sastro  |  April 2, 2007 pukul 7:52 am

    Sedikit menambahkan…Tabligh penyebaran kebenaran merupakan ibadah dan perintah Allah yang zaman dulu dilakukan oleh Rasul dan para Salaf Saleh secara manual. Namun setelah ditemukannya sarana internet, tabligh yang merupakan ibadah dan perintah itu dilakukan melalui internet. Jadi gak bisa dikatakan bahwa internet adalah urusan dunia dimana termasuk obyek hadis Rasul “antum a’lamu bi umuuri dunyakum” (kalian lebih tahu pada urusan dunia kalian). Hal itu karena sarana internet dikaitkan dengan tabligh kebenaran yang merupakan perintah Allah dan termasuk kategori ibadah. Seperti penggunaan alat tasbih yang jika hanya dipakai menghitung biasa (matematika) tentu berbeda jika dipakai untuk bertasbih (zikir) kepada Allah, terdapat perbedaan hukum khan? Kenapa? Karena terjadi perbedaan obyek pemakaian sarana tadi. Yang satu buat keperluan umum (duniawi) dan yang atu dipakai untuk keperluan ibadah. Begitu juga dengan internet yang dipakai dakwah jelas berbeda halnya dengan pengunaan blog atau chating biasa yang tidak ada kaitannya dengan tabligh maka itu termasuk obyek ungkapan Rasul, hanya sekedar urusan dunia saja.
    Jadi tabligh kebenaran yang masuk kategori perintah Allah adalah merupakan jenis ibadah, taat kepada perintah Allah. Karena ketaatan secara mutlak milik Allah, Tuhan yang harus ditaati. Jika tabligh dilakukan via internet yang tidak pernah dilakukan oleh Rasul dan ara Salaf Saleh maka itu berarti telah terjadi “bid’ah dalam tata cara pelaksanaan ibadah”. Jelas, memakai internet untuk dakwah adalah bid’ah. Apakah jenis bid’ah semacam ini haram? Saya kira tidak…persis seperti pelaksanaan acara maulud Nabi yang dilaksanakan untuk mengenang manusia mulia yang Allah menyatakannya sebagai pemilik akhlak yang agung dan sebagai suri tauladan bagi segenap manusia. Di acara itulah kita akan mengenang keagungan beliau dan berusaha mencontohnya dalam kehidupan sehari-hari

    Balas
  • 4. darmawan  |  April 2, 2007 pukul 10:16 am

    “Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali”. [Lihat Al-quran
    surat Maryam, Ayat 15]

    Mas… perasaan itu ayat menceritakan tentang Nabi isa Deh..??

    Aswaja menulis “–> Contoh kecil adalah kalau saja setiap yang di lakukan atau yang tidak di lakukan oleh kanjeng Nabi s.a.w adalah sunnah apakah ketika beliau mengendarai onta juga di anggap sunnah dan wajib bagi kita untuk mengikutinya..?? atau apakah ketika rasul tidak berdakwah melalui internet dan kita melakukan dakwah melalui internet adalah TBC..? dan banyak sekali contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari kita yang tidak dilakukan oleh kanjeng Nabi, Sahabat, Tabiin, dan Tabiin Tabiin. TBCkah kita..?

    Balas
  • 5. darmawan  |  April 2, 2007 pukul 10:22 am

    Aswaja menulis “–> Contoh kecil adalah kalau saja setiap yang di lakukan atau yang tidak di lakukan oleh kanjeng Nabi s.a.w adalah sunnah apakah ketika beliau mengendarai onta juga di anggap sunnah dan wajib bagi kita untuk mengikutinya..?? atau apakah ketika rasul tidak berdakwah melalui internet dan kita melakukan dakwah melalui internet adalah TBC..? dan banyak sekali contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari kita yang tidak dilakukan oleh kanjeng Nabi, Sahabat, Tabiin, dan Tabiin Tabiin. TBCkah kita..?

    Orang kayak gini toh jebolan ………. Sampe ngak bisa membedakan Urusan dunia, tekhnologi dan Bid’ah. Masya Alloh

    Mas… Naik onta, internet, speker, toa, dan ampli itu urusan Dunia. Kalaupun diniatkan untuk ibadah tapi ngak menjadi keharusan. Ngak ada alat-alat itu dakwah tetep jalan kok.

    Nabi aja pernah jalan kaki. Apa beliau pernah mewajibkan onta sebagai kendaraan.

    Yang jadi sorotan bid’ah adalah dalam wilayah Ibadah. Pernah baca hadist Bukhori muslim ngak sih tentang amalan yg tertolaK?

    Balas
  • 6. aswaja  |  April 2, 2007 pukul 8:54 pm

    Orang kayak gini toh jebolan ………. Sampe ngak bisa membedakan Urusan dunia, tekhnologi dan Bid’ah. Masya Alloh——————————————————————
    Sekedar tanya dan butuh jawaban.
    Bukankah dalam hidup manusia ini dalam keadaan apapun dimanapun dan kapanpun tidak pernah terlepas dari lingkaran lima hal:
    1. Yang kita lakukan saat ini atau nanti adalah sebuah kewajiban
    2. Yang kita lakukan saat ini atau nanti adalah Sunnah
    3. Yang kita lakukan saat ini atau nanti adalah Haram
    4. Yang kita lakukan saat ini atau nanti adalah Makruh
    5. Yang kita lakukan saat ini atau nanti adalah Mubah

    Nah pertanyaannya adalah kapan dalam setiap langkah kita ini terlapas dari lima hal ini sehingga kita dengan latah berani memisahkan yang ini adalah urusan agama dan yang itu adalah urusan dunia..??? sementara lima hal diatas adalah sebuah hukum dan hukum ini adalah bagian dari agama. kedua. sejak kapan wahabi memisahkan urusan dunia itu berbeda dengan urusan agama dalam hal diatas..??.

    Balas
  • 7. darmawan  |  April 3, 2007 pukul 1:06 am

    Setahu saya, mereka yang anda sebut sbg wahabi itu memang tidak pernah membedakan urusan dunia dan agama. Karena setaiap prilaku Nabi adalah uswatun hasanah.

    Masalahnya anda terlihat sangat sulit menerapkan kapan sebuah amal itu disebut Bid’ah kapan disebut Masholihul mursalah. Anda sebut internet dan Naik Onta. Kedua masalah itu adalah tekhnologi dan kaifiyat yang bukan masuk wilayah inti amalan Ibadah.

    Nabi pernah bikin stempel lantaran tuntutan jaman wakatu itu bahwa menulis surat kepada raja-raja Romawi harus dibubuhi stempel (HR. Bukhori dalam kitab Al-lu’ lu’ul warmarjanu)

    Pekerjaannya memang Ibadah dalam rangka berdakwah, tapi stempel (berbentuk Cincin berlafaz Muhammaddarasululolh) tadi cuma sebatas penunjang. Tidak ada hukum yang berlaku bagi stempel tersebut, baik sunnah , mubah apalagi wajib. Itu Hanya Masholihul Mursalah. Terbukti, ketika stempel itu hilang di jaman Khalifah Ustman, tidak ada riwayat yang menceritakan Khalifah Ustman membuat stempel baru.

    Maulid Nabi? Anda Niatkan apa bermaulid Nabi itu?
    Saya yakin anda niatkan ibadah dalam rangka mengekspresikan kecintaan anda kepada kanjeng Nabi. Cinta Rasul adalah Bagian dari ibadah inti,masuk dalam rukun Iman. Tapi Contohnya darimana maulidan itu? Kenapa sahabat yg sudah jelas cintanya lebih besar dari pada Kita tidak mengadakan Maulid Nabi? Apakah Anda meragukan Cinta Para sahabat kepada Nabinya? Apakah sangkaan anda bahwa kebaikan merayakan maulid Nabi tidak ada pada diri para sahabat? Apa sih susahnya bagi Para sahabat merayakan Maulid jika memang dibenarkan? Toh ngak perlu nunggu tekhnologi.

    Internet? Apa Hukum internet, mubah, sunnah atau wajib? Tidak ada hukum bagi sebuah penunjang ibadah. Sejak belum ditemukan internet dakwah sudah berlanjut. Jaman Umar bin Khotob, semenanjung arab dan sebagian eropa sudah ada dalam pelukan Islam. Jika para sahabat tidak memakai internet ya jelas saja. Wong belum ditemukan kok.

    Saya berani mengatakan, jika internet sudah ditemukan pasti para sahabat memakianya. Ini berdasarkan riwayat, ketika pada sebauah kesempatan Sahabat Bilal naik keatap Masjid untuk ber azan. Apa tujuan Bilal ? Supaya suaranya terdengar oleh kaum muslimin. Kalo listrik, ampli, toa dan speaker sudah ditemukan pada waktu itu, saya yakin bilal akan memakai alat-alat tersebut. Listrik, ampli, toa dan speker adalah tekhnologi satu turunan dengan internet.

    Balas
  • 8. Ind. F.B  |  April 4, 2007 pukul 12:54 am

    Contoh kecil adalah kalau saja setiap yang di lakukan atau yang tidak di lakukan oleh kanjeng Nabi s.a.w adalah sunnah apakah ketika beliau mengendarai onta juga di anggap sunnah dan wajib bagi kita untuk mengikutinya..?? atau apakah ketika rasul tidak berdakwah melalui internet dan kita melakukan dakwah melalui internet adalah TBC..?
    ———–
    komentar ind. FB :
    sempit sekali pemikiran anda dalam mengartikan sebuah teknologi…. masa internet disamakan dengan TBC. perlu diingat bid’ah sangat berhubungan erat dengan ritual ibadah, yang harus difahami bahwa ibadah pada dasarnya adalah HARAM, kecuali yang DIPERINTAH. sedangkan internet adalah perkara muamalah, yang pada dasarnya adalah semua boleh, kecuali yang dilarang…..

    —————
    Orido berkata :
    menurut saya, segala sesuatunya kembali pada niat masing2…
    apakah niatnya utk ibadah kepada Allah swt ato utk org lain (termasuk Rasulullah)..???

    komentar ind. FB :
    mas orido, saya setuju bahwa semuanya kembali kepada niat. tetapi perlu difahami bahwa dalam ibadah tidak cukup hanya niat yang baik, tetapi juga harus disertai denga cara yang benar (Sesuai perintah).

    Balas
  • 9. Abu Aqil Al-Atsy  |  April 8, 2007 pukul 5:25 am

    Seandainya kita memahami makna ayat 3 surat almaidah, “Hari ini telah Aku [Alloh] sempurnakan agama kamu…” tentunya kita akan berkata bahwa Agama yang telah sempurna ini tidak membutuhkan Tambahan.
    Apakah Penyempurnaan Alloh atas Agama ini masih kurang sehingga orang-orang membuat tambahan2 dalam Agama ?

    Hanya saja mereka yang memperturutkan hawa nafsu telah merusak agama ini dengan tambahan2 yang bela mati-matian. Tentunya jika Rosululloh Masih hidup beliau akan berkata kepada mereka para pengikut hawa nafsu dengan perkataan “Setiap Bid’ah adalah Sesat”.

    Balas
  • 10. joesatch  |  April 8, 2007 pukul 6:21 pm

    perlu dilihat juga, tambahan itu berupa “tambahan ibadah” ataukah “tambahan modifikasi dalam ibadah”?
    modifikasi dalam tujuan yang tidak melenceng dari makna intinya, lho…

    dan, modifikasi itu bisa bermacam2.

    perlu direnungkan juga, wayang kulit itu bid’ah ataukah bukan? apakah antum2 semua yakin, seandainya sunan kalijaga tidak memodifikasi wayang kulit dalam rangka penyebaran islam, apakah islam bakal menyebar di endonesa? apakah antum yakin skrg bakal bisa memeluk agama islam seandainya islam tidak pernah dikenal oleh leluhur2 antum?

    tolong pemahamannya diperluas, dunk. bedakan antara mengubah, menambah, dan memodifikasi. see? 😉

    Balas
  • 11. eLHa  |  April 9, 2007 pukul 8:36 pm

    Bismillah…

    Lau kana khoiron lasabaquna ilaih

    “Kalau saja itu baik, tentu orang-orang yang lebih awal dari kita (3 generasi terbaik) telah melakukannya.”

    Barokallohu Fikum

    Balas
  • 12. eQ  |  April 10, 2007 pukul 4:23 am

    Assalamu’alaikum akhiina Fillah…..

    perayaan maulid (terlepas apakah itu bid’ah atau bukan, Wallahu ‘A’lam) bertujuan buat ngingetin kita tentang ketauladan Muhammad Rosulullah, sekarang coba kita renungkan apa ada bedanya zaman Qta dengan zamannya Salahuddin Al-Ayyubi yang mempelopori peringatan Mauid ? sama akhii, umat islam terpuruk karena kebanyakan Qta tidak mengenal Nabi, salah satu yang menjadi ijtihad ‘ulama adalah perayaan maulid dan Nabi bilang (klo saya ga salah inget) “apa yang menurut ulama baik maka baik bagi Allah SWT” (atau seperti sabda Nabi Muhammad SAW). lalu knp Qta masih meributkan apakah itu bid’ah ato bukan. Nabi bukannya tidak pernah merayakan hari kelahirannya, ketika beliau ditanya kenapa berpuasa pada hari senin, beliau menjawab ini adalah hri kelahiranku, nabi merayakan kelahirannya dengan cara dan gaya beliau. satu lagi : hadits tidak berlaku sepanjang zaman sedangkan Quran for all time. hadist ada yang khusus buat Nabi dan ada yang buat umatnya (umum), jadi sebelum Qta saling menyalahkan, nyo Qta buka buku atau kitab atau referensi apalah yang menjadi hujjah/alasan bagi yang merayakan maulid dan bagi yang tidak merayakan maulid, tapi yang terpenting adalah : Ashhadu An Laa Ilaa Ha Illallaah Wa Ash hadu anna Muhammadarrosulallah

    Wassalam

    Balas
  • 13. B 41 HQ  |  April 10, 2007 pukul 4:37 am

    bener pa eQ, nyo deh kite belajar supaya tidak mudah menyalahkan dan membenarkan pendapat orang. kalopun Maulid dianggap bid’ah, maka Al-Quran yang sekarang kita baca pun Bid’ah karena pada zaman Nabi Al-Quran itu tidak bertitik apalagi pake baris segala, buat antum yang ga mao merayakan maulid mulai sekarang jangan lagi membaca Al-Quran yang bertitik dan berbaris, antum harus adil dalam memberlakukan hukum jangan pake standar ganda seperti Yahudi (Israel) dan Amerika

    Balas
  • 14. joesatch  |  April 11, 2007 pukul 8:05 am

    “Kalau saja itu baik, tentu orang-orang yang lebih awal dari kita (3 generasi terbaik) telah melakukannya.”

    Ah…orang yang lebih awal dari kita pun belum menemukan network technology, tapi itu bukan berarti internet menjadi bid’ah, kan?

    Balas
  • 15. Umat Rasulullah  |  April 11, 2007 pukul 9:08 am

    Untuk saudaraku Wahabi / salafy …..SADARLAH…SADARLAH….Sucikanlah/bersikanlah Hati kalian dengan bayak berzikir dan Shalawat.
    dan Untuk saudaraku Ahli sunah wal jamaah yg mencintai Nabi saw
    berdo’a lah agar saudara kita Wahabi / salafy mendapat karunia hidayahNYA.
    1.agar tidak meng KAFIR kan Orang yang beriman dengan LAILAHAILALLAH MUHAMMADARASULULLAH
    2.dan mengatakan TBC [Tahayul, Bid’ah, Churafat] ke pada mazhab lain.

    Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.

    saya yang fakir ini hanya sedikit menjelaskan mengenai MAULID Nabi Saw.
    Firman Allah;
    Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin’. (QS. 9:128).

    Maulid NABI SAW ialah Memperingati hari kelahiran baginda Muhammad saw.yang dimana Nabi saw itu Rasulullah dan Kekasih Allah, Mahluk Yg Paling Mulia, Yang Allah & MalaikatNya selalu berselawat kepadanya.yang Malaikat Jibril as saja tidak Sebanding dengan Baginda saw ( baca israk mi’raj) apalagi Ibnu Taimiyah dan Muhamad bin Abdul Wahhab.
    Yang mana kehadirannya Baginda saw Menjadi Rahmat bagi Semesta Alam.dan masih banyak lagi kemulian Baginda saw disisi ALLAH.

    وَمَآ أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
    “Dan tidaklah Kami utuskan engkau (yakni Junjungan Nabi)
    melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.”

    Junjungan Nabi s.a.w. juga telah menyatakan dalam hadits baginda yang mulia:-
    يا أيُّها الناسُ إنما أَنَا رحمةٌ مهداةٌ
    “Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah rahmat yang dikurniakan (yakni dikurniakan Allah kepada kamu sekalian)”

    Yang mana jasa beliau sangat berguna bagi kita Dunia & akhirat.
    seperti ;
    • Sholat wajib dan sunah Beliaulah yang mencontohkan.
    • Puasa wajib dan sunah Beliau pula yang mencontohkan.
    • Tata cara berhaji Baginda Rasulullah SAW juga yg mencontohkan.
    • Zakat, shodakoh, dan masih banyak lagi yang telah dicontohkan oleh Baginda Rasulullah SAW
    • Orang Yang menjadi Syafat kita kelak di hadapan Allah.
    • Orang yang menjadi tuntunan kita dalam beribadah kepada Allah.
    • Yang mengajarkan Perintah & laranganNYA.

    Namun apa balasan Kalian(wahabi) kepada Baginda Rasulullah SAW yang telah memperjuangkan umatnya untuk saling mengasihi, menyayangi dan menyuruh umatnya untuk berbuat kebaikan dijalan ALLAH SWT.

    Apakah Kita merayakan Maulid / Hari kelahiran Manusia yang menjadi kekasih Allah Junjungan kita Nabi Muhammad saw.Yang mana disaat kelahirannya menjadikan Rahmat sekalian Alam.
    ini termasuk bid’ah yang merusak akidah dan sunnah.MasaAllah begitu dangkal pemikiran orang-orang yang melarang Maulid ini.

    Sebagai gambaran untuk faham Wahabi / salafy.
    Coba kita Lihat jaman sekarang ini bayak yang merayakan Hari yang mempunyai moment tertentu. Misalnya :
    • Negara kita merdeka dirayakan,
    • Hari Pahlawan Nasional dirayakan,
    • Hari lahir anak kita, istri kita, atasan kerja kita, orang tua kita mungkin kitapun merayakan hari lahir kita karena apa kita merayakan itu semua, cuma ingin menunjukan RASA CINTA KITA kepada negara, keluarga, kerabat, teman.yang sebagian bayak Mudaratnya.apakah itu bukan bid’ah.
    Kenapa kalian (wahabi tidak menentangnya) bukankah ini tidak ada dijaman Rasulullah saw dan sahabatnya.

    Apakah Anak2 kita, Orang tua kita, kerabat2 kita, negara kita, pahlawan2 kita dll.LEBIH MULIA DARI BAGINDA RASULULLAH SAW ?????.

    Kami Yang Merayakan Maulid Nabi saw.Hakikatnya ingin menunjukan RASA CINTA KITA… RASA CINTA KITA…RASA CINTA KITA dengan bayak berShalawat didalamnya kepada Junjungan Kami Baginda Muhammad saw.Atas jasa2 Baginda saw.

    Tapi KENAPA ??????????????
    Untuk mengenang hari lahir Mahluk yang PALING MULIA Baginda Rasulullah SAW yang menjadi Rahmat Sekalian Alam, Kekasih ALLAH, Yang Allah & MalaikatNya selalu berselawat kepadanya,Yang mana Allah Memerintahkan kepada Orang2 yang beriman bershalawat kepadanya. Yang Mengajarkan kita cara Beribadah kepada ALLAH,Yang dimana Pintu Sorga haram bagi orang lain sebelum Baginda saw duluan yang masuk.
    Pantaskah oleh kalian (wahabi) mangatakan ini TBC [Tahayul, Bid’ah, Churafat]. Pantaskah?….Pantaskah?…..

    Wahai Saudara ku..wahabi….berkacalah pada hidup kita sehari2 sebelum kita melihat orang lain.

    Ya ALLAH…..Limpahkanlah Shalawat dan Salam kepada Habibuna Sayyidina Muhammad saw , beserta Keluarga, Zuriat dan Sahabatnya.
    Ya….ALLAH
    Limpahkanlah Karunia HidayahMU,
    Bimbinglah hamba & Umat KekasihMU Sayyidina Habibuna Muhammadarasulullah saw untuk mendapatkan keredaanMU & Syafaat Baginda Rasulullah saw.

    Balas
  • 16. Dibyo M  |  April 12, 2007 pukul 6:00 am

    Untuk orang-orang Wahhabi :
    Apakah membaca shalawat kepada sahabat Nabi dicontohkan oleh Rasulullah dan dilakukan oleh para sahabat ?
    Kalau tidak, kenapa kalian bersholawat kepada para sahabat Nabi dengan mengucapkan :”….wa ashabihi ajmain…” ?

    Balas
  • 17. Syah  |  April 12, 2007 pukul 8:27 am

    Assalamu’alaikumwarahmatullah…
    Buat “Umat Rasulullah” Mencintai Rasulullah dapat diaplikasikan dengan menjalankan sunnah2 beliau.
    Kalo menurut anda mengaplikasikannya dengan maulid, kenapa ya? Para sahabat Nabi tidak pernah mengerjakannya, padahal kita tau, mereka para sahabat Nabi tidak perlu lagi diragukan keimanannya dan kecintaan mereka pada Rasulullah, tapi mereka mengaplikasikannya dengan menghidupkan sunnah2 Nabinya.
    Manhaj salaf hanya merayakan Idul Fitri dan Idul Adha, sedangkan yang lainnya yang anda sebutkan, tidak dirayakan. Wallahu’alam.
    Sholawat serta salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah saw beserta keluarga, sahabat dan orang yang mengikutinya dengan baik.
    Semoga saya dan anda dicinta oleh Allah swt.
    Wassalam…

    Balas
  • 18. jamal  |  April 12, 2007 pukul 8:40 am

    Orang-orang kuffar Amerika, Eropa,Rusia, Jepang sedang berlomba-lomba dalam memperdalam sains dan teknologi canggih, namun kita kaum muslimin masih mempeributkan tawassul, maulud, tahlilan dll. waduuh parah banget yaa.. makanya kita minta sama kerajaan Saudi untuk mendalami teknologi kontemporer jangan bisanya hanya mengkafirkan sesama muslim, jadi bikin ruwet nich.

    Balas
  • 19. sawiji  |  April 14, 2007 pukul 9:00 am

    internet adalah tehnologi jadio tidak urgen dikenai hukum bid’ah, tapi kalau internet digunakan untuk menyampaikan dakwah dalam bentuk apapun, nyata atau tersamar, langsung atau tidak maka itu telah berubah menjadi alat, dan sebagai alat internet adalah bagian dari ibadah maka dia bisa dihukumi bid’ah atau tidak.
    Kertas adalah tehnologi, maka dia tidak bisa dihukumi bid’ah atau tidak, tapi kalau kertas sudah ditulisi sesuatu untuk dakwah, ibadah, maka hukumnya dia adalah bagian dari ibadah, maka mushaf sebagai alat ibadah bisa dihukumi bid’ah atau tidak.
    teknoligi terus berkembang, suatu saat kertas sudah tidak digunakan lagi secara umum, sebagai mana jaman dahulu tehnologi masih menggunakan bahan lain, maka tehnologi masa depan media menyimpan data akan didominasi perangkat berbasis elektromagnetik, seperti hardware komputer sekarang, maka semua itu adalah tehnologi, ketiga digunakan untuk ibadah maka hukumnya akan menjadi bgaian ibadah maka dia bisa dihukumi sesuai dengan kaidah yang ada, tetapi jangan menggunakan hukum seandainya ini ada pada dia di masa ini maka pasti dia akan begini, tidak bisa. misalkan seandainya ilmu kedokteran sudah semaju sekarang maka bapak saya almarhum tentu tidak mati karena karena penyakit hepatitis. itu tidak berlaku untuk hukum karena hukum hanya berlaku bagi hal yang benar terjadi bukan pada hal yang mungkin terjadi.atau seperti pendapan ikhwan yang menyatakan “jika saat itu sudah dikenal internet, nabi dan shohabat pasti menggunakannya”, itu tidak valid, satu secara hukum dua secara agama, itu mendekati nujum. mendekati syirik. dan perlu diketahui pula untuk abad tersebut di dunia yang lain telah dikenal kertas dan tehnologi menulis lain, tetapi Qur’an tetap tertulis secara terpisah dan lebih afdol saat itu untuk dihafal. itu fakta, dan ketika ada ide dan dujudkan dalam bentuk mushaf, maupun sekarang dalam bentuk Qur’an seluler. Qur’an elektronik, maka seluler, media elektronik, kertas tidak bisa dihukumi dengan bid’ah atau tidak, tetapi qur’an dalm bentuk mushaf, qu’an dalam bentuk elektronik/internet mempunyai hukum sebagai alat, dan hukumnya baru karena dulu tidak ada dan tidak di contohkan. Dan kalau memang kita konsisten ya kita lebih afdol hafalan, ngaji dengan sorogan, ustad mengajar satu ayat kita hafal berulang-ulang.
    itu menurut saya pemisahan antara dunia/teknologi dan ibadah (walaupun hakikatnya tiada diciptakan jin dan manusia itu untuk beribadah)

    Balas
  • 20. agung darmono  |  April 14, 2007 pukul 1:54 pm

    Sekarang ini musuh2 islam sudah sedemikian kuatnya tuk porak porandakan umat islam, lah sesama muslim asyik main lotre takfiriyah, gimana kalian mau maju, trus gerakan wahabi adalah gerakan yg paling menegakkan islam sementara kelompok yg lain hanya iri saja, berkreatif donk? masa` harus kaya syi`ah yg demen bid`ah, berkedok dibalik konsep taqiyyah, itu namanya konsep silat lidah saat kepepet tau!!

    Balas
  • 21. yudistira brahim  |  April 14, 2007 pukul 2:03 pm

    Singkat saja, mau tahu kepanjangan WAHABI ( Walau Habib biadab Ikutin aja dech) .Mas waja ni banyak basa basinya, hati2 ya mengkambing hitamkan wahabi!!! kayaknya tdk ada org yg lebih pintar ketimbang Muhammad bin Abdulwahab dan Ibnu Tai miyah dizamanya?
    baca sejarah lebih lengkap donk….karna keompok wahabi yg jelas2 di jamin masik surga diantara 27 golongan islam lainya ngerti!!!

    Balas
  • 22. cinta Rasulullah  |  April 16, 2007 pukul 3:51 am

    yudistira brahim – April 14, 2007
    Singkat saja, mau tahu kepanjangan WAHABI ( Walau Habib biadab Ikutin aja dech) .Mas waja ni banyak basa basinya, hati2 ya mengkambing hitamkan wahabi!!! kayaknya tdk ada org yg lebih pintar ketimbang Muhammad bin Abdulwahab dan Ibnu Tai miyah dizamanya?
    baca sejarah lebih lengkap donk….karna keompok wahabi yg jelas2 di jamin masik surga diantara 27 golongan islam lainya ngerti!!!

    ASTARFIRULLAH…..Inikah yang namanya pengikut, PECINTA Nabi saw,
    PERNAHKAH Rasul saw Mengucapkan KATA-KATA BIADAB kepada Orang Non Muslim, Apalagi SESAMA MUSLIM ????.
    Jaman Rasul saw Hanya orang-orang YAHUDI yg berkata demikian.

    untuk Saudarakua Wahabi/salafy Jaman Sekarang Masih Banyak Saudara WAHABI / SALAFY BERIBADAH Melakukan BID’AH ( Ibadah Sholat dll. Mengunakan BAJU KEMEJA,CELANA PANJANG.)
    INGAT !!! PAKAIAN UNTUK IBADAH MODEL KEMEJA & CELANA PANJANG TIDAK PERNAH DIGUNAKAN RASUL saw dan SAHABATNYA DAN BELUM DIKENAL DI ZAMAN NABI SAW & SAHABATNYA.
    BUKANKAH IBADAH KITA ( mengunakan Kemeja & Celana Panjang )ITU NAMA NYA BID’AH ????

    Hadist dibawah ini sering digunakan Wahabi / Salafy.untuk Orang yang Memperingati Maulid.
    Berhati-hatilah dari perbuatan muhdats (baru dalam agama, pent) karena setiap yang baru dalam agama adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah di Neraka tempat kembalinya” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi).
    Berkata At-Tirmidzi:”Hadits Hasan Shahih”1) (Al-Muntaqo min Jami’ Al-’Ulum wal Hikam, hal: 96-97. Asy-Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaliy hafizahullah Ta’ala).

    Berarti NERAKA LAH TEMPAT KITA SEMUA NIH.KALAU KITA MENGKAJI HADIST DIATAS SEPERTI ORANG WAHABI / SALAFY.

    Balas
  • 23. LUCU...LUCU....  |  April 16, 2007 pukul 4:46 am

    UNTUK yudistira brahim – April 14, 2007

    Singkat saja, mau tahu kepanjangan WAHABI ( Walau Habib biadab Ikutin aja dech) .Mas waja ni banyak basa basinya, hati2 ya mengkambing hitamkan wahabi!!! kayaknya tdk ada org yg lebih pintar ketimbang Muhammad bin Abdulwahab dan Ibnu Tai miyah dizamanya?
    baca sejarah lebih lengkap donk
    karna keompok wahabi yg jelas2 di jamin masik surga diantara 27 golongan islam lainya ngerti!!!.

    Aduh…Aduh..Aduh…Aduh…CELAKA !!!!
    Sungguh Malang nya Orang Yang SOMBONG ini, Berhayal PASTI MASUK SURGA…

    TAHUKAH ANDA MAHLUK ALLAH YANG SOMBONG ?????..

    Allah berfirman:
    ” Hai lblis! Apa yang menghalangmu daripada turut sujud kepada (Adam) yang Aku telah ciptakan dengan kekuasaanKu? Adakah engkau berlaku SOMBONG TAKABUR, ataupun engkau dari golongan yang tertinggi? ” [Shad :75]

    Allah berfirman:
    Sesungguhnya hamba-hambaKu (yang beriman dengan ikhlas), tiadalah engkau (hai iblis) mempunyai sebarang kuasa terhadap mereka (untuk menyesatkannya); cukuplah Tuhanmu (wahai Muhammad) menjadi Pelindung (bagi mereka). [Al-Isra’ : 65]

    Allah berfirman:
    Dan (ingatlah) ketika kami berfirman kepada malaikat: “Tunduklah (beri hormat) kepada Nabi Adam”. Lalu mereka sekaliannya tunduk memberi hormat melainkan Iblis; ia enggan dan takbur ( SOMBONG) , dan menjadilah ia dari golongan yang kafir. [Baqarah : 34]

    Allah berfirman:
    “Apakah penghalangnya yang menyekatmu daripada sujud ketika Aku perintahmu?” Iblis menjawab: “Aku lebih baik daripada Adam, Engkau (wahai Tuhan) jadikan daku dari api sedang dia Engkau jadikan dari tanah.” [Al-A’raf :12]

    Allah berfirman (kepada iblis):
    “Pergilah (lakukanlah apa yang engkau rancangkan)! Kemudian siapa yang menurutmu di antara mereka, maka sesungguhnya neraka Jahannamlah balasan kamu semua, sebagai balasan yang cukup. [Al-Isra’: 63]

    Allah berfirman
    Bukankah Aku telah perintahkan kamu wahai anak-anak Adam, supaya kamu jangan menyembah Syaitan (Mengikutinya)? Sesungguhnya ia musuh yang nyata terhadap kamu! (Yasin : 60)

    SYAITAN ini dulu hamba Allah yang TA’AT kepadaNYA.
    Karena SOMBONGNYA, ALLAH JADIKAN SYAITAN MAHLUKNYA YG PALING HINA..

    Mastiin Masuk Surga ??????. lucu..lucu…
    1.Akhlak seperti Saudara ini (membiadabkan orang islam) inikah yang di ajarkan imam saudara ( Muhammad bin Abdulwahab dan Ibnu Tai miyah dizamanya? ) Mau Masuk surga ???….
    3.Adakah Rasulullah & Sahabatnya Pernah MENGUCAPKAN PERKATAN SEPERTI ITU ( BIADAB) ???
    2. Hati saudara yg masih KOTOR ini mau ketempat yang SUCI.?..hehe..

    Rasul saw bersabda ;
    Sesunguhnya dalam tubuh anak Adam itu ada seketul daging bila BAIK ia nescaya BAIKLAH seluruh anggotanya dan bila JAHAT ia nescaya JAHATLAH seluruh anggotanya. Ketahuilah itu adalah Qalbu/hati [Riwayat Bukhari Muslim].

    Allah berfirman: ” Hai lblis! Apa yang menghalangmu daripada turut sujud kepada (Adam) yang Aku telah ciptakan dengan kekuasaanKu? Adakah engkau berlaku sombong takbur, ataupun engkau dari golongan yang tertinggi? ” [Shad :75]

    Ya..ALLAH
    AmpunkanLah dosa Hamba ini dan saudara yudistira brahim.
    Berikanlah karunia HidayahMU kepada nya.

    Balas
  • 24. yudistira brahim  |  April 17, 2007 pukul 11:08 am

    Untuk C R yg berfikiran sangat dangkal & terkesan kolot, Emang Nabi gak pernah marah, Nabi ketika marah juga mendo`akan celaka kepada org yg membuatnya marah, artinya sosok agung spt Nabi mendo`akan celaka yg lain itu melebihi kata2 spt biadab yg kita pakai di jaman sekarang ini( baca sejarah yg bener!!! jgn sok tahu). Masalah kemeja, ceana panjang dll yg digunakan dalam ibadah? YA sangat jelas gitu, hanya org2 kolot & otak lemot aja yg gak faham, kan di zaman Nabi lum ada yg spt itu. Masalah ngaku2 masuk surga? anda pake akal sehat anda dan bertanyalah kelompok mana yg tdk meyakini golongannya masuk surga( masa` anda yakin golongan anda masuk neraka!). Trus knp anda mengaku2 klo kitab bukhari & muslim paling benarnya kitab setelah Alquran? saya juga beranggapan bahwa ajaran Ibnu taimiyah & Ibn Abdul wahab adalah ajaran yg paling menjanjikan menuju surga. C R berfikirlah sebelum berkata!!!!!!!!!

    Balas
  • 25. yudistira brahim  |  April 17, 2007 pukul 11:23 am

    Untuk Lucu..Lucu!!! Anda tak jauh beda spt C R, bahkan anda lebih parah karena anda sok tahu dgn ayat2 quran yg anda copy-paste ( banyak yg bisa tahu!!! gak perlu belajar). Klo sombong, itu kan karena perasaan anda aja, karena anda terlalu bernafsu. Soal mencela yg lainnya, dari dulu kan sudah berjalan cela mencela. Coba anda baca dgn benar sejarah zaman Nabi, yg mana org2 di masa itu juga mencela satu sama lainnya, sementara mereka adalah sesama muslim( coba anda beajar islam yg bener, jgn ikut2an org lain dan baca buku2 Ibnu Taimiyah dgn ikhlas)bahkan sebagian melaknat sebagian yg lain karena iri dan dengki. tentang mengaku2 masuk surga, baca koment saya untuk C R, selemot2nya otak kan masih bisa mencerna hal2 yg mudah, faham!!!!!

    Balas
  • 26. Maulana  |  April 17, 2007 pukul 11:41 am

    Yudistira brahim……………saudara spt org yg sedang mabuk, bicara ngelantur kesana kemari gak jelas? ketika aya2 qur`an tdk bisa menjadi obat saudara, mau cari obat macam apalagi saudara, benar2 memprihatinkan sekali kondisi saudara dgn keyakinan sekarang ini. Coba di bab mana, ajaran dari 2 org tsb yg paling menjanjikan ke surga? ( di bab bid`ahnya?……. heh he heee) kasihan sekali kalau usia saudara habis buat ngurusin bid`ah mulu.

    Balas
  • 27. cinta Rasulullah  |  April 18, 2007 pukul 10:43 am

    Untuk Yudistira brahim…
    dibawah ini adalah kata-kata hikmah dari Ulama-Ulama Ahli sunah waljamaah yg mudah-mudahan dapat kita terutama Yudistira brahim menyejukan hati kita..

    1. Adab itu bukan hanya berarti menjaga tingkah laku dan menundukkan mata saja, akan tetapi menjaga hati.
    [Al-Imam Al-Ghazaly]

    2. Saya berpesan hendaknya kamu tidak merasa diri lebih baik dari orang lain. Apabila perasaan seperti itu terlintas dalam hatimu, sadarilah segera betapa kamu sudah seringkali melakukan kesalahan-kesalahan di masa lalu.
    [Al-Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad]

    3. Setiap orang yang tidak mau mendengarkan nasihat dan peringatan Al-Qur’an, dan yang hatinya tidak menjadi khusyuk ketika menerima peringatan dan penjelasan, maka yang seperti itu adalah orang yang lemah imannya dan hatinya berpenyakit.
    [Al-Habib Abdurrahman bin Abdullah Bilfagih]

    4. Jika engkau mendengar suatu kalimat dari seorang muslim, maka bawalah kalimat itu pada sebaik-baiknya tempat yang engkau temui. Jika engkau tak mampu untuk mendapatkan wadah tempat kalimat tersebut, maka celalah dirimu sendiri.
    [Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq]

    5.Tidak ada sesuatu yang lebih penting daripada adab. Adab, bukan hanya tingkah laku saja yang beradab, akan tetapi yang jauh lebih penting dari itu adalah adab batin, yaitu menjaga hati untuk beradab.
    [Al-Habib Muhammad bin Hadi As-Saggaf]

    6.Pembicaraan seseorang dengan sifat riya’ dan memaksakan diri, adalah laksana kegelapan dan sia-sia, walaupun sangat fasih dalam menyampaikannya.
    [Al-Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad]

    7. Jika dakwah dilakukan dengan penuh kasih sayang, maka hati yang diterangi cahaya iman akan memperoleh manfaat, dan nafsu akan bertekuk lutut.
    [Al-Habib Hasan bin Sholeh Al-Bahr]

    8. Apabila engkau ingin selamat dari tipudaya, maka ikhlaslah dalam beramal semata karena Allah swt. disertai ilmu pengetahuan. Dan janganlah engkau rela sedikitpun terhadap nafsumu.
    [Syeikh Abul Hasan Asy Syadzili]

    9. Bahwa segala kebaikan terletak didalam keridhaan. Maka jika engkau mampu jadilah orang yang ridha; jika tidak mampu, jadilah orang yang sabar.”
    [Umar bin Khaththab ra]

    10. “Kerendahan hati adalah sifat yang sangat baik bagi setiap orang, tapi ia paling baik bagi seorang yang kaya. Kesombongan adalah sifat yang menjijikkan bagi setiap orang, tetapi ia paling menjijikkan jika terdapat pada orang yang miskin.”
    [ Yahya bin Mu’adz ]

    11. Fugaha itu orang yang memegang amanah para rasul, selama tidak masuk ke dalam pintu-pintu penguasa.
    [Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq]

    12.”Jika engkau berbuat dosa, maka memohon ampunlah, karena sesungguhnya dosa-dosa itu telah dibebankan di leher-leher manusia sebelum ia diciptakan. Dan sesungguhnya kebinasaan yang dahsyat itu adalah terletak pada melakukan dosa secara terus-menerus.”
    [Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq]

    13.Tiada bekal yang lebih utama daripada takwa. Tiada sesuatu yang lebih baik daripada diam. Tiada musuh yang lebih berbahaya daripada kebodohan. Tiada penyakit yang lebih parah daripada berbohong.
    [Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq]

    14.Hati adalah wadah. Sebaik-baik wadah adalah yang mau mendengarkan kebaikan.
    [Al-Imam Ali bin Abi Thalib].

    15.JanganLah Mengandalkan AMAL IBADAHMU untuk bekalmu kelak dihari kiamat, Jadikanlah AMAL IBADAHMU untuk mendapatkan ke RidhaanNYA, Syafa’at Rasulullah dan Kecintaan ALLAH dan RasulNYA.
    seandainya engkau menghadapkan amalmu dihadapanNYA niscaya Dosa2mu akan menutup amal2mu.(kurang syukurnya engkau atas nikmat yang diberikan olehNYA, berkelu kesah atas NikmatNYA, subhat dll.) RENUNGKANLAH…RENUNGKANLAH…RENUNGKANLAH

    Perhatikanlah keseharian diri kita ini.Lahir & Batin.Berjuanglah sekuat tenaga untuk mendapatkan KeRidhaanNYA dan Syafaat KekasihNYA.

    Mudah2an kata -kata Mutiara diatas berguna bagi kita….

    Balas
  • 28. cinta Rasulullah  |  April 19, 2007 pukul 9:23 am

    UNTUK FAHAMAN YANG MENOLAK MAULID NABI SAW…
    Bacalah Dengan Seksama.

    Sebenarnya yang menjadi permasalahan bukanlah perbedaan masalah khilafiyah, namun yang menjadi masalah yang harus diluruskan adalah bahwa gerakan fitnah ini membuat terpecah belahnya masyarakat, mereka berusaha sekuat tenaga membuat masjid-masjid Ahlussunnah waljamaah berantakan dan pengurusnya saling bermusuhan, maka jelaslah harus diberantas dan diperangi, dengan kelembutan tentunya, dengan bayan dan dalil yang jelas dan shahih, dan juga dalil-dalil ‘aqli yang merupakan mutiara hikmah dari hikmah ilahiah, dan meluruskan kesesatan mereka yang berhujjah dengan hawa nafsu dan kesesatan, demikianlah kemenangan Sayyidina Muhammad saw..

    Semoga Allah mencurahkan Rahmat dan Pertolongan Nya pada kami, untuk terus membersihkan wilayah kami ini dari sampah yang paling berbahaya dan PENYAKIT MENULAR YANG PALING KRONIS, yaitu PENYAKIT HATI YANG MENOLAK KEMULIAN NABI MUHAMMAD SAW, PENYAKIT INI ADALAH PENYAKIT IBLIS YANG MENOLAK MEMULIAKAN ADAM AS,
    CATATAN ;
    SEBAGAIMANA IBLIS TAK PERNAH MENOLAK BILA DIPERINTAHKAN SUJUD KEPADA ALLAH SWT, NAMUN IBLIS MENOLAK MEMULIAKAN ORANG YG DIMULIAKAN ALLAH SWT, penyakit kronis ini menular dan hingga kini wabah ini sedang gencar gencarnya menyerang masyarakat muslimin.. Semoga dalam waktu dekat bangkitlah semangat muslimin untuk mengobati dirinya, keluarganya, anak-anaknya, tetangganya, masyarakatnya, dengan beridolakan Sayyidina Muhammad saw, satu-satunya idola yang paling pantas untuk dicintai, digandrungi dan dipanut segala gerak geriknya sepanjang masa.

    Ada apa pada kelahiran Sang Nabi saw ?
    Berkata Abbas bin Abdulmuttalib ra : “dan Engkau saat kelahiranmu terbitlah cahaya di permukaan Bumi dan terang benderanglah Angkasa dengan cahayamu, maka kami selalu dalam naungan sinar itu dan dalam cahaya yang terang benderang dan terus mendalami Bimbingan Kebahagiaan” Syair diatas diriwayatkan :
    – Majmu’izzawa’id oleh Imam Ibn Hajar Alhaitsami Juz 8 / hal 217
    – Almustadrak ‘Ala Shahihain oleh Imam Hakim Juz : 3 / hal : 34 / hadits no.5417
    – Majmu’ul Kabiir Imam Thabrani Juz.4 / hal.213 / hadits no.4167
    – Sir A’lamunnubala oleh Imam Addzahabiy Juz.2 / hal.103
    – Shafwatusshafwah oleh Imam Abul Faraj Juz.1 / hal.54
    – Al Isti’ab oleh Imam Yusuf Ibn Abdulbar Juz 2. / hal.447

    Demikian luapan kegembiraan para sahabat Rasul saw dalam merayakan dan memuliakan hari kelahiran Sang Nabi saw, demikian pula kesemua orang-orang mukmin hingga kini, selalu ingin membangkitkan syiar agar bangkit pada sanubari ummat ini semangat untuk mengingat dan mencintai Sang Nabi saw. Dan siapapula yang tak gembira dengan kelahiran sang Nabi saw?, hanya syaitan dan pengikutnya yang sangat membenci hari kelahiran pembawa hidayah ini, dan tiada hari yang paling mereka benci sepanjang usia bumi ini selain hari kelahiran sang Nabi saw, karena dengan lahirnya Nabi terakhir ini, bermulalah seluruh kemuliaan yang menyempurnakan seluruh ajaran ajaran Allah sebelumnya, namun sebaliknya para Mukminin, khususnya ummat beliau saw, tentulah bagi mereka tak ada kegembiraan melebihi kegembiraan pada hari kelahiran sang Nabi saw.

    Allah swt berfirman dalam surat Al Hijr ayat 72, “DEMI USIAMU (Wahai Muhammad), SUNGGU MEREKA ITU TEROMBANG AMBING DALAM KESESATAN”, Ayat tersebut sebagaimana Tafsir Imam Qurtubi, Tafsir Imam Thabari, Shahih Bukhari dan Ijma’ segenap Ulama bahwa Allah swt menunjukkan kemuliaan Sang nabi saw dan Allah Bersumpah dengan Kehidupan sang nabi saw, ada apa pada kehidupan sang Nabi ?, karena pada kehidupan beliaulah Allah menyempurnakan segenap ajaran ajaran Nya yg terdahulu melalui para Nabi sebelum beliau saw, Dan usia beliau ini tentunya dimulai pada Kelahiran beliau saw hingga wafatnya, maka fahamlah kita betapa mulianya hari kelahiran beliau saw, sebagaimana Allah bersumpah dengan usia beliau saw.

    Seputar acara pesta kelahiran Sang Nabi saw.
    Mengenai perayaan kelahiran Rasul saw memang tak pernah diadakan di zaman Rasul saw, tak pula di zaman sahabat radhiyallahu’anhum, karena memang tak perlu dirayakan, karena tak dirayakanpun mereka telah sangat mencintai Rasul saw dan beridolakan Rasul saw, sebagaimana sedemikian banyak syair-syair para sahabat yang diantaranya disebutkan diatas. Ketika semakin jauhnya ummat ini dari kehidupan sang Nabi saw, maka mereka semakin jauh dari syariah, semakin jauh dari ketaatan, semakin jauh dari mengenal sang Nabi saw apalagi mencintainya, apalagi beridolakan beliau saw, maka para Ulama mulai berfikir untuk menghidupkan kembali semangat kecintaan pada Nabi saw, karena seluruh ketaatan kepada Allah adalah Syariah dan Sunnah Rasul saw, bila seseorang telah mencintai Nabinya, maka tentulah mereka akan mengikuti ajarannya saw.

    Maka dibuatlah perayaan untuk membesarkan syiar kelahiran Nabi saw, dan hal ini merupakan Bid’ah hasanah, sebagaimana penjilidan Alqur’an pun merupakan Bid’ah hasanah, karena tak ada perintah dalam ayat manapun ataupun hadits Rasul saw agar Alqur’an di bukukan dalam satu kitab, hal ini merupakan Ijma’ sahabat di masa Khilafah Utsman bin Affan ra, sebagaimana dikumpulkanlah seluruh Qurra’ dan Huffadh yang ada, termasuk padanya Ali bin Abi Thalib ra, Abdullah bin Abbas ra, Abdullah bin Umar ra, dan seluruh Ulama sahabat, lalu ditulislah satu kitab dengan kesaksian mereka semua, dan disahkan sebagai Kitab Alqur’an (Al Itqan, oleh Alhafidh Imam Assuyuthi).

    Inilah Bid’ah terbesar yang pernah ada dalam ummat ini, namun ini adalah Bid’ah hasanah, karena merupakan maslahat bagi ummat. Demikian para sahabat, mereka tak menuding seluruh Bid’ah adalah kemungkaran, sebagaimana pemahaman sempit yang muncul di zaman sekarang.. Lalu muncul pula Bid’ah bid’ah lainnya, seperti Pembukuan Hadits, juga Ilmu Hadits, Ilmu Mustalah Hadits, Ilmu Tafsir, yang kesemua itu adalah Bid’ah Hasanah. Lalu pula pemberian titik pada Alqur’an, karena di zaman sahabat Alqur’an itu belum ada titiknya, hingga tak dapat dibedakan antara Jiim, haa, atau Khaa’. Tak pula bisa dibedakan antara Taa, Tsaa, dan Baa’. Barulah kemudian diberi titik, jauh setelah zaman sahabat radhiyallahu’anhum, inipun Bid’ah, namun siapa pula yang dapat mengenal membaca Alqur’an dimasa kini bila tidak ada titiknya?, sahabat memahaminya karena mereka hafal atau paling tidak sering mendengarnya dari Rasul saw. Lalu kemudian dimasa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, Alquran itu diberi harakah, yaitu Fathah, Kasrah, Dhammah, Tasydiid, dan lainnya. Tidak lain agar lebih mudah dibacanya, dan inipun Bid’ah.

    Demikian pula perayaan Maulid Nabi saw, yang diada-adakan dengan tujuan mulia, yaitu memunculkan sosok Muhammad saw sebagai idola dan Pimpinan Terbesar, dan tak ada tujuan lain selain membangkitkan kecintaan pada beliau saw, dan ini merupakan Bid’ah hasanah. Sebagaimana landasan kita dan landasan para Ulama’inalkiram dan para sahabat mengenai Bid’ah Hasanah yaitu Hadits riwayat Imam Muslim Sabda Rasul saw :
    “Barangsiapa yang membuat buat didalam islam kebiasaan yang baik, maka baginya pahalanya dan pahala semua yang mengamalkannya tak dikurangkan sedikitpun dari pahala itu, dan Barangsiapa yang membuat-buat didalam islam kebiasaan yang buruk, maka baginya dosanya dan dosa semua yang mengamalkannya tanpa dikurangkan sedikitpun dari dosa-dosa itu”. (Shahih Muslim Juz.2 / hal.705 / hadits no.1017 dan juga pada Juz.4 / hal.2059 / hadits no.1017).

    Demikianlah dari kami.Mudah2an Oknum-oknum yang Menolak Maulid NABI SAW.Mendapatkan Karunia Hidayah Dari Allah SWT.Agar Sadar Dari KESALAFAHAMANnya Selama ini..Amin…

    Balas
  • 29. achmad  |  April 20, 2007 pukul 6:18 am

    kenapa kita selalu bertentangan. dan mengannggap diri kita paling benar??? padahal kita tidak tahu mana yang paling benar……
    sadarlah wahai saudaraku…….
    sering kita terjebak dalam taqwa karena manusia bukan karena alloh.

    Achmad…. pertanyaan nt ini seharusnya di jawab oleh si WAHABI. semoga abu abu itu datang dan menjawab pertanyaan nt.

    Balas
  • 30. zoe  |  April 20, 2007 pukul 5:01 pm

    mudah2an ini bukan situs syiah yang sedang “menyamar” he he he…

    [zoe].. ana nggak tahu nama nt itu sapa. yang jelas nama nt pasti berlabel abu abu. mungkin abu lahab kali.
    konyol dan bahlul nt ini. pernyataan nt ini adalah bentuk dari pertunjukan fitnah dan pagelaran BID’AH dengan menyematkan situs ini adalah situs syiah. dasar BAHLUL..!!!!

    Balas
  • 31. zoe  |  April 20, 2007 pukul 5:06 pm

    kok sahabat2 nabi sampai para tabiin nggak pernah ada yg merayakan maulid nabi ya???
    imam syafi’i kah? imam ahmad kah? imam malik kah?
    geli juga sih bela2in acara yg ngga pernah contohnya…

    [zoe] … akan saya tunjukkan dalil qad’i mengenai perilaku Nabi s.a.w. sahabat, tabiin, tabiin-tabiin bahwa mereka semua juga melakukan maulid. tunggu artikel saya selanjutnya.

    Balas
  • 32. Commander Portgas D Ace  |  April 22, 2007 pukul 8:20 am

    …bid’ah adalah sesat dan sesat di neraka….!

    Balas
  • 33. cinta Rasulullah  |  April 23, 2007 pukul 9:26 am

    Kami yg merayakan Maulid Meyakini Kehadiran RUH Junjungan Kami Sayyidi Muhammad Saw.
    Baginda saw lah yg MENJADI SAKSI ATAS PUJIAN-PUJIAN KAMI & SALAWAT KAMI Kepada Baginda saw.

    Ada dua ayat Qur’an Suci yang menegaskan hal ini, yang pertama adalah
    “Fa kayfa idzaa ji’na min kulli ummatin bi-syahiidin wa ji’na bika ‘alaa haa-ulaa-i syahiidan” “Maka bagaimanakah (halnya orang-orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (QS 4:41)

    dan yang lain adalah “Wa kadzaalika ja’alnaakum ummatan wasathan litakuunuu syuhadaa’ ‘alan-Naasi wa yakuuna ar-Rasuulu ‘alaykum syahiidan” “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (ummat Islam), ummat pertengahan (yang adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu“ (QS 2:143)

    Tak mungkin pula Nabi (s) dipanggil sebagai seorang saksi atas apa yang tidak ia ketahui atau tidak ia lihat.Kalau BELIAU SAW ( RUHNYA ) TIDAK ADA PADA JAMAN KITA SEKARANG INI.
    BAGAIMANA NANTINYA BELIAU SAW BERSAKSI ATAS UMATNYA ( KITA_KITA SEKARANG INI ) YG SELEPAS WAFATNYA BELIAU SAW. ????

    Kami telah sebutkan di sini ayat-ayat Quran dan bukannya hadits, bahwa ‘amal dan perbuatan Ummat ditunjukkan kepada Nabi saw.
    “Adapun Mazhab Wahabi menolak kenyataan ini”. Bahkan mereka menolak ayat-ayat ini pula. Dan ini adalah karena kebodohan (Jahl) mereka akan Qur’an dan kebodohan (Jahl) mereka akan Sunnah, dan disebabkan oleh kejahilan mereka akan Allah Ta’ala dan Nabi-Nya (s).

    Renungkanlah…wahai saudaraku…
    YAKINILAH BAHWA RASULULLAH HADIR DI MAJELIS SHALAWAT / MAJELIS PUJI-PUJIAN KEPADA BAGINDA SAW……

    INGAT !!!!
    Beliau BAGINDA SAW JUGA YG MENJADI SAKSI ATAS PENOLAKAN ( MEMBID’AHKAN ) PUJI-PUJIAN & SHALAWAT KEPADA BAGINDA SAW

    Balas
  • 34. narimo  |  Mei 2, 2007 pukul 8:01 am

    saya mau nambahi materi diskusi tentang alat/tehnologi dan ibadah, memang kadang alat bisa dianggap hal duniawi, jadi hukumnya untuk kebaikan/maslahah orang banyak. Tetapi suatu ketika alat dan teknologi menjadi satu bagian tidak terpisahkan dari ibadah itu sendiri.
    beberapa contoh:
    1. kertas sebagai alat pendokumen
    dari kertas bisa jadi buku teks dan mushaf/kitab Qur’an.
    buku teks mau kita injak di depan khalayak, mau kita kasih ke comberan siapa yang ngurusin?
    coba kalau buku yang berisi tulisan ayat-ayat tuhan/Qur’an, siapa berani nginjek jangankan nginjek, ngerobek satu halaman saja di muka umum?
    btw, itu materi teknologi sama, kertas, tinta alat dan alat cetak.
    2.. mikropon, toa dan sebagainya
    silakan lihat jamaah salat Ied di alun-alun kota besar, yang mencapai ribuan jamaah. kira-kira kalau imamnya ndak pake mikropone, apa yang terjadi di ujung belakang.
    btw, ndak pake toa juga ndak apa-apa, tetapi kita pasti sepakat mikropon akan memberi hikmah yang lebih dalam sholatkhan?
    3. jam
    sebelum melantunkan adzan kita pasti akan pastikan melalui jadwal sholat, yang biasanya tertempel di masjid-masjid. Padahal Rasul telah menetapkan bahwa jadwal sholat itu bukan berdasar jam, tetapi berdasar posisi matahari, misal subuh saat fajar shadiq, dhuhur saat matahari di posisi tertentu, asar, maghrib sampai isya’ waktunya dimulai saat menghilangnya mega merah di langit.
    btw, dalam prakteknya muadzin mana yang sebelum mengumandangkan adzan mencoba mencek batasan-batasan waktu sesuai yang diperintah rasul? tidak khan, tengok jam, selesai.
    4. kompas
    itu alat untuk menentukan arah, tetapi rasul tidak menggunakan itu.
    sekarang kita di Indonesia bagaimana menentukkan kiblat masjid yang paling tepat pake kompas khan. boleh sih boleh pake ilmu kira-kira, tapi mana yang paling tetpat?

    Balas
  • 35. narimo  |  Mei 5, 2007 pukul 8:03 am

    ada yang kasih koment:
    Seandainya kita memahami makna ayat 3 surat almaidah, “Hari ini telah Aku [Alloh] sempurnakan agama kamu…” tentunya kita akan berkata bahwa Agama yang telah sempurna ini tidak membutuhkan Tambahan.
    Apakah Penyempurnaan Alloh atas Agama ini masih kurang sehingga orang-orang membuat tambahan2 dalam Agama ?

    Hanya saja mereka yang memperturutkan hawa nafsu telah merusak agama ini dengan tambahan2 yang bela mati-matian. Tentunya jika Rosululloh Masih hidup beliau akan berkata kepada mereka para pengikut hawa nafsu dengan perkataan “Setiap Bid’ah adalah Sesat”.

    ———–
    akhi, Islam memang sudah sempurna, tetapi tidak ada yang sempurna dalam ber”Islam”, siapun, sebatas itu makhluk (jin & Manusia), karena yang sempurna hanya milik Tuhan.
    Jadi biarpun Islam itu telah sempurna, tetapi pemahan akhi tentang Islam tentubelum sempurna, termasuk pemahaman akhi tentang bid’ah, abu bakar r.a tidak memerintahkan shalat tarawih berjamaah umar ibn khattab memerintahkannya (mana yang bd’ah)?

    Balas
  • 36. Syah  |  Mei 8, 2007 pukul 1:50 am

    Assalamu’alikum…
    @ Narimo & Pengelola situs.
    akhi, Islam memang sudah sempurna, tetapi tidak ada yang sempurna dalam ber”Islam”, siapun, sebatas itu makhluk (jin & Manusia), karena yang sempurna hanya milik Tuhan.

    Jawab: Jalankan agama ini aza kita tidak bisa sempurna, masa sih kita yang belum sempurna jalankan agama ini, mo nambahin2 yang lain2 (bid’ah), yang telah ada aza (Quran & Sunnah menurut pemahaman salafusholeh) kita ga bisa jalanin semua, wahai saudaraku renungkanlah!!!

    @ Pengelola situs.
    Jadi biarpun Islam itu telah sempurna, tetapi pemahan akhi tentang Islam tentubelum sempurna, termasuk pemahaman akhi tentang bid’ah, abu bakar r.a tidak memerintahkan shalat tarawih berjamaah umar ibn khattab memerintahkannya (mana yang bd’ah)?

    Jawab: Sholat tarawih pada masa Umar ra dikatakan bid’ah (secara bahasa) karna pada masa Abu Bakar ra tidak dikerjakan secara berjama’ah, tetapi tidak dikatakan bid’ah dalam agama (secara syariat) karena pada masa Rasulullah saw telah dikerjakan secara berjamah, walaupun 3 hari. Wahai saudaraku rujuklah ke kitab2 para ulama, dan dengarlah penjelasan mereka.

    @ Narimo
    Kenapa ya? Situs2 yang anda anggap Wahabi memperkenalkan para penulisnya dan orangnya jelas! Tetapi pertanyaan buat anda, kenapa situs ini orangnya ada indikasi menutupi identitasnya??? Rujuklah ke http://www.muslim.or.id. Semoga bermanfaat!

    Ya Allah beri kami hidayah untuk meniti jalan lurus-Mu!

    Wassalam…

    Balas
  • 37. bond  |  Mei 10, 2007 pukul 7:28 am

    gw tmbh pusing nii…
    alih2 dapat ilmu biar gw makin paham tp yg gw dapat cm saling menyalahkan dan menganggap diri sendiri benar…
    kapan qt (umat islam, red) mo maju???
    kalo gni caranya maka yg paling diuntungkan adalah orang2 yang ingin menghancurkan islam karena tanpa bersusah payah, islam telah terpecah2…
    tlg jgn sling menghakimi pendapat/ keyakinan orang lain apalagi mengkafirkan sesama umat islam…Astaghfirullah…

    Wallahu A’lam Bis Showab….

    Balas
  • 38. abu husam  |  Mei 10, 2007 pukul 2:30 pm

    berikut ada artikel tentang maulid nabi, semoga dapat diambil manfaatnya:
    http://ghuroba.blogsome.com/2007/03/27/tentang-maulid-nabi-1/
    http://ghuroba.blogsome.com/2007/04/08/tentang-maulid-nabi-2/

    Balas
  • 39. DObleh kencono  |  Mei 19, 2007 pukul 12:40 pm

    Perdebatan yang tidak ada unsur imiahnya sama sekali dan tak perlu diikuti. Debat kusir……. tanpa logika dan dalil yang bisa dipertanggungjawabkan. Buang-buang waktu percuma.

    Sesungguhnya, Muhammad pun malu kepada Alloh berharap akan surga-Nya. Itulah mengapa beliau Saaw mengisi hari-harinya dengan beribadah, zikir, dan berkhidmat pada umatnya…. lembut pada fakir miskin menghargai perbedaan….. betapa agung akhlaknya, dan beliau di jamin surga Alloh. Makhluk sesempurna beliau masih merasa malu untuk mengharapkan surga-Nya….

    Tetapi…. bercerminlah hai Yudistira Brahim….. pantaskah dengan akhlakmu sekarang engkau mendapatkan surga Alloh???…. perbaiki akhlak sebelum ajal menjemput.

    Urusan bid’ah dan bukan bid’ah hanya Alloh yang tahu dan itu urusan Alloh. Ini adalah masalah keyakinan pribadi masing-masing. Pastilah mereka yang tidak sependapat dengan anda juga punya dasar ilmu kenapa berziarah ke makam Nabi, bertawasul dan sejenisnya tidak bid’ah. Tidaklah bijak apabila anda memaksakan keyakinan anda kepada orang lain… apalagi hingga menghalalkan darah mereka yang tidak sepaham dengan anda. Islam bukan agama bar-bar dan suka berbuat kerusakan. Islam adalah agama kasih sayang dan saling menghargai.

    Masalah itu bukan masalah prinsip dalam islam. Sepanjang kita bersahadat, sholat, puasa, zakat dan Haji bagi yang mampu…. we are Moslem.

    Kalian yang suka membid’ahkan orang lain, sibuk ngurusi urusan ibadah orang lain dengan Tuhan-nya, akan lebih baik jika anda ngurusi urusan ibadah pribadi anda dengan tuhan anda…. agar mendapat surga seperti yang anda cita-citakan.

    Balas
  • 40. dora  |  Mei 28, 2007 pukul 2:29 pm

    daripada pusing mikirin perdebatan ini, gimana kalo kita sepakatan aja tuk menghapus arab saudi (wahabi ) dan israel dari peta dunia. kayaknya aman deh dunia

    Balas
  • 41. abu saifani  |  Juni 25, 2007 pukul 12:33 pm

    silahkan anda pada pendapat anda karena sungguh bahwa apa yang anda lakukan merupakan tanggung jawab anda dihadapan AlLoh kelak. bahwa semua amalan baik perkataan, perbuatan maupun i’tiqod anda akan dipertanggung jawabkan kelak. hujjah sudah ditegakkan. semua kembali kepada anda dalam menggapai hidayah AlLoh. sadarlah sebelum buku anda ditutup.

    Balas
  • 42. narimo  |  Juli 10, 2007 pukul 7:50 am

    buat syiah:
    saya melakukan tahlilan, yasinan, salawatan, mauludan, manaqiban, barjanji, bukan untuk memambahi dan kami memang tidak menambah apa-apa. Kami hanya berusaha agar islam kami menuju sempurna. Kalau kalian anggap itu bid’ah ya monggoooo… sebab perspektif kita tidak sama.
    Kenapa abu bakar tidak melaksanakan contoh yang tiga hari itu ya akhi? apakah beliau tidak suka meniru Nabi?
    Kenapa kita sekarang melakukannya sebulan penuh ya akhi? pada hal nabi kasih contohnya cuma tiga hari?

    Balas
  • 43. abu yusuf  |  Juli 14, 2007 pukul 4:51 pm

    Segala puji hanya bagi Alloh yang telah mengutus Rosulnya, membawa petunjuk dan agama yang haq. Dan memenangkannya di atas segala agama. Dan cukuplah Alloh sebagai saksi. Islam adalah agama yang sempurna tidak memerlukan tambahan ataupun pengurangan semua sudah lengkap diajarkan oleh rosululloh. Adapun orang yang menganggap Islam belum sempurna dan melakukan amalan-amalan ibadah yang tidak diajarkan oleh rosululloh maka ada dua kemungkinan
    1. Ia menganggap rosululloh tidak amanah, kenapa? karena rosululloh sudah mengatakan bahwa agama itu sudah sempurna kenapa ibadah seperti tahlilan, dzikir berjamaah kok belum diajarkan. Begitu kok sudah dianggap sempurna, kenapa kok tidak dikatakan “agama yang aku bawa belum sempurna maka sempurnakanlah” kenapa tidak seperti itu? Bahkan sahabat Ali bin abi Tholib pernah mengatakan. Seandainya agama itu menurut akal maka yang lebih pantas untuk diusap adalah bagian bawah sepatu(dalam syariat islam diajarkan jika berwudlu tanpa melepas alas kaki maka cukup mengusap bagian atas sepatu) karena bagian bawah sepatulah yang kemungkinan banyak terkena najis.
    Dan jika agama itu hanya karena akal kenapa harus diturunkan Al-Quran kenapa tidak disuruh saja menuruti akal
    2. Melecehkan syari’at Islam. Ia berlaku sebagai tuhan yang membuat syari’at sendiri. Ia membuat syari’at-syari’at tandingan syari’at Alloh.
    Dalam dzikir sudah ada tuntunannya dan salah satunya menghindari berkumpul dalam satu suara dengan pimpinan satu orang, atau menggunakan gaya dan cara ataupun waktu-waktu yang ditentukan tanpa didasari dalil. Seorang sahabat AbduLLAH bin Mas’ud ra dalam atsar yang shahih pernah melihat suatu kaum berkumpul di mesjid membuat beberapa kelompok, tiap kelompok ada yang memimpin dan di tangan mereka ada biji-bijian lalu sang pemimpin berkata: “Bertakbirlah 100 kali!” maka mereka pun melakukannya, lalu berkata lagi sang pemimpin: “Bertahlillah 100 kali!” Maka merekapun melakukannya, lalu ia pun berkata lagi: “Bertasbihlah 100 kali!” Maka mereka pun menurutinya. Lalu Ibnu Mas’ud mendatanginya dan berkata: “Apa yang kalian lakukan?” Jawab mereka: “Wahai Abu AbduRRAHMAN, batu-batu kerikil ini kami gunakan untuk menghitung tahlil dan tasbih kami.” Kata Ibnu Mas’ud: “Celakalah wahai ummat Muhammad, alangkah cepatnya kerusakan kalian, para sahabat masih banyak yang hidup, pakaian mereka belum lagi rusak dan bejana mereka belum lagi hancur apakah kalian merasa lebih baik dari agama mereka?” Maka jawab mereka: “Demi ALLAH, wahai Abu AbduRRAHMAN kami hanya menginginkan kebaikan.” Jawab Ibnu Mas’ud: “Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi tidak tahu caranya [Sunan Ad-Darimi I/68-69].” Imam Asy-Syatibi berkata bahwa orang yang mengadakan dzikir berjama’ah dengan satu suara dan berkumpul pada waktu-waktu tertentu maka semua itu tidak benar dan tidak ada dalilnya [7] Al-I’tisham, I/318-321
    Kita juga dilarang bertasabbuh(menyerupai) orang-orang kuffar. banyak kita jumpai bentuk-bentuk tasyabbuh orang Islam kepada kaum kuffar diantaranya:
    1. Ghuluw/berlebihan dalam mengkhultuskan Rosululloh dan menyamakan Nabi Muhammad dengan Alloh, contohnya dalam Qosidah-qosidah burdah, dikatakan di situ “yaa makhluk yang paling mulia tidaklah aku berlindung ketika musibah datang kecuali berlindung kepadamu wahai Muhammad. Padahal Alloh menyuruh kita dalam surat seperti An Naas “qul a’udu bi robbinnaas” Katakan(olehmu Muhammad) aku berlindung kepada tuhannya manusia
    2. Maulidan yang dijaman sahabat tidak pernah ada yang intinya adalah memperingati hari kelahiran Nabi sama dengan Natalannya orang Nasrrani yaitu memperingati kelahiran yesus
    3. Dzikir berjamaah sama dengan koornya orang Nasrani.
    4. Paham manunggaling kawulo gusti/wihdatul wujud/bersatunya tuhan dengan makhluk yaitu aqidahnya orang-orang sufi. Ini sama seperti menyamakan Isa bin Maryam dengan Alloh bahkan lebih dari itu.
    5. Azzumar:2 silakan baca intinya orang kafir dahulu mengatakan kami tidak menyembah berhala-berhala tapi kami hanya menjadikannya perantara/washilah untuk mendekatkan diri kepada Alloh. Sama dengan para penyembah kubur alasan merekapun sama, kami tidak menyembah qubur ini tapi orang yang dikubur ini akan menyampaikannya kepada Alloh dan kami ingin mendekatkan diri kepada Alloh
    Dan seandainya kita mengatakan cinta kepada Alloh seharusnya kita menghindari apa yang dilarang oleh Alloh. Gampangnya ketika kita mencintai ayah kita padahal ayah kita tidak suka dengan rokok, maka jangan merokok. Kita mengaku cinta kepada ayah kita tapi malah merokok terang-terangan dihadapan ayah kita dan mengatakan “wahai ayahku sesungguhnya aku merokok ini karena aku cinta kepadamu” Bagaimana sikap ayah tersebut. Ketika Rosululloh “pegang teguhlah sunnahku dan sunnah para khulafaur rosyidin, gigit kuatlah dengan geraham kalian, dan jauhilah setiap sesuatu yang baru dalam agama, sesungguhnya setiap bid’ah itu sesat” maka akankah kita mengatakan”Wahai Rosululloh aku melakukan sesuatu yang belum kau ajarkan ini karena aku cinta kepada engkau”. Wallohua’lam

    Balas
  • 44. narimo  |  Agustus 4, 2007 pukul 2:31 am

    abu yusuf berkata,
    Juli 14, 2007 @ 4:51 pm
    Segala puji hanya bagi Alloh yang telah mengutus Rosulnya, membawa petunjuk dan agama yang haq. Dan memenangkannya di atas segala agama. Dan cukuplah Alloh sebagai saksi. Islam adalah agama yang sempurna tidak memerlukan tambahan ataupun pengurangan semua sudah lengkap diajarkan oleh rosululloh. Adapun orang yang menganggap Islam belum sempurna dan melakukan amalan-amalan ibadah yang tidak diajarkan oleh rosululloh maka ada dua kemungkinan
    1. Ia menganggap rosululloh tidak amanah, kenapa? karena rosululloh sudah mengatakan bahwa agama itu sudah sempurna kenapa ibadah seperti tahlilan, dzikir berjamaah kok belum diajarkan. Begitu kok sudah dianggap sempurna, kenapa kok tidak dikatakan “agama yang aku bawa belum sempurna maka sempurnakanlah” kenapa tidak seperti itu?
    = = = =
    Memang benar Islam sudah sempurna, tetapi apakah pemahaman antum tentang Islam sudah sempurna?
    Ana yaqin kalau tidak ada seorangpun akan sempurna dalam memahami Islam, dengan ketidaksempurnaan itulah seharusnya kita menyadari bahwa pasti akan terdapat perbedaan pemahaman, walau dari sumber yang sama.

    = = = = =
    abu yusuf berkata,
    Juli 14, 2007 @ 4:51 pm
    Bahkan sahabat Ali bin abi Tholib pernah mengatakan. Seandainya agama itu menurut akal maka yang lebih pantas untuk diusap adalah bagian bawah sepatu(dalam syariat islam diajarkan jika berwudlu tanpa melepas alas kaki maka cukup mengusap bagian atas sepatu) karena bagian bawah sepatulah yang kemungkinan banyak terkena najis.
    = = = = =
    Kalau agama itu tidak juga menurut akal, berarti sia-sia donk Allah menghadiahi akal buat manusia? Atau Islam diberikan kepada manusia yang tidak berakal, atau Shahabat Ali punya maksud yang lain dari pemahaman antum, dengan kata lain akal kita buat memahami pesan shabat Ali r.a., sebab menurut ana dalam pesan tersebut justru membuat kita harus berpikir lebih dari akal., artinya , kalau sekedar akal : jelas kalau wudhu tanpa melepas sepatu, kemudian yang diusap bagian bawah, maka bukan kebersihan yang didapat tetapi semakin banyak kotoran yang menempel di telapak sepatau, apalagi kalau masjidnya seperti sekarang pakai keramik, makin kotorkan? Itu kalau sekedar akal. Lebih dari akal, karena kita harus tahu bahwa wudhu itu bukan sekedar cuci tangan, muka, rambut dan kaki semata tetapi nilai-nilai apa yang harus kita terima saat kita mencuci kedua telapak tangan, ikhsan apa yang kita petik dari saat kita berkumur, kebaikan apa yang harus kita mengerti saat kita membasuh tangan dan lain-lain.
    = = = = =
    abu yusuf berkata,
    Juli 14, 2007 @ 4:51 pm
    2. Melecehkan syari’at Islam. Ia berlaku sebagai tuhan yang membuat syari’at sendiri. Ia membuat syari’at-syari’at tandingan syari’at Alloh.
    Dalam dzikir sudah ada tuntunannya dan salah satunya menghindari berkumpul dalam satu suara dengan pimpinan satu orang, atau menggunakan gaya dan cara ataupun waktu-waktu yang ditentukan tanpa didasari dalil
    = = = =
    Apa antum punya bukti bahwa mereka membuat sebuah syari’at baru? Kalau ada coba sepengetahuan antum apa syariat upacara peringatan maulud nabi?
    Setahu ana disini tidak ada pembuatan atau penambahan syariat, sebab jika terdapata syariat pasti akan lahir prosedur-prosedur standard an protap dalam pelaksanaan peringatan maulid nabi. Tetapi faktanya tidak ada upacara ini yang sama dalam seluruh penyelenggaraan, orang dengan kreasi masing-masing akan membuat kebahagiaan ini semakin indah.
    = = = = = =
    abu yusuf berkata,
    Juli 14, 2007 @ 4:51 pm
    Kita juga dilarang bertasabbuh(menyerupai) orang-orang kuffar. banyak kita jumpai bentuk-bentuk tasyabbuh orang Islam kepada kaum kuffar
    = = = = =
    Seharus antum juga menguasai perbedaan antara tassabuh dan mirip. Sebab sebuah perilaku, budaya dan adapt yang sama, belum tentu diantara kedua budaya itu saling meniru, atau salah satu menjadi plagiat dari yang lain. Itu dari sisi kenampakan luar/fisik, dari sisi spirit/jiwa, tassabuh mengandung unsur merefleksikan diri sebagai apa yang ditirunya. Ana contohkan :

    Nabi Muhammad menyepi di gua Hira, salah satu sebabnya adalah sebagai kontemplasi, perenungan akan kondisi masyarakatnya, yang di akhirnya beliau memperoleh wahyu Al-Qur’an.
    Para pendeta Hindhu Kuno di India sana, juga melakukan kontemplasi untuk merenungkan permasalahan hidup, penjernihan jiwa dan sejenisnya.
    Siapa bertassyabuh siapa?

    Demikian juga dalam Puasa, zakat, orang Hindu/Budha juga mengajarkan itu?
    Apakah Islam bertasyabuh kepada mereka?

    Orang Mesir membuat Pyramid, Orang AZtec dan Inca di Benua Amerika membuat bangunan suci yang semisal dalam bentuknya, siapa bertassyabuh siapa?
    = = = = =
    abu yusuf berkata,
    Juli 14, 2007 @ 4:51 pm
    1. Ghuluw/berlebihan dalam mengkhultuskan Rosululloh dan menyamakan Nabi Muhammad dengan Alloh, contohnya dalam Qosidah-qosidah burdah, dikatakan di situ “yaa makhluk yang paling mulia tidaklah aku berlindung ketika musibah datang kecuali berlindung kepadamu wahai Muhammad. Padahal Alloh menyuruh kita dalam surat seperti An Naas “qul a’udu bi robbinnaas” Katakan(olehmu Muhammad) aku berlindung kepada tuhannya manusia
    = = = = = =
    Antum tahu gaya bahasa? Antum tahu bahwa orang yang jatuh cinta akan selalau menjadi pujangga?
    Ana melihatnya syair-syair dalam khasidah itu adalah majas yang keluar dari pujangga-pujangga yang selalu jatuh cinta kepada Idolanya, Rasulullah SAW. Wajar jika keluar bait-bait indah, yang seharusnya dipahami dengan perspektif pujangga cinta.
    Ana ambil contoh, sepotong baris lagu wajib nasional:
    …… melambai-lambai nyiur di pantai, memuja pulau nan indah permai……
    Kira-kira bisa tidak baris kalimat itu dipahami dengan perpektif gramatikal (leterleks)? Wow, mustahil bukan, pohon melambaikan (tangan) kemudian menyerukan pujian???
    Tetapi dalam perspektif sastra puisi, semua orang akan tahu maksudnya.
    Demikian pula dengan khasidah diatas, kalau antum mendekatinya dengan perspektif sastra puisi, atau sejenisnya maka antum akan tahu betapa pelantunnya sangat menyayangi Rasulnya dan memuliakannya (makhluk yang paling mulia bukan dzat yang paling mulia)..
    Menurut perspektif ana , syair itu bukan menunjukkan bahwa penulisnya berlindung kepada Muhammad, tetapi dia berlindung kepada Tuhan, dengan apa dia berlindung, apa langsung berdiri dibelakang Tuhan, tidak khan? Bagaimanakah cara yang benar untuk berlindung dari musibah dunia dan akhirat sesuai perintah Allah, ya dengan menjalankan syariat yang dibawakan oleh Muhammad SAW.
    Anta harus tahu, bahwa semua ummat Islam tahu membedakan antara Nabi dan Allah. Jangan anta assumsikan bahwa pembuat syair itu orang-oran bodoh dalam beragama…..
    = = = = =
    abu yusuf berkata,
    Juli 14, 2007 @ 4:51 pm

    2. Maulidan yang dijaman sahabat tidak pernah ada yang intinya adalah memperingati hari kelahiran Nabi sama dengan Natalannya orang Nasrrani yaitu memperingati kelahiran yesus
    = = = = =
    Ana udah koment di atas, bedakan tasyabuh dengan mirip atau hamper sama.
    = = = = = =
    abu yusuf berkata,
    Juli 14, 2007 @ 4:51 pm

    3. Dzikir berjamaah sama dengan koornya orang Nasrani.
    = = = =
    Sama dengan komen di atas, Cuma ada n.b: bukankah kita boleh menghiasi bacaan Qur’an dengan suara yang indah?
    = = = = =
    abu yusuf berkata,
    Juli 14, 2007 @ 4:51 pm
    4. Paham manunggaling kawulo gusti/wihdatul wujud/bersatunya tuhan dengan makhluk yaitu aqidahnya orang-orang sufi. Ini sama seperti menyamakan Isa bin Maryam dengan Alloh bahkan lebih dari itu.
    = = = =
    Bersatu secara fisik? Atau hanya spirit? Kalau fisik memang itu tidak mungkin dan itu menyalahi asma’ wa sifat bahwa Allah itu beda dengan makhluk dan Allah tidak boleh ditetapkan kepada waktu dan tempat.
    Tetapi kalau spirit, jiwa, semangat, ana masih bisa memakluminya, bukankah manusia itu bani Adam, dan adam diciptakan dari tanah kemudian ditiupkan RuhNya, sehingga menjadi makhluk yang hidup. Itu masih mungkin, apalagi kalau dilihat dari perspektif sufi, yang notabenenya lebih dari sekedar pujangga, karena cintanya kepada Nabi, terlebih kepada Allah, maka gaya bahasa mereka akan lebih dalam lagi, sehingga muncul semangat-semangat manunggal kawulo Gusti itu. Bukankah banyak dalil yang menyatakan bahwa Allah itu sangat dekat dengan hambaNya yang beriman?
    = = = = =
    abu yusuf berkata,
    Juli 14, 2007 @ 4:51 pm
    5. Azzumar:2 silakan baca intinya orang kafir dahulu mengatakan kami tidak menyembah berhala-berhala tapi kami hanya menjadikannya perantara/washilah untuk mendekatkan diri kepada Alloh. Sama dengan para penyembah kubur alasan merekapun sama, kami tidak menyembah qubur ini tapi orang yang dikubur ini akan menyampaikannya kepada Alloh dan kami ingin mendekatkan diri kepada Alloh
    = = = =
    Antum salah tembak ya akhi…….
    Apakah akhi pasti bahwa mereka ke kubur untuk menyembah kuburan itu???
    Enggaklah……kalaupun ada itu oknum, yang dimanapun yang namanya oknum pasti ada, tetapi itu bukan representasi dari para peziarah kubur.
    Dan akhi lebih meleset lagi jika memposisikan umat muslim yang tidak sepahaman dengan akhi, sebagai semisal dengan orang kafir Quraisy, itu penghinaan dan penisbatan itu bisa menjadi boomerang……
    Akhi pasti sudah tahu khan, perbedaannya, kami bershadat, sholat, membayar zakat, shaum di bulan Ramadhan dan insyaallah semua punya niat berhaji. Jangan antum fonis yang berbeda pemahaman dengan antum sebagai missal Kafir Qurais ya akhi…
    = = = = = =
    abu yusuf berkata,
    Juli 14, 2007 @ 4:51 pm
    Dan seandainya kita mengatakan cinta kepada Alloh seharusnya kita menghindari apa yang dilarang oleh Alloh.
    = = = =
    Yap, setuju akhi, insya allah kami semua umat Islam, apapun golongannnya, pasti berprinsip sama, menjauhi larangannya. Pada dasarnya tidak ada ummat Islam yang mau bermaksiat kepada Allah. Dan tiak ada satupun yang mebenarkan.
    Tetapi kalau peringatan maulid nabi, larangan Allah mana yang kami langgar?
    = = = = = =
    abu yusuf berkata,
    Juli 14, 2007 @ 4:51 pm
    Ketika Rosululloh “pegang teguhlah sunnahku dan sunnah para khulafaur rosyidin, gigit kuatlah dengan geraham kalian, dan jauhilah setiap sesuatu yang baru dalam agama, sesungguhnya setiap bid’ah itu sesat”
    = = = =
    Titik Kulminasinya disini: ITULAH PERBEDAAN PEMAHAMAN DIATARA KITA
    ANA PERCAYA ADA BID’AH YANG BAIK DAN ANTUM TIDAK MENGAKUI ADA BID’AH YANG BAIK, dan perbedaan itu bukan kemarin atau tahun yang lalau terjadi, itu udah terjadi pada para ulama terdahulu, Cuma pertanyaannya mengapa ketika berbeda pemahaman harus memvonis dengan Bid’ah dan sejenisnya.bahkan saling mengkafirkan???

    Balas
  • 45. netral  |  September 27, 2007 pukul 3:58 am

    Salafi itu anti kebudayaan orang anti kebudayaan itu nggak punya adab, nggak punya adab itu nanti nggak punya nalar akhirnya menjadi orang yang kaku keras kepala, tidak punya hati nurani senjatanya nggak ada dalilnya, hadistnya lemah, dsb biasa untk membela diri, persis kaya taliban diafganistan…. terus kalu seperti itu berislam menjadi kering tak bermakna

    Balas
  • 46. syaipullah  |  Oktober 20, 2007 pukul 7:53 am

    ada yg bilangapakah sahabat ada yg merayakan mawlid nabi????
    Saya mau tanya pada yang nulis begitu, kalau begittu kita naik haji gak usah pakai pesawat, mobil, atau kebndaraan modern lainnya karena jaman Nabi n sahabat merteka tidak menggunakan alat itu. Karena kalau memakai perspektif anda setiap bidah itu sesat, maka anda naik haji pakai alat itu adal;ah sesat lagi bid’ah yang wajib diperangi dan ditunjukkan kebidahannya oleh ulama.
    Anda juga harus berijtihad sendiri, gak boleh mengikutatau taqlid atau mengekor pada ibnu taymiyah. N gak boleh mengekor pada hadits bukhori.
    ingat, gak semua yang tidak dipraktekkan nabi itu dicap bid’ah. hanya org2 bodoh dan ahli hawa nafsu yang berpendapat demikian. Kalau demikian tidak usah ada lagi pelajaran fiqih atau quran atau hadits, qita dengan hny mempelajari sejarah saja sudah bisa berfatwa, ya……sejarah menjelaskan bahwa para sahabat nabi tidak merayakan mawlid nabi, yang otomatis mawlid nabi dicap bidah…………maka qita sudah bisa memfatwakan bahwa mawlid itu bidah.
    wassalam

    Balas
  • 47. isnan  |  November 14, 2007 pukul 4:23 am

    oalah … padahal judul blognya mengandung fakta … isine opini tok … kempul kabeh wong2 iki

    Balas
  • 48. Sanip  |  November 26, 2007 pukul 12:39 am

    Assalamu’alaikum,
    Wahai ummat Muslim semuanya, sadarlah.
    Sebelum kita mengungkapkan pendapat, lihat diri kita dulu, dan bandingkan dengan orang2 soleh dan para Ulama:
    1. Sudah sejauh mana ilmu kita? Bandingkan dengan para orang2 Soleh
    2. Sudah sejauh mana dedikasi kita ke ummat
    3. Sebesar apa pengorbanan kita?
    4. Sejauh mana kita mengaji dan meng’kaji’ Al Qur’an?
    5. Sejauh mana pengetahuan kita tentang Hadits?

    Bener-bener runyam, runyamnya kita karena kita sudah:
    BERLAKU SOMBONG, MERASA SUDAH PALING HEBAT ILMUNYA, PALING HEBAT AMALNYA, PALING HEBAT PENGORBANANNYA, SUDAH JENIUS.

    Kita sama2 menyembah hanya Allah s.w.t dan sama2 bersaksi bahwa Muhammad Rasul Allah, tapi kenapa kita :

    HATI TERUSIK MELIHAT IBADAH SESAMA MUSLIM, TAPI HATI TIDAK TERUSIK MELIHAT KEMAKSIATAN DEMI KEMAKSIATAN DI DEPAN KITA.

    TANYAKAN HATIMU SENDIRI.

    MELIHAT MAKSIAT DEMI MAKSIAT, JUDI, PERSELINGKUHAN DAN LAIN-LAIN ADEM AYEM SAJA HATINYA,

    MELIHAT SESAMA MUSLIM BEDA IBADAHNYA, BERISIK HATINYA

    ISTIGHFAR… ISTIGHFAR….

    Bandingkan diri kita dengan orang2 soleh, orang2 besar, tidak usah membandingkan dengan junjungan kita, DEBU SAJA MASIH TERHORMAT KITA INI.

    Kalau saya jujur saja, saya mencintai Rasulullah dan saya senang Maulidan, Tahlilan.

    Ini contoh Bid’ah :
    Kalau pada waktu Sholat kita tambahkan Bersalaman itu namanya Bid’ah
    Kalau setelah Sholat kita salaman, ya itu kan Budaya masing-masing.
    Jangan sampai di ajak Salaman HATI KITA BERISIK, tapi lihat orang di Gardu Judi HATI TETAP TENANG TENTERAM.

    Ingatlah Kelelawar : Para kelelawar itu Yakin, se yakin-yakinnya bahwa Matahari itu sebuah Petaka, Kegelapan adalah pelita baginya.

    Wassalam,

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


KOMUNITAS

PALING BENER..!?

Preman Agama

WARNING..!

Assalamualaikum wr wb. Diberitahukan kepada semua pengunjung blog ini, bahwa setiap komentar yang hanya made in copy paste kami anggap "SPAM". Kami mengharap, komentator menunjukkan kemampuan bernalar, berlogika dalam analisa, hujjah bahkan kritik liar di setiap artikel yang tersaji. Setiap komentar bisa di komentari secara timbal balik sehingga tercipta diskusi yang segar. Sekalipun muatan komentar itu asal muasalnya bukan hasil perenungan atau karya sendiri tetapi coba hindarilah pendapat yang meng-ekor “KATANYA” abu fulan bin abu-abu dengan cara copy paste. Berfikirlah bebas..!, liar…!! jangan sekedar jadi kacung.!! Wassalam wr wb. Best Regard. ASWAJA. Hn Wawan.

Harga Blog Ini


My blog is worth $30,485.16.
How much is your blog worth?

JUMLAH POPULASI

  • 129,707 PENDUDUK

TAMU YANG HADIR

TANGGALAN

April 2007
M S S R K J S
« Mar   Mei »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

NEWS UPDATE

ARSIP PADA


%d blogger menyukai ini: