Al-quran Di Mata Ibnu Taimiyah

Mei 25, 2007 at 1:57 pm 36 komentar

Contoh dari dagelan yang dipamerkan Ibnu Taimiyah dalam manhaj tafsirnya dengan berdalih takwil ayat berdasarkan kesepakatan ulama tafsir dan para sahabat adalah ketika dia menafsirkan ayat Al-quran dengan dhohir ayat saja dan tanpa mentakwilkan makna bathin ayat tersebut. Sementara dakwaan dia bahwa tafsir ibnu taimiyah berdasarkan takwil dari sahabat dan ulama-ulama tafsir hanyalah kebohongan yang paling nyata dalam dagelan ini.

Al-quran Di Mata Ibnu Taimiyah

Dalam tulisan kali ini, kita akan mengungkap satu pandangan dari perintis dan pembesut mazhab takfiriyah ini mengenai Al-quran. Yakni pandangan Ibnu Taimiyah tentang tafsir Al-quran. Satu hal yang di yakini oleh para ulama Ahlu Sunnah dan para mufassir dan telah disepakati secara ijmak adalah bahwa Al-quran mengandung dua sisi makna yakni dhahir dan bathin, luar dan dalam. Persis ketika Allah swt berfirman dalam Al-quran: ”Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat[183]*, Itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat[184]**. adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.”

Ket:

*[183] Ayat yang muhkamaat ialah ayat-ayat yang terang dan tegas Maksudnya, dapat dipahami dengan mudah.

**[184] termasuk dalam pengertian ayat-ayat mutasyaabihaat: ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki secara mendalam; atau ayat-ayat yang pengertiannya Hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib-ghaib misalnya ayat-ayat yang mengenai hari kiamat, surga, neraka dan lain-lain.

Namun Ibnu Taimiyah rupayanya sama sekali tidak memahami dan bahkan buta akan makna ayat Al-quran diatas, bahkan selain dia menafsirkan ayat-ayat Al-quran secara tekstual dan dhohirnya saja tanpa melirik ke makna bathinnya, dia juga menafsirkan ayat-ayat Al-quran dengan menyandarkan pada sanad-sanad hadits yang dhoif dan yang tidak jelas perawinya.

Contoh paling nyata akan kebahlulan Ibnu Taimiyah adalah ketika dia menyakini bahwa semua ayat-ayat yang ada dalam Al-quran adalah Muhkamat dan tidak ada ayat dari ayat-ayat Al-quran yang Mutasyabihat. Contoh tentang keyakinan dia yang keblinger itu bisa kita baca pada Kitab Tafsir Ibnu Taimiyah yang dikenal dengan Tafsir Kabir. Disana dijelaskan bahwa ayat-ayat Al-quran semuanya adalah Muhkamat dan ayat mutasyabih itu tidak ada. Lihat Kitab Tafsir Kabir, Juz 1, Halaman 253.

Sementara ketika dia menyandarkan penafsiran ayat-ayat Al-quran yang sanad hadistnya adalah dhoif bisa kita lihat pada kitab Al-wafi bil Wafiat, Tafsir Qurtubi. Didalam dua kitab itu disebutkan bahwa Ibnu Taimiyah menyandarkan hadist dhoif yang sanadnya berasal dari seorang Israel ketika dia menafsirkan Ayat 189 sampai 190 Surat Al-a’raf 188, yang disana diceritakan bahwa sifat sifat jelek dan kejelekkan disandarkan kepada Nabi Adam as dan Siti Hawa. Lihat Kitab Al-wafi bil Wafiat, Sofadi, Juz 7, Halaman 20, atau Tafsir Qurtubi. Juz 7, Halaman 338. Tetapi dalam kitabnya yang berjudul Muqaddimah Kitabul Ushul At-tafsir pandangan dia tentang tafsir ayat diatas di taujih alias di cari dalil pembenarannya.

Contoh dari dagelan yang dipamerkan Ibnu Taimiyah dalam manhaj tafsirnya dengan berdalih takwil ayat berdasarkan kesepakatan ulama tafsir dan para sahabat adalah ketika dia menafsirkan ayat Al-quran dengan dhohir ayat saja dan tanpa mentakwilkan makna bathin ayat tersebut. Sementara dakwaan dia bahwa tafsir ibnu taimiyah berdasarkan takwil dari sahabat dan ulama-ulama tafsir hanyalah kebohongan yang paling nyata dalam dagelan ini.

Misalnya kalau kita baca baca Tafsir surat An-nur, Halaman 178 dan 179. Disana dia katakan bahwa: “Saya menafsirkan ini berdasarkan Naql dari para sahabat, dan semua hadist serta ratusan tafsir mulai dari yang kecil sampai yang besar semuanya telah saya baca…” Sementara di alam realita mengatakan bahwa Ibnu Taimiyah sama sekali tidak memperhatikan apa yang telah dia katakan tersebut dan malah sangat bertentangan dengan kebanyak ulama-ulama Sunnah dan hadist yang diriwayatkan dari para sahabat. Misalnya kalau kita lihat pada tafsir surat Al-qalam ayat 42, dia menafsirkan ayat ini berdasarkan dhohir dan tidak mentakwilkannya, sementara kebanyakan ulama jumhur dari Ahlu Sunnah mentakwil tafsir ini. Allah swt berfirman dalam surat Al-qalam ayat 42: “Yauma Yuksafu an Saaqin…..” Artinya: “Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; Maka mereka tidak kuasa”.Saaqin” disini mempunyai makna sesuatu yang dahsyat. Makanya dalam ibarat arab mengatakan: “Kasyful Harbi an Saaqiha”, yang artinya peperangan yang dahsyat telah dimulai. Lihat tafsir Tabari, Jilid 5, juz 8, Halaman 201 dan 202.

Atau ketika dia menafsirkan surat Adz-dzariyaat ayat 47:”Wa As-samaa Banainaaha Biaidin”. Yang artinya adalah: ”Dan langit itu kami bangun dengan kekuasaan (kami) dan Sesungguhnya kami benar-benar berkuasa”. Disana Ibnu Taimiyah juga menafsirkannya dengan dhohir ayat sementara ulama jumhur dari Ahlu Sunnah mentakwilkan tafsir ayat ini menjadi “Banainaaha Biquwwatin” yakni, “Kami bangun dengan kekuatan” sementara Biaidin ditafsirkan oleh ulama Ahlu Sunnah dengan kinayah atas kekuatan dan kekuasanNYa. Lihat Tafsir Tabari, Juz 27, Halaman 7.[]

Demikian sekelumit tentang Ibnu Taimiyah dalam metode penafsiran Al-quran yang hanya melihat bahwa ayat Al-quran hanya mempunyai sisi makna dhohir saja, sementara sisi makna bathin dia ingkarinya.

InsyaAllah akan kita sambung lagi.

Wassalam

Iklan

Entry filed under: abdul wahhab, ahmad bin hanbal, As-Salafiyah, bid'ah, Blogroll, ibnu Taimiyah, Islam, mazhab salafi, mazhab wahabi, Salaf, salafi, salafi/y, salafy, syirik, tabarruk, tawassul, Uncategorized, Wahabi/Salafi, Wahabisme, wahhab, wahhabi, ziarah kubur.

Sekali lagi Maulid Nabi: Antara Halal dan Haram Bin Baz Kurang Ajar Sama Jagoan Bid’ah “Ibnu Taimiyah”

36 Komentar Add your own

  • 1. islam feminis  |  Mei 25, 2007 pukul 3:16 pm

    Ada apa dengan Wahaby…?

    Balas
  • 2. Razifuddin  |  Juni 1, 2007 pukul 6:03 pm

    Ana kasi contoh dalam sebuah kitab IT
    Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Telah kami jelaskan bahwa langit itu bulat menurut para ulama dari para kalangan sahabat dan tabi’in, bahkan tidak hanya satu orang ulama yang mana mereka mengetahui tentang riwayat menyatakan bahwa langit itu bulat, seperti Abul Husain bin Munadi, Ibnu Hazm dan Ibnul Jauzi” (Majmu’ Fatawa 25/195)

    Banyak lho dalam kitab-kitabnya yang memberikan klaim bahwa apa yang dia sebutkan dalam kitab tersebut mengatasnamakan pada seseorang atau beberapa orang, dari kalimat tersebut diatas menunjukkan bahwa gaya bahasa IT tidak lugas dan mengandung rasa tidak percaya diri, berbeda dengan Imam Ahmad bin Hanbal yang konsisten (istiqomah) dalam perseteruannya dengan khalefa Al Makmun, sangat wajar bilamana IT keluar masuk penjara karena ketidaklugasannya dan kecerobohannya dalam menulis kitab. Dan sangat aneh bilamana orang macam begini digelari syaikhul islam.

    Balas
  • 3. Cahaya Islam  |  Juni 2, 2007 pukul 5:08 am

    salam………
    Wahaby dalam polemik..? mengartikan dhohir ayat qur’an? kaum awam sangatlah pintar.

    Balas
  • 4. Zulfakhri  |  Juni 4, 2007 pukul 8:51 am

    Asslamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh..

    Kita tidak mendakwa sesiapa dengan dakwaan ismah (kemaksuman) selain daripada mereka yang mendapat peruntukan khusus oleh Allah SWT dari kalangan Nabi dan Rasul AS. Di sana terdapat pelbagai pro dan kontra berhubung dengan pendirian dan seruan Ibnu Taimiyah, baik di zaman beliau mahu pun pada masa-masa yang mendatang selepas itu. Maka kita nyatakan bahawa, bagi Ibnu Taimiyah apa yang betul, dan ke atasnyalah segala kesilapan yang pernah berlaku. Sesungguhnya Allah lebih mengetahui apa yang layak untuk sekalian hambaNya. Akan tetapi, memburuk-burukan nama beliau atau mana-mana ulamak yang telah menghabiskan hidupnya untuk mempertahankan Islam, ia bukanlah sesuatu yang sihat untuk diketengahkan ke gelanggang perbualan masyarakat. Tidak dinafikan, ada di antara fatwanya yang berbeza dengan pendapat majoriti dan masyhur, tetapi ia tidaklah menjadi satu kesalahan kerana kedudukannya sebagai mujtahid. Bahkan setiap hujahnya, adalah berserta dengan dalil yang terbuka untuk dibincangkan oleh mereka yang tidak bersetuju, tetapi bukannya dengan melemparkan tohmahan melulu yang bercanggah dengan kemuliaan etika umat ini.

    sekian
    WASSALAM..

    Balas
  • 5. ind.FB  |  Juni 6, 2007 pukul 1:06 pm

    silahkan bercerita apa saja tentang ibnu taimiyah, tentang wahabi, yang pasti saya yang tidak pernah daftar untuk jadi anggota kelompok wahabipun menolak dengan akal jernih yang saya miliki segala bentuk bid’ah, karena bid’ah adalah dolalah….

    tahlilan, muludan, yasinan, manakiban, BID”AH. bagi para pelakunya segeralah bertaubat

    Balas
  • 6. Razifuddin  |  Juni 10, 2007 pukul 4:39 pm

    Ibnu Taimiyah one more time

    Dalam kitab Ibnu Taimiyah Majmu Fatawa Jilid 4 m/s 374
    “Inna muhammadan RasuluLLah hi yajlishu rabbahu ‘alal arsy ma’ah”

    artinya “Sesungguhnya Muhammad Rasulullah, didudukkanNya diatas arasy bersamaNya”

    ini sama dengan akidah Kristen
    “Kristus dinaikkan ke surga dan duduk bersanding disebelah Tuhan Bapa”

    DAN TIDAK ADA AYAT QURANUL KARIM DAN HADIST NABAWI SYARIF YANG SAHIH MENYATAKAN ALLAH DUDUK.Wallaahi tidak pernah!

    Masih ngeyel menganggap Allah Swt duduk di atas Kursy? Subhanallah
    Silahkan bertaklid dengan akidah orang gemblung

    Balas
  • 7. adil  |  Juni 19, 2007 pukul 11:52 pm

    Ibnu Taimiyah, Dai dan Mujahid Besar

    Demi Allah, tidaklah benci kepada Ibnu Taimiyah melainkah orang yang
    bodoh atau pengikut hawa nafsu. (Qodhinya para qadhi Abdul Bar As-
    Subky)

    NAMA DAN NASAB

    Beliau adalah imam, Qudwah, `Alim, Zahid dan Da`i ila Allah, baik
    dengan kata, tindakan, kesabaran maupun jihadnya; Syaikhul Islam,
    Mufti Anam, pembela dinullah dan penghidup sunah Rasul
    shalallahu`alaihi wa sallam yang telah dimatikan oleh banyak orang,

    Ahmad bin Abdis Salam bin Abdillah bin Al-Khidhir bin Muhammad bin
    Taimiyah An-Numairy Al-Harrany Ad-Dimasyqy.

    Lahir di Harran, salah satu kota induk di Jazirah Arabia yang
    terletak antara sungai Dajalah (Tigris) dengan Efrat, pada hari
    Senin 10 Rabiu`ul Awal tahun 661H.

    Beliau berhijrah ke Damasyq (Damsyik) bersama orang tua dan
    keluarganya ketika umurnya masih kecil, disebabkan serbuan tentara
    Tartar atas negerinyaa. Mereka menempuh perjalanan hijrah pada malam
    hari dengan menyeret sebuah gerobak besar yang dipenuhi dengan kitab-
    kitab ilmu, bukan barang-barang perhiasan atau harta benda, tanpa
    ada seekor binatang tunggangan-pun pada mereka.

    Suatu saat gerobak mereka mengalami kerusakan di tengah jalan,
    hingga hampir saja pasukan musuh memergokinya. Dalam keadaan seperti
    ini, mereka ber-istighatsah (mengadukan permasalahan) kepada Allah
    Ta`ala. Akhirnya mereka bersama kitab-kitabnya dapat selamat.

    PERTUMBUHAN DAN GHIRAHNYA KEPADA ILMU
    Semenjak kecil sudah nampak tanda-tanda kecerdasan pada diri beliau.
    Begitu tiba di Damsyik beliau segera menghafalkan Al-Qur`an dan
    mencari berbagai cabang ilmu pada para ulama, huffazh dan ahli-ahli
    hadits negeri itu. Kecerdasan serta kekuatan otaknya membuat para
    tokoh ulama tersebut tercengang.

    Ketika umur beliau belum mencapai belasan tahun, beliau sudah
    menguasai ilmu Ushuluddin dan sudah mengalami bidang-bidang tafsir,
    hadits dan bahasa Arab.

    Pada unsur-unsur itu, beliau telah mengkaji musnad Imam Ahmad sampai
    beberapa kali, kemudian kitabu-Sittah dan Mu`jam At-Thabarani Al-
    Kabir.

    Suatu kali, ketika beliau masih kanak-kanak pernah ada seorang ulama
    besar dari Halab (suatu kota lain di Syria sekarang, pen.) yang
    sengaja datang ke Damasyiq, khusus untuk melihat si bocah bernama
    Ibnu Taimiyah yang kecerdasannya menjadi buah bibir. Setelah
    bertemu, ia memberikan tes dengan cara menyampaikan belasan matan
    hadits sekaligus. Ternyata Ibnu Taimiyah mampu menghafalkannya
    secara cepat dan tepat. Begitu pula ketika disampaikan kepadanya
    beberapa sanad, beliaupun dengan tepat pula mampu mengucapkan ulang
    dan menghafalnya. Hingga ulama tersebut berkata: Jika anak ini
    hidup, niscaya ia kelak mempunyai kedudukan besar, sebab belum
    pernah ada seorang bocah seperti dia.

    Sejak kecil beliau hidup dan dibesarkan di tengah-tengah para ulama,
    mempunyai kesempatan untuk mereguk sepuas-puasnya taman bacaan
    berupa kitab-kitab yang bermanfaat. Beliau infakkan seluruh waktunya
    untuk belajar dan belajar, menggali ilmu terutama kitabullah dan
    sunah Rasul-Nya shallallahu`alaihi wa sallam.

    Lebih dari semua itu, beliau adalah orang yang keras pendiriannya
    dan teguh berpijak pada garis-garis yang telah ditentukan Allah,
    mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
    Beliau pernah berkata: Jika dibenakku sedang berfikir suatu masalah,
    sedangkan hal itu merupakan masalah yang muskil bagiku, maka aku
    akan beristighfar seribu kali atau lebih atau kurang. Sampai dadaku
    menjadi lapang dan masalah itu terpecahkan. Hal itu aku lakukan baik
    di pasar, di masjid atau di madrasah. Semuanya tidak menghalangiku
    untuk berdzikir dan beristighfar hingga terpenuhi cita-citaku.

    Begitulah seterusnya Ibnu Taimiyah, selalu sungguh-sungguh dan tiada
    putus-putusnya mencari ilmu, sekalipun beliau sudah menjadi tokoh
    fuqaha` dan ilmu serta dinnya telah mencapai tataran tertinggi.

    PUJIAN ULAMA
    Al-Allamah As-Syaikh Al-Karamy Al-Hambali dalam Kitabnya Al-Kawakib
    AD-Darary yang disusun kasus mengenai manaqib (pujian terhadap jasa-
    jasa) Ibnu Taimiyah, berkata: Banyak sekali imam-imam Islam yang
    memberikan pujian kepada (Ibnu Taimiyah) ini. Diantaranya: Al-Hafizh
    Al-Mizzy, Ibnu Daqiq Al-Ied, Abu Hayyan An-Nahwy, Al-Hafizh Ibnu
    Sayyid An-Nas, Al-Hafizh Az-Zamlakany, Al-Hafidh Adz-Dzahabi dan
    para imam ulama lain.

    Al-Hafizh Al-Mizzy mengatakan: Aku belum pernah melihat orang
    seperti Ibnu Taimiyah ….. dan belum pernah kulihat ada orang yang
    lebih berilmu terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah
    shallahu`alaihi wa sallam serta lebih ittiba` dibandingkan beliau.

    Al-Qadhi Abu Al-Fath bin Daqiq Al-Ied mengatakan: Setelah aku
    berkumpul dengannya, kulihat beliau adalah seseorang yang semua ilmu
    ada di depan matanya, kapan saja beliau menginginkannya, beliau
    tinggal mengambilnya, terserah beliau. Dan aku pernah berkata
    kepadanya: Aku tidak pernah menyangka akan tercipta manasia seperti
    anda.

    Penguasaan Ibnu Taimiyah dalam beberapa ilmu sangat sempurna, yakni
    dalam tafsir, aqidah, hadits, fiqh, bahasa arab dan berbagai cabang
    ilmu pengetahuan Islam lainnya, hingga beliau melampaui kemampuan
    para ulama zamannya. Al-`Allamah Kamaluddin bin Az-Zamlakany (wafat
    th. 727 H) pernah berkata: Apakah ia ditanya tentang suatu bidang
    ilmu, maka siapa pun yang mendengar atau melihat (jawabannya) akan
    menyangka bahwa dia seolah-olah hanya membidangi ilmu itu, orang pun
    akan yakin bahwa tidak ada seorangpun yang bisa menandinginya. Para
    Fuqaha dari berbagai kalangan, jika duduk bersamanya pasti mereka
    akan mengambil pelajaran bermanfaat bagi kelengkapan madzhab-madzhab
    mereka yang sebelumnya belum pernah diketahui. Belum pernah terjadi,
    ia bisa dipatahkan hujahnya. Beliau tidak pernah berkata tentang
    suatu cabang ilmu, baik ilmu syariat atau ilmu lain, melainkan dari
    masing-masing ahli ilmu itu pasti terhenyak. Beliau mempunyai
    goresan tinta indah, ungkapan-ungkapan, susunan, pembagian kata dan
    penjelasannya sangat bagus dalam penyusunan buku-buku.

    Imam Adz-Dzahabi rahimahullah (wafat th. 748 H) juga berkata: Dia
    adalah lambang kecerdasan dan kecepatan memahami, paling hebat
    pemahamannya terhadap Al-Kitab was-Sunnah serta perbedaan pendapat,
    dan lautan dalil naqli. Pada zamannya, beliau adalah satu-satunya
    baik dalam hal ilmu, zuhud, keberanian, kemurahan, amar ma`ruf, nahi
    mungkar, dan banyaknya buku-buku yang disusun dan amat menguasai
    hadits dan fiqh.

    Pada umurnya yang ke tujuh belas beliau sudah siap mengajar dan
    berfatwa, amat menonjol dalam bidang tafsir, ilmu ushul dan semua
    ilmu-ilmu lain, baik pokok-pokoknya maupun cabang-cabangnya,
    detailnya dan ketelitiannya. Pada sisi lain Adz-Dzahabi mengatakan:
    Dia mempunyai pengetahuan yang sempurna mengenai rijal (mata rantai
    sanad), Al-Jarhu wat Ta`dil, Thabaqah-Thabaqah sanad, pengetahuan
    ilmu-ilmu hadits antara shahih dan dhaif, hafal matan-matan hadits
    yang menyendiri padanya .. Maka tidak seorangpun pada waktu itu yang
    bisa menyamai atau mendekati tingkatannya .. Adz-Dzahabi berkata
    lagi, bahwa: Setiap hadits yang tidak diketahui oleh Ibnu Taimiyah,
    maka itu bukanlah hadist.

    Demikian antara lain beberapa pujian ulama terhadap beliau.

    DA`I, MUJAHID, PEMBASMI BID`AH DAN PEMUSNAH MUSUH
    Sejarah telah mencatat bahwa bukan saja Ibnu Taimiyah sebagai da`i
    yang tabah, liat, wara`, zuhud dan ahli ibadah, tetapi beliau juga
    seorang pemberani yang ahli berkuda. Beliau adalah pembela tiap
    jengkal tanah umat Islam dari kedzaliman musuh dengan pedannya,
    seperti halnya beliau adalah pembela aqidah umat dengan lidah dan
    penanya.

    Dengan berani Ibnu Taimiyah berteriak memberikan komando kepada umat
    Islam untuk bangkit melawan serbuan tentara Tartar ketika menyerang
    Syam dan sekitarnya. Beliau sendiri bergabung dengan mereka dalam
    kancah pertempuran. Sampai ada salah seorang amir yang mempunyai
    diin yang baik dan benar, memberikan kesaksiannya: …tiba-tiba
    (ditengah kancah pertempuran) terlihat dia bersama saudaranya
    berteriak keras memberikan komando untuk menyerbu dan memberikan
    peringatan keras supaya tidak lari… Akhirnya dengan izin Allah
    Ta`ala, pasukan Tartar berhasil dihancurkan, maka selamatlah negeri
    Syam, Palestina, Mesir dan Hijaz.

    Tetapi karena ketegaran, keberanian dan kelantangan beliau dalam
    mengajak kepada al-haq, akhirnya justru membakar kedengkian serta
    kebencian para penguasa, para ulama dan orang-orang yang tidak
    senang kepada beliau. Kaum munafiqun dan kaum lacut kemudian
    meniupkan racun-racun fitnah hingga karenanya beliau harus mengalami
    berbagai tekanan di pejara, dibuang, diasingkan dan disiksa.

    KEHIDUPAN PENJARA
    Hembusan-hembusan fitnah yang ditiupkan kaum munafiqin serta antek-
    anteknya yang mengakibatkan beliau mengalami tekanan berat dalam
    berbagai penjara, justru dihadapi dengan tabah, tenang dan gembira.
    Terakhir beliau harus masuk ke penjara Qal`ah di Dimasyq. Dan beliau
    berkata: Sesungguhnya aku menunggu saat seperti ini, karena di
    dalamnya terdapat kebaikan besar.

    Dalam syairnya yang terkenal beliau juga berkata:

    Apakah yang diperbuat musuh padaku !!!!

    Aku, taman dan dikebunku ada dalam dadaku

    Kemanapun ku pergi, ia selalu bersamaku

    dan tiada pernah tinggalkan aku.

    Aku, terpenjaraku adalah khalwat

    Kematianku adalah mati syahid

    Terusirku dari negeriku adalah rekreasi.

    Beliau pernah berkata dalam penjara:

    Orang dipenjara ialah orang yang terpenjara hatinya dari Rabbnya,
    orang yang tertawan ialah orang yang ditawan orang oleh hawa
    nafsunya.

    Ternyata penjara baginya tidak menghalangi kejernihan fitrah
    islahiyah-nya, tidak menghalanginya untuk berdakwah dan menulis buku-
    buku tentang aqidah, tafsir dan kitab-kitab bantahan terhadap ahli-
    ahli bid`ah.

    Pengagum-pengagum beliau diluar penjara semakin banyak. Sementara di
    dalam penjara, banyak penghuninya yang menjadi murid beliau,
    diajarkannya oleh beliau agar mereka iltizam kepada syari`at Allah,
    selalu beristighfar, tasbih, berdoa dan melakukan amalan-amalan
    shahih. Sehingga suasana penjara menjadi ramai dengan suasana
    beribadah kepada Allah. Bahkan dikisahkan banyak penghuni penjara
    yang sudah mendapat hak bebas, ingin tetap tinggal di penjara
    bersamanya. Akhirnya penjara menjadi penuh dengan orang-orang yang
    mengaji.

    Tetapi kenyataan ini menjadikan musuh-musuh beliau dari kalangan
    munafiqin serta ahlul bid`ah semakin dengki dan marah. Maka mereka
    terus berupaya agar penguasa memindahkan beliau dari satu penjara ke
    penjara yang lain. Tetapi inipun menjadikan beliau semakin terkenal.
    Pada akhirnya mereka menuntut kepada pemerintah agar beliau dibunuh,
    tetapi pemerintah tidak mendengar tuntutan mereka. Pemerintah hanya
    mengeluarkan surat keputusan untuk merampas semua peralatan tulis,
    tinta dan kertas-kertas dari tangan Ibnu Taimiyah.

    Namun beliau tetap berusaha menulis di tempat-tempat yang
    memungkinkan dengan arang. Beliau tulis surat-surat dan buku-buku
    dengan arang kepada sahabat dan murid-muridnya. Semua itu
    menunjukkan betapa hebatnya tantangan yang dihadapi, sampai
    kebebasan berfikir dan menulis pun dibatasi. Ini sekaligus
    menunjukkan betapa sabar dan tabahnya beliau. Semoga Allah
    merahmati, meridhai dan memasukkan Ibnu Taimiyah dan kita sekalian
    ke dalam surganya.

    WAFATNYA

    Beliau wafatnya di dalam penjara Qal`ah Dimasyq disaksikan oleh
    salah seorang muridnya yang menonjol, Al-`Allamah Ibnul Qayyim
    Rahimahullah.

    Beliau berada di penjara ini selamaa dua tahun tiga bulan dan
    beberapa hari, mengalami sakit dua puluh hari lebih. Selama dalam
    penjara beliau selalu beribadah, berdzikir, tahajjud dan membaca Al-
    Qur`an. Dikisahkan, dalam tiah harinya ia baca tiga juz. Selama itu
    pula beliau sempat menghatamkan Al-Qur`an delapan puluh atau delapan
    puluh satu kali.

    Perlu dicatat bahwa selama beliau dalam penjara, tidak pernah mau
    menerima pemberian apa pun dari penguasa.

    Jenazah beliau dishalatkan di masjid Jami`Bani Umayah sesudah shalat
    Zhuhur. Semua penduduk Dimasyq (yang mampu) hadir untuk menshalatkan
    jenazahnya, termasuk para Umara`, Ulama, tentara dan sebagainya,
    hingga kota Dimasyq menjadi libur total hari itu. Bahkan semua
    penduduk Dimasyq (Damaskus) tua, muda, laki, perempuan, anak-anak
    keluar untuk menghormati kepergian beliau.

    Seorang saksi mata pernah berkata: Menurut yang aku ketahui tidak
    ada seorang pun yang ketinggalan, kecuali tiga orang musuh utamanya.
    Ketiga orang ini pergi menyembunyikan diri karena takut dikeroyok
    masa. Bahkan menurut ahli sejarah, belum pernah terjadi jenazah yang
    dishalatkan serta dihormati oleh orang sebanyak itu melainkan Ibnu
    Taimiyah dan Imam Ahmad bin Hambal.

    Beliau wafat pada tanggal 20 Dzul Hijjah th. 728 H, dan dikuburkan
    pada waktu Ashar di samping kuburan saudaranya Syaikh Jamal Al-Islam
    Syarafuddin. Semoga Allah merahmati Ibnu Taimiyah, tokoh Salaf,
    da`i, mujahidd, pembasmi bid`ah dan pemusnah musuh. Wallahu a`lam.

    Dinukil dari buku: Ibnu Taimiyah, Bathal Al-Islah Ad-Diny. Mahmud
    Mahdi Al-Istambuli, cet II 1397 H/1977 M. Maktabah Dar-Al-Ma`rifah–
    Dimasyq. hal. Depan.

    Balas
  • 8. adil  |  Juni 20, 2007 pukul 12:02 am

    Saya sedikit menambahi, nampaknya ada sedikit loncatan dalam menyebut nasab
    al-Imam Ibn Taimiyah dalam artikel tersebut. Disitu disebutkan “Ahmad Ibn
    Abdissalam”, kalau tidak salah, ‘Abdussalam yang berlaqab Majd al-Din berkunyah
    Abul Barakaat itu adalah kakek dari Syaikhul Islam yg sedang kita bahas ini.
    Syaikh Abdussalam ini adalah penyusun kitab “Muntaqa al-Akhbaar Min Ahaadiitsi
    Sayyid al-Akhyaar” yang berisi kumpulan hadits-hadits ahkam, yang kemudian
    kitab ini disyarh oleh al-Imam al-Syaukaany yang terkenal dengan judul “Nailul
    Authaar Fi Syarh Muntaqa al-Akhbar”.
    Adapun Bapak dari Syaikhul Islam yg kita bahas ini bernama ‘Abdul Halim,
    berlaqab Syihab al-Diin. Sedangkan Syaikhul Islam namanya benar sesuai di
    artikel tersebut, yaitu Ahmad, kun-yah beliau Abul ‘Abbas, dan laqabnya
    Taqiyyuddin.

    Ketiga Imam tersebut (kakek, bapak dan Syaikhul Islam) punya sebuah karangan
    yg disusun oleh beliau bertiga, yg diawali oleh Syaikh Abdussalam, kemudian
    disempurnakan oleh Syaikh Abdul Halim, dan terakhir disempurnakan oleh Saikhul
    Islam. Karangan ini dalam ushul fiqh, yg kemudian diterbitkan jadi satu dengan
    judul “al-Musawwadah Fi Ushul al-Fiqh”, dan nama pengarangnya ditulis “Aalu
    Taimiyah” (keluarga taimiyah).

    Topik Ibn Taimiyah memang topik yang sangat sensitif sekali bagi ahlul
    bid’ah, khususnya para quburiyyin, ghulat shufiyah dan ahlul kalam.
    Sampai-sampai pada masa beliau muncul seseorang bernama (‘Ala’uddin al-Bukhary)
    yang berfatwa: “Ibn Taimiyah kaafir, waqa’a minhu kufr fi tsalatsiin maudhi’an,
    wa man qaala innahu sayikhul islam kaafir, laa tajuuzu al-shalaatu khalfahu”
    (Ibn Taimiyah itu kafir, dia jatuh kafir dalam 30 masalah, barangsiapa menyebut
    dia “Syaikhul Islam” maka diapun kafir juga, tidak boleh shalat di belakangnya).

    Lihat, dengan begitu dia bukan hanya mengkafirkan Syaikhul Islam Ibn
    Taimiyah, tapi juga mengkafirkan siapapun yg menyebut beliau “Syaikhul Islam”.
    Namun fatwa ini dibantah oleh salah seorang qadhy syafi’iyah zaman itu, beliau
    adalah “Ibn Naashiruddin al-Dimasyqy al-Syafi’iy” -ma’af, saya lupa nama
    lengkap dan nasabnya, karena ini terburu-buru tanpa persiapan-, beliau menyusun
    buku yg berjudul “al-Radd al-Waafir ‘Ala Man Za’ama Anna Man Samma Ibn Taimiyah
    Syaikhal Islaam Kaafir”. Dalam buku ini, Ibn Nashir al-Dimasyqy mengulas
    tentang sebutan “syaikhul islam”, dan kemudian melengkapinya dengan kesaksian
    para ulama besar zaman itu yg mengakui keilmuan Ibn Taimiyah sekaligus menyebut
    beliau Syaikhul Islam, bukan haya para ulama hanabilah (bermadzhab hanbaly)
    saja, tapi juga madzhab lainnya. Termasuk ulama-ulama besar Syafi’iyah zaman
    itu yang mungkin jika para Quburiyyun di Indonesia akan tercengang bila tahu
    bahwa ulama-ulama besar syafi’iyah zaman itu mengakui kehebatan
    ilmu Ibn Taimiyah. Sebutlah misalnya di buku itu ada pengakuan al-Hafidh
    Zainuddin ‘Abdurrahim Ibn Husain al-‘Iraqy (guru al-Hafidh Ibn Hajar
    al-‘Asqalany), ada juga pengakuan al-Imam Muhammad Ibn ‘Utsmaan al-Dzahaby,
    kemudian al-Imam Abul Fida’ Ibn Katsiir (pengarang tafsir yg terkenal itu),
    bahkan dua orang terakhir (Ibn Katsir dan al-Dzahaby) adalah murid Ibn
    Taimiyah. Kemudian juga pengakuan al-Imam Abul Hajjaj Yusuf Ibn al-Zaky
    al-Mizzy (guru dua imam tersebut sekaligus mertua dari Ibn Katsiir), dan masih
    banyak lagi disebutkan dalam buku tersebut pengakuan para ulama besar zaman itu
    atas keilmuan Ibn Taimiyah. Yang saya sebutkan barusaja itu adalah sebagian
    ulama syafi’iyah dalam buku tersebut, belum puluhan ulama besar madzhab
    lainnya. Uniknya, disitu ada juga pengakuan beberapa orang yang terkenal “min
    khushum” -lawan- Ibn Taimiyah, semisal Kamaaluddin Ibn al-Zimlikaany dan
    Atsiruddin Abu Hayyan al-Andalusy (pengarang tafsir al-Bahr al-Muhith).
    Hebatnya lagi, di
    beberapa makhthuthah (manuskrip) kitab ini ditemukan taqridh (semacam kata
    pengantar) tiga ulama besar untuk kitab Ibn Nashiruddin ini. Tiga ulama
    tersebut adalah:
    1. Al-Hafidh Ibn Hajar al-‘Asqalany al-Syafi’iy (penyusun Fathul Baary Syarh
    Shahih al-Bukhary).
    2. Al-Hafidh Badruddin al-‘Ainy al-Hanafy (penyusun ‘Umdatul Qary-Syarh
    Shahih al-Bukhary).
    3. Al-Qadhy Sirajuddin ‘Umar Ibn Rusalan al-Bulqiny (penyusun Mahasinul
    Ishthilah -ta’liq terhadap kitab Muqaddimah Ibn Shalah).

    Bagi yang ingin mendapatkan salah satu manuskrip kitab tersebut bisa download
    di
    sahab[dot]org , sepertinya masih ada dstu.

    Selain Ibn nashiruddin, ada lagi ulama terdahulu yang menyusun biografi Ibn
    Taimiyah, antara lain al-Imam Ibn ‘Abdul Haady al-Hanbaly al-Maqdisiy dengan
    bukunya ” al-Intishaar Fi Dzikri Ahwali Aakhiril Mujtahidiin Wa Qaami’il
    Mubtadi’in ” -tanda koma atas disini adalah translasi huruf ‘ain, bukan
    hamzah-. Kemudian ada al-Hafidh ‘Umar Ibn ‘Aly al-Bazzar menyusun kitab
    judulnya “al-A’laam al-‘Aliyah Fi Manaaqibi Ibn Taimiyah”.

    Ini belum termasuk pembelaan para ulama yg hidup jauh sesudah beliau, semisal
    Khairuddin al-Aluusy(w 1899), ulama Iraq, putra dari al-Imam Abu al-Tsanaa’
    Syihabuddin al-Aluusy pengarang tafsir Ruhul Ma’aany. Khairuddin al-Alusy
    meyusun buku “Jalaaul ‘Ainain Fil Muhaakamah Baina Ahmadain”, dua ahmad disini
    adalah Ahmad Ibn Taimiyah Syaikhul Islam dan Ahmad Ibn Hajar al-Haitamy. Dsini
    al-Aluusy membela Syaikhul Islam Ibn Taimiyah dan membantah Ibn Hajar
    al-Haitamy (bukan al-‘Asqalaany lo)*, yang berkata bahwa Ibn Taimiyah itu
    “mubtadi’un dhaall jaahilun ghaal” (ahli bid’ah, sesat, bodoh,
    ghuluw)…allahul musta’aan.

    Kemudian muncul pada zaman kita ini orang-orang yang juga membenci da’wah
    salafiyah, memusuhi Ibn Taimiyah, misalnya Abdullah al-Habasyi al-Harary di
    Libanon yang terkenal dengan firqah al-Ahbasy -nya, dia mengarang uku berjudul
    “al-Maqaalaat al-Sunniyah Fi Kasyf Dhalaalaat Ahmad Ibn Taimiyah”, namun
    abdullah al-hararay plus firqahnya sudah dikupas habis dan dibantah oleh DR
    Sa’d Ibn Ali al-Syahraany dalam disertasinya di Umm al-Qora University yang
    berjudul “Firqatul Akhbasy, Nasy’atuhaa Wa ‘Aqiidatuhaa” yang mendapat predikat
    cumlaude. Sedikit peringatan, beberapa murid al-Harary ini ada di Indonesia,
    mulai memperluas sepak terjangnya, dan mendapat dukungan dari tokoh-tokoh
    khususnya tokoh betawi, markas mereka di klender dengan nama “Syabab
    Ahlussunnah Wal Jama’ah” sering disingkat “Syahamah”. Mereka ‘aqidatan asy’ary
    muta’asshib, fiqhan syafi’iy muta’asshib, sulukan shufy qubury ghulat. Secara
    periodik mereka mengadakan daurah mendatangkan masyayikh mereka dari
    Libanon.

    Semoga “sedikit tambahan” ini tidak terlalu panjang, dan semoga bermanfaat.
    Wa Billahi al-taufiiq….

    Wassalamu’alaikum warahmatullah

    Shoqiil Muhannad Abu Muhammad

    * Beda Ibn Hajar al-‘Asqalany dan al-Haitamy (meskipun keduanya sama-sama
    bermadzhab syafi’iy) :

    1. al-‘Asqalaany: Ahmad Ibn ‘Ali Ibn Muhammad al-Kinany al-‘Asqalany Abul
    Fadh Syihabuddin, terkenal dengan Ibn Hajar al-‘Asqalany, pengarang Bulughul
    Maraam dan Fathul Baary, ( 773 – 852 H ).

    2. al-Haitamy: Ahmad Ibn Muhammad Ibn ‘Ali Ibn Hajar al-Haitamy al-Mishry
    al-Makky ( 909 – 974 H ). Inilah yang membid’ahkan Ibn Taimiyah.

    Balas
  • 9. Uzbeki  |  Juni 21, 2007 pukul 12:37 pm

    @adil

    Copy paste to mas?
    Payah amat sih udah muqolid Taimiyahisme copy paste lagi

    Balas
  • 10. abu yusuf  |  Juni 22, 2007 pukul 12:39 pm

    Akhi Fillah mudah-mudahan ini bermanfaat bagi kita semua
    MediaMuslim.Info – Lisan merupakan bagian tubuh yang paling banyak digunakan dalam keseharian kita. Oleh karena itu, sangat penting untuk menjaga lisan kita. Apakah banyak kebaikannya dengan menyampaikan yang haq ataupun malah terjerumus ke dalam dosa dan maksiat.

    Pada berbagai pertemuan, seringkali kita mendapati pembicaraan berupa gunjingan (ghibah), mengadu domba (namimah) atau maksiat lainnya. Padahal, Alloh Subhanahu wa Ta’ala melarang hal tersebut. Alloh Subhanahu wa Ta’ala menggambarkan ghibah dengan suatu yang amat kotor dan menjijikkan. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya, ”Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah salah seorang di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik dengannya.” (QS: Al-Hujurat: 12)

    Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan makna ghibah (menggunjing) ini. Beliau bersabda, yang artinya: “Tahukah kalian apakah ghibah itu?” Mereka menjawab, “Alloh dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui” Beliau bersabda, yang artinya: “Engkau mengabarkan tentang saudaramu dengan sesuatu yang dibencinya.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang aku katakan itu memang terdapat pada saudaraku?” Beliau menjawab, “Jika apa yang kamu katakan terdapat pada saudaramu, maka engkau telah menggunjingnya (melakukan ghibah) dan jika ia tidak terdapat padanya maka engkau telah berdusta atasnya.” (HR: Muslim)

    Yang terdapat pada diri seorang muslim, baik tentang agama, kekayaan, akhlak, atau bentuk lahiriyahnya, sedang ia tidak suka jika hal itu disebutkan, dengan membeberkan aib, menirukan tingkah laku atau gerak tertentu dari orang yang dipergunjingkan dengan maksud mengolok-ngolok. Banyak orang meremehkan masalah ghibah, padahal dalam pandangan Alloh Subhanahu wa Ta’ala ia adalah sesuatu yang keji dan kotor. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Riba itu ada tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan daripadanya sama dengan seorang laki-laki yang menyetubuhi ibunya (sendiri), dan riba yang paling berat adalah pergunjingan seorang laki-laki atas kehormatan saudaranya.” (As-Silsilah As-Shahihah, 1871)

    Wajib bagi orang yang hadir dalam majelis yang sedang menggunjing orang lain, untuk mencegah kemunkaran dan membela saudaranya yang dipergunjingkan. Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam sangat menganjurkan hal itu, sebagaimana dalam sabdanya, yang artinya: “Barangsiapa membela (ghibah atas) kehormatan saudaranya, niscaya pada hari kiamat Alloh akan menghindarkan api Neraka dari wajahnya.” (HR: Ahmad)

    Demikian pula halnya dalam mengadu domba (namimah). Mengadukan ucapan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan di antara keduanya adalah salah satu faktor yang menyebabkan terputusnya ikatan, serta menyulut api kebencian dan permusuhan antar manusia. Alloh mencela pelaku perbuatan tersebut dalam firmanNya, yang artinya: “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kesana kemari menghambur fitnah.” (QS: Al-Qalam: 10-11).

    Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Tidak akan masuk surga al-qattat (tukang adu domba).” (HR: Bukhari).

    Ibnu Atsir menjelaskan, “Al-Qattat adalah orang yang menguping (mencuri dengar pembicaraan), tanpa sepengetahuan mereka, lalu ia membawa pembicaraan tersebut kepada orang lain dengan tujuan mengadu domba.” (An-Nihayah 4/11)

    Oleh karena itu ada beberapa hal penting perlu kita perhatikan dalam menjaga lisan. Pertama, hendaknya pembicaraan kita selalu diarahkan ke dalam kebaikan. Alloh Subhaanahu wa Ta’ala berfirman, “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.” (QS: An-Nisa: 114)

    Kedua, tidak membicarakan sesuatu yang tidak berguna bagi diri kita maupun orang lain yang akan mendengarkan. Rosululloh shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Termasuk kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna.” (HR: Ahmad dan Ibnu Majah)

    Ketiga, tidak membicarakan semua yang kita dengar. Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu berkata, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Cukuplah menjadi suatu dosa bagi seseorang yaitu apabila ia membicarakan semua apa yang telah ia dengar.” (HR: Muslim)

    Keempat, menghindari perdebatan dan saling membantah, sekali-pun kita berada di pihak yang benar dan menjauhi perkataan dusta sekalipun bercanda. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Aku adalah penjamin sebuah istana di taman surga bagi siapa saja yang menghindari pertikaian (perdebatan) sekalipun ia benar; dan (penjamin) istana di tengah-tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda.” (HR: Abu Daud dan dihasankan oleh Al-Albani)

    Kelima, Tenang dalam berbicara dan tidak tergesa-gesa. Aisyah rodhiallohu ‘anha berkata, “Sesungguhnya Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam apabila membicarakan suatu hal, dan ada orang yang mau menghitungnya, niscaya ia dapat menghitungnya” (HR: Bukhari-Muslim).

    Semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjaga diri kita, sehingga diri kita senantiasa berada dalam kebaikan. Wallohu’alam.

    Balas
  • 11. razifuddin  |  Juni 27, 2007 pukul 7:11 am

    Ibnu Taimiyah meskipun tersohor dan memiliki banyak karangan dan pengikut, namun sesungguhnya ia adalah seperti yang dinyatakan oleh al Hafizh al Fiqih Waliyy ad-Din al ‘Iraqi (W 862 H): “Ibnu Taimiyah telah menyalahi Ijma’ dalam banyak permasalahan, kira-kira sekitar 60 masalah, sebagian dalam masalah Ushul ad-Din (pokok-pokok agama) dan sebagian berkenaan dengan masalah-masalah furu’ ad-Din (cabang-cabang agama), Ibnu Taimiyah dalam masalah-masalah tersebut mengeluarkan pendapat lain; yang berbeda setelah terjadi ijma’ di dalamnya”.

    Berbagai kalangan orang awam dan yang lain pun mulai terpengaruh dan mengikuti Ibnu Taimiyah sehingga ulama-ulama di masa Ibnu Taimiyah mulai angkat bicara dan membantah pendapat-pendapatnya serta memasukkannya dalam kelompok para para ahli bid’ah. Di antara yang membantah Ibnu Taimiyah adalah al Imam al Hafizh Taqiyy ad-Din Ali bin Abd al Kafi as-Subki (W 756 H) dalam karyanya ad-Durrah al Mudliyyah fi ar-Radd ‘ala Ibn Taimiyah, beliau mengatakan: “Amma ba’du. Ibnu Taimiyah benar-benar telah membuat bid’ah-bid’ah dalam dasar-dasar keyakinan (Ushul al ‘Aqa-id), ia telah meruntuhkan tonggaktonggak dan sendi-sendi Islam setelah ia sebelum ini bersembunyi di balik kedok mengikuti al Qur’an dan as-Sunnah. Pada zhahirnya ia mengajak kepada kebenaran dan menunjukkan kepada jalan surga, ternyata kemudian ia bukan melakukan ittiba’ (mengikuti sunnah, ulama Salaf dan konsensus ulama) tetapi justru membuat bid’ah-bid’ah baru, ia menyempal dari umat muslim dengan menyalahi Ijma’ mereka dan ia juga mengatakan tentang Allah perkataan yang mengandung tajsim (meyakini Allah adalah jisim; benda yang memiliki ukuran dan dimensi) dan ketersusunan (tarkib) bagi dan Allah”.

    Di antara perkataan Ibnu Taimiyah dalam ushul ad-din yang menyalahi ijma’ kaum muslimin adalah perkataannya bahwa jenis alam ini qadim (tidak bermula), (sebagaimana ia katakan dalam tujuh karyanya: Muwafaqah Sharih al Ma’qul li Shahih al Manqul, Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah, Syarh Hadits an-Nuzul, Syarh Hadits ‘Imran ibn al
    Hushain, Naqd Maratib al Ijma’, Majmu’ah Tafsir Min Sitt Suwar, Al Fatawa) dan Allah pada Azal (keberadaan tanpa permulaan) selalu diiringi dengan makhluk. Ibnu Taimiyah juga mengatakan bahwa Allah adalah jism (bentuk), mempunyai arah dan berpindah-pindah. Ini semua adalah hal yang ditolak dalam agama Allah ini. Dalam sebagian karangannya, Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa Allah Ta’ala persis sebesar ‘Arsy, tidak lebih besar atau lebih kecil, Maha suci Allah dari perkataan ini. Ibnu Taimiyah juga menyatakan bahwa para nabi itu tidak ma’shum, Nabi Muhammad tidak memilik jah (kehormatan), karena itu menurutnya jika ada orang bertawassul dengan Nabi maka ia salah besar (sebagaimana ia nyatakan dalam bukunya at-Tawassul Wa al Wasilah . Ia juga mengatakan bahwa berpergian untuk berziarah ke makam Rasulullah adalah perjalanan yang tergolong maksiat dan tidak boleh mengqashar shalat karenanya (sebagaimana ia kemukakan dalam kitab al Fatawa). Dalam hal ini ia benar-benar sangat berlebihan padahal tidak ada seorangpun sebelumnya berpendapat semacam ini. Ibnu Taimiyah juga menyatakan bahwa siksa bagi penduduk neraka akan terhenti dan tidak akan berlaku selama-lamanya (sebagaimana dituturkan oleh sebagian ahli fiqh dari sebagian karangan Ibnu Taimiyah dan dinukil oleh muridnya; Ibn al Qayyim al Jawziyyah dalam kitab Hadi al Arwah).

    Ibnu Taimiyah sudah berkali-kali diperintah untuk bertaubat dari perkataan dan keyakinannya yang sesat ini, baik dalam masalah-masalah ushul maupun furu’, namun ia selalu mengingkari janji-janjinya sehingga akhirnya ia dipenjara dengan kesepakatan para qadli (hakim) dari empat madzhab; Syafi’i, Maliki, Hanafi dan Hanbali. Al Imam al Hafizh al Faqih al Mujtahid Taqiyy ad-Din as-Subki dalam salah satu risalahnya mengatakan: “Ibnu Taimiyah dipenjara atas kesepakatan para ulama dan para penguasa”. Terakhir mereka menyatakan Ibnu Taimiyah adalah sesat, harus diwaspadai dan dijauhi, seperti dijelaskan oleh Ibnu Syakir al Kutubi (murid Ibnu Taimiyah sendiri) dalam kitabnya ‘Uyun at-Tawarikh.

    Pada saat yang sama, raja Muhammad ibn Qalawun mengeluarkan keputusan resmi pemerintah untuk dibaca di semua Masjid di Syam dan Mesir agar masyarakat mewaspadai dan menjauhi Ibnu Taimiyah dan para pengikutnya. Ibnu Taimiyah akhirnya dipenjara di benteng Al-Qal’ah di Damaskus hingga mati di tahun 728 H.

    Balas
  • 12. razifuddin  |  Juni 27, 2007 pukul 7:44 am

    ASTRONOMI VS AQIDAH A’LA TAIMIYAH WA JISMIYAH

    Di antara perkataan Ibnu Taimiyah dalam ushul ad-din yang menyalahi ijma’ kaum muslimin adalah perkataannya bahwa jenis alam ini qadim (tidak bermula), (sebagaimana ia katakan dalam tujuh karyanya: Muwafaqah Sharih al Ma’qul li Shahih al Manqul, Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah, Syarh Hadits an-Nuzul, Syarh Hadits ‘Imran ibn al
    Hushain, Naqd Maratib al Ijma’, Majmu’ah Tafsir Min Sitt Suwar, Al Fatawa) dan Allah pada Azal (keberadaan tanpa permulaan) selalu diiringi dengan makhluk. Ibnu Taimiyah juga mengatakan bahwa Allah adalah jism (bentuk), mempunyai arah dan berpindah-pindah. Ini semua adalah hal yang ditolak dalam agama Allah ini. Dalam sebagian karangannya, Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa Allah Ta’ala persis sebesar ‘Arsy, tidak lebih besar atau lebih kecil, Maha suci Allah dari perkataan ini

    “Arah atas alam semesta adalah yang sejajar dengan kepala manusia, oleh karena itu dimana pun manusia berada maka yang searah dengan kepalanya adalah atas alam semesta. Dan yang paling atas dari alam semesta ini adalah ‘Arsy-nya Allah Ta’ala”
    “Bahwasannya bumi terletak di tengah bulatan langit. Yang menunjukkan bahwasannya semua benda langit itu terlihat dari bumi di segala penjuru langit dalam jarak yang sama. Ini semua menunjukkan bahwa jauhnya antara bumi dan langit itu sama dari segala sisi dan ini dengan tegas menunjukkan bahwa bumi itu terletak persis di tengah-tengah” (Majmu’ Fatawa 25/195)

    Dengan pemahaman ala Ibnu Taimiyah bahwa bumi di tengah, kemudian ada bulatan besar berisi bintang dan benda langit lain, dengan bumi sebagai pusat alam semesta, kemudian arsy disebelah luar bulatan besar tersebut.

    Kita kasih ilustrasi dengan pemahaman ala Ibnu Taimiyah, bumi di tengah, dikelilingi benda langit, kemudian batas langit, kemudian arsy paling atas ITU BUAT yang HIDUP DIATAS bola bumi.
    Yang bagian bawah dan samping dapat apa wahai muqollidun wa muqollidah Taimiyah

    Ini yang mirip konsep Budha Falundafa teori Tuhan, Langit dan Bumi!

    Minhajussunnah? Manhaj Gado-gado begitu dibilang salafus sholeh?!?!?!
    Jangan sering nepu anak kecil ya hehehe

    Balas
  • 13. HE_HE_HE  |  Juli 18, 2007 pukul 1:32 pm

    he .. he .. he… lucu lucuuuu dech kalian smoaa ….
    kalo ama sesama muslim loe pada kritissss .. ama para ulama, loe sok pinter ngerasa murid goesdoer nomor wahid. kalo loe dikasih umur 1000 taon juga loe gak bakalan nyamain ilmu ulama yang kalian caci abis2an ntu.loe baru bisa nggeblog aza udah somse bangget, cian dech.
    ulama anu ngomong gini, ulama anu ngomong gitchoe… lalu loe kritisi kayak loe majikannya die … apa loe sadar loe kejebak ama ego loe sendiri. sadar bruurr … jangan sok ngevonis orang !…. ibnu taimiyah gini kek gitu kek, apa urusan loe … nyang jelas kalo ibu loe, adik perempuan loe, bibi loe diperkosa laki2 hypersex rame-rame, lalu dibantai dan dagingnya disate, apa loe masih bisa menuntut itu semua pelaku dengan adil menurut ilmu loe ???? paling-paling sama kacung SBY divonis 2 taon potong masa tahanan di WC karena melanggar KUHP goblok. puas loe ???? panas kuping loe ?? rasain loe ……

    Balas
  • 14. HE_HE_HE  |  Juli 18, 2007 pukul 2:54 pm

    ORANG NU, KALO MAU TAHLIL, MULUDAN, RAJABAN, SILAHKAN … MONGGOOOOO ….. PAKE DUPA ALIAS MENYAN SEKILOOOO BIAR KULIT KAKEK KALIAN DIASEPIN TERRUSSSSS …. BIAR AWEEEETTTTT……. MONGGOOOOOOOOOOOO ….,

    NYANG MENGABDI SAMA AMERIKA DI JAZIRAH ARAB SANA, SILAHKAN ,…. MONGGGOOOOOOO …..

    GUWE NYANG BIKIN ONAR INI REPUBLIK KAFIR ….. DIMONGGGOIN GAK SICHHHH …………

    MONGGGOOOOOOOOOOO NYANG MAU GABUNG AME TERORIS … MONGGGOOOO …….

    Balas
  • 15. musadiqmarhaban  |  Juli 25, 2007 pukul 7:15 pm

    😀

    Balas
  • 16. musadiqmarhaban  |  Juli 25, 2007 pukul 7:17 pm

    emosi laa yaau… xi xi xi… 🙂

    Balas
  • 17. musadiqmarhaban  |  Juli 25, 2007 pukul 7:18 pm

    kalo semua kudu dimonggoin kok hrs ada yng repooot…. 😀

    Balas
  • 18. abu kholid  |  Juli 26, 2007 pukul 5:00 am

    segala puji bagi Allah tuhan langit dan bumi. keselamatan atas siapa saja yang meniti jalan Rosulullah SAW dan para sahabatnya dan semoga Allah membinasakan orang-orang yang menyelisihi dan membuat buat ajaran baru yang dinisbatkan kepada Isalam serta membuat perpecahan dan syubhat2 ditengah umat. semoga Allah memuliakan Ibnu Taimiyah yang telah berjuang untuk mengembalikan kemurnian agama ini, walau pun orang2 kafir, orang2 musyik,dan orang2 munafik serta orang2 yang ada penyakit dalam hatinya tidak menyukainya.
    “adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.”
    anda menggunakan ayat diatas untuk menuduh Ibnu taimiyah dan mengatakan bahma Ibnu Taimiyah tidak beriman kepada Ayat2 mutasyaabihaat hanya dikarnakan Ibnu Taimiyah tidak menyertakan makna batin dalam tafsifnya. padahal Ibnu Taimiyah tdk menyertakan makna batin karna Ibnu Taimiyah orang yang cerdas berakal dan bukan karena dia tidak mengimani ayat mutasyaabihaat. adapan anda adalah orang yang bodoh dan sok tau mengatakan menafsirkan Al Quran itu haruslah dengan makna batin tidak boleh konstektual maka anda dan orang2 yg sesat seperti anda berusaha mentakwilkan ayat2 mutasyaabihaat dengan batin anda logita anda nawa nafsu anda. ayat yang anda pakai untuk memojokkan ulama besar Ibnu taimiyah tersebut sebenarnya adalah ayat yang telah Allah terangkan kepada umat untuk menjelaskan bahwa di dalam hati anda ada penyakit. penyakit yg kronis
    “adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.”
    saya peringatkan kepada anda untuk segera bertaubat dan mengambil jalan yg lurus,

    Dari seseorang yg mencintai Ibnu Taimiyah karna Allah

    Balas
  • 19. samaranji  |  Agustus 6, 2007 pukul 10:56 am

    ASSALAMU’ALAIKUM WR. WB.

    katur kagem sedulur he_he_he (siapapun anda)
    SUMONGGO anda berpendapat sak’udele dw

    bagi orang bodoh, mulut adalah raja
    bagi orang bijak, mulut hanyalah hamba

    WASSALAMU’ALAIKUM WR. WB.

    Balas
  • 20. somedude  |  Agustus 23, 2007 pukul 4:03 am

    var taimiyahBlindFollowers:Array = [];

    initialize();

    function initialize(){

    for (var i in taimiyahBlindFollowers){

    taimiyahBlindFollowers[i] = “idiot” || “retarded”;

    }

    }

    Balas
  • 21. rivafauziah  |  Agustus 26, 2007 pukul 6:10 am

    duh..!

    Balas
  • 22. Mohd Faisal Omar  |  September 8, 2007 pukul 5:14 pm

    aqidah salafi free download

    Balas
  • 23. anas fauzi rakhman  |  September 9, 2007 pukul 3:26 am

    menyibak konspirasi blog syiah ini, silahkan kunjungi:
    http://mumtazanas.wordpress.com/2007/09/07/syiah-hati-hati-konspirasi-didalam-blog/

    Balas
  • 24. ABU JIHAD  |  September 14, 2007 pukul 9:32 am

    Memang yang menjadi masalah, ada satu golongan yang suka mensesatkan golongan lain, jika anda tahu yang dianggap sesat bukan hanya tabligh tapi dibawah ini Listnya :
    -PKS (Ikhwanul Muslimin)
    -HT ( Hiztbut Tahrir)
    – Semua orang Islam yang menganut 4 mahzab ( Syafii, hambali, hanafi & maliki)
    -NU, Muhamadiyah
    -dll

    Siapa Dalangnya, ialah yang mengaku (WAHABI BERKEDOK) SALAFI /As-Sunnah
    ( Salah Fikir ) SELAIN mereka dikatakan SEMUANYA SESAT….!!!!!

    Siapa yang sesat kalau begitu………………????????????

    Alhamdulillah Ustdz.Jafar Umar T, sudah keluar dari bayang2 yahudi, Kerajaan Saudi,
    Setan USA.

    WAHAI WAHABI/SALAFY kenapa kalian mengkafirkan umat islam selain kalian, mengapa tidak
    mencela SETAN AMERIKA……

    Saya Kasihan sama, Para Salafy Indonesia yang bodoh2 dimanfaatkan agen2 yahudi
    MENGHALALKAN DARAH SESAMA MUSLIM SATU TANAH AIR INDONESIA LAGI……..

    Balas
  • 25. fatah  |  September 26, 2007 pukul 8:08 am

    Sebagaimana dikatakan oleh pelancong islam dan ahli sejarah islam Bahwa Ibnu Taimiyah itu sangan cerdas, tapi sayang otaknya goncang. Lho……. koq mau2nya para pengikutunya memuja si Taimyah itu

    Balas
  • 26. ABU WAHABI  |  Oktober 1, 2007 pukul 2:08 pm

    WAHAI SAUDARAKU , KALIAN MENJELEKKAN IBNU TAIMIYYAH RAHIMAHULLOH SEBAGAI TAKFIRY? INGATLAH FIRMAN ALLOH TAALA : INNALLADZINA FATANUL MUKMININA WALMUKMINAT TSUMMA LAM YATUBU FALAHUM ADZABU JAHANNAM WALHUM ADZABUL HARIQ . PAHAM YA SAFIH?, ALLOH YAHDIK

    Balas
  • 27. Razifuddin  |  Oktober 10, 2007 pukul 1:58 pm

    @abu kholid

    ente ngigau ya…?

    apakah saya pernah berdalil dengan Ayat Quran mengomentari kitabnya Ibnu taimiyah?
    malahan ente yang berdalil gitu….?

    ente ni persis Ibnu Taimiyah dimana dia mencela Imam Ghazaliy dimana dianggap terlalu banyak menggunakan filosofi Yunani, namun Ibnu Taimiyah sendiri mendoktrinkan Jargon Bumi Sebagai Pusat Alam Semesta, yang merupakan doktrin Gnostic Catholic Roma di zaman Kegelapan eropa…!

    Kemudian Ibnu Taimiyah berbicara tentang astronomi jelas menggunakan takwilnya sendiri dengan tidak mengobservasi keberadaan posisi semesta, planet, ruang antar planet, justru inilah yang membuat Ibnu Taimiyah melenceng dari kaidah Imam Hambali (ahlussunnah) yang menyerahkan makna takwil kepada Allah Swt.

    Balas
  • 28. Tong Kie Too  |  Oktober 11, 2007 pukul 2:44 am

    Baca tulisan yang berisi perdebatan kok rasanya tambah tidak terjadi pencerahan. Dalam Quran ayang yangmensifati sifat2 Jamaliah Alloh lebih dari 80% disebutkan dibanding yang mensifati sifat2 Jalaliyah yang relatip sangat jarang disibut. Secara statistik kemungkinan Allah memberikan sekedar gambaran bahwa 80% dari 100% penduduk Bumi sejak Adam hingga kiamat nanti akan masuk surga walaupun sebagian harus mampir dulu di Neraka untuk beberapa waktu. Artinya nanti itu ada banyak non muslim yang karena mereka itu baik jujur dan amanah dan percaya Tuhan dengan cara mereka sendiri dan belum tersentuh oleh kebenaran Islam secara memadai (dalam pandangan Allah SWT) juga masuk surga. Dengan demikian sebaiknya kita tidak usah terlalu mempersalahkan orang seperti IT atau para tokoh2 agama dan menjustifikasi mereka sebagai sesat. Kalau kesesatan yang kita jalani tersebut sudah diupayakan dengan jujur dan dengan semangat mohon petubjuk Allah tanpa rasa sombong dan arogan, Allah akan memafkan, sebab kapasitas kita memang sangat terbatas. Sebaiknya sasama muslim itu tidak saling menyakiti dengan kata2 yang tidak patut. Saya yakin kalau ada satupendapat tentang agama yang nyeleneh tidak selamanya salah, bisa jadi itu adalah temuan baru pada saat itu. Tapi kalau nyelenehnya sudah mengandung unsur arogansi dan bisa menyakiti orang lain harus dilawan. Untuk menjadi seorang muslim yang baik sebenarnya tidak harus banyak mempelajari ilmu2 agama dari berbagai mazhab. Kita lebih menganut mazhab Akhlaqul karimah sesuai tununan Rasulullah dan tidak usah terlalu banyak berteori.
    Kita lebih berorientasi pada syariah esensial dibanding literal yang seringmengundang perdebatan. Yang dimaksud esensial adalah sebuah jawaban bahwa, bila kita mengamalkan sesuatu tersebut apaha akidah akan tercerabut dari hati kita dan akhlaq akan terpelanting dari karakteristik Rahmatan lil Alamin. Sehingga jika kita menemui sesorang yang mengamalkan sesuatu berbeda dari kita sejauh dua hal tersebut tidak dikorbankan ya nggak masalah. Dan tidak usah menfitnah dengan kata2 kasar seperti, sesat, bidah dlsbg.
    Sementara sekian dulu

    Balas
  • 29. han  |  Oktober 18, 2007 pukul 2:36 pm

    maksud yadUllah mnurutmu apa……

    Balas
  • 30. rivafauziah  |  Oktober 31, 2007 pukul 12:45 pm

    Hadir untuk membaca..!

    Balas
  • 31. herwin  |  November 7, 2007 pukul 3:02 am

    assalamu ‘alaikum wr.wb
    untuk teman-teman yang ingin mengetahui tentang kegoncangan pikiran orang-orang wahabi, mungkin pernah mendengar kitab durorus saniyah fi roddil ‘alal wahabiyah. Dalam kitab itu kita akan mendengar kritikan seorang mufti syafi’i sayyid zaini dahlan terhadap wahabi, kitab ini penting sekali untuk di miliki.
    saya udah mencari kitab ini di daerah bandung, tetapi tidak ada.saya pernah membacanya, namun kitab ini di bawa pergi oleh yang punyanya ke jakarta. Bagi siapa saja teman-teman yang punya kitab durorus saniyah fi roddil ‘alal wahabiyah ( menolak faham wahabi), mohon supaya bisa membantu saya untuk mendapatkannya. ini e-mail yang bisa di hubungi: asysyahadatain@yahoo.co.id atau herwin_pj@yahoo.co.id.

    Balas
  • 32. herman  |  Desember 7, 2007 pukul 1:33 am

    Ibnu Tainya Minyak…..siapa yah orang ini ?

    Balas
  • 33. teeway  |  Januari 3, 2008 pukul 3:00 am

    Saya hanya baca sepintas, kayanya nggak perlu dibahas hal2 ataupun pemahaman saudara2 kita yang memilih wahabi sebagai mazhab, karena dalilnya mereka sudah sebagai doktrin, jadi cape untuk mendiskusikan apalagi membuat mereka untuk berpikir.

    Sekarang kita hanya bisa kasih referensi2 aja, agar bisa dilihat atau diraba atau diterawang.. (kaya iklan uang ajah..) nah.. setelah itu kita hanya bisa berdo’a, karena mereka walaupun kasar keras dalam penyampaiannya sangat nggak ngaruh… katanya mereka “EGPTTT” = Emangnya Gue Pikirin Tau Tidak Tol…”
    Atas dasar pengalaman pribadi dan tersebut diatas… makanya kita hanya bisa berdo’a agar pemahaman mereka dapat diberantas dari muka bumi ini… kalau tidak waduh… jadinya apa dunia ini… (Assalamua’laika ya shohibuzzaman…)
    Apapun mereka tetap saudara2 kita juga kan…
    Yang mau tau tentang Wahabi ataupun Ibnu TaiMiyah bisa baca buku SYEKH MUHAMMAD bin ABDUL WAHAB dan ajarannya, penulis Syekh Ja’far Subhani, penerbit Citra..

    Balas
  • 34. Nartono  |  Januari 29, 2008 pukul 11:31 am

    Numpang dikit ya?.Mudah-mudahan penjelasanku masuk di akal dan hati yg paling dalam. Bukan masuk di kantong bolong,he,he,. Begini ya? Sesuatu yg bertempat itu sudah pasti memerlukan
    1. Waktu.
    .kalo udah perlu waktu pasti akan
    2. Berubah-ubah.
    kalo udah berubah-ubah pasti akan
    3. Musnah.
    kemudian hancur alias
    4. Tidak kekal.
    Allah itu Dzat bukanlah sifat. Kalo sifat itu pasti butuh tempat. contohnya sifat hitam pada kopiah,sifat putih pada kapur. Apakah Dzat itu butuh tempat? Apakah DZat itu berbentuk hingga memerlukan tempat? Wahai wahabi mania? Apakah Allah ada sebelum Arasy ada,ato Arasy dulu baru Allah ada?Kalo Allah ada sebelum Arasy ada, lalu dimanakah Allah itu? Kalo penjelasanku yg gampang ini ga bisa diterima oleh akal kalian,berarti akal kalian dimana ya? di dalam kepala kayanya ga mungkin lagi,ato mungkin didalam pantat ya?he,he,……………..
    Mudah-mudahan kalian bisa menemukan akal kalian yg hilang. Yg didalam PANTAT segera aja di pindahkan ya?he,he,….

    Balas
  • 35. Nartono  |  Januari 29, 2008 pukul 12:21 pm

    untuk ind Fb. aku heran sama ente,masa baca yasin,dzikir tahlil di anggap bid’ah. Kalo baca koran,main internet pakai mobil,pake motor,pesawat itu bid’ah apa ga ya? Nonton tv,main hp itu bid’ah juga ya? Kan Rosul ga pernah tuh kaya gituan. Aku heran deh ma kamu? CAPE DEH ngomong ma orang yg akalnya di PANTAT,he,he

    Balas
  • 36. microwave  |  Februari 18, 2008 pukul 5:11 pm

    Walah2x… ibadah ada aturannya, sunnah bukanlah wajib mengikat (kalau dilakuin ya dapat pahala), sementara lisan (dalam hal ini ketikan) harus dijaga. Kalau mau debat ilmiah juga yang ilmiah. kenapa Pantat ikut-ikutan? Jangan takabur dan dengki… Bersabar lah dan beramal sholeh sehingga Anda tidak merugi. Rasul mencontohkan, kita ikut itu baik, Rasul tidak mencontohkan (dalam hal ibadah dan aqidah) ya tidak usah bikin-bikin. urusan naik pesawat ya sama aja dengan naik unta (cuma bayangin aja untanya bersayap dan minum minya) internet ya seperti surat menyurat.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


KOMUNITAS

PALING BENER..!?

Preman Agama

WARNING..!

Assalamualaikum wr wb. Diberitahukan kepada semua pengunjung blog ini, bahwa setiap komentar yang hanya made in copy paste kami anggap "SPAM". Kami mengharap, komentator menunjukkan kemampuan bernalar, berlogika dalam analisa, hujjah bahkan kritik liar di setiap artikel yang tersaji. Setiap komentar bisa di komentari secara timbal balik sehingga tercipta diskusi yang segar. Sekalipun muatan komentar itu asal muasalnya bukan hasil perenungan atau karya sendiri tetapi coba hindarilah pendapat yang meng-ekor “KATANYA” abu fulan bin abu-abu dengan cara copy paste. Berfikirlah bebas..!, liar…!! jangan sekedar jadi kacung.!! Wassalam wr wb. Best Regard. ASWAJA. Hn Wawan.

Harga Blog Ini


My blog is worth $30,485.16.
How much is your blog worth?

JUMLAH POPULASI

  • 128,531 PENDUDUK

TAMU YANG HADIR

TANGGALAN

Mei 2007
M S S R K J S
« Apr   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

NEWS UPDATE

ARSIP PADA


%d blogger menyukai ini: