Mereka Menghalalkan Darah Kaum Muslimin

April 14, 2007 at 11:40 pm 60 komentar

Sebelum membaca tulisan saya sebaiknya bacalah ini dulu baru yang ini..!!

Lihat dan baca baik-baik fatwa ulama Jamaah Takfiriyah di dalam kitab Tarikhul Mamlakah As-saudiyyah li Shalahuddin Al-mukhtar [Alwahabi] cetakan Beirut, juz dua, Halaman 344, fatwa ulama kalian mengatakan bahwa: “Barangsiapa yang bertawassul di pusara Nabi dan menjadikannya sebagai perantara menuju Allah s.w.t. maka dia adalah KAFIR dan dia harus bertaubat tiga kali dan jika tidak maka ganjaran yang pasti buat dia adalah di BUNUH”.

Mereka Menghalalkan Darah Kaum Muslimin

Dalam makalah kecil dan sederhana ini saya akan menuliskan fakta dan data data tentang pengkafiran semua Mazhab Islamiyah oleh wahhabiyah. Seperti yang sudah maklum, salah satu ciri khas dari akidah besutan M Bin Abdul Wahhab ini adalah mengkafirkan umat yang tidak seakidah dan seiman dengannya. Mereka tanpa basa basi latah menghalalkan darah kaum muslimin. Oleh karena itu jika muslimin tidak waspada dengan gerakan yang mengatasnamakan penegak TAUHID ini maka ketentraman yang dibangun oleh pemimpin Mazhab akan sia-sia. Dialog antar mazhab yang diusahakan oleh pemerintah dan diamini mazhab Islam beberapa minggu lalu akan menguap. Sebab Jamaah Takfiriyah ini tidak akan berpangku tangan begitu saja. Mereka akan bergerilya menghasut masyarakat awam dengan iming-iming metro dolar.

Jika kita telaah Majalah Al-Furqon, Edisi 09 Tahun V/Rabi’u Tsani 1427/Mei 2006M. Penerbit Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon disana dijelaskan secara gamblang dan jelas kelompok-kelompok yang di anggap penyebar TBC. Dimulai dari Syi’ah, Shufiyyah, Asy’ariyyah, Maturidiyyah, Quthbiyyah Ikhwaniyyah, Quthbiyyah Sururiyyah, Tablighiyyah, Hizbut Tahrir, dan sederet nama-nama lainnya yang dianggap sesat dan menyesatkan ummat. Dan dari klaim klaim yang mereka dakwakan mereka sedang merusak agama Muhammadi dan menyebarkan TBC di tengah masyarakat. [Lihat Al-Furqon, Edisi 09 Tahun V/Rabi’u Tsani 1427/Mei 2006M. Penerbit Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon. Jawa Timur]

Disaat umat Islam bergandengan tangan untuk merapatkan barisan untuk menumpas musuh musuh Allah s.w.t, disaat para pemimpin mazhab Islamiyah menegakkan dan mengalang persatuan islamiyah, Mazhab yang mengaku sebagai penegak agama Allah dan penegak Tauhid ini justru menikam ummat Islam dari dalam. Lah kok bisa ….. baca selanjutnya.

Ayyuhal wahabiyuun……. Lihat fatwa ulama kalian …!!! Didalam kitab ar-Raddu alal Ahnani li Ibni Taimiyyah cetakan Assalafiyah wa Maktabatuha, Halaman 24: dikatakan bahwa “Hanya orang bahlul dan bodoh dan KAFIRlah yang pergi untuk ziarah ke kubur Nabi s.a.w.”.

Lihat dan baca..!! dan cerna baik-baik fatwa ulama Jamaah Takfiriyah.. di dalam kitab Tarikhul Mamlakah As-saudiyyah li Shalahuddin Al-mukhtar [Alwahabi] cetakan Beirut, juz dua, Halaman 344, fatwa ulama kalian mengatakan bahwa: “Barangsiapa yang bertawassul di pusara Nabi dan menjadikannya sebagai perantara menuju Allah s.w.t. maka dia adalah KAFIR dan dia harus bertaubat tiga kali dan jika tidak maka ganjaran yang pasti buat dia adalah di BUNUH”.

Lihat juga di dalam novel yang dikarang oleh Abdul Aziz bin Baz, dalam Novelnya yang di berlabel Al-akidah As-shahihah wa Nawaqidhul Islam. Disana dikatakan bahwa: “Barangsiapa yang minta tolong kepada Nabi s.a.w dan meminta kepada Rasul syafaatnya maka ketahuilah mereka telah MURTAD [keluar dari Islam,red]”.

Lihat juga kitab yang di karang oleh si anak durhaka dari Najd di dalam kitabnya yang berlabel Kasfu As-syubuhat fit Tauhid li Muhammad bin Abdul Wahhab, cetakan Al-qahirah, halaman 6. disana si anak durhaka dengan latah mengecap mereka yang berdalil dan menetapkan bahwa syafaat adalah sebuah kebenaran atau mereka yang berkeyakinan bahwa para auliya Allah s.w.t mempunyai maqam khusus disisiNYA, di anggap sebagai MUSRIKIIN.

Bagi yang ingin lebih jauh mengetahui seberapa ghulu dan kelewat batas dalam mengkafirkan ummat Islam dan bahkan semua mazhab Islam saya sarankan untuk merujuk kembali kitab “Kasfu As-subuhat” M bin Abdul Wahhab dan kitab risalahnya Ibnu Taimiyyah. Atau kitab Ad-dururu As-sanniyah oleh Abdurahman bin Muhammad bin Qasim Hanbali An-najdi. Tapi dalam makalah ini saya akan nukilkan sedikit dari kitab yang terakhir ini.

Dalam kitab Ad-dururu As-sanniyah, juz 10, Halaman 51 Muhammad bin Abdul Wahhab berkata:”Sebelum Allah s.w.t. memberikan kepada saya anugerah. saya tidak mengetahui makna La ilaha ilallah dan tidak memahami agama Islam, sementara ketika itu banyak di antara Syeikh-syeikh yang ada tidak ada yang mampu memahami makna itu. Jadi jika ada salah satu dari ulama yang mengaku memahami makna itu atau mengaku telah mengetahui makna Islam sebelum jaman saya atau mengira bahwa salah satu dari ulama [yang dicap TBC, red] itu memahami makna itu sebelum jaman saya, berarti dia telah berbohong dan telah menyamarkan makna ini serta dia telah memaknai sesuatu yang tidak dia ketahui”. Dari perkataan ini apa yang kita bisa ambil…?. Secara tidak sadar muassis Jamaah Takfiriyah Al-wahhabiyah ini telah meragukan dan meganggap bodoh semua lapisan masyarakat serta mengkafirkan semua ulama-ulama sebelumnya. Dan hanya dia saja yang bertauhid kepada Allah s.w.t. sebab mereka semua itu masih menyebarkan TBC.

Masih dalam kitab yang sama juz 10, Halaman 31, sepucuk surat ditulis oleh M bin Abdul Wahhab ditujukan kepada Syeikh Sulaiman bin Sakhim [Syeikh ini adalah pengikut Mazhab Hanbali dan salah satu muqallidnya Ibnu Taimiyah] dan mengatakan:”Saya ingatkan engkau, kamu dan ayahmu sudah jelas jelas dalam kekafiran, musrik dan nifaq! Engkau dan ayahmu setiap hari hanya berusaha untuk memusuhi agama islam, walaupun engkau mempunyai ilmu tetapi engaku malah tersesat dan engkau telah memilih kekafiran dari pada memilih Islam.

Mudah mudahan kita di beri waktu oleh Allah s.w.t dan sambil mengharap syafaat Kanjeng Nabi s.a.w untuk mengulas dan mengupas lebih detail lagi isi dari kitab “Kasfu As-subuhat” serta membandingkannya dengan kutub Arbaah. InsyaAllah Taala.

Jayyid….

Saya bertanya kepada anda wahai Wahabiyyun….. masihkah berani mengelak dan mengatakan bahwa mazhab yang anda tuhankan itu bukanlah mazhab Takfiriyah..??? Apakah kalian masih belum sadar bahwa menghukum kaum muslimin dengan klaim dan dakwaan:”Karena Rasullullah tidak melakukan perbuatan itu maka pelakunya adalah BID’AH” hakekatnya adalah menghinakan sesama Muslim..?? maka, apakah ketika Kanjeng Nabi s.a.w tidak mempunyai kesempatan untuk mencium tangan suci abahnya dan ketika kita mencium kedua tangan orang tua kita, kita menjadi dholalah..?? dan layak masuk neraka..??. Benarkah demikian.

Wahabiyun memang senang berkelakar dengan menukil ayat suci Al-quran bahwa tidak akan ada lagi hukum-hukum dalam Islam karena Allah s.w.t. telah menyempurnakan agamaNYA sebagaimana tertulis dalam firman Allah s.w.t dalam Al-quran, ayat 3 surat al-Maidah: Pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Jika demikian adanya… maka pertanyaanya adalah tidakkah pernyataan kalian ini justru memperkuat dakwaan bahwa Islam tidak bisa sejalan dengan perkembangan zaman. Bahwa Islam tidak mampu menjawab hukum hukum dari sebuah peristiwa yang bermunculan seiring dengan perkembangan zaman dan tidak ada pada zaman rasul. Dan ingat hukum hukum itu tidak bisa kita jawab dengan klaim sambil mengatakan “yang itu HARAM” atau “yang itu HALAL” atau “ yang ini BID’AH” atau yang ini Sunnah” hanya lantaran anda berdalih dengan slogan:”Karena Rasullullah tidak melakukan perbuatan itu maka pelakunya adalah BID’AH”. Ini sebuah kejumutan dan ketahuilah andalah sijumut itu. Ketahulilah andalah yang membelenggu nalar anda dan memperkosa kemanusiaan anda. Dan anda pulalah yang tidak memanusiakan manusia.

Anehnya lagi mereka menolak bentuk dan jenis gambar yang bernyawa. Sementara gambar para penguasa dholim bani Sauud tertera di lembaran lembaran riyal dan masuk ke kantong kantong celana dan menikmatinya setiap saat. Apakah ini bukan sebuah pagelaran bid’ah yang paling nyata…???.!!!!!. Allahu A’lam

Bersambung.

Iklan

Entry filed under: abdul wahhab, ahmad bin hanbal, As-Salafiyah, bid'ah, Blogroll, ibnu Taimiyah, Islam, mazhab salafi, mazhab wahabi, Salaf, salafi, salafi/y, salafy, syirik, tabarruk, tawassul, Uncategorized, Wahabi/Salafi, Wahabisme, wahhab, wahhabi, ziarah kubur.

Manusiakanlah Manusia: Untuk Jamaah Takfiriyah Dan Wahabi Salafy Adalah Gerakan Politik

60 Komentar Add your own

  • 1. jamila  |  April 16, 2007 pukul 7:51 am

    Waduuh bahaya donk! nanti kalau Wahabi sudah banyak di Indonesia, muslim yang laennya bakal di bantai donk.saya heran kok masih ada aja ya yang ngikutin ajaran ala hutan ini. makanya jadi orang tuh jangan terlalu fanatik, ceritanya mau fanatik membela ajaran Islam eh jadinya malah ngerusak Islam itu sendiri. ati-ati doooonk kalo nyari ustazd! jangan cuma ngeliat zahirnya aja! iya gak Pak Yai !

    Balas
  • 2. abzay  |  April 22, 2007 pukul 3:43 am

    Berantas wahabi…!!!!

    Balas
  • 3. ainunnajib  |  April 23, 2007 pukul 2:16 am

    bi idznillah insya Allah golongan ini tidak akan pernah menjadi mayoritas di Indonesia 🙂

    Balas
  • 4. islam feminis  |  April 23, 2007 pukul 5:04 am

    Sadis banget yah Wahaby…
    Apakah perempuan Wahaby sama seperti itu juga…?

    Balas
  • 5. INDIRA  |  April 25, 2007 pukul 5:31 pm

    Wahabi kerjanya hanya meng-SKB-kan ( syirik-kafir-bid’ah ) golongan yang berbeda pemahaman tentang Islam dengan mereka.

    Kalau kita memperhatikan sepak terjang mereka diawal berdirinya negara Saudi yang penuh berlumuran darah kaum Muslimin, maka kalau mereka berjaya di Indonesia kemungkinan besar juga akan terjadi banjir darah.

    Sebelum itu kita ( seluruh non wahabi ) harus bersatu padu untuk menghentikan gerak mereka di negara yang damai ini sbelum munculnya suatu fitnah besar.

    Wassalam

    Balas
  • 6. M Shodiq Mustika  |  April 27, 2007 pukul 10:00 pm

    Tanda sikap ekstrim yang paling mencolok, menurut Dr. Yusuf Qardhawi, adalah fanatik pada suatu pendapat dengan fanatisme yang keterlaluan, sehingga tidak mau mengakui keberadaan pendapat lain. (Islam Ekstrem: Analisis dan Pemecahannya, hlm. 32)

    Apa sajakah ciri-ciri orang ekstrim-fanatik yang tidak mau mengakui pendapat lain?

    Salah satunya: Mereka bersikap keras (dan kasar) bila pendapat mereka tidak kita ikuti. Kalau kita tidak mengikuti pendapat mereka, mereka mengintimidasi atau menteror kita dengan berbagai tuduhan seperti “bid’ah, kafir, musuh Islam, jaringan iblis laknat, dsb.”. Mereka tak sadar bahwa pendapat siapa pun (kecuali Nabi) boleh ditinggalkan.

    Untuk ciri-ciri lainnya, lihat http://muhshodiq.wordpress.com/2007/04/27/ciri-ciri-islam-ekstrim-1-fanatik/

    Balas
  • 7. Rizma Adlia  |  April 28, 2007 pukul 11:27 am

    ya ampun,, banyak bangetya yang dianggep kafir dan murtad buat mereka,,

    tapi kasian banget, ga boleh tawasul sama Rasul, ga rugi tuh,,?? *hmm?*

    Balas
  • 8. Ok-Coy  |  April 29, 2007 pukul 1:36 am

    ada seorang pembunuh, pemabuk,pemerkosa mendatangi kuburan para wali terus meminta doa kepada Tuhan dengan berperantaraan wali yang ada di dalam kubur.

    Seandainya wali yang ada di dalam kubur itu mendengar, maka dia akan berkata “ya Allah aku jangan dengarkan orang itu karena aku berlepas diri dari orang itu yang membawa-bawa namaku”

    justru rugi kalau tawasul sama rasulallah dan orang2 soleh yang sudah mati.

    rugilah di dunia dan di akhirat, orang2 yang bangkrut, amalannya hangus

    bagaikan orang yang jatuh dari langit, dan diterbangkan lagi ke tempat yang jauh sekali,

    sangat hinalah orang itu di dunia dan di akhirat

    tidaklah ridha dan sudi Allah disekutukan

    Balas
  • 9. Ok-Coy  |  April 29, 2007 pukul 1:46 am

    saya beruntung wahabi ditakdirkan Allah untuk menguasai tanah haram dan madinah dari orangorang ahli bid’ah sufi

    coba dech kalau gk ada perjuangan Wahabi

    saya berani bertaruh

    sekarang masjidil haram akan dijadikan tempat wisata oleh orang Turkey sekuler, dimana orang kafir akan seenaknya aza masuk tanah haram.

    sementara orang-orang yang thawaf bukan lagi mengelilingi ka’bah yang tua itu, tapi orang2 sufi gila itu akan mengelilingi kuburan nabi SAW untuk tempat thowaf dan sujud. Naudzubillah

    Balas
  • 10. Ok-Coy  |  April 29, 2007 pukul 2:16 am

    sebaiknya anda-anda ini membantah wahabi dengan cara yang ilmiyah. saya tidak mengeluh, tidak protes, tidak mengadu domba, tidak sakit hati dan tersinggung.

    please jangan sakit hati yach….!!! klo dikatakan bid’ah, ya klo menurut anda itu sunnah, anda harusnya membelanya jangan mengedepankan emosi karena tersinggung.

    bukankah anda juga mengatakan wahabi itu sesat dengan tuduhan golongan mujasimah,musyabihah, haswiyah, dsb…..

    tapi saya membantahnya dengan cara yang ilmiyah juga, tidak perlu tersinggung dan sakit hati.

    bukankah asy’ariyah juga memasukkan wahabi kepada 72 golongan sesat ???

    Balas
  • 11. Ok-Coy  |  April 29, 2007 pukul 2:17 am

    saya melihat kedengkian anda-anda ini seperti kedengkian kaum sufi sesat dan ahli kalam sesat terhadap bantahan Ibnu Taimiyah…
    hmm….ok

    Balas
  • 12. bondet  |  Mei 1, 2007 pukul 5:04 am

    salam,

    wah..wah.. ngeri deh bacanya!

    saya ingat ketika taliban menguasai kota “mazar el-syarif” di afganistan yang berpenduduk mayorita syi’ah, mereka memberi tiga opsi, masuk jadi wahabi, keluar dari kota, atau mati. mereka juga sempat menyandera dan membunuh diplomat Iran (hukum internasional sudah tidak berlaku bagi mereka). waktu itu mereka (taliban) masih bermesra’an dengan AS.

    sekarang mereka lagi “mabok” jadi pelaku bom bunuh-diri di Irak, penduduk sipil jadi “santapan” mereka sehari-hari, bahkan serombongan jema’ah haji baru pulang melakukan Ibadah haji di mekkah jadi sasaran juga. anak-anak, wanita, orang tua, bagi mereka jika dipandang “kafir” maka halal darahnya! apakah ini (menurut mereka) ajaran Rasul saw?

    sekarang mereka sudah menyelinap masuk ke negeri ini, bahkan sudah berani ambil alih masjid-masji kelompok mayoritas lagi (NU).

    [baca “Dianggap Sesat, Masjid-masjid NU Diambilalih” http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=4737
    Tiga Masjid NU di Banyuwangi Sudah Diambilalih Kelompok Lain
    http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=8457 ]

    wah kalo kiranya mereka jadi SBY dan partai mereka nguasai parlemen kira-kira apa ya yang terjadi di negeri ini ya?

    apalagi kalo mereka misalnya menjadi super-power bak amerika, kira-kira dunia akan jadi apa ya?

    beginilah kalo orang dari gunung punya kuasa!

    buat “aswaja” (sobat pemilik weblog) teruskan usaha anda, ungkap terus jati diri kelompok “neo khawarij” ini, pelanjut teologi “Dzil-Khuwaisaroh” yang pernah menuduh Rasul saw tidak berbuat adil (audzu billahi min dzalik) [baca tentang orang ini yang menjadi cikal bakal khowarij dalam Shahih Bukhari , kitab Istitabah, bab man taroka qital al-khowarij].

    tolong kita-kita ini diberi juga artikel-artikel tentang pemikiran Syekh Ibnu Taimiyah rujukan kelompok wahabi. tolong diungkap pikirannya yang ekstrim yang mau benar sendiri, gaya bahasanya yang kasar dalam buku-bukunya yang menyikapi lawan-lawannya yang berseberangan pemikiran/madzhab dengan dia. supaya kita-kita ini mengetahui lebih dalam dan tercerahkan.

    salam dan sukses! amin

    bondet

    Balas
  • 13. narimo  |  Mei 3, 2007 pukul 3:27 am

    buat mas bondet, wahabi itu ndak punya partai, bid’ah itu. nabi nggak punya partai.
    Nabi juga nggak mengajarkan sistem kerajaan, tapi mbahnya wahabi punya kerajaan dan putra mahkota (biasanya mereka jawab : “itu lain akhi…..)

    Balas
  • 14. abu ghonam  |  Mei 5, 2007 pukul 5:21 am

    innalillaahi wa inna ilaihi raaji’un…inmti permasalahannya adalah mungkin kalian gagal untuk merebut makkah dan madinah ke tangan org2 sesat seperti sfiyyah, syi’ah dan spesiesnya yang lain ngaku aja lah! wahai orang2 bangkrut …yang ilmiah dong kalo berhujjah jangan seperti si majnuun…..ganti….

    kalo makkah dan madeenah….direbut kalian…nanti riwayatnya seperti najaf dan karbala dong, yang sekarng juga masih diinjak2 orang2 kafir….kasian deh punya tanah suci…gak rugi tuh…wahai org2 bangkrut!untunglah makkah dan madeenah kita dikuasai orang2 yang bertuhid, beraqidah lurus…silakan buka alqur’an dan alhadits, itung2 belajar buat kalian!

    Balas
  • 15. zamakhsyary  |  Mei 5, 2007 pukul 3:48 pm

    jagalah persatuan ummat.. jgn lah smpai kita terkena fitnah … wahabi memang keras, sekeras-kerasnya wahabi dia tetap gol. org2 muslim

    Balas
  • […] sebuah Penipuan/Penyesatan seperti yang terjadi di sini, di sini dan di sini. Bid’ah ditebarkan, darah dihalalkan, pembunuhan terjadi. Sampai sampai ciri khas dan karakter picik dan tak mau kalah pun melekat, […]

    Balas
  • 17. bearclaws  |  Mei 10, 2007 pukul 3:51 pm

    mazhab ini haus darah…
    ga ada bedanya dengan binatang…
    kalo mitos vampir memang ada, saya rasa inilah komunitas vampir yang telah bermutasi… Naudzubillah…

    Balas
  • 18. bondet  |  Mei 11, 2007 pukul 4:53 am

    buat abu ghonam

    amerika gak perlu menduduki saudi arabia karena mulai rajanya
    sampai ulama’nya sudah tunduk sama amrik, kalo gak nurut nah
    baru dijadikan kayak iraq, kalo bocah yang nurut ngapain di gannggu.
    Bukankah Berdirinya Kerajaan Wahaby (Saudi) kan atas bantuan Inggris.
    lalu ngapain Amrik menduduki anak binaan Inggris yang juga sekutu Amrik.

    perlu diketahui aja, bahkan perbudakan di Saudi baru dihapus tahun 1962.
    Ironisnya atas saran (baca perintah) presiden amrik. Sementara Bin Saud
    mengawini gadis dari setiap suku sebanyak 22gadis, dari mereka punya
    anak 55 pria, dan lebih dari 50 anak wanita [sumber metro tv, Ramadan 2005]
    Nah dari 55 anak pria tersebut cukup sampai sekarang untuk mengisi jabatan pemerintahan di Saudi. dan Jadilah Pemerintahan keluarga di Saudi. Beginillah Raja wahaby. yang dibangga-banggakan oleh pengikutnya. [gak tau saya hadisnya apa tuh yang membolehkan mengawini 55 orang perempuan? tolong ikhwan wahaby kasi saya pencerahan!]

    kalo Mekah dan Medinah di duduki Amrik, maka resikonya melawan semua muslim di dunia. amrik tidak setolol itu! Juga sekali lagi ngapain di duduki jika Rajanya sudah tunduk, patuh dan nurut. Juga ingat Pelindung dua kota
    suci tersebut adalah Allah SWT. bukan Raja Saudi. ingat kisah pasukan gajah.

    Tapi anehnya ketika Juhaiman si Wahaby yang membrontak kepada Raja menduduki masjidil Haram, Raja dan tentaranya malah minta bantuan penasehat militer dari Barat. Juga ketika Saddam menduduki Kuwait, Raja dan para amir di Saudi pada gemetaran, mereka bukannya minta tolong kepada Allah SWt. (Sebagaimana Kakek Rasulullah saw ketika Pasukan abrahah menyereng Ka’bah, beliau menyerahkan urusan itu kepada Allah SWT. inilah tanda orang yang bertauhid dan beriman). Tapi lain dengan Raja Saudi kontan mendatangkan pasukan Asing (Amrik dan sekutunya) yang notabenenya non Islam dan Para ulamanya sibuk mencarikan dalil yang membolehkan kedatangan pasukan asing dan mengkafirkan si Sadam, padahal ketika perang Iran-Irak Sadam bagi ulama wahaby adalah hero.
    apakah ini contoh Penguasa/Raja yang bertauhid?

    Balas
  • 19. bondet  |  Mei 11, 2007 pukul 5:26 am

    RALAT tulisan saya diatas ada salah ketik.

    tertuilis: [gak tau saya hadisnya apa tuh yang membolehkan mengawini 55 orang perempuan?]

    yang betul : [gak tau saya hadisnya apa tuh yang membolehkan MENGAWINI 22 ORANG PEREMPUAN?

    Makasih
    bondet

    Balas
  • 20. bondet  |  Mei 11, 2007 pukul 5:39 am

    buat mas narimo,

    repot ya dengan pemikiran wahaby, gak punya partai, tapi punya RAJA/kerajaan.

    partai bid’ah tapi partai kelurga [kayak di saudi] gak papa!

    ngeri deh kalo mereka nguasai negeri kita, nanti mereka mendirikan kerajaan-kerajaan kayak jaman nusantara tempo dulu!

    kang aswaja nya mana nih? aku tunggu tulisan-tulisan/artikelnya yg baru!

    makasi
    bondet

    Balas
  • 21. va.q  |  Mei 20, 2007 pukul 7:03 am

    Sebaiknya kita sebagai ummat Muhammad SAW sudah selayaknya meredam agar tidak saling hujat menghujat, tidak ada untung nya.
    Ingatlah bahwa Allah Swt sendiri menilai derajatnya bukan dari golongan tapi dari ahlak yang mulia, Taqwa yang benar2 taqwa, Ahlussunnah wal Jamaah. (yang dijamin masuk Surga).Akhirnya kita terjebak dalam lingkaran FITNAH (DAJJAL). nah kalau sudah saling merasa paling benar tentu orang2 Non Islam yang bersorak-sorai…Horeee….Sungguh na’ifnya kita.

    Balas
  • 22. narimo  |  Mei 25, 2007 pukul 7:59 am

    buat mas bondet, haditsnya tetap, istri max. 4, tapi yang 18 khan harem. Harem kan masalah dunia, ndak perlu hadits donk….. hehe….

    Balas
  • 23. Grandong  |  Juni 7, 2007 pukul 1:47 pm

    klo emang loe2 semuanye preman sufi, syiah, asy’ariyah, mutazilah, khawarij bersatu…. ternyata gak bisa apa-apa,

    dibantah dengan ilmiah gk bisa, bisanye cuma iri dengki langsung memfitnah,..

    Mas…. emangnya Kerajaan Saudi itu = Wahabi semuanye…

    Dari dulu juga Muhammad bin abdul wahab kerjasama dengan King Saud dengan syarat King Saud yang mimpin negaranya,

    dan itu adalah kesempatan baik buat nyebarin dakwah Wahabiyah,

    waduh mas-mas ini…. udah gk tahan ya pengen thowaf mengelilingi KUBURAN NABI SAW ……

    jangan HARAP dech mas….. sampai hari qiyamat pun…. masjid nabawi dan masjid Haram akan dijaga…. he..he..he….

    Balas
  • 24. riad  |  Juni 10, 2007 pukul 3:28 am

    Sudah ada yang pernah melihat foto-foto raja saud menikah dengan wanita yahudi dalam satu buku penuh??..

    Dan kehidupan mewahnya di istana persis seperti jaman jahiliyah??..

    Dan dari mana raja saud yg sekarang memimpin berasal??..

    Dan bagaimana raja saud merebut kekuasaan presidennya dahulu pada saat masih menjabat wapres??..

    Mekkah dan Madinah memang terjaga kesuciannya tapi bukan disebabkan oleh orang-orang disekelilingnya, karena telah diketahui melalu penelitian bahwa orang arab muslim yg tinggal di dekat ka’bah pun ada yg tidak melakukan haji karena sudah merasa haji dan dekat dengan tempat suci tsb..

    Kalau banyak ga tahunya lebih baik diam dan belajar dengan yang ahli/pakarnya.. saya juga masih bnyk belajar. wasalam

    Balas
  • 25. riad  |  Juni 10, 2007 pukul 3:46 am

    Mas ghandrong siapa yg tawaf mengelilingi kuburan Nabi saw??.. anda sedang mengiggau atau kerasukan jin kafir??.. ckckck semoga cepat disadarkan..

    Balas
  • 26. Razifuddin  |  Juni 10, 2007 pukul 3:46 pm

    yang bilang wahabi itu mazhab islam… salah
    bagian dari islam… salah

    cobak ente baca fathul majid kitab syarah Tauhid yang ditulis oleh Abdurrahman Hasan Aalu Syaikh (cet I, 1992 M/1413: maktabah Darul Faiha dan maktabah Darul Salam)
    menyebutkan dalam bahasa Arab “idza jalasa ar robbu ‘alal kursy”
    yang artinya “apabila telah duduk tuhan di atas kursi”

    Subhanallah, Maha Suci Allah dari pensifatan seperti ini

    selanjutnya kita baca lagi sebuah kitab Yahudi Assafar-Mulk Al Ishah, 22:19-20
    dalam “qola fasma’ idza kalamir robbi qodrita robbi jalasa ‘ala kursy wakala jundissamaa wa qoufal diiha animiina wa yasroh”
    yang artinya “berkata: dengarkan engkau kata-kata tuhan, telah kulihat Tuhan duduk di atas kursi dan semua tentara langit berada di sebelah kanan dan kiri”

    Dalam mas’alah aqidah salaf, barangsiapa menyebut dan/atau membayangkan bahwa Allah duduk di atas kursi, maka tiada guna syahadatnya

    Semoga Allah senantiasa Merahmati pencari ilmu

    Balas
  • 27. Razifuddin  |  Juni 10, 2007 pukul 4:15 pm

    O ya satu lagi untuk netters yang masih merasa Ahlussunnah, dalam beberapa kajian-kajian mereka ada kitab aneh bin ajaib Ushul wa Dhawabith fi At Takfiir (Kaidah Memvonis Kafir)
    karya: Abdul Lathif bin Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh

    memang dalam kitab tersebut banyak hadis-hadis nabi yang sahih, namun dengan mengamalkan isi kitab tersebut apakah hidup kita, ibadah kita, masa depan kita baik di dunia maupun di akhirat diridhai oleh Allah SWT??? Maukah Negara ini dijadikan Iran-Irak II dengan mengikuti kemauan si penulis kitab???

    Kitab ini merupakan kitab panduan jamaah takfiri bilamana sudah mempunyai beberapa pengikut di sebuah wilayah, ikhwah ahlussunnah masihkah kita memberikan tempat bagi mereka?

    Kalian masih ingat Condolezza Rice dan Dubes Amerika ikut menghimbau Pondok-pondok pesantren di Indonesia untuk mengganti kurikulum ponpes dengan sebuah paket kurikulum dengan imbal jasa bantuan buat pondok pesantren! Jelas ada udang di balik batu, supaya dengan kurikulum ponpes ala Saudi yang penuh dengan kaedah-kaedah takfiri, inilah upaya yang nyata untuk memecah belah ahlussunnah.

    Allah Swt bersama kita dan Wahaby bersama amerika

    Balas
  • 28. abu yusuf  |  Juni 11, 2007 pukul 12:27 pm

    Biografi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab (1115 – 1206 H/1701 – 1793 M) Nama Lengkapnya BELIAU adalah Syeikh al-Islam al-Imam Muhammad bin `Abdul Wahab bin Sulaiman bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid bin Barid bin Muhammad bin al-Masyarif at-Tamimi al-Hambali an-Najdi. Tempat dan Tarikh Lahirnya Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab dilahirkan pada tahun 1115 H (1701 M) di kampung `Uyainah ( Najd), lebih kurang 70 km arah barat laut kota Riyadh, ibukota Arab Saudi sekarang. Beliau meninggal dunia pada 29 Syawal 1206 H (1793 M) dalam usia 92 tahun, setelah mengabdikan diri selama lebih 46 tahun dalam memangku jawatan sebagai menteri penerangan Kerajaan Arab Saudi . Pendidikan dan Pengalamannya Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab berkembang dan dibesarkan dalam kalangan keluarga terpelajar. Ayahnya adalah ketua jabatan agama setempat. Sedangkan kakeknya adalah seorang qadhi (mufti besar), tempat di mana masyarakat Najd menanyakan segala sesuatu masalah yang bersangkutan dengan agama. Oleh karena itu, kita tidaklah hairan apabila kelak beliau juga menjadi seorang ulama besar seperti datuknya. Sebagaimana lazimnya keluarga ulama, maka Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab sejak masih kanak-kanak telah dididik dan ditempa jiwanya dengan pendidikan agama, yang diajar sendiri oleh ayahnya, Syeikh `Abdul Wahhab. Sejak kecil lagi Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab sudah kelihatan tanda-tanda kecerdasannya. Beliau tidak suka membuang masa dengan sia-sia seperti kebiasaan tingkah laku kebanyakan kanak-kanak lain yang sebaya dengannya. Berkat bimbingan kedua ibu-bapaknya, ditambah dengan kecerdasan otak dan kerajinannya, Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab telah berjaya menghafal al-Qur’an 30 juz sebelum berusia sepuluh tahun. Setelah beliau belajar pada orantuanya tentang beberapa bidang pengajian dasar yang meliputi bahasa dan agama, beliau diserahkan oleh ibu-bapaknya kepada para ulama setempat sebelum dikirim oleh ibu-bapaknya ke luar daerah. Tentang ketajaman fikirannya, saudaranya Sulaiman bin `Abdul Wahab pernah menceritakan begini: “Bahwa ayah mereka, Syeikh `Abdul Wahab merasa sangat kagum atas kecerdasan Muhammad, padahal ia masih di bawah umur. Beliau berkata: `Sungguh aku telah banyak mengambil manfaat dari ilmu pengetahuan anakku Muhammad, terutama di bidang ilmu Fiqh.’ “ Syeikh Muhammad mempunyai daya kecerdasan dan ingatan yang kuat, sehingga apa saja yang dipelajarinya dapat difahaminya dengan cepat sekali, kemudian apa yang telah dihafalnya tidak mudah pula hilang dalam ingatannya. Demikianlah keadaannya, sehingga kawan-kawan sepermainannya kagum dan heran kepadanya. Belajar di Makkah, Madinah dan Basrah Setelah mencapai usia dewasa, Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab diajak oleh ayahnya untuk bersama-sama pergi ke tanah suci Mekah untuk menunaikan rukun Islam yang kelima – mengerjakan haji di Baitullah. Dan manakala telah selesai menunaikan ibadah haji, ayahnya terus kembali ke kampung halamannya. Adapun Muhammad, ia tidak pulang, tetapi terus tinggal di Mekah selama beberapa waktu, kemudian berpindah pula ke Madinah untuk melanjutkan pengajiannya di sana. Di Madinah, beliau berguru pada dua orang ulama besar dan termasyhur di waktu itu. Kedua-dua ulama tersebut sangat berjasa dalam membentuk pemikirannya, yaitu Syeikh Abdullah bin Ibrahim bin Saif an-Najdi dan Syeikh Muhammad Hayah al-Sindi. Selama berada di Madinah, beliau sangat prihatin menyaksikan ramai umat Islam setempat maupun penziarah dari luar kota Madinah yang telah melakukan perbuatan-perbuatan tidak kesyirikan dan tidak sepatutnya dilakukan oleh orang yang mengaku dirinya Muslim. Beliau melihat ramai umat yang berziarah ke maqam Nabi mahupun ke maqam-maqam lainnya untuk memohon syafaat, bahkan meminta sesuatu hajat pada kuburan mahupun penghuninya, yang mana hal ini sama sekali tidak dibenarkan oleh agama Islam. Apa yang disaksikannya itu menurut Syeikh Muhammad adalah sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang sebenarnya. Kesemua inilah yang semakin mendorong Syeikh Muhammad untuk lebih mendalami pengkajiannya tentang ilmu ketauhidan yang murni, yakni Aqidah Salafiyah. Bersamaan dengan itu beliau berjanji pada dirinya sendiri, bahwa pada suatu ketika nanti, beliau akan mengadakan perbaikan (Islah) dan pembaharuan (Tajdid) dalam masalah yang berkaitan dengan ketauhidan, yaitu mengembalikan aqidah umat kepada sebersih-bersihnya tauhid yang jauh dari khurafat, tahyul dan bid’ah. Untuk itu, beliau mesti mendalami benar-benar tentang aqidah ini melalui kitab-kitab hasil karya ulama-ulama besar di abad-abad yang silam. Di antara karya-karya ulama terdahulu yang paling terkesan dalam jiwanya adalah karya-karya Syeikh al-Islam Ibnu Taimiyah. Beliau adalah mujaddid besar abad ke 7 Hijriyah yang sangat terkenal. Demikianlah meresapnya pengaruh dan gaya Ibnu Taimiyah dalam jiwanya, sehingga Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab bagaikan duplikat(salinan) Ibnu Taimiyah. Khususnya dalam aspek ketauhidan, seakan-akan semua yang diidam-idamkan oleh Ibnu Taimiyah semasa hidupnya yang penuh ranjau dan tekanan dari pihak berkuasa, semuanya telah ditebus dengan kejayaan Ibnu `Abdul Wahab yang hidup pada abad ke 12 Hijriyah itu. Setelah beberapa lama menetap di Mekah dan Madinah, kemudian beliau berpindah ke Basrah. Di sini beliau bermukim lebih lama, sehingga banyak ilmu-ilmu yang diperolehinya, terutaman di bidang hadith danmusthalahnya, fiqh dan usul fiqhnya, gramatika (ilmu qawa’id) dan tidak ketinggalan pula lughatnya semua. Lengkaplah sudah ilmu yang diperlukan oleh seorang yang pintar yang kemudian dikembangkan sendiri melalui metode otodidak (belajar sendiri) sebagaimana lazimnya para ulama besar Islam mengembangkan ilmu-ilmunya. Di mana bimbingan guru hanyalah sebagai modal dasar yang selanjutnya untuk dapat dikembangkan dan digali sendiri oleh yang bersangkutan. Mulai Berdakwah Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab memulai dakwahnya di Basrah, tempat di mana beliau bermukim untuk menuntut ilmu ketika itu. Akan tetapi dakwahnya di sana kurang bersinar, karena menemui banyak rintangan dan halangan dari kalangan para ulama setempat. Di antara pendukung dakwahnya di kota Basrah ialah seorang ulama yang bernama Syeikh Muhammad al-Majmu’i. Tetapi Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab bersama pendukungnya mendapat tekanan dan ancaman dari sebagian ulama yang sesat, yaitu ulama jahat yang memusuhi dakwahnya di sana; keduanya diancam akan dibunuh. Akhirnya beliau meninggalkan Basrah dan mengembara ke beberapa negeri Islam untuk menyebarkan ilmu dan pengalamannya. Di samping mempelajari keadaan negeri-negeri Islam tetangga, demi kepentingan dakwahnya di masa akan datang, dan setelah menjelajahi beberapa negeri Islam, beliau lalu kembali ke al-Ihsa menemui gurunya Syeikh Abdullah bin `Abd Latif al-Ihsai untuk mendalami beberapa bidang pengajian tertentu yang selama ini belum sempat didalaminya. Di sana beliau bermukim untuk beberapa waktu, dan kemudian beliau kembali ke kampung asalnya ‘Uyainah, tetapi tidak lama kemudian beliau menyusul orang tuanya yang merupakan bekas ketua jabatan urusan agama ‘Uyainah ke Haryamla, yaitu suatu tempat di daerah Uyainah juga. Adalah dikatakan bahwa di antara orang tua Syeikh Muhammad dan pihak berkuasa Uyainah berlaku perselisihan pendapat, yang oleh karena itulah orang tua Syeikh Muhammad terpaksa berhijrah ke Haryamla pada tahun 1139 H. Setelah perpindahan ayahnya ke Haryamla kira-kira setahun, barulah Syeikh Muhammad menyusulnya pada tahun 1140 H. Kemudian, beliau bersama ayahnya itu mengembangkan ilmu dan mengajar serta berdakwah selama lebih kurang 13 tahun lamanya, sehingga ayahnya meninggal dunia di sana pada tahun 1153. Setelah tiga belas tahun menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar di Haryamla, beliau mengajak pihak Penguasa setempat untuk bertindak tegas terhadap gerombolan penjahat yang selalu melakukan kerusuhan, merampas, merampok serta melakukan pembunuhan. Maka gerombolan tersebut tidak senang kepada Syeikh Muhammad, lalu mereka mengancam hendak membunuhnya. Syeikh Muhammad terpaksa meninggalkan Haryamla, berhijrah ke Uyainah tempat ayahnya dan beliau sendiri dilahirkan. KEADAAN NEGERI NAJD, HIJAZ DAN SEKITARNYA KEADAAN negeri Najd, Hijaz dan sekitarnya semasa awal pergerakan tauhid amatlah buruknya. Krisis Aqidah dan akhlak serta merosotnya tata nilai sosial, ekonomi dan politik sudah mencapai titik kulminasi. Semua itu adalah akibat penjajahan bangsa Turki yang berpanjangan terhadap bangsa dan Jazirah Arab, di mana tanah Najd dan Hijaz adalah termasuk jajahannya, di bawah penguasaan Sultan Muhammad Ali Pasya yang dilantik oleh Khalifah di Turki (Istanbul) sebagai Gubenur Jenderal untuk daerah koloni di kawasan Timur Tengah, yang berkedudukan di Mesir. Pemerintahan Turki Raya pada waktu itu mempunyai daerah kekuasaan yang cukup luas. Pemerintahannya berpusat di Istanbul (Turki), yang begitu jauh dari daerah jajahannya. Kekuasaan dan pengendalian khalifah mahupun sultan-sultannya untuk daerah yang jauh dari pusat, sudah mulai lemah dan kendur disebabkan oleh kekacauan di dalam negeri dan kelemahan di pihak khalifah dan para sultannya. Disamping itu, adanya cita-cita dari amir-amir di negeri Arab untuk melepaskan diri dari kekuasaan pemerintah pusat yang berkedudukan di Turki. Ditambah lagi dengan hasutan dari bangsa Barat, terutama penjajah tua yaitu Inggris dan Perancis yang menghasut bangsa Arab dan umat Islam supaya berjuang merebut kemerdekaan dari bangsa Turki, hal mana sebenarnya hanyalah tipudaya untuk memudahkan kaum penjajah tersebut menanamkan pengaruhnya di kawasan itu, kemudian mencengkeramkan kuku penjajahannya di dalam segala lapangan, seperti politik, ekonomi, kebudayaan dan aqidah. Kemerosotan dari sektor agama, terutama yang menyangkut aqidah sudah begitu memuncak. Kebudayaan jahiliyah dahulu seperti taqarrub (mendekatkan diri) pada kuburan (maqam) keramat, memohon syafaat dan meminta berkat serta meminta diampuni dosa dan disampaikan hajat, sudah menjadi ibadah mereka yang paling utama sekali, sedangkan ibadah-ibadah menurut syariat yang sebenarnya pula dijadikan perkara kedua. Di mana ada maqam wali, orang-orang soleh, penuh dibanjiri oleh penziarah-penziarah untuk meminta sesuatu hajat keperluannya. Seperti misalnya pada maqam Syeikh Abdul Qadir Jailani, dan maqam-maqam wali lainnya. Hal ini terjadi bukan hanya di tanah Arab saja, tetapi juga di mana-mana, di seluruh pelosok dunia sehingga suasana di negeri Islam waktu itu seolah-olah sudah berbalik menjadi jahiliyah seperti pada waktu pra Islam menjelang kebangkitan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam. Masyarakat Muslim lebih banyak berziarah ke kuburan atau maqam-maqam keramat dengan segala macam munajat dan tawasul, serta pelbagai doa dialamatkan kepada maqam dan mayat didalamnya, dibandingkan dengan mereka yang datang ke masjid untuk solat dan munajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demikianlah kebodohan umat Islam hampir merata di seluruh negeri, sehingga di mana-mana maqam yang dianggap keramat, maqam itu dibina bagaikan bangunan masjid, malah lebih mewah daripada masjid, karena dengan mudah saja dana mengalir dari mana-mana, terutama biaya yang diperolehi dari setiap pengunjung yang berziarah ke sana, atau memang adanya tajaan dari orang yang membiayainya di belakang tabir, dengan maksud-maksud tertentu. Seperti dari imperalis Inggris yang berdiri di belakang tabir maqam Syeikh Abdul Qadir Jailani di India misalnya. Di tengah-tengah keadaan yang sedemikian rupa, maka Allah melahirkan seorang Mujadid besar (Pembaharu Besar) Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab (al-Wahabi) dari `Uyainah (Najd) sebagai mujaddid Islam terbesar abad ke 12 Hijriyah, setelah Ibnu Taimiyah, mujaddid abad ke 7 Hijriyah yang sangat terkenal itu. Bidang pentajdidan kedua mujaddid besar ini adalah sama, yaitu mengadakan pentajdidan dalam aspek aqidah, walau masanya berbeda, yaitu kedua-duanya tampil untuk memperbaharui agama Islam yang sudah mulai tercemar dengan bid’ah, khurafat dan tahyul yang sedang melanda Islam dan kaum Muslimin. Menghadapi hal ini Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab telah menyusun barisan Ahli Tauhid (Muwahhidin) yang berpegang kepada pemurnian tauhid. Bagi para lawannya, pergerakan ini mereka sebut Wahabiyin yaitu gerakan Wahabiyah. Dalam pergerakan tersebut tidak sedikit rintangan dan halangan yang dilalui. Kadangkala Syeikh terpaksa melakukan tindakan kekerasan apabila tidak boleh dengan cara yang lembut. Tujuannya tidak lain melainkan untuk mengembalikan Islam kepada kedudukannya yang sebenarnya, yaitu dengan memurnikan kembali aqidah umat Islam seperti yang diajarkan oleh Kitab Allah dan Sunnah RasulNya. Setelah perjuangan yang tidak mengenal lelah itu, akhirnya niat yang ikhlas itu diterima oleh Allah, sesuai dengan firmanNya: ” Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong Allah nescaya Allah akan menolongmu dan menetapkan pendirianmu. ” (Muhammad: 7) Awal Pergerakan Tauhid Muhammad bin `Abdul Wahab memulakan pergerakan di kampungnya sendiri yaitu Uyainah. Di waktu itu Uyainah diperintah oleh seorang amir (penguasa) bernama Amir Uthman bin Mu’ammar. Amir Uthman menyambut baik idea dan gagasan Syeikh Muhammad itu dengan sangat gembira, dan beliau berjanji akan menolong perjuangan tersebut sehingga mencapai kejayaan. Selama Syeikh melancarkan dakwahnya di Uyainah, masyarakat negeri itu semua lelaki dan wanita merasakan kembali kedamaian luar biasa, yang selama ini belum pernah mereka rasakan. Dakwah Syeikh bergema di negeri mereka. Ukhuwah Islamiyah dan persaudaraan Islam telah tumbuh kembali berkat dakwahnya di seluruh pelusuk Uyainah dan sekitarnya. Orang-orang dari jauh pun mula mengalir berhijrah ke Uyainah, karena mereka menginginkan keamanan dan ketenteraman jiwa di negeri ini. Syahdan; pada suatu hari, Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab meminta izin pada Amir Uthman untuk menghancurkan sebuah bangunan yang dibina di atas maqam Zaid bin al-Khattab. Zaid bin al-Khattab adalah saudara kandung Umar bin al-Khattab, Khalifah Rasulullah yang kedua. Syeikh Muhammad mengemukakan alasannya kepada Amir, bahwa menurut hadith Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam, membina sesebuah bangunan di atas kubur adalah dilarang, karena yang demikian itu akan menjurus kepada kemusyrikan. Amir menjawab: “Silakan… tidak ada seorang pun yang boleh menghalang rancangan yang mulia ini.” Tetapi Syeikh mengajukan pendapat bahwa beliau khuatir masalah itu kelak akan dihalang-halangi oleh ahli jahiliyah(kaum Badwi) yang tinggal berdekatan maqam tersebut. Lalu Amir menyediakan 600 orang tentara untuk tujuan tersebut bersama-sama Syeikh Muhammad merobohkan maqam yang dikeramatkan itu. Sebenarnya apa yang mereka sebut sebagai maqam Zaid bin al-Khattab Radiyallahu ‘anhu yang gugur sebagai syuhada’ Yamamah ketika menumpaskan gerakan Nabi Palsu (Musailamah al-Kazzab) di negeri Yamamah suatu waktu dulu, hanyalah berdasarkan prasangka belaka. Karena di sana terdapat puluhan syuhada’ (pahlawan) Yamamah yang dikebumikan tanpa jelas lagi pengenalan mereka. Bisa saja yang mereka anggap maqam Zaid bin al-Khattab itu adalah maqam orang lain. Tetapi oleh karena masyarakat setempat di situ telah terlanjur beranggapan bahwa itulah maqam beliau, mereka pun mengkeramatkannya dan membina sebuah masjid di tempat itu, yang kemudian dihancurkan pula oleh Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab atas bantuan Amir Uyainah, Uthman bin Mu’ammar. Syeikh Muhammad tidak berhenti sampai disitu, akan tetapi semua maqam-maqam yang dipandang berbahaya bagi aqidah ketauhidan, yang dibina seperti masjid yang pada ketika itu berselerak di seluruh wilayah Uyainah turut diratakan semuanya. Hal ini adalah untuk mencegah agar jangan sampai dijadikan objek peribadatan oleh masyarakat Islam setempat yang sudah mulai nyata kejahiliahan dalam diri mereka. Dan berkat rahmat Allah, maka pusat-pusat kemusyrikan di negeri Uyainah dewasa itu telah terkikis habis sama sekali. Setelah selesai dari masalah tauhid, maka Syeikh mulai menerangkan dan mengajarkan hukum-hukum syariat yang sudah berabad-abad hanya termaktub saja dalam buku-buku fiqh, tetapi tidak pernah diterapkan sebagai hukum yang diamalkan. Maka yang dilaksanakannya mula-mula sekali ialah hukum rajam bagi penzina. Pada suatu hari datanglah seorang wanita yang mengaku dirinya berzina ke hadapan Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab, dia meminta agar dirinya dijatui hukuman yang sesuai dengan hukum Allah dan RasulNya. Meskipun Syeikh mengharapkan agar wanita itu menarik balik pengakuannya itu, supaya ia tidak terkena hukum rajam, namun wanita tersebut tetap bertahan dengan pengakuannya tadi, ia ingin menjalani hukum rajam. Maka, terpaksalah Syeikh menjatuhkan kepadanya hukuman rajam atas dasar pengakuan wanita tersebut. Berita tentang kejayaan Syeikh dalam memurnikan masyarakat Uyainah dan penerapan hukum rajam kepada orang yang berzina, sudah tersebar luas di kalangan masyarakat Uyainah mahupun di luar Uyainah. Masyarakat Uyainah dan sekelilingnya menilai gerakan Syeikh Ibnu `Abdul Wahab ini sebagai suatu perkara yang mendatangkan kebaikan. Namun, beberapa kalangan tertentu menilai pergerakan Syeikh Muhammad itu sebagai suatu perkara yang negatif dan membahayakan kedudukan mereka. Memang, hal ini sama keadaannya dimanapun di saat tersebut, bahkan pergerakan pembaharuan tersebut dipandang rawan bagi penentangnya. Hal tersebut seperti halnya untuk mengislamkan masyarakat Islam yang sudah kembali ke jahiliyah ini, yaitu, dengan cara mengembalikan mereka kepada Aqidah Salafiyah seperti di zaman Nabi, para Sahabat dan para Tabi’in dahulu. Di antara yang menentangnya dakwah tersebut adalah Amir (pihak berkuasa) wilayah al-Ihsa’ (suku Badwi) dengan para pengikut-pengikutnya dari Bani Khalid Sulaiman bin Ari’ar al-Khalidi. Mereka adalah suku Badui yang terkenal berhati keras, suka merampas, merampok dan membunuh. Pihak berkuasa al-Ihsa’ khuatir kalau pergerakan Syeikh Muhammad tidak dipatahkan secepat mungkin, sudah pasti wilayah kekuasaannya nanti akan direbut oleh pergerakan tersebut. Padahal Amir ini sangat takut dijatuhkan hukum Islam seperti yang telah diperlakukan di negeri Uyainah. Dan tentunya yang lebih ditakutinya lagi ialah kehilangan kedudukannya sebagai Amir (ketua) suku Badui. Maka Amir Badui ini menulis sepucuk surat kepada Amir Uyainah yang isinya mengancam pihak berkuasa Uyainah. Adapun isi ancaman tersebut ialah: “Apabila Amir Uthman tetap membiarkan dan mengizinkan Syeikh Muhammad terus berdakwah dan bertempat tinggal di wilayahnya, serta tidak mau membunuh Syeikh Muhammad, maka semua pajak dan upeti wilayah Badui yang selama ini dibayar kepada Amir Uthman akan diputuskan (ketika itu wilayah Badwi tunduk dibawah kekuasaan pemerintahan Uyainah).” Jadi, Amir Uthman dipaksa untuk memilih dua pilihan, membunuh Syeikh atau suku Badui itu menghentikan pembayaran upeti. Ancaman ini amat mempengaruhi pikiran Amir Uthman, karena upeti dari wilayah Badui sangat besar artinya baginya. Adapun upeti tersebut adalah terdiri dari emas murni. Didesak oleh tuntutan tersebut, terpaksalah Amir Uyainah memanggil Syeikh Muhammad untuk diajak berunding bagaimanakah mencari jalan keluar dari ancaman tersebut. Soalnya, dari pihak Amir Uthman tidak pernah sedikit pun terfikir untuk mengusir Syeikh Muhammad dari Uyainah, apalagi untuk membunuhnya. Tetapi, sebaliknya dari pihaknya juga tidak terdaya menangkis serangan pihak suku Badui itu. Maka, Amir Uthman meminta kepada Syeikh Muhammad supaya dalam hal ini demi keselamatan bersama dan untuk menghindari dari terjadinya pertumpahan darah, sebaiknya Syeikh bersedia mengalah untuk meninggalkan negeri Uyainah. Syeikh Muhammad menjawab seperti berikut: “Wahai Amir! Sebenarnya apa yang aku sampaikan dari dakwahku, tidak lain adalah DINULLAH (agama Allah), dalam rangka melaksanakan kandungan LA ILAHA ILLALLAH – Tiada Tuhan melainkan Allah, Muhammad Rasulullah. Maka barangsiapa berpegang teguh pada agama dan membantu pengembangannya dengan ikhlas dan yakin, pasti Allah akan mengulurkan bantuan dan pertolonganNya kepada orang itu, dan Allah akan membantunya untuk dapat menguasai negeri-negeri musuhnya. Saya berharap kepada anda Amir supaya bersabar dan tetap berpegang terhadap pegangan kita bersama terlebih dahulu, untuk sama-sama berjuang demi tegaknya kembali Dinullah di negeri ini. Mohon sekali lagi Amir menerima ajakan ini. Mudah-mudahan Allah akan memberi pertolongan kepada anda dan menjaga anda dari ancaman Badui itu, begitu juga dengan musuh-musuh anda yang lainnya. Dan Allah akan memberi kekuatan kepada anda untuk melawan mereka agar anda dapat mengambil alih daerah Badui untuk sepenuhnya menjadi daerah Uyainah di bawah kekuasaan anda.” Setelah bertukar fikiran di antara Syeikh dan Amir Uthman, tampaknya pihak Amir tetap pada pendiriannya, yaitu mengharapkan agar Syeikh meninggalkan Uyainah secepat mungkin. Dalam bukunya yang berjudul Al-Imam Muhammad bin `Abdul Wahab, Wada’ Watahu Wasiratuhu, Syeikh Muhammad bin `Abdul `Aziz bin `Abdullah bin Baz, beliau berkata: “Demi menghindari pertumpahan darah, dan karena tidak ada lagi pilihan lain, di samping beberapa pertimbangan lainnya maka terpaksalah Syeikh meninggalkan negeri Uyainah menuju negeri Dar’iyah dengan menempuh perjalanan secara berjalan kaki seorang diri tanpa ditemani oleh seorangpun. Beliau meninggalkan negeri Uyainah pada waktu dinihari, dan sampai ke negeri Dar’iyah pada waktu malam hari.” (Ibnu Baz, Syeikh `Abdul `Aziz bin `Abdullah, m.s 22) Tetapi ada juga tulisan lainnya yang mengatakan bahwa: Pada mulanya Syeikh Muhammad mendapat dukungan penuh dari pemerintah negeri Uyainah Amir Uthman bin Mu’ammar, namun setelah api pergerakan dinyalakan, pemerintah setempat mengundurkan diri dari percaturan pergerakan karena alasan politik (besar kemungkinan takut dipecat dari kedudukannya sebagai Amir Uyainah oleh pihak atasannya). Dengan demikian, tinggallah Syeikh Muhammad dengan beberapa orang sahabatnya yang setia untuk meneruskan dakwahnya. Dan beberapa hari kemudian, Syeikh Muhammad diusir keluar dari negeri itu oleh pemerintahnya. Bersamaan dengan itu, pihak berkuasa telah merencanakan pembunuhan ke atas diri Syeikh di dalam perjalanannya, namun Allah mempunyai rencana sendiri untuk menyelamatkan Syeikh dari usaha pembunuhan, wamakaru wamakarallalu wallahu khairul makirin. Mereka mempunyai rencana dan Allah mempunyai rencanaNya juga, dan Allah sebaik-baik pembuat rencana. Sehingga Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab selamat di perjalanannya sampai ke negeri tujuannya, yaitu negeri Dar’iyah. Syeikh Muhammad di Dar’iyah Sesampainya Syeikh Muhammad di sebuah kampung wilayah Dar’iyah, yang tidak berapa jauh dari tempat kediaman Amir Muhammad bin Saud (pemerintah negeri Dar’iyah), Syeikh menemui seorang penduduk di kampung itu, orang tersebut bernama Muhammad bin Sulaim al-`Arini. Bin Sulaim ini adalah seorang yang dikenal soleh oleh masyarakat setempat. Syeikh meminta izin untuk tinggal bermalam di rumahnya sebelum ia meneruskan perjalanannya ke tempat lain. Pada mulanya ia ragu-ragu menerima Syeikh di rumahnya, karena suasana Dar’iyah dan sekelilingnya pada waktu itu tidak tenteram, menyebabkan setiap tamu yang datang hendaklah melaporkan diri kepada pihak berkuasa setempat. Namun, setelah Syeikh memperkenalkan dirinya serta menjelaskan maksud dan tujuannya datang ke negeri Dar’iyah, yaitu hendak menyebarkan dakwah Islamiyah dan membenteras kemusyrikan, barulah Muhammad bin Sulaim ingin menerimanya sebagai tamu di rumahnya. Sesuai dengan peraturan yang wujud di Dar’iyah di kala itu, yang mana setiap tetamu hendaklah melaporkan diri kepada pihak berkuasa setempat, maka Muhammad bin Sulaim menemui Amir Muhammad untuk melaporkan tamunya yang baru tiba dari Uyainah dengan menjelaskan maksud dan tujuannya kepada beliau. Kononnya, ada riwayat yang mengatakan; bahwa seorang soleh datang menemui isteri Amir Ibnu Saud, ia berpesan untuk menyampaikan kepada suaminya, bahwa ada seorang ulama dari Uyainah yang bernama Muhammad bin `Abdul Wahab hendak menetap di negerinya. Beliau hendak menyampaikan dakwah Islamiyah dan mengajak masyarakat kepada sebersih-bersih tauhid. Ia meminta agar isteri Amir Ibnu Saud membujuk suaminya supaya menerima ulama tersebut agar dapat menjadi warga negeri Dar’iyah serta mau membantu perjuangannya dalam menegakkan agama Allah. Isteri Ibnu Saud ini sebenarnya adalah seorang wanita yang soleh. Maka, tatkala Ibnu Saud mendapat giliran ke rumah isterinya ini, si isteri menyampaikan semua pesan-pesan itu kepada suaminya. Selanjutnya ia berkata kepada suaminya: “Bergembiralah kakanda dengan keuntungan besar ini, keuntungan di mana Allah telah mengirimkan ke negeri kita seorang ulama, juru dakwah yang mengajak masyarakat kita kepada agama Allah, berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah RasulNya. Inilah suatu keuntungan yang sangat besar. Kanda jangan ragu-ragu untuk menerima dan membantu perjuangan ulama ini, mari sekarang juga kakanda menjemputnya kemari.” Akhirnya, baginda Ibnu Saud dapat diyakinkan oleh isterinya yang soleh itu. Namun, baginda bimbang sejenak. Ia berfikir apakah Syeikh itu dipanggil datang menghadapnya, ataukah dia sendiri yang harus datang menjemput Syeikh, untuk dibawa ke tempat kediamannya? Baginda pun meminta pandangan dari beberapa penasihatnya, terutama isterinya sendiri, tentang bagaimanakah cara yang lebih baik harus dilakukannya. Isterinya dan para penasihatnya yang lain sepakat bahwa sebaik-baiknya dalam hal ini, baginda sendiri yang harus datang menemui Syeikh Muhammad di rumah Muhammad bin Sulaim. Karena ulama itu didatangi dan bukan ia yang datang, al-`alim Yuraru wala Yazuru.’` Maka baginda dengan segala kerendahan hatinya menyetujui nasihat dan isyarat dari isteri maupun para penasihatnya. Maka pergilah baginda bersama beberapa orang pentingnya ke rumah Muhammad bin Sulaim, di mana Syeikh Muhammad bermalam. Sesampainya baginda di rumah Muhammad bin Sulaim; di sana Syeikh bersama anda punya rumah sudah bersedia menerima kedatangan Amir Ibnu Saud. Amir Ibnu Saud memberi salam dan keduanya saling merendahkan diri, saling menghormati. Amir Ibnu Saud berkata: “Ya Syeikh! Bergembiralah anda di negeri kami, kami menerima dan menyambut kedatangan anda di negeri ini dengan penuh gembira. Dan kami berikrar untuk menjamin keselamatan dan keamanan anda Syeikh di negeri ini dalam menyampaikan dakwahnya kepada masyarakat Dar’iyah. Demi kejayaan dakwah Islamiyah yang anda Syeikh rencanakan, kami dan seluruh keluarga besar Ibnu Saud akan mempertaruhkan nyawa dan harta untuk bersama-sama anda Syeikh berjuang demi meninggikan agama Allah dan menghidupkan sunnah RasulNya sehingga Allah memenangkan perjuangan ini, Insya Allah!” Kemudian anda Syeikh menjawab: “Alhamdulillah, anda juga patut gembira, dan Insya Allah negeri ini akan diberkati Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kami ingin mengajak umat ini kepada agama Allah. Siapa yang menolong agama ini, Allah akan menolongnya. Dan siapa yang mendukung agama ini, nescaya Allah akan mendukungnya. Dan Insya Allah kita akan melihat kenyataan ini dalam waktu yang tidak begitu lama.” Demikianlah seorang Amir (penguasa) tunggal negeri Dar’iyah, yang bukan hanya sekadar membela dakwahnya saja, tetapi juga sekaligus membela darahnya bagaikan saudara kandung sendiri, yang berarti di antara Amir dan Syeikh sudah bersumpah setia sehidup-semati, senasib, dalam menegakkan hukum Allah dan RasulNya di bumi persada tanah Dar’iyah. Ternyata apa yang diikrarkan oleh Amir Ibnu Saud itu benar-benar ditepatinya. Ia bersama Syeikh seiring sejalan, bahu-membahu dalam menegakkan kalimah Allah, dan berjuang di jalanNya. Sehingga cita-cita dan perjuangan mereka disampaikan Allah dengan penuh kemenangan yang gilang-gemilang. Sejak hijrahnya Tuan Syeikh ke negeri Dar’iyah, kemudian melancarkan dakwahnya di sana, maka berduyun-duyunlah masyarakat luar Dar’iyah yang datang dari penjuru Jazirah Arab. Di antara lain dari Uyainah, Urgah, Manfuhah, Riyadh dan negeri-negeri jiran yang lain, menuju Dar’iyah untuk menetap dan bertempat tinggal di negeri hijrah ini, sehingga negeri Dar’iyah penuh sesak dengan kaum muhajirin dari seluruh pelosok tanah Arab. Nama Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab dengan ajaran-ajarannya itu sudah begitu popular di kalangan masyarakat, baik di dalam negeri Dar’iyah mahupun di luar negerinya, sehingga ramai para penuntut ilmu datang berbondong-bondong, secara perseorangan maupun secara berombongan datang ke negeri Dar’iyah. Maka menetaplah Syeikh di negeri Hijrah ini dengan penuh kebesaran, kehormatan dan ketenteraman serta mendapat sokongan dan kecintaan dari semua pihak. Beliau pun mulai membuka madrasah dengan menggunakan kurikulum yang menjadi teras bagi rencana perjuangan beliau, yaitu bidang pengajian ‘Aqaid al-Qur’an, tafsir, fiqh, usul fiqh, hadith, musthalah hadith, gramatika (nahu/saraf)nya serta lain-lain lagi dari ilmu-ilmu yang bermanfaat. Dalam waktu yang singkat saja, Dar’iyah telah menjadi kiblat ilmu dan kota pelajar penuntut Islam. Para penuntut ilmu, tua dan muda, berduyun-duyun datang ke negeri ini. Di samping pendidikan formal (madrasah), diadakan juga dakwah, yang bersifat terbuka untuk semua lapisan masyarakat umum, begitu juga majlis-majlis ta’limnya. Gema dakwah beliau begitu membahana di seluruh pelosok Dar’iyah dan negeri-negeri jiran yang lain. Kemudian, Syeikh mula menegakkan jihad, menulis surat-surat dakwahnya kepada tokoh-tokoh tertentu untuk bergabung dengan barisan Muwahhidin yang dipimpin oleh beliau sendiri. Hal ini dalam rangka pergerakan pembaharuan tauhid demi membasmi syirik, bid’ah dan khurafat di negeri mereka masing-masing. Untuk langkah awal pergerakan itu, beliau memulai di negeri Najd. Beliau pun mula mengirimkan surat-suratnya kepada ulama-ulama dan penguasa-penguasa di sana. Berdakwah Melalui Surat-menyurat Syeikh menempuh pelbagai macam dan cara, dalam menyampaikan dakwahnya, sesuai dengan keadaan masyarakat yang dihadapinya. Di samping berdakwah melalui lisan, beliau juga tidak mengabaikan dakwah secara pena dan pada saatnya juga jika perlu beliau berdakwah dengan besi (pedang). Maka Syeikh mengirimkan suratnya kepada ulama-ulama Riyadh dan para umaranya, yang pada ketika itu adalah Dahkan bin Dawwas. Surat-surat itu dikirimkannya juga kepada para ulama Khariq dan penguasa-penguasa, begitu juga ulama-ulama negeri Selatan, seperti al-Qasim, Hail, al-Wasyim, Sudair dan lain-lainnya. Beliau terus mengirimkan surat-surat dakwahnya itu ke sleuruh penjuru Arab, baik yang dekat ataupun jauh. Semua surat-surat itu ditujukan kepada para umara dan ulama, dalam hal ini termasuklah ulama negeri al-Ihsa’, daerah Badwi dan Haramain (Mekah – Madinah). Begitu juga kepada ulama-ulama Mesir, Syria, Iraq, Hindia, Yaman dan lain-lain lagi. Di dalam surat-surat itu, beliau menjelaskan tentang bahaya syirik yang mengancam negeri-negeri Islam di seluruh dunia, juga bahaya bid’ah, khurafat dan tahyul. Bukanlah bererti bahwa ketika itu tidak ada lagi perhatian para ulama Islam setempat kepada agama ini, sehingga seolah-olah bagaikan tidak ada lagi yang memperahtikan masalah agama. Akan tetapi yang sedang kita bicarakan sekarang adalah masalah negeri Najd dan sekitarnya. Tentang keadaan negeri Najd, di waktu itu sedang dilanda serba kemusyrikan, kekacauan, keruntuhan moral, bid’ah dan khurafat. Kesemuanya itu timbul bukanlah karena tidak adanya para ulama, malah ulama sangat ramai jumlahnya, tetapi kebanyakan mereka tidak mampu menghadapi keadaan yang sudah begitu parah. Misalnya, di negeri Yaman dan lainnya, di mana di sana tidak sedikit para ulamanya yang aktif melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, serta menjelaskan mana yang bid’ah dan yang sunnah. Namun Allah belum mentaqdirkan kejayaan dakwah itu dari tangan mereka seperti apa yang Allah taqdirkan kepada Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab. Berkat hubungan surat menyurat Syeikh terhadap para ulama dan umara dalam dan luar negeri, telah menambahkan kemasyhuran nama Syeikh sehingga beliau disegani di antara kawan dan lawannya, hingga jangkauan dakwahnya semakin jauh berkumandang di luar negeri, dan tidak kecil pengaruhnya di kalangan para ulama dan pemikir Islam di seluruh dunia, seperti di Hindia, Indonesia, Pakistan, Afthanistan, Afrika Utara, Maghribi, Mesir, Syria, Iraq dan lain-lain lagi. Memang cukup banyak para da’i dan ulama di negeri-negeri tersebut tetapi pada waktu itu kebanyakan di antara mereka yang kehilangan arah, meskipun mereka memiliki ilmu-ilmu yang cukup memadai. Begitu semarak dan bergemanya suara dakwah dari Najd ke negeri-negeri mereka, serentak mereka bangkit sahut-menyahut menerima ajakan Syeikh Ibnu `Abdul Wahab untuk menumpaskan kemusyrikan dan memperjuangkan pemurnian tauhid. Semangat mereka timbul kembali bagaikan pohon yang telah layu, lalu datang hujan lebat menyiramnya sehingga menjadi hijau dan segar kembali. Demikianlah banyaknya surat-menyurat di antara Syeikh dengan para ulama di dalam dan luar Jazirah Arab, sehingga menjadi dokumen yang amat berharga sekali. Akhir-akhir ini semua tulisan beliau, yang berupa risalah, maupun kitab-kitabnya, sedang dihimpun untuk dicetak dan sebagian sudah dicetak dan disebarkan ke seluruh pelosok dunia Islam, baik melalui Rabithah al-`Alam Islami, maupun terus dari pihak kerajaan Saudi sendiri ( di masa mendatang). Begitu juga dengan tulisan-tulisan dari putera-putera dan cucu-cucu beliau serta tulisan-tulisan para murid-muridnya dan pendukung-pendukungnya yang telah mewarisi ilmu-ilmu beliau. Di masa kini, tulisan-tulisan beliau sudah tersebar luas ke seluruh pelosok dunia Islam. Dengan demikian, jadilah Dar’iyah sebagai pusat penyebaran dakwah kaum Muwahhidin (gerakan pemurnian tauhid) oleh Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab yang didukung oleh penguasa Amir Ibnu Saud. Kemudian murid-murid keluaran Dar’iyah pula menyebarkan ajaran-ajaran tauhid murni ini ke seluruh pelusuk negeri dengan cara membuka sekolah-sekolah di daerah-daerah mereka. Namun, meskipun demikian, perjalanan dakwah ini tidak sedikit mengalami rintangan dan gangguan yang menghalangi. Tetapi setiap perjuangan itu tidak mungkin berjaya tanpa adanya pengorbanan. Sejarah pembaharuan yang digerakkan oleh Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab ini tercatat dalam sejarah dunia sebagai yang paling hebat dari jenisnya dan amat cemerlang. Di samping itu, hal ini merupakan suatu pergerakan perubahan besar yang banyak memakan korban manusia maupun harta benda. Karena pergerakan ini mendapat tentangan bukan hanya dari luar, akan tetapi lebih banyak datangnya dari kalangan sendiri, terutama dari tokoh-tokoh agama Islam sendiri yang takut akan kehilangan pangkat, kedudukan, pengaruh dan jamaahnya. Namun, oleh karena perlawanan sudah juga digencarkan muslimin sendiri, maka orang-orang di luar Islam pula, terutama kaum orientalis mendapat angin segar untuk turut campur-tangan membesarkan perselisihan diantara umat Islam sehingga terjadi saling membid’ahkan dan bahkan saling mengkafirkan. Masa-masa tersebut telah pun berlalu. Umat Islam kini sudah sedar tentang apa dan siapa kaum pengikut dakwah Rasulullah yang diteruskan Muhammad bin Abdul Wahhab (dijuluki Wahabi). Dan satu persatu kejahatan dan kebusukan kaum orientalis yang sengaja mengadu domba antara sesama umat Islam semenjak awal, begitu juga dari kaum penjajah Barat, semuanya kini sudah terungkap. Meskipun usaha musuh-musuh dakwahnya begitu hebat, sama ada dari kalangan dalam Islam sendiri, mahupun dari kalangan luarnya, yang dilancarkan melalui pena atau ucapan, yang ditujukan untuk membendung dakwah tauhid ini, namun usaha mereka sia-sia belaka, karena ternyata Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memenangkan perjuangan dakwah tauhid yang dipelopori oleh Syeikh Islam, Imam Muhammad bin `Abdul Wahab yang telah mendapat sambutan bukan hanya oleh penduduk negeri Najd saja, akan tetapi juga sudah menggema ke seluruh dunia Islam dari Maghribi sampai ke Merauke, malah kini sudah berkumandang pula ke seluruh jagat raya. Dalam hal ini, jasa-jasa Putera Muhammad bin Saud (pendiri kerajaan Arab Saudi) dengan semua anak cucunya tidaklah boleh dilupakan begitu saja, di mana dari masa ke masa mereka telah membantu perjuangan tauhid ini dengan harta dan jiwa. SIAPAKAH Salafiyyah ITU? SEBAGAIMANA yang telah disebutkan, bahwa Salafiyyah itu adalah suatu pergerakan pembaharuan di bidang agama, khususnya di bidang ketauhidan. Tujuannya ialah untuk memurnikan kembali ketauhidan yang telah tercemar oleh pelbagai macam bid’ah dan khurafat yang membawa kepada kemusyrikan. Untuk mencapai tujuan tersebut, Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab telah menempuh pelbagai macam cara. Kadangkala lembut dan kadangkala kasar, sesuai dengan sifat orang yang dihadapinya. Beliau mendapat pertentangan dan perlawanan dari kelompok yang tidak menyenanginya karena sikapnya yang tegas dan tanpa kompromi, sehingga lawan-lawannya membuat tuduhan-tuduhan ataupun pelbagai fitnah terhadap dirinya dan pengikut-pengikutnya. Musuh-musuhnya pernah menuduh bahwa Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab telah melarang para pengikutnya membaca kitab fiqh, tafsir dan hadith. Malahan ada yang lebih keji, yaitu menuduh Syeikh Muhammad telah membakar beberapa kitab tersebut, serta menafsirkan al-Qur’an menurut kehendak hawa nafsu sendiri. Apa yang dituduh dan difitnah terhadap Syeikh Ibnu `Abdul Wahab itu, telah dijawab dengan tegas oleh seorang pengarang terkenal, yaitu al-Allamah Syeikh Muhammad Basyir as-Sahsawani, dalam bukunya yang berjudul Shiyanah al-Insan di halaman 473 seperti berikut: “Sebenarnya tuduhan tersebut telah dijawab sendiri oleh Syeikh Ibnu `Abdul Wahab sendiri dalam suatu risalah yang ditulisnya dan dialamatkan kepada `Abdullah bin Suhaim dalam pelbagai masalah yang diperselisihkan itu. Diantaranya beliau menulis bahwa semua itu adalah bohong dan kata-kata dusta belaka, seperti dia dituduh membatalkan kitab-kitab mazhab, dan dia mendakwakan dirinya sebagai mujtahid, bukan muqallid.” Kemudian dalam sebuah risalah yang dikirimnya kepada `Abdurrahman bin `Abdullah, Muhammad bin `Abdul Wahab berkata: “Aqidah dan agama yang aku anut, ialah mazhab Ahli Sunnah wal Jamaah, sebagai tuntunan yang dipegang oleh para Imam Muslimin, seperti Imam-imam Mazhab empat dan pengikut-pengikutnya sampai hari kiamat. Aku hanyalah suka menjelaskan kepada orang-orang tentang pemurnian agama dan aku larang mereka berdoa (mohon syafaat) pada orang yang hidup atau orang mati daripada orang-orang soleh dan lainnya.” `Abdullah bin Muhammad bin `Abdul Wahab, menulis dalam risalahnya sebagai ringkasan dari beberapa hasil karya ayahnya, Syeikh Ibnu `Abdul Wahab, seperti berikut: “Bahwa mazhab kami dalam Ushuluddin (Tauhid) adalah mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan cara (sistem) pemahaman kami adalah mengikuti cara Ulama Salaf. Sedangkan dalam hal masalah furu’ (fiqh) kami cenderung mengikuti mazhab Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Kami tidak pernah mengingkari (melarang) seseorang bermazhab dengan salah satu daripada mazhab yang empat. Dan kami tidak mempersetujui seseorang bermazhab kepada mazhab yang luar dari mazhab empat, seprti mazhab Rafidhah, Zaidiyah, Imamiyah dan lain-lain lagi. Kami tidak membenarkan mereka mengikuti mazhab-mazhab yang batil. Malah kami memaksa mereka supaya bertaqlid (ikut) kepada salah satu dari mazhab empat tersebut. Kami tidak pernah sama sekali mengaku bahwa kami sudah sampai ke tingkat mujtahid mutlaq, juga tidak seorang pun di antara para pengikut kami yang berani mendakwakan dirinya dengan demikian. Hanya ada beberapa masalah yang kalau kami lihat di sana ada nash yang jelas, baik dari Qur’an mahupun Sunnah, dan setelah kami periksa dengan teliti tidak ada yang menasakhkannya, atau yang mentaskhsiskannya atau yang menentangnya, lebih kuat daripadanya, serta dipegangi pula oleh salah seorang Imam empat, maka kami mengambilnya dan kami meninggalkan mazhab yang kami anut, seperti dalam masalah warisan yang menyangkut dengan kakek dan saudara lelaki; Dalam hal ini kami berpendirian mendahulukan kakek, meskipun menyalahi mazhab kami (Hambali).” Demikianlah bunyi isi tulisan kitab Shiyanah al-Insan, hal. 474. Seterusnya beliau berkata: “Adapun yang mereka fitnah kepada kami, sudah tentu dengan maksud untuk menutup-nutupi dan menghalang-halangi yang hak, dan mereka membohongi orang banyak dengan berkata: `Bahwa kami suka mentafsirkan Qur’an dengan selera kami, tanpa mengindahkan kitab-kitab tafsirnya. Dan kami tidak percaya kepada ulama, menghina Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam’ dan dengan perkataan `bahwa jasad Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam itu buruk di dalam kuburnya. Dan bahwa tongkat kami ini lebih bermanfaat daripada Nabi, dan Nabi itu tidak mempunyai syafaat. Dan ziarah kepada kubur Nabi itu tidak sunat, Nabi tidak mengerti makna “La ilaha illallah” sehingga perlu diturunkan kepadanya ayat yang berbunyi: “Fa’lam annahu La ilaha illallah,” dan ayat ini diturunkan di Madinah. Dituduhnya kami lagi, bahwa kami tidak percaya kepada pendapat para ulama. Kami telah menghancurkan kitab-kitab karangan para ulama mazhab, karena didalamnya bercampur antara yang hak dan batil. Malah kami dianggap mujassimah (menjasmanikan Allah), serta kami mengkufurkan orang-orang yang hidup sesudah abad keenam, kecuali yang mengikuti kami. Selain itu kami juga dituduh tidak mahu menerima bai’ah seseorang sehingga kami menetapkan atasnya `bahwa dia itu bukan musyrik begitu juga ibu-bapaknya juga bukan musyrik.’ Dikatakan lagi bahwa kami telah melarang manusia membaca selawat ke atas Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam dan mengharamkan berziarah ke kubur-kubur. Kemudian dikatakannya pula, jika seseorang yang mengikuti ajaran agama sesuai dengan kami, maka orang itu akan diberikan kelonggaran dan kebebasan dari segala beban dan tanggungan atau hutang sekalipun. Kami dituduh tidak mahu mengakui kebenaran para ahlul Bait Radiyallahu ‘anhum. Dan kami memaksa menikahkan seseorang yang tidak kufu serta memaksa seseorang yang tua umurnya dan ia mempunyai isteri yang muda untuk diceraikannya, karena akan dinikahkan dengan pemuda lainnya untuk mengangkat derajat golongan kami. Maka semua tuduhan yang diada-adakan dalam hal ini sungguh kami tidak mengerti apa yang harus kami katakan sebagai jawapan, kecuali yang dapat kami katakan hanya “Subhanaka – Maha suci Engkau ya Allah” ini adalah kebohongan yang besar. Oleh karena itu, maka barangsiapa menuduh kami dengan hal-hal yang tersebut di atas tadi, mereka telah melakukan kebohongan yang amat besar terhadap kami. Barangsiapa mengaku dan menyaksikan bahwa apa yang dituduhkan tadi adalah perbuatan kami, maka ketahuilah: bahwa kesemuanya itu adalah suatu penghinaan terhadap kami, yang dicipta oleh musuh-musuh agama ataupun teman-teman syaithan dari menjauhkan manusia untuk mengikuti ajaran sebersih-bersih tauhid kepada Allah dan keikhlasan beribadah kepadaNya. Kami beri’tiqad bahwa seseorang yang mengerjakan dosa besar, seperti melakukan pembunuhan terhadap seseorang Muslim tanpa alasan yang wajar, begitu juga seperti berzina, riba’ dan minum arak, meskipun berulang-ulang, maka orang itu hukumnya tidaklah keluar dari Islam (murtad), dan tidak kekal dalam neraka, apabila ia tetap bertauhid kepada Allah dalam semua ibadahnya.” (Shiyanah al-Insan, m.s 475) Khusus tentang Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam, Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab berkata: “Dan apapun yang kami yakini terhadap martabat Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam bahwa martabat beliau itu adalah setinggi-tinggi martabat makhluk secara mutlak. Dan Beliau itu hidup di dalam kuburnya dalam keadaan yang lebih daripada kehidupan para syuhada yang telah digariskan dalam Al-Qur’an. Karena Beliau itu lebih utama dari mereka, dengan tidak diragukan lagi. Bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam mendengar salam orang yang mengucapkan kepadanya. Dan adalah sunnah berziarah kepada kuburnya, kecuali jika semata-mata dari jauh hanya datang untuk berziarah ke maqamnya. Namun Sunat juga berziarah ke masjid Nabi dan melakukan solat di dalamnya, kemudian berziarah ke maqamnya. Dan barangsiapa yang menggunakan waktunya yang berharga untuk membaca selawat ke atas Nabi, selawat yang datang daripada beliau sendiri, maka ia akan mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat.” Tantangan Dakwah Salafiyyah Sebagaimana lazimnya, seorang pemimpin besar dalam suatu gerakan perubahan , maka Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab pun tidak lepas dari sasaran permusuhan dari pihak-pihak tertentu, baik dari dalam maupun dari luar Islam, terutama setelah Syeikh menyebarkah dakwahnya dengan tegas melalui tulisan-tulisannya, berupa buku-buku mahupun surat-surat yang tidak terkira banyaknya. Surat-surat itu dikirim ke segenap penjuru negeri Arab dan juga negeri-negeri Ajam (bukan Arab). Surat-suratnya itu dibalas oleh pihak yang menerimanya, sehingga menjadi beratus-ratus banyaknya. Mungkin kalau dibukukan niscaya akan menjadi puluhan jilid tebalnya. Sebagian dari surat-surat ini sudah dihimpun, diedit serta diberi ta’liq dan sudah diterbitkan, sebagian lainnya sedang dalam proses penyusunan. Ini tidak termasuk buku-buku yang sangat berharga yang sempat ditulis sendiri oleh Syeikh di celah-celah kesibukannya yang luarbiasa itu. Adapun buku-buku yang sempat ditulisnya itu berupa buku-buku pegangan dan rujukan kurikulum yang dipakai di madrasah-madrasah ketika beliau memimpin gerakan tauhidnya. Tentangan maupun permusuhan yang menghalang dakwahnya, muncul dalam dua bentuk: 1. Permusuhan atau tentangan atas nama ilmiyah dan agama, 2. Atas nama politik yang berselubung agama. Bagi yang terakhir, mereka memperalatkan golongan ulama tertentu, demi mendukung kumpulan mereka untuk memusuhi dakwah Wahabiyah. Mereka menuduh dan memfitnah Syeikh sebagai orang yang sesat lagi menyesatkan, sebagai kaum Khawarij, sebagai orang yang ingkar terhadap ijma’ ulama dan pelbagai macam tuduhan buruk lainnya. Namun Syeikh menghadapi semuanya itu dengan semangat tinggi, dengan tenang, sabar dan beliau tetap melancarkan dakwah bil lisan dan bil hal, tanpa mempedulikan celaan orang yang mencelanya. Pada hakikatnya ada tiga golongan musuh-musuh dakwah beliau: 1. Golongan ulama khurafat, yang mana mereka melihat yang haq (benar) itu batil dan yang batil itu haq. Mereka menganggap bahwa mendirikan bangunan di atas kuburan lalu dijadikan sebagai masjid untuk bersembahyang dan berdoa di sana dan mempersekutukan Allah dengan penghuni kubur, meminta bantuan dan meminta syafaat padanya, semua itu adalah agama dan ibadah. Dan jika ada orang-orang yang melarang mereka dari perbuatan jahiliyah yang telah menjadi adat tradisi nenek moyangnya, mereka menganggap bahwa orang itu membenci auliya’ dan orang-orang soleh, yang bererti musuh mereka yang harus segera diperangi. 2. Golongan ulama taashub, yang mana mereka tidak banyak tahu tentang hakikat Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab dan hakikat ajarannya. Mereka hanya taqlid belaka dan percaya saja terhadap berita-berita negatif mengenai Syeikh yang disampaikan oleh kumpulan pertama di atas sehingga mereka terjebak dalam perangkap Ashabiyah (kebanggaan dengan golongannya) yang sempit tanpa mendapat kesempatan untuk melepaskan diri dari belitan ketaashubannya. Lalu menganggap Syeikh dan para pengikutnya seperti yang diberitakan, yaitu; anti Auliya’ dan memusuhi orang-orang shaleh serta mengingkari karamah mereka. Mereka mencaci-maki Syeikh habis-habisan dan beliau dituduh sebagai murtad. 3. Golongan yang takut kehilangan pangkat dan jawatan, pengaruh dan kedudukan. Maka golongan ini memusuhi beliau supaya dakwah Islamiyah yang dilancarkan oleh Syeikh yang berpandukan kepada aqidah Salafiyah murni gagal karena ditelan oleh suasana hingar-bingarnya penentang beliau. Demikianlah tiga jenis musuh yang lahir di tengah-tengah nyalanya api gerakan yang digerakkan oleh Syeikh dari Najd ini, yang mana akhirnya terjadilah perang perdebatan dan polemik yang berkepanjangan di antara Syeikh di satu pihak dan lawannya di pihak yang lain. Syeikh menulis surat-surat dakwahnya kepada mereka, dan mereka menjawabnya. Demikianlah seterusnya. Perang pena yang terus menerus berlangsung itu, bukan hanya terjadi di masa hayat Syeikh sendiri, akan tetapi berterusan sampai kepada anak cucunya. Di mana anak cucunya ini juga ditakdirkan Allah menjadi ulama. Merekalah yang meneruskan perjuangan al-maghfurlah Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab, yang dibantu oleh para muridnya dan pendukung-pendukung ajarannya. Demikianlah perjuangan Syeikh yang berawal dengan lisan, lalu dengan pena dan seterusnya dengan senjata, telah didukung sepenuhnya oleh Amir Muhammad bin Saud, penguasa Dar’iyah. Beliau pertama kali yang mengumandangkan jihadnya dengan pedang pada tahun 1158 H. Sebagaimana kita ketahui bahwa seorang da’i ilallah, apabila tidak didukung oleh kekuatan yang mantap, pasti dakwahnya akan surut, meskipun pada tahap pertama mengalami kemajuan. Namun pada akhirnya orang akan jemu dan secara beransur-ansur dakwah itu akan ditinggalkan oleh para pendukungnya. Oleh karena itu, maka kekuatan yang paling ampuh untuk mempertahankan dakwah dan pendukungnya, tidak lain harus didukung oleh senjata. Karena masyarakat yang dijadikan sebagai objek daripada dakwah kadangkala tidak mampan dengan lisan mahupun tulisan, akan tetapi mereka harus diiring dengan senjata, maka waktu itulah perlunya memainkan peranan senjata. Alangkah benarnya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ” Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami, dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan Mizan/neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan pelbagai manfaat bagi umat manusia, dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan RasulNya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat dan Maha Perkasa.” (al-Hadid:25) Ayat di atas menerangkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus para RasulNya dengan disertai bukti-bukti yang nyata untuk menumpaskan kebatilan dan menegakkan kebenaran. Di samping itu pula, mereka dibekalkan dengan Kitab yang di dalamnya terdapat pelbagai macam hukum dan undang-undang, keterangan dan penjelasan. Juga Allah menciptakan neraca (mizan) keadilan, baik dan buruk serta haq dan batil, demi tertegaknya kebenaran dan keadilan di tengah-tengah umat manusia. Namun semua itu tidak mungkin berjalan dengan lancar dan stabil tanpa ditunjang oleh kekuatan besi (senjata) yang menurut keterangan al-Qur’an al-Hadid fihi basun syadid yaitu, besi baja yang mempunyai kekuatan dahsyat. yaitu berupa senjata tajam, senjata api, peluru, senapan, meriam, kapal perang, nuklir dan lain-lain lagi, yang pembuatannya mesti menggunakan unsur besi. Sungguh besi itu amat besar manfaatnya bagi kepentingan umat manusia yang mana al-Qur’an menyatakan dengan Wama nafiu linasi yaitu dan banyak manfaatnya bagi umat manusia. Apatah lagi jika dipergunakan bagi kepentingan dakwah dan menegakkan keadilan dan kebenaran seperti yang telah dimanfaatkan oleh Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab semasa gerakan tauhidnya tiga abad yang lalu. Orang yang mempunyai akal yang sehat dan fikiran yang bersih akan mudah menerima ajaran-ajaran agama, sama ada yang dibawa oleh Nabi, mahupun oleh para ulama. Akan tetapi bagi orang zalim dan suka melakukan kejahatan, yang diperhambakan oleh hawa nafsunya, mereka tidak akan tunduk dan tidak akan mau menerimanya, melainkan jika mereka diiring dengan senjata. Demikianlah Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab dalam dakwah dan jihadnya telah memanfaatkan lisan, pena serta pedangnya seperti yang dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam sendiri, di waktu baginda mengajak kaum Quraisy kepada agama Islam pada waktu dahulu. Yang demikian itu telah dilakukan terus menerus oleh Syeikh Muhammad selama lebih kurang 48 tahun tanpa berhenti, yaitu dari tahun 1158 hinggalah akhir hayatnya pada tahun 1206 H. Adalah suatu kebahagiaan yang tidak terucapkan bagi beliau, yang mana beliau dapat menyaksikan sendiri akan kejayaan dakwahnya di tanah Najd dan daerah sekelilingnya, sehingga masyarakat Islam pada ketika itu telah kembali kepada ajaran agama yang sebenar-benarnya, sesuai dengan tuntunan Kitab Allah dan Sunnah RasulNya. Dengan demikian, maka maqam-maqam yang didirikan dengan kubah yang lebih mewah dari kubah masjid-masjid, sudah tidak kelihatan lagi di seluruh negeri Najd, dan orang ramai mula berduyun-duyun pergi memenuhi masjid untuk bersembahyang dan mempelajari ilmu agama. Amar ma’ruf ditegakkan, keamanan dan ketenteraman masyarakat menjadi stabil dan merata di kota mahupun di desa. Syeikh kemudian mengirim guru-guru agama dan mursyid-mursyid ke seluruh pelusuk desa untuk mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada masyarakat setempat terutama yang berhubungan dengan aqidah dan syari’ah. Setelah beliau meninggal dunia, perjuangan tersebut diteruskan pula oleh anak-anak dan cucu-cucunya, begitu juga oleh murid-murid dan pendukung-pendukung dakwahnya. Yang dipelopori oleh anak-anak Syeikh sendiri, seperti Syeikh Imam `Abdullah bin Muhammad, Syeikh Husin bin Muhammad, Syeikh Ibrahim bin Muhammad, Syeikh Ali bin Muhammad. Dan dari cucu-cucunya antara lain ialah Syeikh `Abdurrahman bin Hasan, Syeikh Ali bin Husin, Syeikh Sulaiman bin `Abdullah bin Muhammad dan lain-lain. Dari kalangan murid-murid beliau yang paling menonjol ialah Syeikh Hamad bin Nasir bin Mu’ammar dan ramai lagi jamaah lainnya dari para ulama Dar’iyah. Masjid-masjid telah penuh dengan penuntut-penuntut ilmu yang belajar tentang pelbagai macam ilmu Islam, terutama tafsir, hadith, tarikh Islam, ilmu qawa’id dan lain-lain lagi. Meskipun kecenderungan dan minat mansyarakat demikian tinggi untuk menuntut ilmu agama, namun mereka pun tidak ketinggalan dalam hal ilmu-ilmu keduniaan seperti ilmu ekonomi, pertanian, perdagangan, pertukangan dan lain-lain lagi yang mana semuanya itu diajarkan di masjid dan dipraktikkan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Setelah kejayaan Syeikh Muhammad bersama keluarga Amir Ibnu Saud menguasai daerah Najd, maka sasaran dakwahnya kini ditujukan ke negeri Mekah dan negeri Madinah (Haramain) dan daerah Selatan Jazirah Arab. Mula-mula Syeikh menawarkan kepada mereka dakwahnya melalui surat menyurat terhadap para ulamanya, namun mereka tidak mau menerimanya. Mereka tetap bertahan pada ajaran-ajaran nenek moyang yang mengkeramatkan kuburan dan mendirikan masjid di atasnya, lalu berduyun-duyun datang ke tempat itu meminta syafaat, meminta berkat, dan meminta agar dikabulkan hajat pada ahli kubur atau dengan mempersekutukan si penghuni kubur itu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebelas tahun setelah meninggalnya kedua tokoh mujahid ini, yaitu Syeikh dan Amir Ibnu Saud, kemudian tampillah Imam Saud bin `Abdul `Aziz untuk meneruskan perjuangan pendahulunya. Imam Saud adalah cucu kepada Amir Muhammad bin Saud, rekan seperjuangan Syeikh semasa beliau masih hidup. Berangkatlah Imam Saud bin `Abdul `Aziz menuju tanah Haram Mekah dan Madinah (Haramain) yang dikenal juga dengan nama tanah Hijaz. Mula-mula beliau bersama pasukannya berjaya menduduki Tha’if. Penaklukan Tha’if tidak begitu banyak mengalami kesukaran karena sebelumnya Imam Saud bin `Abdul `Aziz telah mengirimkan Amir Uthman bin `Abdurrahman al-Mudhayifi dengan membawa pasukannya dalam jumlah yang besar untuk mengepung Tha’if. Pasukan ini terdiri dari orang-orang Najd dan daerah sekitarnya. Oleh karena itu Ibnu `Abdul `Aziz tidak mengalami banyak kerugian dalam penaklukan negeri Tha’if, sehingga dalam waktu singkat negeri Tha’if menyerah dan jatuh ke tangan Salafy (pengikut Syaikh Muhammad). Di Tha’if, pasukan muwahidin membongkar beberapa maqam yang di atasnya didirikan masjid, di antara maqam yang dibongkar adalah maqam Ibnu Abbas Radiyallahu ‘anhu. Masyarakat setempat menjadikan maqam ini sebagai tempat ibadah, dan meminta syafaat serta berkat daripadanya. Dari Tha’if pasukan Imam Saud bergerak menuju Hijaz dan mengepung kota Mekah. Manakala Gubernur Mekah mengetahui sebab pengepungan tersebut (waktu itu Mekah di bawah pimpinan Syarif Husin), maka hanya ada dua pilihan baginya, menyerah kepada pasukan Imam Saud atau melarikan diri ke negeri lain. Ia memilih pilihan kedua, yaitu melarikan diri ke Jeddah. Kemudian, pasukan Saud segera masuk ke kota Mekah untuk kemudian menguasainya tanpa perlawanan sedikit pun. Tepat pada waktu fajar, Muharram 1218 H, kota suci Mekah sudah berada di bawah kekuasaan muwahidin sepenuhnya. Seperti biasa, pasukan muwahidin sentiasa mengutamakan sasarannya untuk menghancurkan patung-patung yang dibuat dalam bentuk kubah di perkuburan yang dianggap keramat, yang semuanya itu boleh mengundang kemusyrikan bagi kaum Muslimin.Maka semua lambang-lambang kemusyrikan yang didirikan di atas kuburan yang berbentuk kubah-kubah masjid di seluruh Hijaz, semuanya diratakan, termasuk kubah yang didirikan di atas kubur Khadijah Radiyallahu ‘anha, isteri pertama Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam. Bersamaan dengan itu mereka melantik sejumlah guru, da’i, mursyid serta hakim untuk ditugaskan di daerah Hijaz. Selang dua tahun setelah penaklukan Mekah, pasukan Imam Saud bergerak menuju Madinah. Seperti halnya di Mekah, Madinah pun dalam waktu yang singkat saja telah dapat dikuasai sepenuhnya oleh pasukan Muwahhidin di bawah panglima Putera Saud bin Abdul Aziz, peristiwa ini berlaku pada tahun 1220 H. Dengan demikian, daerah Haramain (Mekah – Madinah) telah jatuh ke tangan muwahidin. Dan sejak itulah status sosial dan ekonomi masyarakat Hijaz secara berangsur-angsur dapat dipulihkan kembali, sehingga semua lapisan masyarakat merasa aman, tenteram dan tertib, yang selama ini sangat mereka inginkan. Walaupun sebagai sebuah daerah yang ditaklukan, keluarga Saud tidaklah memperlakukan rakyat dengan sesuka hati. Keluarga Saud sangat baik terhadap rakyat terutama pada kalangan fakir miskin yang mana pihak kerajaan memberi perhatian yang berat terhadap nasib mereka. Dan tetaplah kawasan Hijaz berada di bawah kekuasaan muwahidin (Saudi) yang dipimpin oleh keluarga Saud sehingga pada tahun 1226 H. Setelah delapan tahun wilayah ini berada di bawah kekuasaan Imam Saud, pemerintah Mesir bersama sekutunya Turki, mengirimkan pasukannya untuk membebaskan tanah Hijaz, terutama Mekah dan Madinah dari tangan muwahidin sekaligus hendak mengusir mereka keluar dari daerah tersebut. Adapun sebab campurtangan pemerintah Mesir dan Turki itu adalah seperti yang telah dikemukakan pada bahagian yang lalu, yaitu karena pergerakan muwahidin mendapat banyak tantangan dari pihak musuh-musuhnya, bahkan musuh dari pihak dalam Islam sendiri apalagi dari luar Islam, yang bertujuan sama yaitu untuk mematikan dan memadamkan api gerakan dakwah Salafiyyah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Oleh karena musuh-musuh gerakan Salafiyyah tidak mempunyai kekuatan yang memadai untuk menentang pergerakan Wahabiyah, maka mereka menghasut pemerintah Mesir dan Turki dengan menggunakan nama agama, seperti yang telah diterangkan pada kisah yang lalu. Akhirnya pasukan Mesir dan Turki menyerbu ke negeri Hijaz untuk membebaskan kedua kota suci Mekah dan Madinah dari cengkaman kaum muwahiddin, sehingga terjadilah peperangan di antara Mesir bersama sekutunya Turki di satu pihak melawan pasukan muwahidin dari Najd dan Hijaz di pihak lain. Peperangan ini telah berlangsung selama tujuh tahun, yaitu dari tahun 1226 hingga 1234 H. Dalam masa perang tujuh tahun itu tidak sedikit kerugian yang dialami oleh kedua belah pihak, terutama dari pihak pasukan Najd dan Hijaz, selain kerugian harta benda, tidak sedikit pula kerugian nyawa dan korban manusia. Tetapi syukur alhamdulillah, setelah lima tahun berlangsung perang saudara di antara Mesir-Turki dan Wahabi, pihak Mesir maupun Turki sudah mulai jemu dan bosan menghadapi peperangan yang berkepanjangan itu. Akhirnya, secara perlahan-lahan mereka sedar bahwa mereka telah keliru, sekaligus mereka menyadari bahwa sesungguhnya gerakan Wahabi tidak lain adalah sebuah gerakan Aqidah murni dan patut ditunjang serta didukung oleh seluruh umat Islam. Dalam dua tahun terakhir menjelang selesainya peperangan, secara diam-diam gerakan muwahidin terus melakukan gerakan dakwah dan mencetak kader-kadernya demi penerusan gerakan aqidah di masa-masa akan datang. Berakhirnya peperangan yang telah memakan waktu tujuh tahun tersebut, membikin dakwah Salafiyyah mulai lancar kembali seperti biasa. Semua kekacauan di tanah Hijaz boleh dikatakan berakhir pada tahun 1239 H. Begitu juga dakwah Salafiyyah telah tersebar secara meluas dan merata ke seluruh pelusuk Najd dan sekitarnya, di bawah kepemimpinan Imam Turki bin `Abdullah bin Muhammad bin Saud, adik sepupu Amir Saud bin `Abdul `Aziz yang disebutkan dahulu. Semenjak kekuasaan dipegang oleh Amir Turki bin `Abdullah, suasana Najd dan sekitarnya berangsur-angsur pulih kembali, sehingga memungkinkan bagi keluarga Saud (al-Saud) bersama keluarga Syeikh Muhammad (al-Syeikh) untuk melancarkan kembali dakwah mereka dengan lisan dan tulisan melalui juru-juru dakwah, para ulama serta para Khutaba. Suasana yang sebelumnya penuh dengan huru-hara dan saling berperang, kini telah berubah menjadi suasana yang penuh aman dan damai menyebabkan syiar Islam kelihatan di mana-mana di seluruh tanah Hijaz, Najd dan sekitarnya. Sedangkan syi’ar kemusyrikan sudah hancur diratakan dengan tanah. Ibadah hanya kepada Allah, tidak lagi ke perkuburan dan makhluk-makhluk lainnya. Masjid mulai kelihatan semarak dan lebih banyak dikunjungi oleh umat Islam, dibanding ke maqam-maqam yang dianggap keramat seperti sebelumnya. Khususnya daerah Hijaz dengan kota Mekah dan Madinah, begitu lama terputus hubungan dengan Kerajaan (daulah) Saudiyah, yaitu semenjak perlanggaran Mesir dan sekutunya pada tahun 1226 -1342, yang bererti lebih kurang seratus duapuluh tujuh tahun wilayah Hijaz terlepas dari tangan dinasti Saudiyah. Dan barulah kembali ke tangan mereka pada tahun 1343 H, yaitu di saat daulah Saudiyah dipimpin oleh Imam `Abdul `Aziz bin `Abdurrahman bin Faisal bin Turki bin `Abdullah bin Muhammad bin Saud, cucu keempat dari pendiri dinasti Saudiyah, Amir Muhammad bin Saud al-Awal. Menurut sejarah, setelah Mekah – Madinah kembali ke pangkuan Arab Saudi pada tahun 1343, hubungan Saudi – Mesir tetap tidak begitu baik yang mana tidak ada hubungan diplomatik di antara kedua negara tersebut, meskipun kedua bangsa itu tetap terjalin ukhuwah Islamiyah. Namun setelah Raja Faisal menaiki tahta menjadi ketua negara Saudi, hubungan Saudi – Mesir disambung kembali hingga kini. Wafatnya Muhammad bin `Abdul Wahab telah menghabiskan waktunya selama 48 tahun lebih di Dar’iyah. Keseluruhan hidupnya diisi dengan kegiatan menulis, mengajar, berdakwah dan berjihad serta mengabdi sebagai menteri penerangan Kerajaan Saudi di Tanah Arab. Dan Allah telah memanjangkan umurnya sampai 92 tahun, sehingga beliau dapat menyaksikan sendiri kejayaan dakwah dan kesetiaan pendukung-pendukungnya. Semuanya itu adalah berkat pertolongan Allah dan berkat dakwah dan jihadnya yang gigih dan tidak kenal menyerah waktu itu. Kemudian, setelah puas melihat hasil kemenangannya di seluruh negeri Dar’iyah dan sekitarnya, dengan hati yang tenang, perasaan yang lega, Muhammad bin `Abdul Wahab menghadap Tuhannya. Beliau kembali ke Rahmatullah pada tanggal 29 Syawal 1206 H, bersamaan dengan tahun 1793 M, dalam usia 92 tahun. Jenazahnya dikebumikan di Dar’iyah (Najd). Semoga Allah melapangkan kuburnya, dan menerima segala amal solehnya serta mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Amin Balas
  • 29. narimo  |  Juni 12, 2007 pukul 7:15 am

    MAS GRANDONG KI KEPRIBEN LHA KIYE,
    LHA KERAJAAN SAUDI ITU JELAS BIANGNYA WAHABI, aL SAUD DAN IBN WAHAB KHAN BERKONPIRASI, LAHIRNYA YA WAHABISME, LALU DENGAN MODAL UANG KASIH IMING-IMING ANAK-ANAK MUDA KITA BUAT BELAJAR GARATIS DI SANA, TETAPI MANA ADA DI DUNIA YANG GRATIS…… IMBALANNYA ADALAH ANAK-ANAK MUDA ITU WAJIB MENGEMBANGKAN WAHABI KE DAERAH MASING-MASING.
    MAS GRANDONG YA … SIRA JANGAN KE GE ER AN, NGANGGAP KALO WAHABI ITU PENJAGA MASJID NABAWI, KA’ BAH KOTA SUCI MEKKAH. SIAPA YANG MENDAULATNYA? WONG MEREKA DI GELITIK SADDAM SAJA SUDAH LARI KE BAWAH KETIAK AMRIK. SAMBIL MERINTIH SEDIH MEREKA MEMOHON TENTARA KAFIR MELINDUNGI MEREKA. LIHAT TUH, NGLINDUNGI DIRI AJA TIDAK TEYENG(TIDAK MAMPU) KOK PUNYA KLAIM PENJAGA KOTA SUCI DAN ISINYA, UTOPIS.

    Balas
  • 30. ind. F.B.  |  Juni 12, 2007 pukul 9:25 am

    andaikata wahabi ditujukan kepada orang yang anti tahlilan, anti muludan, anti barjanjian, anti sholawatan, anti marhabaan, anti akikah dihari ke40, anti usoli, anti qunut, anti sholat hajat, anti ustadz dukun, anti jimat, anti dzikir berjamaah, anti wirid yang jumlahnya ribuan, anti muhasabah berjamaah, anti bersekutu dengan jin, MAKA SAYA ADALAH WAHABI. walaupun saya sendiri tidak pernah mengenal siapa sebenarnya Muhammad bin Abdul Wahab.

    Balas
  • 31. Annajma  |  Juni 12, 2007 pukul 10:01 pm

    Ilmiah….? jawaban yang ilmiah…?
    ILMIAH APA SIH ?

    Balas
  • 32. Annajma  |  Juni 12, 2007 pukul 10:03 pm

    Apa sih arti penjabaran kata ILMIAH di benak saudaraku WAHABIYUN ?

    Balas
  • 33. Annajma  |  Juni 12, 2007 pukul 10:17 pm

    Hamdan li robby, yang telah memberikan akal dan pikiran yang sehat bagi para Hambanya.

    Ya Allah, janganlan kau jadikan akal dan pikiran yang telah kau berikan pada kami menjadi sabab untuk melecehkan-MU dan Rasulmu.

    Tetapi jadikanlah Akal dan Pikiran kami sebagai Alat untuk semakin dekat dan cinta dengan-MU dan Rasul-MU.

    Untuk itu sucikanlah Akal dan Pikiran kami dan Jernihkanlah panca indera kami, agar dapat BERIBADAH , MENCINTAI-MU DAN MENCINTAI RASULMU dengan TULUS dan IKHLAS kepada-MU.

    Amiin

    Balas
  • 34. Annajma  |  Juni 12, 2007 pukul 10:38 pm

    Sungguh Allah swt bershalawat kepada Nabi Muhammad saw.
    Sungguh para malaikat juga bershalawat kepada Nabi Muhammad.

    ” Innallaha wa malaaikatahu yusholluuna ‘ala nnaby, yaa ayyuha lladziina aamanuu sholluu alaihi wa sallim muutasliimmaa..”

    Dan sungguh kita diperintahkan agar bershalawat kepada Naby Muhammad saw.

    Dan sungguh secara tidak sadar saudaraku yg ber-wahabiyah, juga bershalawat kepada Naby pada waktu setiap shalatnya ” Attahiyatul Mubaarokatush ………sampai selesai ”

    Tetapi kenapa …..tidak konsekwen dengan hujjahnya….???
    Yang melarang untuk bershalawat dan bertawassul..?

    Wallahu a’lamu ma fis samaawaati wal ardhi.

    Balas
  • 35. Sunni  |  Juni 25, 2007 pukul 3:02 pm

    Ya..
    Sholawat andakan dibuat-buat sendiri, tidak sesuai apa yang diajarkan oleh Rosulullah.

    Ada Sholawat Badar, ada sholawat … dst
    Buatan siapa itu ?

    Balas
  • 36. haulasyiah  |  Juni 28, 2007 pukul 12:06 am

    yang pertama sebelum ngomong yang nggak bener, tampilan blognya dirubah buat sakit mata
    yang kedua nasehat untuk anda kalau nukilan pendapat ulama’ jangan separuh-separuh dan jangan diputus-putus……fahimta.

    Balas
  • 37. abu ghonam  |  Juli 6, 2007 pukul 8:45 am

    Ilmiah adalah sesuai dengan qur’an dan sunnah dengan pemahaman para sahabat dan orang yang mengikuti mereka sampai hari kiamat…beda lagi dengan orang2 si’ah, maka “ilmiah” menurut kalian pasti beda wahai orang2 bangkrut…seenaknya saja kalian melecehkan sunnah dn memprovokasi sunni yang awam untuk menjauhi sunnah…

    adapun sholawat itu adalah seperti yang dicontohkan rasulullaah saja seperti pada sholat dll…bukan sholawat bid’ah yang dibikin nenek moyang kalian yang gaku2 ahlil bait ….camkan itu wahai orang2 bangkrut…kecintaan kalian pada ahlil bait hanya sebatas air mata saja/…..ikutilah petunjuk rasulullaah…nenek moyangnya orang islam…pertalian darah tidak akan membawa kalian ke syurga…………….

    Balas
  • 38. abu ghonam  |  Juli 6, 2007 pukul 8:49 am

    Bukankah meratakan kuburan juga adalah wasiat ali dalam hadits shahih muslim!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    bahwa beliau mewasiatkan untuk menghancurkan patung2 dan meratakan kuburan….sampai hanya sejengkal saja……..

    untunglah adanya da’wah syaikh meniadakan khurafat pada pemakaman baqi yang dulunya sempat dipuja2 dan disembah seperti kuburan2 wali di negara kita ataupun kuburan2 [pra sufi di sekitar afrika utara, mesir afrika timur dan lain lain…juga di Iran yang terlalu berlebihan…

    adakah ini sebagai pengajaran wahai penyembah kubur!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    Balas
  • 39. abu yusuf  |  Juli 14, 2007 pukul 5:25 pm

    Sungguh Allah swt bershalawat kepada Nabi Muhammad saw.
    Sungguh para malaikat juga bershalawat kepada Nabi Muhammad.
    Benar sekali wahai saudaraku adapun sholawat yang diajarkan oleh Rosululloh adalah sholawat ibrohimiyah”Allohumma sholli’ala muhammad wa’ala ali Muhammad kama shollayta ‘ala Ibrohim…innaka khamidummajid”
    akan tetapi kita temui sholawat-sholawat yang tidak pernah Rosululloh ajarkan. Jadi kami tidak pernah melarang sholawat asalkan sesuai dengan petunjuk Rosululloh. Adapun Tawasul kami juga tidak melarangnya asalkan juga sesuai dengan petunjuk Rosululloh. Seperti:
    1. Tawassul dengan nama-nama Alloh sebelum berdo’a contohnya adalah dzikir rosululloh sebelum tidur beliau membaca” Robbassab’a assamaawaat… Tuhan langit yang tujuh… kemudian baru beliau berdo’a
    2. Tawassul dengan amal sholih seperti kisah dalam hadits tentang tiga orang yang terjebak dalam gua kemudian berdo’a dengan menunjukkan amal sholih mereka
    3. Tawassul dengan memintakan do’a kepada orang sholih yang berada di sekitarnya dan tidak memerlukan perjalanan yang jauh.
    Wallohua’lam

    Balas
  • 40. Abu BH  |  Juli 16, 2007 pukul 6:19 am

    Apakah salafiyun juga diberi wasiat untuk menghalalkan darah sesama muslim? Siapa yang memberi wasiat?
    Kalo memang begitu, ente-ente gak jauh beda dengan mereka persis di kitab Talmud yang menganggap diluar golongannya orang Ghoyim!

    -Burhan Hasan-

    Balas
  • 41. HE_HE_HE  |  Juli 18, 2007 pukul 2:55 pm

    ORANG NU, KALO MAU TAHLIL, MULUDAN, RAJABAN, SILAHKAN … MONGGOOOOO ….. PAKE DUPA ALIAS MENYAN SEKILOOOO BIAR KULIT KAKEK KALIAN DIASEPIN TERRUSSSSS …. BIAR AWEEEETTTTT……. MONGGOOOOOOOOOOOO ….,

    NYANG MENGABDI SAMA AMERIKA DI JAZIRAH ARAB SANA, SILAHKAN ,…. MONGGGOOOOOOO …..

    GUWE NYANG BIKIN ONAR INI REPUBLIK KAFIR ….. DIMONGGGOIN GAK SICHHHH …………

    MONGGGOOOOOOOOOOO NYANG MAU GABUNG AME TERORIS … MONGGGOOOO …….

    Balas
  • 42. MQ  |  Juli 24, 2007 pukul 6:46 am

    Untuk Mas Grandong

    Muhammad Abdul Wahab yang mengizinkan Ibnu Saud yang jadi pemimpin ? Seorang raja ? Mengangkat raja jadi seorang pemimpin ulama ? Berarti ulama yang dikendalikan seorang raja yang secara otomatis mengabdi kpd kepentingan politik dan hal2 duniawi. Wah pantas saja menghalalkan darah kaum muslimin. Jangan2 bukan ulama lg.

    Pernahkah Rasul SAW membunuh seorang yang sudah bersyahadat apalagi shalat di mesjid. Hati-hati mas-mas salafiyun Iblis diusir dari surga karena merasa lebih baik dari Nabi Adam as. Jangan dicontoh. Para ulama madzhab saja yg jelas2 hafal Quran dan ribuan hadist tidak saling mengkafirkan. Atau mas-mas Salafiyun sudah dapat mandat ya ? Dari Allah atau dari raja nih ?

    Balas
  • 43. abu yusuf  |  Juli 26, 2007 pukul 1:46 pm

    Ikhwan fillah rohimany wa rohimakumulloh
    untuk diketahui saja salafi itu bagi yang paham bukanlah kelompok bahkan yang memahami bahwa salafi itu adalah kelompok justru dia keliru. Salafi itu adalah manhaj atau cara dalam memahami agama Islam, caranya siapa? Ya caranya para salafush sholih atau pendahulu kita yang diberi petunjuk. Siapa mereka? Bukankah rosululloh memberitahukan kepada kita siapa mereka? Yaitu “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian yang mengikutinya, kemudian yang mengikutinya” generasiku/qurunku(qurun dalam perhitungan orang arab adalah 100th) yaitu Nabi Muhammad saw dan para sahabat, kemudian yang mengikutinya adalah para tabi’in, dan yang mengikutinya lagi adalah para tabi’ut tabi’in. Jadi kita ikuti apa yang diberitahukan oleh Rosululloh yang berbicara tidak berdasar nafsu tapi atas adasar wahyu yang diwahyukan. bukankah Rosululloh itu untuk diikuti? Kita tidak akan menemukan siapa ketua salafi Indonesia? Wakil daerah dll.
    Dalam hal pengkafiran sangat membutuhkan banyak faktor untuk menyatakan kekafiran, kita dilarang “menunjuk hidung” seseorang sebagai kafir kecuali yang diberiahukan dalam Al Quran dan hadits seperti Abu Lahab, dan lain-lain. Fonis kafir ini sangat berbahaya. Bahkan Negara kita dan yang lebih parah Saudipun telah dikafirkan oleh orang-orang tertentu yang mengaku da’i tanpa tahu syarat-syarat negara itu kafir. Yang menganggap Indonesia sebagai negeri kafir kenapa nggak hijroh saja ke negeri Islam? Dimanakah negeri Islam itu?
    Buat ikhwan yang bangga menjadi teroris kita sudah mendapat pelajaran berharga dari surat An Nazi’at mungkin antum lebih paham, bahwa nabi Musa diutus oleh Alloh kepada raja Fir’aun sedholim-dholim manusia. Disuruh apa? Demo? Bom bunuh diri? Tidak ya akhi, tapi firman Alloh” katakan(musa) maukah kamu mensucikan diri?” artinya tegakkan hujjah dulu, dinasehati baik-baik begitulah Islam mempunyai cara dalam menasehati seseorang. Orang-orang kafir tertawa melihat kita yang tidak menggunakan hukum Alloh tapi malah menggunakan hukum mereka. Dan bukankah demo itu berarti tidak rela dengan takdir Alloh? Menolak takdir berarti? antum lebih paham. Wallohua’lam

    Balas
  • 44. orang awam  |  Juli 29, 2007 pukul 3:54 pm

    Biografi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

    Di sana ada nama Syeikh Muhammad al-Majmu’i sebagai pendukung dan gurunya. Dia ini kemungkinan besaaar Mr. Hempher, seorang orientalis dan agen Inggris.

    Kalau bukan.. siapakah dia, adakah murid2nya yg lain?

    Balas
  • 45. samaranji  |  Agustus 6, 2007 pukul 10:47 am

    ASSALAMU’ALAIKUM WR. WB.

    katur kagem sedulur he_he_he (siapapun anda)
    SUMONGGO anda berpendapat sak’udele dw

    Seingat saya, diutusnya Baginda Rasulullah SAW untuk menyempurnakan akhlaq.
    Koq masih ada ya orang Islam ngomongnya ga pake akhlaq (eh…, jangan-jangan emang ga Islam)

    WASSALAMU’ALAIKUM WR. WB.

    Balas
  • 46. me2x  |  Agustus 8, 2007 pukul 5:23 am

    ayyuhal wahabiyun wa majnunnun wa sudrun wasalafiyyun wa kontolun lagaknya kayak yang paling bener….ente ngentot kagak pake nikah..halal..ngewe’ sesama jama’ah halal…

    ente semua turunan iblis yang lagi pada menyamar…..pake cadar..di dalam…parah…sex bebas….

    Balas
  • 47. qeiz  |  Agustus 17, 2007 pukul 3:04 pm

    assalamu’alaykum,saudaraku
    berdzikirlah sesuai syari’at
    bershalawatlah sesuai syari’at
    bertawassul lah sesuai syri’at
    janganlah memamerkan…
    janganlah berlebihan…….
    janganlah menyia-nyiakan..
    kelak kalian akan tau kebenarannya nanti….
    salam ukhuwah untuk smua saudaraku
    wassalamu’alaykum

    Balas
  • 48. Aba Fadhil  |  September 13, 2007 pukul 3:13 am

    Nasib kita nih sebagai muslim kerjaannya di obok2 terus. Yang mengherankannya sekarang yang mengobok-obok & merusak islam justru dari kalangan muslim sendiri yang mengaku pahamnya paling benar dan yang lain kafir.
    Para imam Madzhab yang ilmunya melebihi kita saja bisa saling menghormati beda pendapat di antara mereka dan tidak berani “merasa paling benar” dan “mengkafirkan” yang lain.
    Orang sekarang ilmu agamanya aja pas-pasan udah berani nuduh “kafir” kepada kelompok lain.
    Saya cuma sedikit saran buat yang ikut kelompok yang “merasa paling benar” dan sering “mengkafirkan” kelompok lain.
    sebelum mengkafirkan kelompok lain, belajar dulu “tarikh islam” yang benar, dengan pikiran yang jernih dan objektif, jangan kayak “katak dalam tempurung” hanya tahu sejarah dari kitab karangan kelompoknya sendiri yang notabene sudah di manipulasi.

    Balas
  • 49. sobari  |  September 23, 2007 pukul 8:38 pm

    ass wr wb. sungguh lucu umat ini……
    semua ribut alirannya yang paaling benar. padahal keturunan nabi kita ada di tengah
    tengah kita. kenapa kita nggak mengikuti mereka saja ( tentunya yang alim di kalangan
    mereka).
    karena mereka pasti tidak akan menjauhkan kita dari agama islam yang sebenarnya, kare
    na merekalah yang lebih mengetahui daripada kita. ulama ulama mereka jauh lebih
    mengerti tentang islam dari ulama ulama yang lain.

    mereka belajar dari ayah ayah mereka
    yang bersambung ke rasulallah.
    jadi kalau kita pakai logika yang waras, tentu mereka lebih tahu.

    kalau mau pakai hadist, rasulallah bersabda” kutinggalkan kalian 2 pesan yang kalau kali
    an berpegang teguh kepada keduanya kalian akan selamat dunia dan akhirat. pertama
    al quran kitab yang ke dua adalah ahlubaitku, itrahku (keturunanku) sungguh aku akan
    tanyakan tentang kedua hal itu. maka jangan kamu mendahuluinya , agar kamu tidak cel
    aka, dan jangan kamu teledor (dari mengikuti mereka), agar kamu tidak celaka, serta
    jangan kamu mengajari mereka sebab mereka (ahlulbait) lebih mengerti dari kamu.

    NB: dari 100 parawi yang membawakan hadis, hanya 5 yang mengatkan pesan rasulallah
    kita harus “mengikuti qur’an dan sunnah”

    jadi menurut saya…ikutin ajah pesan rasulallah…ikutin “itrahnya” karena turunan nabi mem
    ang beda dengan manusia biasa. itu memang sudah hak mutlak nya allah. gak bisa di
    protes. di quran ajah allah sering bilang allah akan memasukan orang ke neraka atau ke
    surga kepada siapa saja yang dia kehendaki.

    jadi……kalau menurut wahabi ziarah ke makam rasulallah itu bisa musyrik….al quran di
    injek juga boleh dong??? khan cuma buku…….
    pasti gak boleh khan karena isinya kalam allah…..
    begitu juga nyiumin makam makam para wali apalagi rasul allah…. bukan makam nya yg
    di cium…..tp di bayangkan isinya…..
    paham?????
    buat saudara saudara yang wahabi……..belajar lagi deh…..tapi jangan belajar kimia
    sama guru ngaji…..belajar kimia sama guru kimia. belajar islam ya sama keluarga pemilik
    nya…… ahlulbait!!!!

    Balas
  • 50. sobari  |  September 23, 2007 pukul 9:52 pm

    tolong tutur kata yang sopan mas !!! islam nggak ngajar ahlak kayak gitu

    Balas
  • 51. sobari  |  September 23, 2007 pukul 10:03 pm

    abu ghodam…………. wasiat ali ra supaya meratakan kuburan khusus buat dirinya, karena rasulallah bilang, ya ali akan ada 2 golongan manusia yang akan celaka. dan semua karena engkau… yang pertama adalah orang yang terlalu mengagungkan engkau seperti isa untuk umat nasrani. itu adalah kaum ghulat yang sekarang sudah tidak ada lagi.
    yang ke 2 adalah kaum yang meningkari keutamaan engkau dan membenci dirimu. yang ini masih banyak sampai sekarang dari jaman muawiyah sampai hari ini.
    insya allah saya salah, tapi kelihatannya kaum wahabi adalah cenderung ke yang ke 2. aliran muawiyah bin abu sofyan. karena yang di perangi adalah ajaran bid’ah hasanah yg notabene dibawa oleh pra habaib ( keturunan rasulallah) melalui ali ibn abi thalib.

    Balas
  • 52. santo  |  Oktober 24, 2007 pukul 7:45 am

    Diriwayatkan dari Anas dari Rasulullah saw., dia
    berkata bahwa ketika Rasulullah saw. sedang duduk,
    kami melihat beliau tertawa sampai terlihat gigi
    depannya. Maka Umar bertanya, “Apa yang membuatmu
    tertawa wahai Rasulullah?’ Rasulullah saw. menjawab,
    “Dua orang dari umatku duduk berlutut di hadapan
    Rabbul Izzah (Allah swt.), salah satu darinya berkata,
    ‘Ya Tuhan, berikanlah hakku karena kezaliman yang
    dilakukan saudaraku atas diriku.’ Maka Allah swt.
    berfirman, ‘Berikan kepada saudaramu haknya karena
    kezalimanmu.’ Orang itu menjawab, ‘Wahai Tuhan,
    kebaikan-Ku sudah tidak tersisa lagi.’ Maka Allah
    berfirman kepada penuntut keadilan, ‘Bagaimana
    menurutmu, kebaikannya sudah tidak tersisa lagi
    sedikitpun?’ Penuntut keadilan tersebut berkata,
    ‘Wahai Tuhan, aku mau dia menanggung dosa-dosaku.’”
    Anas berkata, “Air mata Rasulullah meleleh karena
    menangis, kemudian bersabda, ‘Sungguh hari itu adalah
    hari besar. Hari di mana setiap manusia butuh
    seseorang yang mau menanggung dosa-dosanya.’
    Rasulullah kembali berkata, ‘Kemudian Allah berfirman
    kepada penuntut keadilan, ‘Angkatlah kepalamu dan
    lihatlah di dalam surga!’ Maka penuntut keadilan
    mengangkat kepalanya dan berkata, ‘Wahai Tuhan, aku
    melihat kota-kota terbuat dari perak yang menjulang
    dan istana-istana dari emas bermahkota mutiara, untuk
    nabi siapa ini, ya Allah? Atau untuk shiddiq (orang
    yang jujur dan benar imannya) yang mana? Atau untuk
    syahid yang mana?’ Allah berfirman, ‘Bagi orang yang
    memberikan-Ku sesuatu yang berharga.’ Penuntut
    keadilan tersebut berkata, ‘Wahai Tuhan, siapa yang
    memiliki barang berharga tersebut?’ Allah berfirman,
    ‘Kamu memilikinya,’ penuntut keadilan berkata, ‘Apa
    itu?’ Allah menjawab, ‘Kamu memberikan maaf kepada
    saudaramu.’ Penuntut keadilan berkata, ‘Wahai Tuhan,
    sungguh aku telah memaafkannya.’ Allah swt. berfirman,
    ‘Gandenglah tangan saudaramu dan masukkanlah dia ke
    dalam surga.’ Kemudian pada saat itu Rasulullah saw.
    bersabda, ‘Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah
    hubungan antara kalian, sesungguhnya Allah swt.
    memperbaiki (mendamaikan) antara orang-orang
    beriman.’” (Mukasyafat al-Qulub, karya Abu Hamid
    al-Ghazali) (Zuhr al-Riyadl)

    Balas
  • 53. Fatwa-fatwa kafir « Catatan harian seorang muslim  |  November 27, 2007 pukul 1:46 am

    […] Diringkas dari: https://wahabisme.wordpress.com/ […]

    Balas
  • 54. abuyahya  |  Desember 2, 2007 pukul 1:57 am

    Ya Akhi apakah anda sadar terhadap kedustaan-kedustaan yang anda ucapkan di depan khalayak ramai?? Apakah anda sadar siapa yang anda hujat?? Apakah tuduhan-tuduhan keji anda benar pada tempatnya? Apakah anda takut akan adzab Allah?? Apakah yang anda nukilkan di atas adalah fakta yang sebenarnya atau hanya ikut-ikutan dengan orang-orang yang sepaham dengan anda?? Apakah anda pernah membuktikan sendiri kedustaan anda ini(mengikuti majelis-majelisnya untuk membuktikan)?? Dan perlu anda ketahui bahwa Salafi bukanlah Wahabiyah seperti yang anda tuduhkan…Hal ini menunjukkan kejahilan anda tentang perbedaan antara Wahabi(pengikut Wahab bin Abdurrahman & bukan Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah) & salafi…Dan perlu ditekankan Bahwa Salafi tidak pernah mengkafirkan seseorang secara sembarangan sebelum terpenuhi syarat-syaratnya dan tidak sembarang orang berhak untuk memutuskan apakah seseorang itu kafir atau tidak…salafiyyin juga tidak pernah bersikap keras terhadap orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka…ya akhi justru anda yang taklid buta terhadap golongan anda..sadarlah wahai saudaraku akan kesalahan anda ini…

    Balas
  • 55. abuzubair  |  Desember 5, 2007 pukul 9:12 am

    Subhanallahu,…masih ada orang Muslim seperti ini,…Ya akhi engkau telah banyak menghina ulama ahlus sunnah yang mana mereka telah membela sunnah-sunnah Rasulullah dan memerangi bid’ah-bid’ah dalam agama Islam. Sesungguhnya orang2 yang benci kepada ulama-ulama ahlus sunnah adalah orang-orang yang merasa bahwa bid’ah-bid’ah yang mereka lakukan akan segera terbuka dan terbongkar…mereka akan takut di jauhi oleh ummat…semoga antum di beri petunjuk oleh Alloh atas kesalahan dan dosa antum ini, bersegeralah bertaubat ya akhi sebelum ajal menjemput antum. Amiin

    Balas
  • 56. leo  |  Desember 7, 2007 pukul 3:02 am

    saya benar-benar sedih mendengar tuduhan miring trhdap syeikh Muhammad bin abdul Wahab dan Syeikh Ibnu Taymiyah. ketahuilah wahai saudraku mereka itu adalah ulama ahlu sunnah yang telah memperjuangkan agama ini dari kerusakan kesyirikan dan kebid’ahan. kenapa kalian mencela mereka dengan gelar wahabi. demi Allah apa yang mereka dakwahkan adalah kebenaran seusai dengan manhaj para sahabat. mereka bukan lah takfiri. mereka hanya mengingatkan umat kalau berbuat demikian maka kafir. dan ini bukanlah memvonis individu, karena kita tidak mudah mengkafirkan orang apalagi orang awam yang tidak tahu akan hukum agama. jadi saya harapkan bagi pembaca webs ini agar tidak terprofokasi dengan berita-berita menakutkan yang dituduhkan pada syeikh. sayalah saksi akan kebenaran yang ia sampaikan dan saya adalah mahasiswa UGM yang sering mengkaji kitab syeikh. masya Alloh kitabnya adalah penerang ditengah kegelapan yang melanda umat islam saat ini

    Balas
  • 57. Ahmad Lukman  |  Desember 11, 2007 pukul 11:47 am

    Mohon izin artikel bagus ini ane posting ulang di website ane. Jazakallohu khoir

    Silahkan akang Lukman….. tulisan yang ditampilkan bisa dikonsumsikan secara umum dan bebas tanpa di rekayasa. Wassalam wr wb

    Balas
  • 58. Abu Zubair  |  Desember 11, 2007 pukul 1:54 pm

    AKHIR KESUDAHAN AHLI BID’AH

    Oleh
    Syaikh Muhammad Musa An-Nasr

    Abu Musa Al As’ari Radhiyallahu ‘anhu memasuki masjid Kufah, lalu didapatinya di masjid tersebut terdapat sejumlah orang membentuk halaqah-halaqah (duduk berkeliling). Pada setiap halaqah terdapat seorang Syaikh, dan didepan mereka ada tumpukan kerikil, lalu Syaikh tersebut menyuruh mereka (yang duduk di halaqah) : “Bertasbihlah (ucapkan subhanallah) seratus kali!”, lalu mereka pun bertasbih (menghitung) dengan kerikil tersebut. Lalu Syaikh itu berkata kepada mereka lagi : “Bertahmidlah (ucapkan alhamdulillah) seratus kali!” dan demikianlah seterusnya ……

    Maka Abu Musa Radhiyallahu ‘anhu mengingkari hal itu dalam hatinya dan ia tidak mengingkari dengan lisannya. Hanya saja ia bersegera pergi dengan berlari kecil menuju rumah Abdullah bin Mas’ud, lalu iapun mengucapkan salam kepada Abdullah bin Mas’ud, dan Abdullah bin mas’ud pun membalas salamnya. Berkatalah Abu Musa kepada Abu Mas’ud : “Wahai Abu Abdurrahman, sungguh baru saja saya memasuki masjid, lalu aku melihat sesuatu yang aku mengingkarinya, demi Allah tidaklah saya melihat melainkan kebaikan. Lalu Abu Musa menceritakan keadaan halaqah dzikir tersebut.

    Maka berkatalah Abu Mas’ud kepada Abu Musa : “Apakah engkau memerintahkan mereka untuk menghitung kejelekan-kejelekan mereka? Dan engkau memberi jaminan mereka bahwa kebaikan-kebaikan mereka tidak akan hilang sedikitpun?!” Abu Musa pun menjawab : “ Aku tidak memerintahkan suatu apapun kepada mereka”. Berkatalah Abu Mas’ud : “Mari kita pergi menuju mereka”.

    Lalu Abu Mas’ud mengucapkan salam kepada mereka. Dan mereka membalas salamnya. Berkatalah Ibnu Mas’ud :“Perbuatan apa yang aku lihat kalian melakukannya ini wahai Umat Muhammad?” mereka menjawab : “Wahai Abu Abdurrahman, ini adalah kerikil yang digunakan untuk menghitung tasbih, tahmid, dan tahlil, dan takbir”. Maka berkatalah Abu Mas’ud : “Alangkah cepatnya kalian binasa wahai Umat Muhammad, (padahal) para sahabat masih banyak yang hidup, dan ini pakaiannya belum rusak sama sekali, dan ini bejananya belum pecah, ataukah kalian ingin berada diatas agama yang lebih mendapat petunjuk dari agama Muhammad ? ataukah kalian telah membuka pintu kesesatan? Mereka pun menjawab : “Wahai Abu Abdurrahman, demi Allah tidaklah kami menginginkan melainkan kebaikan”. Abu Mas’ud pun berkata :

    “Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tidak mendapatkannya”.

    Berkata Amru bin Salamah : “Sungguh aku telah melihat umumnya mereka yang mengadakan majelis dzikir itu memerangi kita pada hari perang “An Nahrawan” bersama kaum Khawarij”. (Riwayat Darimi dengan sanad shahih)

    Aku (Syaikh Musa Nasr) berkata : “Firasat Ibnu Mas’ud terhadap mereka (yaitu ahli bid’ah yang mengadakan halaqah dzikir) benar, dimana ahli bid’ah itu bergabung bersama kaum khawarij disebabkan “terus menerusnya” mereka dalam kebid’ahan. Dan inilah akhir kesudahan seseorang yang “terus menerus” dalam kebid’ahannya, serta menyelisihi para sahabat nabi.

    Akan tetapi mungkin seseorang di zaman kita berkata : “Apakah yang diingkari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu? Apakah berdzikir kepada Allah itu bid’ah?!! Kita katakan : “Maha suci Allah, jika dikatakan dzikir kepada-Nya adalah bid’ah, khususnya jika dzikir itu adalah dzikir yang disyariatkan, tetapi yang bid’ah hanyalah cara (berdzikir) dimana mereka berkumpul padanya, serta cara yang mereka lakukan dalam berdzikir kepada Allah, dimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahanbat beliau tidak pernah mengamalkannya. Dan khawarij yang dicela oleh Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang mereka :

    “Jika aku menjumpai mereka, niscaya benar-benar akan aku bunuh mereka sebagaimana pembunuhan terhadap kaum Ad” [Hadits riwayat Bukhari dan Muslim]

    Sesungguhnya hanyalah Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam mengancam mereka dikarenakan perbuatan mereka yang bid’ah dan mungkar, yaitu : mereka mengkafirkan kaum muslimin lantaran perbuatan maksiyat, dan mereka menganggap kaum muslimin masuk neraka kekal (lantaran perbuatan maksiat) padahal (yang benar) pelaku dosa besar tidak kekal dalam neraka. Sebagaimana juga mereka mewajibkan bagi perempuan yang haid untuk mengganti shalat (yang ia tinggalkan ketika haid) sebagaimana ia mengganti puasa (Ramadhan jika ia haid pada waktu itu).

    Maka mereka berbuat melampaui batas dalam agama mereka, dan mereka beramal dengan sangat membebani diri, bahkan mereka (yaitu khawari) telah khuruj (keluar) dari ketaatan kepada anak paman Rasulullah, menantu beliau Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu ‘anhu (ketika menjadi khalifah) bahkan mereka bunuh Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu ‘anhu secara dhalim dan kedustaan.

    Dan Nabi kita Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

    “Artinya : Sesungguhnya Allah menahan taubat dari setiap ahli bid’ah hingga ia bertaubat dari kebid’ahannya”

    Sedangkan lisan keadaan ahli bid’ah berkata : “Ini adalah agama Muhammad bin Abdullah”. Alangkah indahnya apa yang dikatakan oleh Imam Malik, dimana ia berkata :

    “Barangsapa berbuat suatu kebid’ahan dalam agama Islam yang ia pandang baik maka sungguh ia menyangka bahwa Muhammad telah mengkhianati risalah, karena Allah berfirman : “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”(Al Maidah 3). Maka apa saja yang pada waktu itu bukan agama tidaklah pada hari ini dianggap sebagai agama, dan tidak akan baik akhir umat ini melainkan dengan apa yang baik pada umat yang awal (para sahabat).”

    Pelaku bid’ah diharamkan dari minum seteguk air yang nikmat dari tangannya Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam dan dari telaganya yang mana telaga itu lebih putih dari salju dan lebih manis daripada madu.

    Maka sungguh telah benar dari hadits Anas Radhiyallahu ‘anhu ia berkata : Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

    “Artinya : Benar-benar suatu kaum dari umatku akan ditolak dari telaga sebagaimana unta asing ditolak (dari kerumunan unta)”, maka aku berkata : “Ya Allah itu adalah umatku”, maka dikatakan : “Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu”. [Hadits riwayat Bukhari dan Muslim]

    Maka demikianlah kesudahan akhir ahli bid’ah baik pada masa lampau atau masa sekarang, (Semoga Allah melindungi kita dari akhir kematiaan buruk seperti mereka). Maka apakah sadar mereka para ahli bid’ah pada setiap zaman dan tempat pada buruknya tempat kembali mereka? Maka hendaklah mereka bertaubat kepada Allah dengan taubat “nasuha” (taubat yang murni), kita mengharapkan bagi mereka yang demikian itu.

    Dan hanya Allah saja Dzat yang memberi petunjuk kepada jalan untuk ittiba’ (mengikuti tuntunan Allah dan Rasul-Nya).

    [Diterjemahkan dari majalah al Ashalah edisi 27 halaman 17-18]

    [Disalin dari majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi Th. II/No. 07 Diterbitkan Ma’had Ali Al-Irsyad Surabaya, Alamat Perpustakaan Bahasa Arab Ma’had Ali Al-Irsyad Jl Sultan Iskandar Muda 46 Surabaya]

    WARNING buat Abu Zubair……!! jangan asal copy paste. Nt faham nggak yang nt copy pastekan itu..???

    Balas
  • 59. RETORIKA  |  Desember 12, 2007 pukul 9:04 pm

    Simpel kok …

    SAUDI = WAHABI
    SAUDI = HADAMAH NYA AMERIKA SERIKAT
    SAUDI WAHABI PATUH TUNDUK KEPADA AMERIKA SERIKAT …
    kedukaan islam adalah, makkah dan madinah dikuasai oleh hadamah nya amerika serikat.

    ==============================
    Wah…. yang ini mah setujuuu….. .

    Balas
  • 60. microwave  |  Februari 18, 2008 pukul 4:57 pm

    Beginilah umat Islam sekarang ini, saling hina dan cela tanpa sopan santun. @Retorika: memang Saudi dan Amerika join ngolah minyak, pangeran banyak yang dikirim sekolah “western”. Tapi ingat, bahwa Makkah dan Madinah tetap dijaga oleh Allah SWT.
    @Bung Moderator: Gua sih gak setuju sama komentar “Retorika”. Kalau mau bilang tunduk pada Amrik sih Anda dan saya juga tunduk… Coba gak ada Intel/AMD kita2 mana bisa ngetik selancar ini. Lagian logika generalisir seperti itu gak mutu juga.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


KOMUNITAS

PALING BENER..!?

Preman Agama

WARNING..!

Assalamualaikum wr wb. Diberitahukan kepada semua pengunjung blog ini, bahwa setiap komentar yang hanya made in copy paste kami anggap "SPAM". Kami mengharap, komentator menunjukkan kemampuan bernalar, berlogika dalam analisa, hujjah bahkan kritik liar di setiap artikel yang tersaji. Setiap komentar bisa di komentari secara timbal balik sehingga tercipta diskusi yang segar. Sekalipun muatan komentar itu asal muasalnya bukan hasil perenungan atau karya sendiri tetapi coba hindarilah pendapat yang meng-ekor “KATANYA” abu fulan bin abu-abu dengan cara copy paste. Berfikirlah bebas..!, liar…!! jangan sekedar jadi kacung.!! Wassalam wr wb. Best Regard. ASWAJA. Hn Wawan.

Harga Blog Ini


My blog is worth $30,485.16.
How much is your blog worth?

JUMLAH POPULASI

  • 128,937 PENDUDUK

TAMU YANG HADIR

TANGGALAN

April 2007
M S S R K J S
« Mar   Mei »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

NEWS UPDATE

ARSIP PADA


%d blogger menyukai ini: