Diskusi

Assalamualaikum wr wb

Mari kita cari kebenaran. Bukan kebenaran yang hanya klaim dan slogan belaka. Mari kita buang lantunan dzikir dan klaim KAFIR, BID’AH, SYIRIK dan TAHAYUL hanya karena kita tidak semazhab.

Iklan

114 Komentar Add your own

  • 1. Ali  |  Maret 23, 2007 pukul 12:46 am

    Ass. Wr. Wb

    PAk Ustadz, saya tunggu artikel-artikel bapak tentang wahabi dan bantahannya dari para kyai kita. Ini modal saya buat melwan mereka lewat diskusi

    wasalam

    —————————————————————————————
    Waalaikum salam Wr. Wb

    Ya akhina Ali. antum doakan saya. InsyaAllah artikel yang antum minta akan segera kami penuhi.
    Bihaulillahi wa Quwwatihi.

    Wassalam wr. wb

    Aswaja

    Balas
  • 2. abdullah  |  Maret 23, 2007 pukul 6:05 am

    —————————————————————————————

    Assalamualaikum wr wb

    Mari kita cari kebenaran. Bukan kebenaran yang hanya klaim dan slogan belaka. Mari kita buang kata-kata KAFIR, hanya karena kita tidak semazhab .
    ———————————————————————————-

    afwan ya akhi dari judul blog ini ada kata2 takfiriyahnya….tdk kah sebaiknya dibuang juga?

    _________________________________________________________________________

    Waalaikum Salam Wr. Wb

    Wahai saudaraku Abdullah…. apakah ada kata yang tepat selain TAKFIRIYAH bagi mazhab yang suka mengkafirkan mazhab lain hanya beralasan tidak seakidah. ? atau mungkin ada kata yang tepat buat mazhab ini. Silahkan ya Akhina Fillah.

    Wassalam wr. wb

    Aswaja

    Balas
  • 3. Amd  |  Maret 24, 2007 pukul 6:26 pm

    Assalamualaikum wr wb Pak Ustadz

    Saya mungkin masih bodoh dan dungu dalam bidang agama, tapi terus terang saya merasa resah setiap melihat orang-orang beraliran salafy nimbrung berdiskusi dalam komentar di blog-blog kawan-kawan, yang mana komentarnya nyata-nyata menebarkan kebencian terhadap SEMUA orang di luar paham mereka.

    Belum lagi fatwa-fatwa yang mereka buat saya terkadang terkesan konyol dan sangat bertentangan dengan logika, bahkan yang paling lemah sekalipun (yang selalu disanggah dengan “iman kami tidak berdasarkan akal, tetapi kepatuhan”)

    Salah satu contoh, fatwa bahwa matahari mengelilingi bumi, yang kok ya malah ingin mengembalikan pemahaman geosentrisme seperti era “dark age”-nya Kaum Kristiani?

    Semoga saya mendapatkan pencerahan mengenai “maksud terselubung” dari “mereka yang merasa paling benar sendiri” ini.

    Mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan, saya menulisnya agak dengan emosi…

    Wassalamualaikum wr wb
    —————————————————————————–
    Wassaam wr. wb

    Akhina Amd Aziz……..
    Membaca dan meneliti ajaran WAHABI yang mengaku Salafy mendaku Ahlu Sunnah ini, Inti dalam akidah mazhab takfiriyah ini adalah mematikan peran nalar akal secara total, sehingga akal dalam hal ini tidak berfungsi semestinya ibaratnya. Akal hanya sekedar permainan. Akal dalam pandangan mazhab yang satu ini adalah sekedar hiasan dan dolanan, oleh karena itu mereka menolak ilmu dan sains. Insya Allah kita bersama sama akan mengungkap hakekat mazhab yang satu ini. Insya Allah

    Wassalam wr wb

    Balas
  • 4. joesatch  |  Maret 28, 2007 pukul 5:41 am

    ass.wr.wb.
    saya menunggu blog seperti ini eksis.
    sama seperti mas amd, saya juga resah dengan keberadaan “mereka” yang suka sruduk sana-sruduk sini.
    oh ya, sedikit saran, mungkin header di atas bolehlah kalo dibuat yang lebih elegan 🙂 banyak rekan-rekan yang siap membantu dakwah ini, kok.

    wass.wr.wb.,
    joesatch

    Balas
  • 5. Ali  |  Maret 29, 2007 pukul 6:02 am

    Hahahah

    Macam gini toch orang yang mau berdakwah, hey joesatch..???

    Wong tiap kali coment selalu menghadirkan gambab perempuan merokok. Mau Jadi apa Islam kelak jika oendakwahnya saja begini

    Balas
  • 6. wadehel  |  Maret 29, 2007 pukul 2:44 pm

    Mas, eh, akhi, kenapa sih harus kental banget berbau arab?

    Mungkin ga membahas Islam secara indonesia, biar keliatan kalau islam sebenernya bisa masuk kemanapun?

    Mungkin saya terkesan alergi sama antum-antuman, tapi… ya gitu deh, mohon dijawab.

    Balas
  • 7. Aswaja  |  Maret 30, 2007 pukul 12:33 am

    #Wadehel… Tengkiuk telah kunjungi saya. Hmm……… iya deh kita akan lebih meng-Indonesia dalam bertutur. lah terus kalau pakai bhs daerah gimana wadehel..??

    Balas
  • 8. Aswaja  |  Maret 30, 2007 pukul 12:37 am

    Waalaikum salam wr wb

    Boleh …joesatch, ntar saya rubah header serta bannernya tapi tolong dibikinin yachhhh. soalnya saya nggak bisa bikin yang lebih ok. kirim ke saya yachh…pasti saya ganti deh.

    untuk Ali …. nikmati tuh artikel saya

    Wassalam wr wb

    Balas
  • 9. joesatch  |  Maret 30, 2007 pukul 3:00 am

    sudah saya kirim lho, oom 😉

    Balas
  • 10. joesatch  |  Maret 30, 2007 pukul 4:26 am

    Ali:::
    ternyata lebih suka menilai komputer dari casingnya ya, ketimbang dari hardware-nya? 😛

    Balas
  • 11. Amd  |  Maret 30, 2007 pukul 10:42 am

    Pak, sebaiknya jangan mengumbar e-mail sendiri di depan publik, berbahaya, nanti bisa disalah gunakan orang-orang tidak bertanggung jawab lho. Usul saya kirim e-mail aja ke Joe, kan ada e-mailnya di kolom komentar kalau bapak buka dashboard, dan alamat emailnya dihapus aja, sebelum terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan.

    Balas
  • 12. Aswaja  |  Maret 30, 2007 pukul 12:11 pm

    Makasih joesatch atas kirimannya. ok banget

    Balas
  • 13. Aswaja  |  Maret 30, 2007 pukul 12:13 pm

    Makasih Amd atas informasinya.

    Balas
  • 14. joesatch  |  Maret 31, 2007 pukul 3:44 pm

    eh, ninggalin pesen nyebarin TBC di blog saya. TBC apaan sih, mas? taunya aku juga penyakit, hehehe

    Balas
  • 15. H.N. Wawan  |  April 1, 2007 pukul 10:12 pm

    Joesatch ….Masak saya terus yang dituduh sebagai penyebar TBC…

    Balas
  • 16. Ind. F.B  |  April 4, 2007 pukul 1:19 am

    ikutan nimbrung nihhh…..
    terus terang saya bukan berasal dari organisasi mana-mana.
    tapi intinya begini….
    TBC sangat tepat jika dikaitkan dengan ritual ibadah.. yang pada dasarnya ibadah itu adalah haram kecuali yang diperintahkan. jadi jangan ngarang-ngarang dalil pembenaran dalam ibadah, apalagi menggunakan dalil semuanya kembali kepada niat (inamaa a’malu biniat). karena dalil ini digunakan dalam hal yang berhubungan dengan muamalah, yang pada dasarnya semua boleh, kecuali yang dilarang. dalam kasus berdakwah melalui apakah bid’ah ? internet adalah perkara muamalah, bukan ibadah. jadi ya boleh-boleh saja.

    Balas
  • 17. sastro  |  April 7, 2007 pukul 6:33 pm

    Salam kenal om…kita sehati neh…

    Balas
  • 18. Abu Hanif  |  April 8, 2007 pukul 1:45 pm

    Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh

    amd berkata,
    “Belum lagi fatwa-fatwa yang mereka buat saya terkadang terkesan konyol dan sangat bertentangan dengan logika, bahkan yang paling lemah sekalipun (yang selalu disanggah dengan “iman kami tidak berdasarkan akal, tetapi kepatuhan”)”

    garis bawahi pada kata bertentangan dg logika.
    agama ini bukan logika ya akhi. kalau logika, kata Ali radhiyallahu ‘anhu tentunya bagian bawah khuf lebih pantas untuk diusap daripada bagian atasnya (lha yang kotor itu ‘kan bawah to?)
    trus, mustahil dalam semalan Rasulullah bisa ke langit yang ketujuh (kalau mikir dg logika tadi)
    tapi, yang namanya iman itu menyakini, walaupun terkdaang akal bisa juga berperan. tapi, cuma sedkit. akal kita itu terbatas ya akhi. jadi, ya terimalah al-haq walau kayaknya ‘edan’ bagi akal-akal kita. barakallaahu fiikum. oh ya selama saya ngaji salafy saya belum pernah melihat dan mendapati asatidz maupun ulama memvonis kafir atau bid’ah atau sesat seseorang sebelum terpenuhi kaidah-kaidah syar’iyyah dalam masalah ini.
    jadi, ayolah. kita sesama muslim kalau kalian tuduh kami mengkafirkan, maka kami menyanggahnya. mohon jangan bebankan kepada kami beban yang kami tak sanggup tuk memikulnya dan tidak benar2 ada pada kami. tolong jangan fitnah kami.
    Justru kami sayang kaum muslimin, makanya kami peringatkan mereka dari kebid’ahan dan kebuukan. kalau terkesan kasar, maka itu adl kesalahan sebagain ikhwah kami yang mungkin kurang paham cara dakwah dll. atau mungkin orang yang salah interpretasi. tapi, kesalahan itu bukan pada manhajnya Salafush Shalih yang kami jalani. tapi, pada pribadi penempuhnya yang penuh khilaf ya akhi.
    kalau kami salah, ingatkan ya akhi. tapi, tolong jangan main tuduh. bisa jadi tuduhan itu kan kembali kpd salah satu dari kita.
    jazakallahu khairan wa yahdikumullahu wa iyayya ilal haq wa nastaqimuhu fi dzalika.barakallahu fiikum

    Balas
  • 19. heri setiawan  |  April 9, 2007 pukul 2:42 am

    Yah… gitu deh…
    gak usah dibesar-besarin yak…

    Balas
  • 20. Amd  |  April 9, 2007 pukul 4:28 pm

    @ Abu Hanif

    Saya pertanyaan buat anda: Apa istilah arab untuk “mengelilingi”?

    Balas
  • 21. Umat Rasulullah  |  April 11, 2007 pukul 8:41 am

    Untuk saudaraku Wahabi / salafy …..SADARLAH…SADARLAH….Sucikanlah/bersikanlah Hati kalian dengan bayak berzikir dan Shalawat.
    dan Untuk saudaraku Ahli sunah wal jamaah yg mencintai Nabi saw
    berdo’a lah agar saudara kita Wahabi / salafy mendapat karunia hidayahNYA.
    1.agar tidak meng KAFIR kan Orang yang beriman dengan LAILAHAILALLAH MUHAMMADARASULULLAH
    2.dan mengatakan TBC [Tahayul, Bid’ah, Churafat] ke pada mazhab lain.

    Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.

    saya yang fakir ini hanya sedikit menjelaskan mengenai MAULID Nabi Saw.
    Firman Allah;
    Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin’. (QS. 9:128).

    Maulid NABI SAW ialah Memperingati hari kelahiran baginda Muhammad saw.yang dimana Nabi saw itu Kekasih Allah, Mahluk Yg Paling Mulia, Yang Allah & MalaikatNya selalu berselawat kepadanya.yang Malaikat Jibril as saja tidak Sebanding dengan Baginda saw ( baca israk mi’raj) apalagi Ibnu Taimiyah dan Muhamad bin Abdul Wahhab.
    Yang mana kehadirannya Baginda saw Menjadi Rahmat bagi Semesta Alam.dan masih banyak lagi kemulian Baginda saw disisi ALLAH.

    وَمَآ أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
    “Dan tidaklah Kami utuskan engkau (yakni Junjungan Nabi)
    melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.”

    Junjungan Nabi s.a.w. juga telah menyatakan dalam hadits baginda yang mulia:-
    يا أيُّها الناسُ إنما أَنَا رحمةٌ مهداةٌ
    “Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah rahmat yang dikurniakan (yakni dikurniakan Allah kepada kamu sekalian)”

    Yang mana jasa beliau sangat berguna bagi kita Dunia & akhirat.
    seperti ;
    • Sholat wajib dan sunah Beliaulah yang mencontohkan.
    • Puasa wajib dan sunah Beliau pula yang mencontohkan.
    • Tata cara berhaji Baginda Rasulullah SAW juga yg mencontohkan.
    • Zakat, shodakoh, dan masih banyak lagi yang telah dicontohkan oleh Baginda Rasulullah SAW
    • Orang Yang menjadi Syafat kita kelak di hadapan Allah.
    • Orang yang menjadi tuntunan kita dalam beribadah kepada Allah.
    • Yang mengajarkan Perintah & laranganNYA.

    Namun apa balasan Kalian(wahabi) kepada Baginda Rasulullah SAW yang telah memperjuangkan umatnya untuk saling mengasihi, menyayangi dan menyuruh umatnya untuk berbuat kebaikan dijalan ALLAH SWT.

    Apakah Kita merayakan Maulid / Hari kelahiran Manusia yang menjadi kekasih Allah Junjungan kita Nabi Muhammad saw.Yang mana disaat kelahirannya menjadikan Rahmat sekalian Alam.
    ini termasuk bid’ah yang merusak akidah dan sunnah.MasaAllah begitu dangkal pemikiran orang-orang yang melarang maulid ini.

    Sebagai gambaran untuk faham Wahabi / salafy.
    Coba kita Lihat jaman sekarang ini bayak yang merayakan Hari yang mempunyai moment tertentu. Misalnya :
    • Negara kita merdeka dirayakan,
    • Hari Pahlawan Nasional dirayakan,
    • Hari lahir anak kita, istri kita, atasan kerja kita, orang tua kita mungkin kitapun merayakan hari lahir kita karena apa kita merayakan itu semua, cuma ingin menunjukan RASA CINTA KITA kepada negara, keluarga, kerabat, teman.yang sebagian bayak mudaratnya.apakah itu bukan bid’ah.
    Kenapa kalian (wahabi tidak menentangnya) bukankah ini tidak ada dijaman Rasulullah saw dan sahabatnya.

    Apakah Anak2 kita, Orang tua kita, kerabat2 kita, negara kita, pahlawan2 kita dll.LEBIH MULIA DARI BAGINDA RASULULLAH SAW ?????.

    Kami Yang Merayakan Maulid Nabi saw.hakikatnya ingin menunjukan RASA CINTA KITA… RASA CINTA KITA…RASA CINTA KITA dengan bayak bershalawat didalamnya kepada Junjungan Kami Baginda Muhammad saw.Atas jasa2 Baginda saw.

    Tapi KENAPA ??????????????
    Untuk mengenang hari lahir Mahluk yang PALING MULIA Baginda Rasulullah SAW yang menjadi Rahmat Sekalian Alam, Kekasih ALLAH, Yang Allah & MalaikatNya selalu berselawat kepadanya,Yang mana Allah Memerintahkan kepada Orang2 yang beriman bershalawat kepadanya. Yang Mengajarkan kita cara Beribadah kepada ALLAH,Yang dimana Pintu Sorga haram bagi orang lain sebelum Baginda saw duluan yang masuk.
    Pantaskah oleh kalian (wahabi) mangatakan ini TBC [Tahayul, Bid’ah, Churafat]. Pantaskah?….Pantaskah?…..

    Wahai Saudara ku..wahabi….berkacalah pada hidup kita sehari2 sebelum kita melihat orang lain.

    Perbayaklah membaca Shalawat kepada Baginda Saw dan zikir.agar hati kalian tidak menjadi KOTOR & mendapat keridhaan Allah serta Syafaatnya dan tidak menjadi virus yang mematikan bagi Agama islam.

    Ya ALLAH…..Limpahkanlah Shalawat dan Salam kepada Habibuna Sayyidina Muhammad saw , beserta Keluarga, Zuriat dan Sahabatnya.
    Ya….ALLAH
    Limpahkanlah Karunia HidayahMU,
    Bimbinglah hamba & Umat KekasihMU Sayyidina Habibuna Muhammadarasulullah saw untuk mendapatkan keredaanMU & Syafaat Baginda Rasulullah saw.

    Balas
  • 22. Syah  |  April 12, 2007 pukul 8:29 am

    Assalamu’alaikumwarahmatullah…
    Buat “Umat Rasulullah” Mencintai Rasulullah dapat diaplikasikan dengan menjalankan sunnah2 beliau.
    Kalo menurut anda mengaplikasikannya dengan maulid, kenapa ya? Para sahabat Nabi tidak pernah mengerjakannya, padahal kita tau, mereka para sahabat Nabi tidak perlu lagi diragukan keimanannya dan kecintaan mereka pada Rasulullah, tapi mereka mengaplikasikannya dengan menghidupkan sunnah2 Nabinya.
    Manhaj salaf hanya merayakan Idul Fitri dan Idul Adha, sedangkan yang lainnya yang anda sebutkan, tidak dirayakan. Wallahu’alam.
    Sholawat serta salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah saw beserta keluarga, sahabat dan orang yang mengikutinya dengan baik.
    Semoga saya dan anda dicinta oleh Allah swt.
    Wassalam…

    Balas
  • 23. Abu Hanif  |  April 13, 2007 pukul 9:59 am

    ASSALAMU’ALAIKUM
    @ Umat Rasulullah
    afwan ya akhi, ana mau tanya nih.
    kalau Ummat Islam memperingati MAulid (kelahiran Rasulullah) lantas apa bedanya kita dg Nashara yang memperingati hari kelahiran Nabi Isa/Yesus kata mereka (menurut Anggapanmereka)
    ‘man tasyabbaha biqaumin fahuwaminhu’ hadits ini bukan berarti menjadikan penirunya ‘kafir’ besar,tapi hanya kafir kecil yang tidak keluar dari Millah ini. jadi,cukuplah bagi kita teladan Nabi dan para sahabat beliau.kalau MAulid ini baik , tentu para sahabat melakukannya sepeninggal Rasulullah.tapi, ternyata mereka nggak melakukannya tuh. jadi, ya itulah al-haq. katanya namanya Ummat Rasulullah,jadi konsisten donk tuk ikuti Rasulullah. gitu ya… yahdikumullahu wa iyayya wa barakallahu fiik satu lagi, kami TIDAK MENGKAFIRKAN KAUM MUSLIMIN SELAMA MEREKA MASIH MENAMPAKKAN KEISLAMAN & KAMI TIDAK SEMBARANGAN DALAM MASALAH INI. MOHON HATI-HATI DALAM MELEMPARKAN TUDUHAN. KLAU KAMI SALAH, MAKA INGATKAN, KALAU MEMANG SALAH, KAMI RUJU’ KEPADA YANG BENAR. TBC JUGA, KAMI TIDAK MENTA’YIN PERSONAL,TAPI HANYA SECARA UMUM & ITU PUN SANGAT HATI-HATI. SALAH SEDIKIT SAJA, FATAL AKIBATNYA,JADI MOHON DIMAAFKAN. TERIMALAH AL-HAQ WALAU PAHIT RASANYA.

    Balas
  • 24. Abu Hanif  |  April 13, 2007 pukul 9:59 am

    ASSALAMU’ALAIKUM
    @ Umat Rasulullah
    afwan ya akhi, ana mau tanya nih.
    kalau Ummat Islam memperingati MAulid (kelahiran Rasulullah) lantas apa bedanya kita dg Nashara yang memperingati hari kelahiran Nabi Isa/Yesus kata mereka (menurut Anggapanmereka)
    ‘man tasyabbaha biqaumin fahuwaminhu’ hadits ini bukan berarti menjadikan penirunya ‘kafir’ besar,tapi hanya kafir kecil yang tidak keluar dari Millah ini. jadi,cukuplah bagi kita teladan Nabi dan para sahabat beliau.kalau MAulid ini baik , tentu para sahabat melakukannya sepeninggal Rasulullah.tapi, ternyata mereka nggak melakukannya tuh. jadi, ya itulah al-haq. katanya namanya Ummat Rasulullah,jadi konsisten donk tuk ikuti Rasulullah. gitu ya… yahdikumullahu wa iyayya wa barakallahu fiik satu lagi, kami TIDAK MENGKAFIRKAN KAUM MUSLIMIN SELAMA MEREKA MASIH MENAMPAKKAN KEISLAMAN & KAMI TIDAK SEMBARANGAN DALAM MASALAH INI. MOHON HATI-HATI DALAM MELEMPARKAN TUDUHAN. KLAU KAMI SALAH, MAKA INGATKAN, KALAU MEMANG SALAH, KAMI RUJU’ KEPADA YANG BENAR. TBC JUGA, KAMI TIDAK MENTA’YIN PERSONAL,TAPI HANYA SECARA UMUM & ITU PUN SANGAT HATI-HATI. SALAH SEDIKIT SAJA, FATAL AKIBATNYA,JADI MOHON DIMAAFKAN. TERIMALAH AL-HAQ WALAU PAHIT RASANYA.

    Balas
  • 25. joesatch  |  April 13, 2007 pukul 4:24 pm

    Apa bedanya???
    Ya jelas beda!
    Ini sama aja kayak nanya kenapa yang satu pake amd, kenapa yang satu pake intel?; kenapa yang satu pake ati, kenapa yang satu pake nvidia?;

    Memangnya semua yang dilakukan kafir, berarti kita nggak boleh melakukan hal yang (kelihatannya) sama? Di katolik, di hindu juga ada ibadah puasa. lalu apa kalo kita puasa berarti kita ikut2an mereka?

    di nashara, mereka beribadah ke gereja pake kemeja. lalu apa kalo kita beribadah di masjid pake kemeja berarti kita ikut2an? inget, pakaian model kemeja belum dikenal di zaman nabi, lho 😛

    Mas Abu Hanif, anda toh juga memakai teknologi buatan nashara. nah, apa bedanya anda dengan mereka.

    jaman Nabi, Al Qur’an juga nggak dibukukan. Itu dilakukan pada jaman sahabat. Apa para sahabat termasuk pelaku bid’ah kalo gitu?

    Jangan pake standar ganda, dunk ah!

    Buat Mas Wawan:::
    wew, saya ndak nuduh kok. cuma nanya arti harfiahnya. tapi skrg dah tau, kok. maturnuwun 🙂

    Balas
  • 26. Umat Rasulullah  |  April 14, 2007 pukul 4:14 am

    untuk saudaraku Abu Hanif….
    Memang di Jaman Sahabat ra,tidak ada mualid ini.karena mereka sudah melihat langsung wajah,Akhlak dari Baginda saw.
    Begitu dangkalnya pemikiran Anda memahami Maulid menyamainya dengan umat nashara.
    saudaraku Abu Hanif,
    Apakah saudara menjalani hidup sudah sesuai dgn Rasul saw dan para sahabatnya.( zuhut,adil,sabar.dll.) yang mementingkan PERUT orang lain dari pada perutnya sendiri ?.. yang mempunyai pakaian sekedar untuk ganti ?.yang makanannya Kurma dan Roti dan tidak memakan nasi dll. sanggupkah anda ?. apakah di jaman ini kita menyimpan makanan, pakaian yang tidak sesuai dengan Rasul saw dan Sahabat ra. bukannya ini namanya bid’ah ???

    Pahamilah Hakikat Maulid ini,
    Maulid bagi kami ( sunah wal jamaah) ialah memperingati hari kelahiran Sang pembawa RAHMAT BAGI SEKALIAN ALAM, Mahluk Yang Paling Mulia, Kekasih ALLAH. yg membimbing umat islam kejalan yang di Ridhaan Allah dan masih banyak lagi kemulian dengan kelahiran Beliau saw.
    Didalam Maulid ini kami mengajak umat untuk mencintai ALLAH dan RasulNYA.Mengingat dan mengenang Akhlak dan Perjuangan Beliau saw.Memuji serta Bershalawat kepada Beliau Saw.

    Allah Saja Memuji Baginda Saw.
    FirmanNYA
    Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin’. (QS. 9:128).

    Dan ALLAH menyuruh Kita Bergembira dengan RahmatNYA.
    FirmanNYA
    قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِفَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ
    Katakanlah (hai Muhammad) dengan kurniaan Allah dan rahmatNya, hendaklah (dengan itu) mereka bergembira.

    Saudaraku Abu Hanif….
    Tahukah Anda MAHLUK ALLAH Yang PALING TIDAK BERGEMBIRA DENGAN KELAHIRAN BAGINDA SAW.
    dengan kelahiran Sang Pembawa RAHMAT Bagi Sekalian Alam. adalah SYAITAN LAKNATULLAH..
    Karena dia mengetahui dengan kelahiran Baginda saw.mendajikan Rahmat bagi Alam ini dan menjadikan manusia tahu Cara beribadah Kepada ALLAH ( puasa,solat,haji,sedekah dan mengajarkan kita mana yang halal dan mana yang haram dll, karena Rasulullah saw yang mengajakan kita semua), sedangkan SYAITAN LAKNATULLAH hanya menginginkan kita (Manusia) dalam kekesatan ataupun Durhaka kepada ALLAH.

    Apakah kurang cukup Apa Yang dikatakan Allah dalam Al-Quran mengenai memuji dan bergembira dengan kelahiran KekasihNYA.
    untuk membuka hati dan pikiran anda.

    Mudah2 Saya dan Saudara Abu hanif tidak terjerumus, dan Mengikuti Ajakan Syaitan Laknatullah…
    Ya..ALLAH Lindungi Kami ,Saudara kami Umat Islam Ini Dari Tipu Daya SYAITAN. Amin…

    PERTANYAAN UNTUK saudaraku Abu Hanif…..

    1.Didalam majelis maulid ini kami memuji, bergembira,dan bershalawat kepada Baginda saw. sedang Allah menyuruh bergembira dengan rahmat Allah. APAKAH KAMI YANG MERAYAKAN INI MAULID INI MELANGGAR HUKUM SYARA’ ???

    2.Bukankah Kelahiran Baginda Rasulullah saw merupakan RAHMAT ALLAH UNTUK SEKALIAN ALAM ????.

    3.Apakah anda BERGEMBIRA dengan kelahiran Baginda Rasulullah saw?, dan bagaimanakah cara anda mengaplikasikannya?.

    4.Apakah salah kita mengajak umat islam mengenang dan memuji akhlak, Jasa2, Baginda saw agar sekalian Umat Muslim Sayang dan Cinta Kepada Beliu saw???.

    5.Apakah Kami yang melaksanakan/merayakan Maulid ini mengikuti ajakan Syaitan ???.

    saudaraku..janganlah menyalahkan orang yang berbuat baik demi agama Islam (tidak melanggar hukum Syara’) engkau salahkan….

    Catatan untuk saudarku..wahabi/salafy
    1.Kalau kita sudah Cinta & Mengidolakan Beliau saw.sudah pasti berusaha ingin mengikuti jejak ,Tingkah laku,dan apa yang disenangi oleh orang yang dicintainya.dan akan meninggalkan Apa yang tidak disukai ALLAH dan RasulNYA..itulah HAKIKAT CINTA.

    Untuk umat muslim sekalian :
    JanganLah Mengandalkan AMAL IBADAHMU untuk bekalmu kelak dihari kiamat, Jadikanlah AMAL IBADAHMU untuk mendapatkan ke RidhaanNYA, Syafa’at Rasulullah dan Kecintaan ALLAH dan RasulNYA.
    seandainya engkau menghadapkan amalmu dihadapanNYA niscaya Dosa2mu akan menutup amal2mu.(kurang syukurnya engkau atas nikmat yang diberikan olehNYA, berkelu kesah atas NikmatNYA, subhat dll.) RENUNGKANLAH…RENUNGKANLAH…RENUNGKANLAH
    dalam keseharian kita dahulu dan sekarang.WAHAI SUADARAKU SEIMAN

    Akan tapi seandainya Cintamu kepadaNYA dan RasulNYA engkau hadapkan kepadaNYA kelak di hari kiamat.
    Demi Allah..DIA & RasulNYA akan Ridha kepadamu.

    Maaf bukan saya maksud mengurui..( saya ini tiada daya dan upaya selain dariNYA).
    Mudah2an ini baik terutama bagi saya dan kaum musilimin dan muslimah..

    Ya..ALLAH…yang kepadaMU kami berharap
    Hamba yang penuh kekurangan, yang lalai dan dhalim ini Bermunajat kepadaMU.
    Tetapkanlah Hati ( Kami ) Hamba ini untuk selalu MencintaiMU & KekasihMU habibuna Sayyidina Muhammad saw dan kumpulkanlah kami kelak Di Hari kiamat di bawah Bendera KekasihMU (saw)
    Amin…amin….

    Balas
  • 27. Umat Rasulullah  |  April 14, 2007 pukul 4:45 am

    ketinggalan….
    Pertanyaan Untuk saudaraku Abu Hanif….

    Bukankah Umat islam yang merayakan hari-hari tertentu misalnya ;
    1. Memperingati hari kemerdekaan
    2. Hari kelahiran (ulang Tahun ) Anaknya,
    3. Hari kelahiran (ulang Tahun ) Kekasihnya ( pacar ),teman.
    4. Hari Pahlawan Nasional.
    5. Ulang Tahun Atasan ( kepala Kantor )
    5. dan masih banyak lagi…

    DIKATAKAN BID’AH ????.
    Jangan -Jangan Anda sendiri merayakannya ????…..

    Apakah mereka diatas LEBIH MULIA DARI JUNJUNGAN KITA BAGINDA RASULULLAH saw ?

    tolong di jawabnya ?

    Balas
  • 28. cinta Rasulullah  |  April 16, 2007 pukul 8:47 am

    MENGUNGKAP KEDANGKALAN PENGKAJIAN WAHABI / SALAFY DALAM MENGKAJI HADIST dibawah ini.

    Berhati-hatilah dari perbuatan muhdats (baru dalam agama, pent) karena setiap yang baru dalam agama adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah di Neraka tempat kembalinya” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi).
    Berkata At-Tirmidzi:”Hadits Hasan Shahih”1) (Al-Muntaqo min Jami’ Al-’Ulum wal Hikam, hal: 96-97. Asy-Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaliy hafizahullah Ta’ala).

    Sungguh DANGKAL PENGKAJIAN Anda dalam Mengkaji Hadist di Atas.

    PERTANYAAN untuk Wahabi/ Salafy.
    Dijaman Rasulullah dan Sahabatnya,kita tahu bahwa tidak ada dari mereka yg beribadah (sholat)mengunakan KEMEJA DAN CELANA PANJANG.
    Akan tetapi di jaman sekarang Orang Wahabi/salafy bayak yg sholat mengunakan KEMEJA & CELANA PANJANG.
    Apakah Wahabi/Salafy tidak mengada-ngada dalam Tata Tertib Berpakaian didalam Ibadah (sholat).

    Catatan : ADAKAH ALLAH & Rasulullah saw dan sahabat Memerintahkan kita Sholat menggunakan KEMEJA & CELANA PANJANG???.(apalagi kebanyakan Pakaian seperti itu dibuat oleh tangan2 orang nahsara).
    Lantas APAKAH ITU TIDAK TERMASUK BID’AH dalam Beribadah ????.
    KENAPA ANDA MELAKUKANNYA ????????
    (Tolong beri Jawaban ya SYECK WAHABI/ SALAFY)

    Begitu juga kami Yang merayakan Maulid ( Memuji,Mengenang Jasa2 beliau & Bershalawat).
    ALLAH dan Rasulullah saw dan Sahabatnya tidak Memerintahkan Melaksanakan Maulid Nabi saw.Dan tidak Melarangnya.(Memuji, Mengenang & Bershalawat )
    KENAPA KAMI MELAKUKANNYA ????
    jawabannya;
    Karena HAKIKAT MAULID BAGI KAMI IALAH MENUNJUKAN RASA CINTA KAMI DENGAN MENGENANG, MEMUJI & BERSHALAWAT KEPADA BELIAU SAW.
    didalam Alquran dan Hadist TIDAK MELARANG Memuji, mengenang & Bershalawat ke pada Beliau saw ).
    Malahan Sampai detik ini masih ada Pujian Allah Kepada Beliau saw:
    Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin’. (QS. 9:128).

    NASEHAT UNTUK WAHABI /SALAFY ;

    BELAJARLAH Dengan GURU YG KITA KETAHUI DENGAN JELAS SILSILAH KEILMUANNYA.JANGAN HANYA IMING2 GELAR.

    DAN JANGAN DENGAN GURU YANG BELAJAR DENGAN BUKU2 YANG DIJUAL DI PASAR,BARU ANDA PAHAMI DENGAN DAYA PIKIR ANDA .TAMPA MERAJUK SUATU MASALAH DENGAN SEORANG GURU…

    KITA TIDAK MENGETAHUI DENGAN PASTI SIAPA YANG MENULIS BUKU TERSEBUT.BISA SAJA ORANG YAHUDI ATAU NON MUSLIM YG LAINNYA YANG MENGAKU SYECK,ULAMA dll,YANG INGIN MENGHACURKAN ISLAM DARI DALAM.

    Ulama Ahli Sunah Waljamaah berkata;
    Kefahaman itu cahaya yang bersinar di dalam hati dan tidak akan mendapatkannya kecuali dengan cara duduk bersama orang-orang yang sholeh dan mempelajari kitab-kitab mereka.
    (ctt;Bukan Dengan Membeli Buku di Pasar,Lalu mempelajarinya Sendiri).

    Setiap orang yang tidak mau mendengarkan nasihat dan peringatan Al-Qur’an, dan yang hatinya tidak menjadi khusyuk ketika menerima peringatan dan penjelasan, maka yang seperti itu adalah orang yang lemah imannya dan hatinya berpenyakit.

    Semoga Allah swt Mengkaruniakan HidayahNYA ( pemahaman Agama)kepada saya & Anda.Amin…

    Balas
  • 29. cinta Rasulullah  |  April 16, 2007 pukul 9:12 am

    1. Hukum Maulud Dalam Mazhab Shafie
    Untuk mengetahui hukum merayakan hari peringatan maulud Nabi SAW insyALLAH akan kami cuba bawakan fatwa-fatwa ulama’ muktabar dalam Mazhab Shafie.
    IMAM JALALUDDIN SAYUTI
    Imam sayuti adalah ulama besar dalam Mazhab Shafie. Lahir tahun 849 H. di Asiyut, Mesir dan wafat tahun 199 H.

    Karangan beliau dianggarkan sebanyak 500 buah kitab dalam bermacam-macam ilmu pengetahuan Islam termasuk tafsir, hadis, fiqah, hustalah, nahu, usul, bayan, sejarah, adab, kedoktoran dan lain-lain.

    Diantara karangan beliau ialah:

    Syarah Kitab Hadis Nisai.
    Syarah Kitab Hadis Muwatta’ Imam Malik.
    Separuh dari Tafsir Jalalen.
    Al-Itqan fi Ulumilquran.
    Al-Asybah wan Nazair.
    Apabila ditanya orang tentang amalan maulud Nabi pada bulan Rabi’ul-Awwal, apakah hukumnya menurut syara’, apakah pekerjaan itu dipuji aau dicela, apa siperlaku nya diberi pahala atau tidak?
    Jawab beliau:

    “Ibadat macam itu adalah bid’ah Hasanah (bid’ah baik) yang diberi pahala mengerjakannya kerana dalam amal ibadat itu terdapat suasana membesarkan Nabi, melahirkan kesukaan dan kegembiraan atas lahirnya Nabi Muhammad SAW yang mulia”

    SAYID AHMAD BIN ZAINI DAHLAN
    Berkata Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan, Mufti Mazahab Syafie di Mekah di dalam kitab Siratun Nabi:

    Telah berlaku kebiasaan bahawa orang apabila mendengar kisah Nabi dilahirkan, maka ketika Nabi lahir itu mereka berdiri bersama-sama untuk meghormati dan membesarkan Nabi Muhammad saw. Berdiri itu adalah hal yang mustahsan (bai) kerana dasarnya ialah membesarkan Nabi Muhammad saw dan sesungguhnya telah mengerjakan hal serupa itu banyak dari ulama-ulama ikutan umat.
    I¹anatut Talibin, juzu III muka surat 363.
    Sayid Zaini Dahlan wafat tahun 1304H, di antara karangan beliau ialah:

    Al-Futuhatul Islamiyah.
    Tarikh Daulatul Islamiyah.
    Ad-Durarus Saniyah firraddii alal Wahabiyah

    Balas
  • 30. Ind. F.B  |  April 18, 2007 pukul 8:24 am

    gak usah diperdebatkan, perayaan maulid dah jelas-jelas bid’ah koq.

    wahai sahabatku semua yang disitus ini dan situs-situs sejenis lainnya selalu dituduh dengan kata WAHABI, kita sudah menyampaikan apa yang kita ketahui, maka jika mereka tidak mau mengikuti, biarlah mereka sendiri yang menanggung akibatnya. para nabi saja banyak yang tidak sanggup mengajak keluarganya, apalagi kita sebagai orang biasa. mudah-mudahan ALLOH mengampuni mereka yang masih bertahan dengan ke-TBC-annya.

    karena para ahli TBC selalu melawan lebih banyak dengan kegoisan dari pada dengan dalil qur’an dan sunnah, maka dengan terpaksa kita lawan lagi dengan keegoisan, gak usah dilawan dengan dalil yang berjibun, karena mata hati mereka sudah tertutup, mereka lebih percaya kepada kiyai mereka dari pada pada qur’an dan sunnah.

    terakhir dari saya :
    andaikata wahabi ditujukan kepada orang yang anti tahlilan, anti muludan, anti barjanjian, anti sholawatan, anti marhabaan, anti akikah dihari ke40, anti usoli, anti qunut, anti sholat hajat, anti ustadz dukun, anti jimat, anti dzikir berjamaah, anti wirid yang jumlahnya ribuan, anti muhasabah berjamaah, anti bersekutu dengan jin, MAKA SAYA ADALAH WAHABI. walaupun saya sendiri tidak pernah mengenal siapa sebenarnya Muhammad bin Abdul Wahab.

    Balas
  • 31. Abu Hanif  |  April 18, 2007 pukul 10:20 am

    Assalamu’alaikum.
    @ Ummat Rasulullah
    jawaban ana :
    uamat Islam secara Umum memang merayakan perayaan2 di atas. Tapi, kami yakin dan merasa cukup dg apa yang datang dari Nabi. jadi, kami (saya) tidak merayakan hal-hal itu, karena hari Raya kita cuma dua ya akhi, IDul Adha dan Idul Fitri + Hari raya Pekanan yaitu Jum’at.
    trus, jujur ana masih sangat jauh dari akhlaq dan jalan Nabi serta para sahabat beliau, tapi, ana coba tuk mengikuti jalan mereka walau harus tertatih.

    Pertanyaan buat antum :
    setelah Nabi wafat, kenapa para sahabat tidak merayakan mAulid, yang jika itu baik, tentu merekalah orang pertama yang paling cinta pada Nabi dan paham dg agama ini ? jadi, pikirkan ya akhi. barakallaahu fikkum wa yahdikumullah wa iyayya ilas sunnah.

    Balas
  • 32. cinta Rasulullah  |  April 18, 2007 pukul 11:05 am

    dibawah ini adalah sedikit kata-kata hikmah dari Ulama-Ulama Ahli sunah waljamaah yg mudah-mudahan dapat kita terutama Ind F B menyejukan hati kita..

    1. Adab itu bukan hanya berarti menjaga tingkah laku dan menundukkan mata saja, akan tetapi menjaga hati.
    [Al-Imam Al-Ghazaly]

    2. Saya berpesan hendaknya kamu tidak merasa diri lebih baik dari orang lain. Apabila perasaan seperti itu terlintas dalam hatimu, sadarilah segera betapa kamu sudah seringkali melakukan kesalahan-kesalahan di masa lalu.
    [Al-Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad]

    3. Setiap orang yang tidak mau mendengarkan nasihat dan peringatan Al-Qur’an, dan yang hatinya tidak menjadi khusyuk ketika menerima peringatan dan penjelasan, maka yang seperti itu adalah orang yang lemah imannya dan hatinya berpenyakit.
    [Al-Habib Abdurrahman bin Abdullah Bilfagih]

    4. Jika engkau mendengar suatu kalimat dari seorang muslim, maka bawalah kalimat itu pada sebaik-baiknya tempat yang engkau temui. Jika engkau tak mampu untuk mendapatkan wadah tempat kalimat tersebut, maka celalah dirimu sendiri.
    [Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq]

    5.Tidak ada sesuatu yang lebih penting daripada adab. Adab, bukan hanya tingkah laku saja yang beradab, akan tetapi yang jauh lebih penting dari itu adalah adab batin, yaitu menjaga hati untuk beradab.
    [Al-Habib Muhammad bin Hadi As-Saggaf]

    6.Pembicaraan seseorang dengan sifat riya’ dan memaksakan diri, adalah laksana kegelapan dan sia-sia, walaupun sangat fasih dalam menyampaikannya.
    [Al-Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad]

    7. Jika dakwah dilakukan dengan penuh kasih sayang, maka hati yang diterangi cahaya iman akan memperoleh manfaat, dan nafsu akan bertekuk lutut.
    [Al-Habib Hasan bin Sholeh Al-Bahr]

    8. Apabila engkau ingin selamat dari tipudaya, maka ikhlaslah dalam beramal semata karena Allah swt. disertai ilmu pengetahuan. Dan janganlah engkau rela sedikitpun terhadap nafsumu.
    [Syeikh Abul Hasan Asy Syadzili]

    9. Bahwa segala kebaikan terletak didalam keridhaan. Maka jika engkau mampu jadilah orang yang ridha; jika tidak mampu, jadilah orang yang sabar.”
    [Umar bin Khaththab ra]

    10. “Kerendahan hati adalah sifat yang sangat baik bagi setiap orang, tapi ia paling baik bagi seorang yang kaya. Kesombongan adalah sifat yang menjijikkan bagi setiap orang, tetapi ia paling menjijikkan jika terdapat pada orang yang miskin.”
    [ Yahya bin Mu’adz ]

    11. Fugaha itu orang yang memegang amanah para rasul, selama tidak masuk ke dalam pintu-pintu penguasa.
    [Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq]

    12.”Jika engkau berbuat dosa, maka memohon ampunlah, karena sesungguhnya dosa-dosa itu telah dibebankan di leher-leher manusia sebelum ia diciptakan. Dan sesungguhnya kebinasaan yang dahsyat itu adalah terletak pada melakukan dosa secara terus-menerus.”
    [Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq]

    13.Tiada bekal yang lebih utama daripada takwa. Tiada sesuatu yang lebih baik daripada diam. Tiada musuh yang lebih berbahaya daripada kebodohan. Tiada penyakit yang lebih parah daripada berbohong.
    [Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq]

    14.Hati adalah wadah. Sebaik-baik wadah adalah yang mau mendengarkan kebaikan.
    [Al-Imam Ali bin Abi Thalib].

    15.JanganLah Mengandalkan AMAL IBADAHMU untuk bekalmu kelak dihari kiamat, Jadikanlah AMAL IBADAHMU untuk mendapatkan ke RidhaanNYA, Syafa’at Rasulullah dan Kecintaan ALLAH dan RasulNYA.
    seandainya engkau menghadapkan amalmu dihadapanNYA niscaya Dosa2mu akan menutup amal2mu.(kurang syukurnya engkau atas nikmat yang diberikan olehNYA, berkelu kesah atas NikmatNYA, subhat dll.) RENUNGKANLAH…RENUNGKANLAH…RENUNGKANLAH

    Perhatikanlah keseharian diri kita ini.Lahir & Batin.Berjuanglah sekuat tenaga untuk mendapatkan KeRidhaanNYA dan Syafaat KekasihNYA.

    Mudah2an kata -kata Mutiara diatas berguna bagi kita….

    Balas
  • 33. joesatch  |  April 19, 2007 pukul 3:04 am

    Ind. F.B:::
    selamat, mas. anda adalah sekutu para teroris kalo begitu 🙂

    Balas
  • 34. cinta Rasulullah  |  April 19, 2007 pukul 9:21 am

    UNTUK FAHAMAN YANG MENOLAK MAULID NABI SAW…
    Bacalah Dengan Seksama.

    Sebenarnya yang menjadi permasalahan bukanlah perbedaan masalah khilafiyah, namun yang menjadi masalah yang harus diluruskan adalah bahwa gerakan fitnah ini membuat terpecah belahnya masyarakat, mereka berusaha sekuat tenaga membuat masjid-masjid Ahlussunnah waljamaah berantakan dan pengurusnya saling bermusuhan, maka jelaslah harus diberantas dan diperangi, dengan kelembutan tentunya, dengan bayan dan dalil yang jelas dan shahih, dan juga dalil-dalil ‘aqli yang merupakan mutiara hikmah dari hikmah ilahiah, dan meluruskan kesesatan mereka yang berhujjah dengan hawa nafsu dan kesesatan, demikianlah kemenangan Sayyidina Muhammad saw..

    Semoga Allah mencurahkan Rahmat dan Pertolongan Nya pada kami, untuk terus membersihkan wilayah kami ini dari sampah yang paling berbahaya dan PENYAKIT MENULAR YANG PALING KRONIS, yaitu PENYAKIT HATI YANG MENOLAK KEMULIAN NABI MUHAMMAD SAW, PENYAKIT INI ADALAH PENYAKIT IBLIS YANG MENOLAK MEMULIAKAN ADAM AS,
    CATATAN ;
    SEBAGAIMANA IBLIS TAK PERNAH MENOLAK BILA DIPERINTAHKAN SUJUD KEPADA ALLAH SWT, NAMUN IBLIS MENOLAK MEMULIAKAN ORANG YG DIMULIAKAN ALLAH SWT, penyakit kronis ini menular dan hingga kini wabah ini sedang gencar gencarnya menyerang masyarakat muslimin.. Semoga dalam waktu dekat bangkitlah semangat muslimin untuk mengobati dirinya, keluarganya, anak-anaknya, tetangganya, masyarakatnya, dengan beridolakan Sayyidina Muhammad saw, satu-satunya idola yang paling pantas untuk dicintai, digandrungi dan dipanut segala gerak geriknya sepanjang masa.

    Ada apa pada kelahiran Sang Nabi saw ?
    Berkata Abbas bin Abdulmuttalib ra : “dan Engkau saat kelahiranmu terbitlah cahaya di permukaan Bumi dan terang benderanglah Angkasa dengan cahayamu, maka kami selalu dalam naungan sinar itu dan dalam cahaya yang terang benderang dan terus mendalami Bimbingan Kebahagiaan” Syair diatas diriwayatkan :
    – Majmu’izzawa’id oleh Imam Ibn Hajar Alhaitsami Juz 8 / hal 217
    – Almustadrak ‘Ala Shahihain oleh Imam Hakim Juz : 3 / hal : 34 / hadits no.5417
    – Majmu’ul Kabiir Imam Thabrani Juz.4 / hal.213 / hadits no.4167
    – Sir A’lamunnubala oleh Imam Addzahabiy Juz.2 / hal.103
    – Shafwatusshafwah oleh Imam Abul Faraj Juz.1 / hal.54
    – Al Isti’ab oleh Imam Yusuf Ibn Abdulbar Juz 2. / hal.447

    Demikian luapan kegembiraan para sahabat Rasul saw dalam merayakan dan memuliakan hari kelahiran Sang Nabi saw, demikian pula kesemua orang-orang mukmin hingga kini, selalu ingin membangkitkan syiar agar bangkit pada sanubari ummat ini semangat untuk mengingat dan mencintai Sang Nabi saw. Dan siapapula yang tak gembira dengan kelahiran sang Nabi saw?, hanya syaitan dan pengikutnya yang sangat membenci hari kelahiran pembawa hidayah ini, dan tiada hari yang paling mereka benci sepanjang usia bumi ini selain hari kelahiran sang Nabi saw, karena dengan lahirnya Nabi terakhir ini, bermulalah seluruh kemuliaan yang menyempurnakan seluruh ajaran ajaran Allah sebelumnya, namun sebaliknya para Mukminin, khususnya ummat beliau saw, tentulah bagi mereka tak ada kegembiraan melebihi kegembiraan pada hari kelahiran sang Nabi saw.

    Allah swt berfirman dalam surat Al Hijr ayat 72, “DEMI USIAMU (Wahai Muhammad), SUNGGU MEREKA ITU TEROMBANG AMBING DALAM KESESATAN”, Ayat tersebut sebagaimana Tafsir Imam Qurtubi, Tafsir Imam Thabari, Shahih Bukhari dan Ijma’ segenap Ulama bahwa Allah swt menunjukkan kemuliaan Sang nabi saw dan Allah Bersumpah dengan Kehidupan sang nabi saw, ada apa pada kehidupan sang Nabi ?, karena pada kehidupan beliaulah Allah menyempurnakan segenap ajaran ajaran Nya yg terdahulu melalui para Nabi sebelum beliau saw, Dan usia beliau ini tentunya dimulai pada Kelahiran beliau saw hingga wafatnya, maka fahamlah kita betapa mulianya hari kelahiran beliau saw, sebagaimana Allah bersumpah dengan usia beliau saw.

    Seputar acara pesta kelahiran Sang Nabi saw.
    Mengenai perayaan kelahiran Rasul saw memang tak pernah diadakan di zaman Rasul saw, tak pula di zaman sahabat radhiyallahu’anhum, karena memang tak perlu dirayakan, karena tak dirayakanpun mereka telah sangat mencintai Rasul saw dan beridolakan Rasul saw, sebagaimana sedemikian banyak syair-syair para sahabat yang diantaranya disebutkan diatas. Ketika semakin jauhnya ummat ini dari kehidupan sang Nabi saw, maka mereka semakin jauh dari syariah, semakin jauh dari ketaatan, semakin jauh dari mengenal sang Nabi saw apalagi mencintainya, apalagi beridolakan beliau saw, maka para Ulama mulai berfikir untuk menghidupkan kembali semangat kecintaan pada Nabi saw, karena seluruh ketaatan kepada Allah adalah Syariah dan Sunnah Rasul saw, bila seseorang telah mencintai Nabinya, maka tentulah mereka akan mengikuti ajarannya saw.

    Maka dibuatlah perayaan untuk membesarkan syiar kelahiran Nabi saw, dan hal ini merupakan Bid’ah hasanah, sebagaimana penjilidan Alqur’an pun merupakan Bid’ah hasanah, karena tak ada perintah dalam ayat manapun ataupun hadits Rasul saw agar Alqur’an di bukukan dalam satu kitab, hal ini merupakan Ijma’ sahabat di masa Khilafah Utsman bin Affan ra, sebagaimana dikumpulkanlah seluruh Qurra’ dan Huffadh yang ada, termasuk padanya Ali bin Abi Thalib ra, Abdullah bin Abbas ra, Abdullah bin Umar ra, dan seluruh Ulama sahabat, lalu ditulislah satu kitab dengan kesaksian mereka semua, dan disahkan sebagai Kitab Alqur’an (Al Itqan, oleh Alhafidh Imam Assuyuthi).

    Inilah Bid’ah terbesar yang pernah ada dalam ummat ini, namun ini adalah Bid’ah hasanah, karena merupakan maslahat bagi ummat. Demikian para sahabat, mereka tak menuding seluruh Bid’ah adalah kemungkaran, sebagaimana pemahaman sempit yang muncul di zaman sekarang.. Lalu muncul pula Bid’ah bid’ah lainnya, seperti Pembukuan Hadits, juga Ilmu Hadits, Ilmu Mustalah Hadits, Ilmu Tafsir, yang kesemua itu adalah Bid’ah Hasanah. Lalu pula pemberian titik pada Alqur’an, karena di zaman sahabat Alqur’an itu belum ada titiknya, hingga tak dapat dibedakan antara Jiim, haa, atau Khaa’. Tak pula bisa dibedakan antara Taa, Tsaa, dan Baa’. Barulah kemudian diberi titik, jauh setelah zaman sahabat radhiyallahu’anhum, inipun Bid’ah, namun siapa pula yang dapat mengenal membaca Alqur’an dimasa kini bila tidak ada titiknya?, sahabat memahaminya karena mereka hafal atau paling tidak sering mendengarnya dari Rasul saw. Lalu kemudian dimasa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, Alquran itu diberi harakah, yaitu Fathah, Kasrah, Dhammah, Tasydiid, dan lainnya. Tidak lain agar lebih mudah dibacanya, dan inipun Bid’ah.

    Demikian pula perayaan Maulid Nabi saw, yang diada-adakan dengan tujuan mulia, yaitu memunculkan sosok Muhammad saw sebagai idola dan Pimpinan Terbesar, dan tak ada tujuan lain selain membangkitkan kecintaan pada beliau saw, dan ini merupakan Bid’ah hasanah. Sebagaimana landasan kita dan landasan para Ulama’inalkiram dan para sahabat mengenai Bid’ah Hasanah yaitu Hadits riwayat Imam Muslim Sabda Rasul saw :
    “Barangsiapa yang membuat buat didalam islam kebiasaan yang baik, maka baginya pahalanya dan pahala semua yang mengamalkannya tak dikurangkan sedikitpun dari pahala itu, dan Barangsiapa yang membuat-buat didalam islam kebiasaan yang buruk, maka baginya dosanya dan dosa semua yang mengamalkannya tanpa dikurangkan sedikitpun dari dosa-dosa itu”. (Shahih Muslim Juz.2 / hal.705 / hadits no.1017 dan juga pada Juz.4 / hal.2059 / hadits no.1017).

    Demikianlah dari kami.Mudah2an Oknum-oknum yang Menolak Maulid NABI SAW.Mendapatkan Karunia Hidayah Dari Allah SWT.Agar Sadar Dari KESALAFAHAMANnya Selama ini..Amin…

    Balas
  • 35. Syah  |  April 20, 2007 pukul 12:35 am

    Ya akhi kami tidak mengerjakan maulid bukan berarti kami tidak mencintai dan memuliakan Rasulullah, coba akhi lihat orang2 yang bermanhaj salaf, semampu mereka mengerjakan sunnah2 Rasulullah, contohnya memelihara janggut, karena apakah mereka memeliharanya, bukankah mereka mengerjakannya karna perintah Nabinya ? (bagi yang niatnya ikhlas). Itulah expresi kecintaan mereka kepada Nabinya. Apakah akhi yang bernamakan “Cinta Rasulullah” memelihara janggut ?
    Kami juga bersholawat kepada Nabi, tapi menurut ulama kami sholawat yang terlengkap adalah sholawat ibrahimiyah. Jadi sebenarnya bukan sholawatnya yang dilarang (malah dianjurkan), tapi para ulama ataupun ustadz melarang sholawat2 yang bertentangan dengan syariat. (Bukankah sholawat expresi cinta kita kepada Rasulullah).
    Begitulah para sahabat, tabi’in dan tabiut tabi’in, mengexpresikan cinta kepada Nabinya, DENGAN MENJALANKAN SUNNAH2 BELIAU, sehingga mereka dipuji Rasulullah dengan generasi 3 terbaik. Apakah anda mau mengikuti orang2 yang jelas2 hasil tarbiyah Nabinya dan dipuji oleh Allah dan Rasul-Nya. Yuk… Kita mengikuti mereka semampu kita.
    Jadikanlah mereka sebagai ACUAN DALAM BERAGAMA. Dan inilah jalan yang ditempuh oleh para Imam yang empat, serta para ulama yang mengikuti mereka dengan baik. Dan inilah yang dinamakan Ahlussunnah Wal Jama’ah.
    Jika ada kata tak berkenan di hati, maafkan ana!

    Balas
  • 36. Syah  |  April 20, 2007 pukul 12:54 am

    Ini ana copy pastekan dari email yang ana dapat:

    Jika Mereka Meneladani Imam Syafi’i rahimahullah.

    Imam Syafi’i rahimahullah dilahirkan pada tahun 150 H di Ghuzzah, ada yang mengatakan di ‘Asqalan dan ada pula yang mengatakan di Yaman. Beliau adalah seseorang yang berparas tampan, berkulit putih, berperawakan tinggi besar dan berwibawa. Beliau dikenal dengan kedermawanan, kebaikan niat dan keikhlasan.

    Ketika Imam Syafi’i masih kecil, ayahandanya meninggal dunia, kemudian dibawa ibunya ke Mekkah dan tumbuh di Mekkah, kemudian di masa dewasanya beliau menuntut ilmu hingga ke Madinah, Yaman dan Irak. Beliau telah menghafal al Qur’an ketika berusia tujuh tahun dan hafal Kitab al Muwaththa’ ketika berusia 10 tahun.

    Diantara guru-guru beliau adalah Sufyan bin ‘Uyainah, Fudhail bin ‘Iyadh, dan Malik bin Anas. Sedangkan salah seorang murid beliau yang terkenal adalah Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah. Dan sang murid (Imam Ahmad) pernah mengatakan, “Umar bin Abdul Aziz (mujaddid) pada awal seratus tahun pertama dan asy Syafi’i pada permulaan seratus tahun yang kedua”.

    Imam Syafi’i rahimahullah adalah termasuk barisan ulama pembela sunnah, imamnya para ulama, lautan ilmu, mujtahid mutlak dan penghancur bid’ah. Beliau rahimahullah pernah berkata,

    “Sungguh, jika seorang hamba menemui Allah dengan semua dosa kecuali dosa syirik, (maka) itu lebih baik baginya daripada bertemu dengan-Nya dengan suatu kebid’ahan” (Barisan Ulama Pembela Sunnah Nabawiyyah, hal. 14)

    Pandangan fiqh beliau dan madzhabnya banyak diikuti oleh kaum muslimin terutama di Mesir, Kurdistan, Yaman, Aden , Hadramaut, Mekkah , Pakistan , Malaysia dan Indonesia . Awalnya pandangan fiqh beliau disebut disebut qadim (pendapat beliau yang pertama) ketika beliau berguru dan bersahabat dengan para ulama madzhab Hanafi, namun pada tahun 198 H beliau hijrah ke Mesir dan disana beliau menyusun pendapat beliau yang baru (qaulul jadid).

    Al Imam asy Syafi’i rahimahullah wafat di Mesir pada akhir Rajab tahun 204 H dalam usia 54 tahun. Semoga Allah Ta’ala meridhai dan menempatkan beliau dalam keluasan Jannah-Nya.

    Sikap Imam Syafi’i terhadap tahlilan.

    Jika memang kaum muslimin terutama di Indonesia yang mayoritas bermadzhab Syafi’i meneladani dan mencintai Imam Syafi’i rahimahullah maka tentunya mereka tidak akan mengadakan acara tahlilan, karena Imam Syafi’i mengatakan,

    “Aku benci al ma’tam yaitu berkumpul – kumpul di rumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbaharui kesedihan” (al Umm I/318)

    Ucapan beliau itu selaras dengan atsar sahabat. Dari Jabir bin Abdullah Al Bajalii, ia berkata, “Kami (para sahabat Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam) menganggap bahwa berkumpul – kumpul di tempat ahli mayit dan membuat makanan sesudah ditanamnya mayit termasuk dari bagian meratap (niyahah)” (HR. Ibnu Majah no. 1612 dan ini adalah lafazhnya serta Imam Ahmad dalam Musnadnya 2/204)

    Al Imam an Nawawi rahimahullah di kitabnya al Majmu’ Syarah Muhadzdzab (5/319-320) telah menjelaskan tentang bid’ahnya berkumpul-kumpul dan makan-makan di rumah ahli mayit dengan membawakan perkatan penulis Kitab asy Syaamil dan ulama yang lain serta beliau menyetujuinya dengan hadits Jarir yang beliau tegaskan sanadnya shahih.

    Sikap Imam Syafi’i terhadap dzikir jama’i

    Mereka tentu juga tidak melakukan dzikir jama’i baik dengan suara keras ataupun tidak, serta melazimkannya kecuali hanya untuk memberikan pengajaran dzikir dan doa. Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan,

    “Dan aku lebih memilih bagi para imam dan makmum untuk berdzikir setelah shalat dengan cara menyembunyikannya, kecuali bila imam harus mengajarkannya kepada makmum, maka ia boleh mengeraskannya sampai mereka bisa mengikutinya, tetapi kemudian ia (imam) kembali menyembunyikannya, karena sesungguhnya Allah telah berfirman,

    ‘Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan jangan pula merendahkannya’” (al Umm I/127)

    Al Imam an Nawawi rahimahullah, seorang imam dan ulama yang meneladani Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan,

    “Dan telah disunnahkan untuk berdzikir dan berdoa setiap setelah selesai dari salam, dengan cara menyembunyikan bacaan, terkecuali bila seorang imam yang hendak mengajarkan bacaan-bacaan dzikir tersebut, maka dia boleh mengeraskan bacaannya. Namun, bila dia melihat bahwa orang-orang telah belajar darinya bacaan-bacaan tersebut, maka hendaklah dia kembali untuk menyembunyikannya” (at Tahqiq hal. 219)

    Sikap Imam Syafi’i terhadap yasinan

    Demikian pula mereka tidak akan mengadakan acara yasinan setiap malam Jum’at atau pada waktu dan tempat yang dikhususkan lainnya. Karena Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan,

    “Idzaa shah-hal hadiitsu faHuwa madzHabii” yang artinya “Apabila suatu hadits telah jelas shahih, maka itulah madzhabku” (Syaikh al Albani mengatakan dalam Sifat Shalat Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam hal. 65, “Imam an Nawawi dalam referensi tersebut di atas dan asy Sya’rani I/57 lalu beliau menyandarkannya kepada al Hakim dan al Baihaqi”)

    Dan diketahui bahwa tidak ada hadits-hadits yang shahih yang berkaitan dengan mengkhususkan membaca surat yasin bersama-sama atau pun sendirian di malam jum’at ataupun di hari lainnya, kemudian mendapatkan ganjaran pahala seperti ini atau seperti itu. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

    “Abdullah bin Mubarak mengatakan, ‘Semua hadits yang mengatakan, ‘Barangsiapa yang membaca surat ini akan diberikan ganjaran begini begitu, (maka) semua hadits tentang itu palsu. Mereka (pemalsu hadits) mengatasnamakan sabda Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam. Sesungguhnya orang-orang yang membuat hadits-hadits itu telah mengakui mereka memalsukannya’’” (Periksa al Manarul Munif fis Shahih wadh Dha’if, hal. 113-115, tahqiq : Abdul Fatah Abu Ghudah)

    Khatimah

    Demikianlah sikap Imam Syafi’i rahimahullah terhadap permasalahan tahlilan, dzikir jama’i dan yasinan, yang kesemuanya itu merupakan perkara-perkara yang baru (muhdats) dalam agama. Dan jika perkara-perkara yang baru dalam agama diamalkan maka tertolaklah ia, sebagaimana sabda Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam,

    “Man ‘amila ‘amalan laysa ‘alaiHi amrunaa faHuwa raddu” yang artinya “Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang tidak kami perintahkah maka ia tertolak” (HR. Muslim no. 1718 dan al yang Bukhari meriwayatkannya secara mu’allaq dalam Al Buyu’ dan Al I’tisham)

    Maka dari itu hendaklah kaum muslimin, khususnya kaum muslimin yang berada di Indonesia yang mengaku mengikuti, meneladani dan mencintai Imam Syafi’i rahimahullah, untuk mengikuti jejak dan napak tilas beliau dalam beragama yaitu memahami agama ini sebagaimana pemahamannya para salafus shalih.

    Semoga pengakuan itu tidak hanya sebatas pengakuan,

    “Berapa banyak orang yang mengaku cinta pada laila,
    tetapi laila memungkiri cinta mereka semua”

    Maraji’ :

    1. Al Masaa-il Jilid 2, Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, Darus Sunnah Press, Jakarta , Cetakan Ketiga, 1426 H/2005 M.
    2. Apa Kata Imam Syafi’i tentang Dzikir Berjama’ah, Ustadz Ibnu Saini bin Muhammad bin Musa, Pustaka al Ilmu, Cetakan Pertama, 1428 H/2007 M.
    3. Barisan Ulama Pembela Sunnah Nabawiyyah, Ustadz Abu Aisyah Arif Fathul Ulum, Media Tarbiyah, Bogor, Cetakan Pertama, Dzul Hijjah 1426 H/Januari 2006 M.
    4. Fiqh Islam, H. Sulaiman Rasjid, Sinar Baru Algensindo, Bandung , Cetakan ke Tiga puluh Delapan, 2005 M.
    5. Sifat Shalat Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam, Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Shafar 1427 H/Maret 2006 H.
    6. Yasinan, Ustadz Abdul Qadir Jawas, Pustaka Abdullah, Jakarta, Cetakan Ketiga, 27 Jumadil Awal 1426 H/4 Juli 2005 M.

    Semoga Bermanfaat.

    Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki- Nya. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar” (QS. An Nisaa’ : 48)

    Dari Abu Dzar ra., Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Jibril berkata kepadaku, ‘Barangsiapa diantara umatmu yang meninggal dunia dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka pasti dia masuk surga'” (HR. Bukhari) [Hadits ini terdapat pada Kitab Shahih Bukhari]

    Balas
  • 37. cinta Rasulullah  |  April 20, 2007 pukul 3:07 am

    PERSEPSI MENGENAI MAULID untuk Sahib-sohib yang merayakan maulid.
    1. YANG MERAYAKAN MAULID : ( Setiap Tahun,Bulan,Minggu,Hari )
    a. Mengepresikan Rasa Cinta kita Kepada Baginda saw dengan Jalan Merayakan Maulid (Memuji,Mengenang,Berdakwa dengan Menceritakan Akhlak Nabi & Berselawat kepada Baginda.

    b. Berdakwa Mengenalkan Siapa Sosok Nabi Saw (akhlak , adab, sunah yang dibawah olehnya dan masih banyak lagi.)

    c. Bergembira Dengan Kalahiran Nabi saw.( Rahmat Sebagian Alam ).

    d. Didalam Maulid tidak menyalahi hukum Syara’

    Sebagaimana landasan kita dan landasan para Ulama’inalkiram dan para sahabat mengenai Bid’ah Hasanah yaitu Hadits riwayat Imam Muslim Sabda Rasul saw :
    “Barangsiapa yang membuat buat didalam islam kebiasaan yang baik, maka baginya pahalanya dan pahala semua yang mengamalkannya tak dikurangkan sedikitpun dari pahala itu, dan Barangsiapa yang membuat-buat didalam islam kebiasaan yang buruk, maka baginya dosanya dan dosa semua yang mengamalkannya tanpa dikurangkan sedikitpun dari dosa-dosa itu”. (Shahih Muslim Juz.2 / hal.705 / hadits no.1017 dan juga pada Juz.4 / hal.2059 / hadits no.1017).

    Balas
  • 38. Syah  |  April 23, 2007 pukul 2:19 am

    Pada saudaraku, yang bernama ‘cinta Rasulullah’ mudahan ini dapat memberikan jawaban. (Dari Syaikh Muhammad bin Sholih Utsaimin).

    Sabda
    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    “Artinya : Siapa yang memulai memberi contoh kebaikan dalam Islam maka ia
    mendapat pahala perbuatannya dan pahala orang-orang yang mengikuti (meniru)
    perbuatannya itu ..”.

    “Sanna” di sini artinya : membuat atau mengadakan.

    Jawabnya :
    Bahwa orang yang menyampaikan ucapan tersebut adalah orang yang menyatakan
    pula : “Setiap bid’ah adalah kesesatan”. yaitu Rasulullah Shallallahu
    ‘alaihi wa sallam. Dan tidak mungkin sabda beliau sebagai orang yang jujur
    dan terpercaya ada yang bertentangan satu sama lainnya, sebagaimana firman
    Allah juga tidak ada yang saling bertentangan. Kalau ada yang beranggapan
    seperti itu, maka hendaklah ia meneliti kembali. Anggapan tersebut terjadi
    mungkin karena dirinya yang tidak mampu atau karena kurang jeli. Dan sama
    sekali tidak akan ada pertentangan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
    atau sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Dengan demikian tidak ada pertentangan antara kedua hadits tersebut, karena
    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan : “man sanna fil islaam”, yang
    artinya : “Barangsiapa berbuat dalam Islam”, sedangkan bid’ah tidak termasuk
    dalam Islam ; kemudian menyatkan : “sunnah hasanah”, berarti : “Sunnah yang
    baik”, sedangkan bid’ah bukan yang baik. Tentu berbeda antara berbuat sunnah
    dan mengerjakan bid’ah.

    Jawaban lainnya, bahwa kata-kata “man sanna” bisa diartikan pula :
    “Barangsiapa menghidupkan suatu sunnah”, yang telah ditinggalkan dan pernah
    ada sebelumnya. Jadi kata “sanna” tidak berarti membuat sunnah dari dirinya
    sendiri, melainkan menghidupkan kembali suatu sunnah yang telah
    ditinggalkan.

    Ada juga jawaban lain yang ditunjukkan oleh sebab timbulnya hadits diatas,
    yaitu kisah orang-orang yang datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
    sallam dan mereka itu dalam keadaan yang amat sulit. Maka beliau menghimbau
    kepada para sahabat untuk mendermakan sebagian dari harta mereka. Kemudian
    datanglah seorang Anshar dengan membawa sebungkus uang perak yang
    kelihatannya cukup banyak, lalu diletakkannya di hadapan Rasulullah
    Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seketika itu berseri-serilah wajah beliau dan
    bersabda.

    “Artinya : Siapa yang memulai memberi contoh kebaikan dalam Islam maka ia
    mendapat pahala perbuatannya dan pahala orang-orang yang mengikuti (meniru)
    perbuatannya itu ..”.

    Dari sini, dapat dipahami bahwa arti “sanna” ialah : melaksanakan
    (mengerjakan), bukan berarti membuat (mengadakan) suatu sunnah. Jadi arti
    dari sabda beliau : “Man Sanna fil Islaami Sunnatan Hasanan”, yaitu :
    “Barangsiapa melaksanakan sunnah yang baik”, bukan membuat atau
    mengadakannya, karena yang demikian ini dilarang. berdasarkan sabda beliau :
    “Kullu bid’atin dhalaalah”.

    [Disalin dari buku Al-Ibdaa’ fi Kamaalisy Syar’i wa Khatharil Ibtidaa’ edisi
    Indonesia Kesempurnaan Islam dan Bahaya Bid’ah karya Syaikh Muhammad bin
    Sholeh Al-‘Utsaimin, penerjemah Ahmad Masykur MZ, terbitan Yayasan Minhajus
    Sunnah, Bogor – Jabar]

    Semoga Allah mengampuni anda dan saya, amiin.

    Balas
  • 39. cinta Rasulullah  |  April 23, 2007 pukul 9:19 am

    Kami yg merayakan Maulid Meyakini Kehadiran RUH Junjungan Kami Sayyidi Muhammad Saw.
    Baginda saw lah yg MENJADI SAKSI ATAS PUJIAN-PUJIAN KAMI & SALAWAT KAMI Kepada Baginda saw.

    Ada dua ayat Qur’an Suci yang menegaskan hal ini, yang pertama adalah
    “Fa kayfa idzaa ji’na min kulli ummatin bi-syahiidin wa ji’na bika ‘alaa haa-ulaa-i syahiidan” “Maka bagaimanakah (halnya orang-orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (QS 4:41)

    dan yang lain adalah “Wa kadzaalika ja’alnaakum ummatan wasathan litakuunuu syuhadaa’ ‘alan-Naasi wa yakuuna ar-Rasuulu ‘alaykum syahiidan” “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (ummat Islam), ummat pertengahan (yang adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu“ (QS 2:143)

    Tak mungkin pula Nabi (s) dipanggil sebagai seorang saksi atas apa yang tidak ia ketahui atau tidak ia lihat.Kalau BELIAU SAW ( RUHNYA ) TIDAK ADA PADA JAMAN KITA SEKARANG INI.
    BAGAIMANA NANTINYA BELIAU SAW BERSAKSI ATAS UMATNYA ( KITA_KITA SEKARANG INI ) YG SELEPAS WAFATNYA BELIAU SAW. ????

    Kami telah sebutkan di sini ayat-ayat Quran dan bukannya hadits, bahwa ‘amal dan perbuatan Ummat ditunjukkan kepada Nabi saw.
    “Adapun Mazhab Wahabi menolak kenyataan ini”. Bahkan mereka menolak ayat-ayat ini pula. Dan ini adalah karena kebodohan (Jahl) mereka akan Qur’an dan kebodohan (Jahl) mereka akan Sunnah, dan disebabkan oleh kejahilan mereka akan Allah Ta’ala dan Nabi-Nya (s).

    Renungkanlah…wahai saudaraku…
    YAKINILAH BAHWA RASULULLAH HADIR DI MAJELIS SHALAWAT / MAJELIS PUJI-PUJIAN KEPADA BAGINDA SAW……

    INGAT !!!!
    Beliau BAGINDA SAW JUGA YG MENJADI SAKSI ATAS PENOLAKAN ( MEMBID’AHKAN ) PUJI-PUJIAN & SHALAWAT KEPADA BAGINDA SAW…

    Balas
  • 40. Syah  |  April 24, 2007 pukul 3:55 am

    Bismillah… Mudahan ini pun bisa memberi jawaban (Insya Allah):

    Sudah menjadi tradisi dalam peringatan maulid itu, bahwa di akhir bacaan maulid, sebagian hadirin berdiri, karena mereka menyakini bahwa pada waktu itu Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam hadir dalam majelis mereka. Sungguh ini adalah kedustaan yang nyata. Mengapa? Ya karena Allah Ta’ala berfirman:

    وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
    “Dan di hadapan mereka (orang-orang yang telah mati) ada barzakh (dinding) sampai hari mereka dibangkitkan. “(QS. Al-Mu’minin: 100).

    Yang dimaksud barzakh (dinding) pada saat tersebut adalah pembatasan antara dunia dan akhirat, sehingga tidak mungkin orang yang telah mati bangkit atau ruhnya yang bangkit.

    Di samping itu, seandainya Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam masih hidup, tentu beliau tidak senang di sambut dengan cara berdiri menghormat beliau, sebagaimana dinyatakan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

    “Tidak ada seorang pun yang lebih dicintai oleh para sahabat daripada Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam. Tetapi jika mereka melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka tidak berdiri untuk (menghormati) beliau, karena mereka mengetahui bahwa Rasulullah membenci hal tersebut. “(HR. Ahmad dan At-Tirmidzi, shohih)

    Maroji’:
    Minhaj Al-Firqoh An-Najiyah, karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu.

    Sumber:
    BULETIN DAKWAH AT-TASHFIYYAH, Surabaya Edisi: 15 / Robi’ul Awal / 1425

    Balas
  • 41. Syah  |  April 24, 2007 pukul 4:05 am

    Saudaraku cinta rasulullah.
    Kita kembali ke kaidah ulama yang disebutkan Ibnu Katsir “Jika perbuatan itu baik maka para shahabatlah yang mendahului kita”.
    Bukankah ayat2 Al-Qur’an yang anda sampaikan para shahabat pun mengetahuinya, tetapi yang menjadi pertanyaan, mengapa mereka tidak mengerjakan maulid? Bukankah mereka akan sangat senang jika Rasulullah saw (orang paling dicintai mereka) hadir dalam maulid mereka? Sekali lagi, mengapa mereka tidak mengerjakan?
    Semoga kita diberikan oleh Allah swt dengan pemahaman yang lurus.

    Balas
  • 42. Syah  |  April 24, 2007 pukul 8:53 am

    Assalamu’alaikum…
    Sapa yang mau menambah wawasan, bisa mengklik dibawah ini.
    http://www.imamsyafie.com/web/

    Balas
  • 43. anti-wahabi  |  April 28, 2007 pukul 6:18 pm

    Assalamu’alaikum wr wb

    Buat Wahabis yang selalu bikin onar, friksi, hingga teror. Perlu anda ketahui, seluruh jawaban anda sangat dangkal dan harfiah. Selalu saja anda merujuk haids2 yang kalau dikaji dalam ilmu hadis, belum tentu sahih. Sudahlah, coba anda mulai memikirkan, siapa diri anda, siapa tuhan yang mencipta ( bukan dicipta) anda, benarkah persepsi anda tentang nabi suci saw (jangan menciptakan fiksi tentang nabi dalam otak sendiri), serta siapa pendiri dan semangat Wahabisme yang sejak awal hanya sebuah gerakan sempalan bernuansa sukuisme (made in Inggris yang waktu Ibnu Wahab hidup merupakan pihak kolonial). Kedunguan dan anti-rasio yang anda puja2 menjadikan anda semua rentan dijadikan alat kepentingan para tiran–dan memang begitu sejarahnya. Anda mengatakan akal kita terbatas–apa batasannya? Mana bukti tekstual (nash)nya? Ketika anda berapologetik ria dan berusaha “menjawab”, bukankah anda mamakai otak (rasio)? Tambahan lagi, dalam level politik, sudah jelas2 al-Qaidah (sebagai bumper Amerika Serikat) membunuhi dan mengadu domba warga Irak dan Pakistan–sebagaimana sumpah berdarah si Zarqawi yang berambisi “menghabisi sunni dan syiah di Irak dan di seantero dunia” sekaligus. Lagian, semua ilmu anda itu copy/paste doang. Ayo kita diskusikan hal-hal yang memang pantas didiskusikan, jangan tutup dialog dengan kesemena-menaan. Anda tidak lebih islam dari yang lain…

    Balas
  • 44. ibnuosman  |  April 28, 2007 pukul 9:48 pm

    assalamualaikum semua

    Buat saudara2ku yg mengikuti aliran salaf

    ‘Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan Hikmah dan pelajaran yang baik dan Bantahlah mereka dengan cara yang Terbaik..(QS. An-Nahl:125).

    aku perpesan dan memperingat kan diriku dan saudaraku sekalian
    wassalam

    Balas
  • 45. Ok-Coy  |  April 29, 2007 pukul 1:27 am

    kalau yang menolak mawlid nabi saw dikatakan pengikut Iblis, maka konsekuensinya anda mengatakan mengatakan pengikut iblis terhadap nabi SAW, para sahabatnya dan tabiin, dan orang2 salaf orang soleh lainnya sampai Imam Syafii, karena mereka tidak pernah memperingati mawlid nabi saw.

    Semakin buruk tuduhan anda kepada orang yang tidak memperingati mawlid nabi saw, maka semakin jelas siapa yang anda hina ….????

    Balas
  • 46. MANTAN SUFI  |  April 30, 2007 pukul 2:41 am

    Sebagai gambaran untuk faham Wahabi / salafy.
    Coba kita Lihat jaman sekarang ini bayak yang merayakan Hari yang mempunyai moment tertentu. Misalnya :
    • Negara kita merdeka dirayakan,
    • Hari Pahlawan Nasional dirayakan,
    • Hari lahir anak kita, istri kita, atasan kerja kita, orang tua kita mungkin kitapun merayakan hari lahir kita karena apa kita merayakan itu semua, cuma ingin menunjukan RASA CINTA KITA kepada negara, keluarga, kerabat, teman.yang sebagian bayak mudaratnya.apakah itu bukan bid’ah.
    Kenapa kalian (wahabi tidak menentangnya) bukankah ini tidak ada dijaman Rasulullah saw dan sahabatnya.INI MENUNJUKKAN KEDANGKALAN ANDA MEMAHAMI AKIDAH WAHABI,.JELAS2 SEMUA ITU JUGA TIDAK BOLEH DIIKUTI,anda mencerca akidah wahabi tapi anda sendiri tidak menyelami ajarannya, berarti anda cuma mengambil kesimpulan tanpa mengecek lagi,ingat bukan hanya maulid saja mas!!coba dulu pelajari akidahnya Muhammad bin abdul wahhab,dan jangan seskali menuduh kami cuma mempelajari buku2 dipasar,bahkan kami selalu mengadakan ta’lim dengan para ustadz yang tidak mau mengkomersilkan dirinya lewat televisi,tidak sama dengan ustad2 kalian yang lebih memntingkan hati dan pembersihan hati lewat tarikat2 sufi,zikir2 berjamaah,mulut KALIAN bersalawat kepada nabi sunnah beliau kalian tinggalkan,adakah sunnahya mereyakan hari ulang tahun?sungguh tertipu orang2 yang menganggap sesuatu yang baik tetapi itu bukan kebaikan, tapi kalian Buta terhadap Sunnah!!!ya Allah bukakanlah pintu hati mereka terhadap Assunnah Assahihah,turunkanlah hujjahMu kepada mereka,sehingga tersingkap syubhat2 mereka dan fitnah mereka terhadap Assunnah,.tidaklah baik umat ini melainkan sebagaimana umat generasi dahulu berbuat baik,dan sedikit demi sedikit umat ini akan mengikuti cara2 hidup yahudi dan nasrani sampai masuk kelubang biawak sekalipun nauzubillahmindzalik,belalah apa yang kalian pandang itu baik,silakan bela demokrasi,ulang tahun,maulid dan lain2, dan habis itu apakah kalian akan merasakan kepuasan??jika memang orang yang mengingkari tarikat bid’ah wa syirik adalah seorang wahabi maka persaksikanlah aku wahabi,silahkan penggal kepala kami kawan-silahkan temui kami-silahkan santet kami dengan ilmu hikmah sufimu,zikir2 lathaifmu,doa nurbuwatmu,tawassulan caramu,doa nabi khidirmu,dengan rajah2 sakti mu,dengan Kasaf syeikh mursyidmu,dengan lemparan tasbih ajaibmu,dengan semua yang kau anggap baik dan bagus buat senjata, punahkanlah kami,..maka kalian semua bisa ngetest kami,seandainya kami mati konyol berdakwah tauhid walsunnah maka persaksikanlah kemenangan bagi kalian semua,dan baru kalian berhak mendapat label Ahlussunnah waljamaah sejati.

    Balas
  • 47. aku salafy  |  Mei 2, 2007 pukul 4:27 am

    bismillaahirrohmaanirrohiim.

    aq adalah salafy bukan murid yazzidjawwas, abdul hakim tapi Ust Ja’far Sholih, Ust Muhammad,aq ga mau perdebatan!

    kalian mau tau salafy maka tanyalah pada salafy bukan dari kacamata kebanyakan orang tapi pakailah ilmu.sudh wajar salaf ditntang, toh nabi, ulama pun ditentang! ingatlah bid’ah itu yang tidak ada contohnya dalam masalah agama(muttafaqun ‘alaihi)

    Imam Bukhori, shahabat adalah salaf.
    dari Fathimah, rasululloh bersabda:”aq adl sebaik2pendahulu (salaf)bagimu”.-aq lupa riwayat siapa-

    ibadah adl yang dicintai&diridhoi Alloh.Apakah maulid, tahlilan, dzikir di kubur adl baik?kalau baik knp Rasulullah tdk melakukan?! apakah KALIAN LEBIH TAU daripada NABI pdhl beliau adl yang dipercaya Alloh u/mjd Nabi?”ingatlah do’a, dzikir, puasa, menyembah adalah ibadah dan hanya untuk Alloh!tahlilan itu u/ mayit kan?
    Nabi adalah saksi atas perbuatan umatnya, ucapan nabi adalah wahyu yang nabi tdk asal bicara!ucpannya dari Robbuna.maulid itu tradisi nashrani, rasululloh melarang kita mengikuti suatu kaum.

    orang musyrik zaman dulu pun berkata mereka tdk menyembah berhala tapi mereka hanya menjadikan berhala sbg perantara&pemberi syafa’at!

    diakhir hidupnya Rasululloh mewasiatkan u/ tdk menjadikan masjid sbg kubur2,&melarang menjadikan kbur sbg masjid!
    ibadah itu bukan dikuburn!Rosululloh tidak mlakukan tahlilan,dzikir di kubur,,kalau itu dilakukan pasti tercatat dalam hadits shohih/hasan!lantas kenapa mlakukan yang tidak nabi lakukan!?yang tidak dicontohkan dalam hal agama maka itu bid’ah&bid’ah itu sesat!
    kafir&bid’ah, sesat dilakukan dengan ilmu o/ulama bukan sembarangan orang!jika ulama yang sholih memvonis sesat, maka itu sesat!
    agama ini dari al qur’an, sunnah, dan ijma’ ulama bukan tradisi!
    Kalau berdo’a di kubur boleh, tentu nabi&para shohabat tidak akan memerangi!itu dalah syirik&syirik adalah kedzoliman hamba trhadp ALLOH!

    Balas
  • 48. aku salafy  |  Mei 2, 2007 pukul 4:34 am

    subhanalloh,,semoga Alloh memfaqihkan&mengistiqomahkan para pengikut Kholilulloh

    Balas
  • 49. cinta Rasulullah  |  Mei 3, 2007 pukul 4:20 am

    UNTUK MANTAN SUFI – April 30, 2007
    jika memang orang yang mengingkari tarikat bid’ah wa syirik adalah seorang wahabi maka persaksikanlah aku wahabi,silahkan penggal kepala kami kawan-silahkan temui kami-silahkan santet kami dengan ilmu hikmah sufimu,zikir2 lathaifmu,doa nurbuwatmu,tawassulan caramu,doa nabi khidirmu,dengan rajah2 sakti mu,dengan Kasaf syeikh mursyidmu,dengan lemparan tasbih ajaibmu,dengan semua yang kau anggap baik dan bagus buat senjata, punahkanlah kami,..maka kalian semua bisa ngetest kami,seandainya kami mati konyol berdakwah tauhid walsunnah maka persaksikanlah kemenangan bagi kalian semua,dan baru kalian berhak mendapat label Ahlussunnah waljamaah sejati.

    Ulama Sufi ( Wali2 Allah ).bukan untuk membunuh sana sini apalagi sesama muslim.(seperti Muhammad Abdul Wahab yg membunuh orang muslim yang tidak mengikuti fahamnya).
    Mereka (Ulama Sufi) itu mengikuti Jejak,ajaran & Akhlak Rasulullah saw.dimana Orang Nasrani,majusi & yahudi pun bisa hidup berdampingan bersama beliau.
    Bagaimana Rasulullah saw & Sahabat ra semasa hidupnya tidak memusihi Non Muslim yg menentangnya.

    Bacalah Kisah hidup Rasulullah Saw & sahabatnya
    Jangan Membaca Kisah Hidup Muhammad bin abdul wahhab.

    Berarti Wahabi ini Tidak mengenal Betul Sosok Manusia Yg Paling Sempurna ( Nabi saw ).
    Mereka Lebih Mengenal sosok Muhammad bin abdul wahab.Pantasan aja ………Tau sendirilah ya….kalau bertentangan dengan Ajaran, Akhlak & Sunah Baginda Saw & sahabat ra.

    Balas
  • 50. narimo  |  Mei 3, 2007 pukul 4:37 am

    YANG ANTI MAULID = PENGIKUT IBLIS, ada yang menyimpulkan para shahabat nabi pengikut iblis karena tidak mengakui maulid. ya naif benar, wong disini dinyatakan menolak/mengingkari makna maulid di sono dimaknai “tidak melakukan”, beda mas antara “menolak” dan “tidak melakukan”.
    Abu Bakar Assidiq tidak melakukan tarawih berjamaah di masjid bahkan tidak memerintahkan untuk melakukan atau menilai tarawih berjamaah di masjid itu lebih baik dari shalat tarawih dirumah. Umar merintis jalan tarawih berjamaah di masjid.
    Ada dua fakta yang bertolak belakang, tetapi apa terkandung aspek “menolak” dari Abu Bakar?
    ada yang menafsirkan bahwa contoh nabi harus selalu contoh yang tekstual, tertulis jelas, itu syah saja, tetapi ada kendala terhadap hal-hal yang tidak ada contoh yang leterleks untuk suatu kegiatan, misalnya: nabi mencontohkan hal tentang berpakaian, tetapi adakah contoh untuk pakaian dalam?
    Nabi selalu mencontohkan do’a sebelum melakukan sesuatu pekerjaan yang baik, lha bapak saya kerjaannya nyadap nira, adakah hadis yang menyebutkan do’a tentang manjat pohon?
    laki-laki muslim wajib dikhitan,
    siapa yang berhak menghitan/memotong ujung burung,
    siapa yang berhak menghitankan/wali khitan,
    teknik/cara khitan apa yang sesuai sunnah nabi?(saat ini berkembang teknik kitan bermacam-macam),
    rukun dan syaratnya khitan (karena khitan adalah ibadah wajib), tolong cari rujukan tentangnya.
    kita harus mencontoh nabi, itu harus, tetapi sunnah nabi, sebagaimana sunatullah disamping tersurat ada yang tersirat, (sesungguhnya terjadinya siang dan malam, bahkan penciptaan langit dan bumi itu hanya kan berarti bagi orang yang berpikir) dan kemampuan individu manusia (siapapun manusianya) dalam memahami hal yang tersirat inilah yang kadang menjadikan seseorang merasa lebih baik dari orang lain, bahkan kadang memisahkan satu pihak dengan pihak lain, padahal yang dipahami bersumber dari hal yang satu. Sebaiknya kita selalu sadari satu pegangan yang kuat untuk ukhuwah “AL QUR’AN DAN HADITS PASTI BENAR DAN SEMPURNA KEBENARANNYA tetapi PEMAHAMAN MANUSIA PADA AL QUR’AN DAN HADITS TIDAK AKAN PERNAH MENCAPAI KEBENARAN SEMPURNA”

    Balas
  • 51. cinta Rasulullah  |  Mei 3, 2007 pukul 5:14 am

    KALAU MEMANG MAULID ( Mengenang ,Memuji & Bershalawat ), TAWASUL & JIARAH KUBUR BID’AH atau SESAT
    ( menurul Ustad,Prof & Doktor Faham WAHABI ).
    Mana Dalil-DalilNya ?????????????????????????????????????. Ayo MANA ???..

    I. Dibawah ini adalah Dalil-Dalil Yg Membolehkan Maulid
    (Mengenang ,Memuji & Bershalawat ), NABI Saw :

    1.Berkata Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy rahimahullah :
    Telah jelas dan kuat riwayat yang sampai padaku dari shahihain bahwa Nabi saw datang ke Madinah dan bertemu dengan Yahudi yang berpuasa hari asyura (10 Muharram), maka Rasul saw bertanya maka mereka berkata : “hari ini hari ditenggelamkannya Fir’aun dan Allah menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai tanda syukur pada Allah swt, maka bersabda Rasul saw : “Kita lebih berhak atas Musa as dari kalian”, maka diambillah darinya perbuatan bersyukur atas anugerah yang diberikan pada suatu hari tertentu setiap tahunnya, dan syukur kepada Allah bisa didapatkan dengan pelbagai cara, seperti sujud syukur, puasa, shadaqah, membaca Alqur’an, maka nikmat apalagi yang melebihi kebangkitan Nabi ini?, telah berfirman Allah swt “SUNGGUH ALLAH TELAH MEMBERIKAN ANUGERAH PADA ORANG-ORANG MUKMININ KETIKA DIBANGKITKANNYA RASUL DARI MEREKA” (QS Al Imran 164)
    2. Pendapat Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) :
    Merupakan Bid’ah hasanah yang mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yang diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul saw dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul saw dan membangkitkan rasa cinta pada beliau saw, dan bersyukur kepada Allah dengan kelahiran Nabi saw.
    3. Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah
    dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : “ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi saw”
    4. Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah
    dengan karangan maulidnya yang terkenal “al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, “Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dengan tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yang membacanya serta merayakannya”.
    5. Pujian Allah Kepada Baginda SAW ( DAN SESUNGGUHNYA ENGKAU ( MUHAMMAD) MEMILIKI BUDI PEKERTI YANG SANGAT AGUNG ( Al Qalam,68;4)
    6 .dan Masih Banyak Lagi ..( kepajangan kalau di uraikan semua).

    II. Dibawah ini adalah Dalil-Dalil Yg Membolehkan Tawasul

    1. Tawassul merupakan hal yang sunnah, dan tak pernah ditentang oleh Rasul saw, tak pula oleh Ijma Sahabat radhiyallahuanhum, tak pula oleh Tabiin, dan bahkan para Ulama dan Imam-Imam besar Muhadditsin, mereka berdoa tanpa perantara atau dengan perantara, dan tak ada yang menentangnya, apalagi mengharamkannya, atau bahkan memusyrikkan orang yang mengamalkannya.

    Pengingkaran hanya muncul pada abad ke 19-20 ini, dengan munculnya sekte sesat yang memusyrikkan orang-orang yang bertawassul, padahal Tawassul adalah sunnah Rasul saw, sebagaimana hadits shahih dibawah ini : Wahai Allah, Demi orang-orang yang berdoa kepada Mu, demi orang-orang yang bersemangat menuju (keridhoan) Mu, dan Demi langkah-langkahku ini kepada (keridhoan) Mu, maka aku tak keluar dengan niat berbuat jahat, dan tidak pula berniat membuat kerusuhan, tak pula keluarku ini karena Riya atau sumah.. hingga akhir hadits. (HR Imam Ahmad, Imam Ibn Khuzaimah, Imam Abu Naiem, Imam Baihaqy, Imam Thabrani, Imam Ibn Sunni, Imam Ibn Majah dengan sanad Shahih). Hadits ini kemudian hingga kini digunakan oleh seluruh muslimin untuk doa menuju masjid dan doa safar.

    2. Abu Nu’aim, Thabrani dan Ibn Hibban dalam shahihnya, bahwa ketika wafatnya Fathimah binti Asad (Bunda dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw, dalam hadits itu disebutkan Rasul saw rebah/bersandar dikuburnya dan berdoa : Allah Yang Menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Hidup tak akan mati, ampunilah dosa Ibuku Fathimah binti Asad, dan bimbinglah hujjah nya (pertanyaan di kubur), dan luaskanlah atasnya kuburnya, Demi Nabi Mu dan Demi para Nabi sebelum Mu, Sungguh Engkau Maha Pengasih dari semua pemilik sifat kasih sayang.”, jelas sudah dengan hadits ini pula bahwa Rasul saw bertawassul di kubur, kepada para Nabi yang telah wafat, untuk mendoakan Bibi beliau saw (Istri Abu Thalib).

    3.Demikian pula tawassul Sayyidina Umar bin Khattab ra. Beliau berdoa meminta hujan kepada Allah : Wahai Allah.. kami telah bertawassul dengan Nabi kami (saw) dan Engkau beri kami hujan, maka kini kami bertawassul dengan Paman beliau (saw) yang melihat beliau (saw), maka turunkanlah hujan..?. maka hujanpun turun. (Shahih Bukhari hadits no.963 dan hadits yang sama pada Shahih Bukhari hadits no.3508).

    Umar bin Khattab ra melakukannya, para sahabat tak menentangnya, demikian pula para Imam-Imam besar itu tak satupun mengharamkannya, apalagi mengatakan musyrik bagi yang mengamalkannya, hanyalah pendapat sekte sesat ini yang memusyrikkan orang yang bertawassul, padahal Rasul saw sendiri berrtawassul. Apakah mereka memusyrikkan Rasul saw?, dan Sayyidina Umar bin Khattab ra bertawassul, apakah mereka memusyrikkan Umar ?, Naudzubillah dari pemahaman sesat ini.

    III .Dibawah ini adalah Dalil-Dalil Yg Membolehkan Jiarah Kubur.
    1. Rasul saw, beliau berdoa di Pekuburan Baqii, dan berkali-kali beliau saw melakukannya. Dan Rasul saw memerintahkan untuk mengucapkan Salam untuk ahli kubur dengan ucapan Assalaamu alaikum Ahliddiyaar minalmuminin walmuslimin, wa Innaa Insya Allah Lalaahiquun, As alullah lana wa lakumul aafiah.. (Salam sejahtera atas kalian wahai penduduk penduduk dari Mukminin dan Muslimin, Semoga kasih sayang Allah atas yang terdahulu dan yang akan datang, dan Sungguh Kami Insya Allah akan menyusul kalian) (Shahih Muslim Bab 35 hadits no 974.975,976. *3 hadits dalam makna yang sama). Hadits ini menjelaskan bahwa Rasul saw bersalam pada Ahli Kubur dan mengajak mereka berbincang-bincang dengan ucapan Sungguh Kami Insya Allah akan menyusul kalian.

    Demikian pula tawassul, karena tawassul adalah doa kepada Allah, bila anda menuju makam untuk berziarah, berdoalah kepada Allah, Wahai Allah, Demi orang-orang yang bermunajat pada Mu, Demi orang-orang yang Bersemangat kepada keridhoan Mu, Demi langkahku ini, atau dengan tawassul menyebut nama sebagaimana Rasul saw menyebut Demi para Nabi sebelumku.. atau misalnya Wahai Allah, Demi Ahlul Badr, atau Demi Muhajirin dan Anshar, atau Demi Ruku dan Sujudnya para wali Mu, atau menyebut nama mereka sebagaimana Rasul saw menyebut nama para malaikat. Toh doa-doa ini kepada Allah, berperantarakan ketaatan para hamba-hamba Nya, memang manusia hidup dan mati, namun amal shalihnya tetap kekal.
    Kita tak bisa menilai orang yang berbuat apapun dengan tuduhan syirik, dia berkomat kamit dengan sajen dan mandi sumur tujuh rupa dan segala macam kebiasaan orang kafir lainnya, ini merupakan adat istiadat biasa, tak mungkin kita mengatakannya musyrik hanya karena melihat perbuatannya, kecuali ia ber ikrar dengan lidahnya.
    Satu contoh, seorang muslim mandi air kembang, berendam di air mawar, lalu menaruh keris di pinggangnya, lalu menyalakan kemenyan, lalu ia shalat, musyrikkah ia?,
    dan orang lain mandi dengan shower, berendam di air hangat, menggunakan busa mandi, lalu menaruh pistol dipinggangnya, lalu menyemprotkan pewangi ruangan, lalu shalat, musyrikkah dia?,
    apa bedanya?, keduanya melakukan kebiasaan orang kafir..

    Balas
  • 52. ok-coy  |  Mei 3, 2007 pukul 6:39 am

    siapa suruh merayakan hut ri, haul habib, haul anak kita, haul nabi isa, haul & tahlilan.

    orang bodoh pun tau bahwa haul itu bukan dari agama Islam, dan orang jahil pun tau dan menyangka bahwa maulid nabi adalah bagian dari syariat islam.

    Balas
  • 53. adil  |  Mei 3, 2007 pukul 11:36 pm

    Pak Yai Aswaja

    Saya perhatikan, semua Web yang mengaku salafy yang Pak Yai Aswaja cemooh mereka dengan jujur dan gentle menyebutkan alamat redaksi dan no telepon yang bisa dihubungi, malah ada yang menuliskan bidata si pengeloloa

    Lah ini.. Web yang pak Yai Aswaja kelola kok kosong ya dari informasi itu. Kenapa Pak Yai…Takut atau pengecut??

    Informasi tentang itu penting loh Pak Yai…Ini ukuran bhawa pak Yai bertanggung jawab.

    Balas
  • 54. aku salafy  |  Mei 4, 2007 pukul 3:49 am

    setiap bid’ah adalah sesat!!!

    Hati2lah yang berdusta mengatasnamakan Rosulullah,,karana jika berdusta…engkau sudah menyiapkan tempat dudukmu di neraka!!!(dlm riwayat bukhori muslim)

    Balas
  • 55. abu ghonam  |  Mei 5, 2007 pukul 5:03 am

    masya Allah tak henti2nya para kaun rafidhah menyuarakan sesat pada ahlus sunnah apalagi mereka memberi gelar buruk…ane tidak tau nih blog mpunya orang rafidhah kan kalo iya bertaubatlah, kalo tidak berilmulah yang benar wahai orang yang bangkrut!

    Balas
  • 56. abu ghonam  |  Mei 5, 2007 pukul 5:05 am

    Dalil itu adalah apa yang keluar dari ucapan rasulullah…bisakah anda buktikan bahwasaannya maulid aatau tawassul itu ada pd jaman rasulullah…janganlah mengambil hanya dari berbagai pendapat…

    Balas
  • 57. Abu kasim  |  Mei 5, 2007 pukul 7:23 am

    CIRI- CIRI & HADIST RASULULLAH MENGENAI KHAWARIJ
    YG SEKARANG LEBIH DIKENAL WAHABI ( Pemahaman / Ciri2 yg sama )

    Warning : BERHATI-HATI LAH SAUDARAKU ASWJ Asli..(Bukan salafi gadungan )
    Khawarij mempunyai ciri-ciri dan sifat-sifat yang menonjol. Sebaik-baik orang yang meluruskan sifat-sifat ini adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan sifat-sifat kaum ini dalam hadits-haditsnya yang mulia.

    Disini akan dipaparkan penjelasan sifat-sifat tersebut dengan sedikit keterangan, hal itu mengingat terdapat beberapa perkara penting, antara lain :

    Dengan mengetahui sifat-sifat ini akan terbukalah bagi kita ciri-ciri ghuluw (berlebih-lebihan) dan pelampauan batas mereka, dan tampaklah di mata kita sebab-sebab serta alasan-alasan pendorong yang menimbulkan hal itu. Dalam hal yang demikian itu akan menampakkan faedah yang tak terkira.
    Keberadaan mereka akan tetap ada hingga di akhir zaman, seperti dikabarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu riwayat. Oleh karenanya mengetahui sifat-sifat mereka adalah merupakan suatu perkara yang penting.
    Dengan mengetahui sifat mereka dan mengenali keadaannya akan menjaga diri dari terjatuh ke dalamnya. Mengingat barang siapa yang tidak mengetahui keburukan mereka, akan terperangkap di dalamnya. Dengan mengetahui sifat mereka, akan menjadikan kita waspada terhadap orang-orang yang mempunyai sifat-sifat tersebut, sehingga kita dapat mengobati orang yang tertimpa dengannya.
    Berkenan dengan hal ini akan kami paparkan sifat-sifat tersebut berdasarkan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia.

    1. Suka Mencela dan Menganggap Sesat

    Sifat yang paling nampak dari Khawarij adalah suka mencela terhadap para Aimatul huda (para Imam), menganggap mereka sesat, dan menghukum atas mereka sebagai orang-orang yang sudah keluar dari keadilan dan kebenaran. Sifat ini jelas tercermin dalam pendirian Dzul Khuwaishirah terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan perkataannya : “Wahai Rasulullah berlaku adil lah”. (Hadits Riwayat Bukhari VI/617, No. 3610, VIII/97, No. 4351, Muslim II/743-744 No. 1064, Ahmad III/4, 5, 33, 224)

    Dzul Khuwaishirah telah menganggap dirinya lebih wara’ daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menghukumi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang yang curang dan tidak adil dalam pembagian. Sifat yang demikian ini selalu menyertai sepanjang sejarah. Hal itu mempunyai efek yang sangat buruk dalam hukum dan amal sebagai konsekwensinya.

    2. Berprasangka Buruk (Su’udzan)

    Ini adalah sifat Khawarij lainnya yang tampak dalam hukum Syaikh mereka Dzul Khuwaishirah si pandir dengan tuduhannya bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ikhlas dengan berkata :

    “Artinya : Demi Allah, sesungguhnya ini adalah suatu pembagian yang tidak adil dan tidak dikehendaki di dalamnya wajah Allah”. (Hadits Riwayat Muslim II/739, No. 1062, Ahmad IV/321)
    Dzul Khuwaishirah ketika melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi harta kepada orang-orang kaya, bukan kepada orang-orang miskin, ia tidak menerimanya dengan prasangka yang baik atas pembagian tersebut.

    Ini adalah sesuatu yang mengherankan. Kalaulah tidak ada alasan selain pelaku pembagian itu adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam cukuplah hal itu mendorong untuk berbaik sangka. Akan tetapi Dzul Kuwaishirah enggan untuk itu, dan berburuk sangka disebabkan jiwanya yang sakit. Lalu ia berusaha menutupi alasan ini dengan keadilan. Yang demikian ini mengundang tertawanya iblis dan terjebak dalam perangkapnya.

    Oleh sebab inilah orang-orang Khawarij mencela Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dikatakan kepada beliau oleh pelopornya : “Wahai Muhammad, berbuat adillah. Sesungguhnya engkau tidak berlaku adil”. dan perkataannya : “Sesungguhnya pembagian ini tidak dimaksudkan untuk wajah Allah …..”. Mereka, meskipun banyak shaum (berpuasa), shalat, dan bacaan Al-Qur’annya, tetapi keluar dari As-Sunnah dan Al-Jama’ah.

    Memang mereka dikenal sebagai kaum yang suka beribadah, wara’ dan zuhud, akan tetapi tanpa disertai ilmu, sehingga mereka memutuskan bahwa pemberian itu semestinya tidak diberikan kecuali kepada orang-orang yang berhajat, bukan kepada para pemimpin yang dita’ati dan orang-orang kaya itu, jika didorong untuk mencari keridhaan selain Allah -menurut persangkaan mereka-.

    3. Berlebih Dalam Beribadah

    Sifat ini telah ditunjukkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya :

    “Artinya : Akan muncul suatu kaum dari umatku yang membaca Al-Qur’an, yang mana bacaan kalian tidaklah sebanding bacaan mereka sedikitpun, tidak pula shalat kalian sebanding dengan shalat mereka sedikitpun, dan tidak pula puasa kalian sebanding dengan puasa mereka sedikitpun”. (Muslim II/743-744 No. 1064).
    Berlebihan dalam ibadah berupa puasa, shalat, dzikir, dan tilawah Al-Qur’an merupakan perkara yang masyhur di kalangan orang-orang Khawarij. Dalam Fathu Al-Bari, XII/283 disebutkan : “Mereka (Khawarij) dikenal sebagai qura’ (ahli membaca Al-Qur’an), karena besarnya kesungguhan mereka dalam tilawah dan ibadah, akan tetapi mereka suka menta’wil Al-Qur’an dengan ta’wil yang menyimpang dari maksud yang sebenarnya. Mereka lebih mengutamakan pendapatnya, berlebih-lebihan dalam zuhud dan khusyu’ dan lain sebagainya”.

    Ibnu Abbas juga telah mengisyaratkan pelampauan batas mereka ini ketika pergi untuk mendebat pendapat mereka. Beliau berkata : “Aku belum pernah menemui suatu kaum yang bersungguh-sungguh, dahi mereka luka karena seringnya sujud, tangan mereka seperti lutut unta, dan mereka mempunyai gamis yang murah, tersingsing, dan berminyak. Wajah mereka menunjukan kurang tidur karena banyak berjaga di malam hari”. (Lihat Tablis Iblis, halaman 91). Pernyataan ini menunjukkan akan ketamakan mereka dalam berdzikir dengan usaha yang keras.

    4. Keras Terhadap Kaum Muslimin

    Sesungguhnya kaum Khawarij dikenal bengis dan kasar, mereka sangat keras dan bengis terhadap muslimin, bahkan kekasaran mereka telah sampai pada derajat sangat tercela, yaitu menghalalkan darah dan harta kaum muslimin serta kehormatannya, mereka juga membunuh dan menyebarkan ketakutan di tengah-tengah kaum muslimin. Adapun para musuh Islam murni dari kalangan penyembah berhala dan lainnya, mereka mengabaikan, membiarkan serta tidak menyakitinya.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan sifat mereka ini dalam sabdanya :

    “Artinya : ….. Membunuh pemeluk Islam dan membiarkan penyembah berhala ….”. (Hadits Riwayat Bukhari, VI/376, No. 3644, Muslim II/42 No. 1064)

    5. Sedikitnya Pengetahuan Mereka Tentang Fiqih

    Sesungguhnya kesalahan Khawarij yang sangat besar adalah kelemahan mereka dalam penguasaan fiqih terhadap Kitab Allah dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang kami maksudkan adalah buruknya pemahaman mereka, sedikitnya tadabbur dan merasa terikat dengan golongan mereka, serta tidak menempatkan nash-nash dalam tempat yang benar.

    Dalam masalah ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan kepada kita dalam sabdanya :

    “Artinya : …. Mereka membaca Al-Qur’an, tidak melebihi kerongkongannya”.
    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mempersaksikan akan banyaknya bacaan/tilawah mereka terhadap Al-Qur’an, tetapi bersamaan dengan itu mereka di cela. Kenapa ? Karena mereka tidak dapat mengambil manfaat darinya disebabkan kerusakan pemahaman mereka yang tumpul dan penggambaran yang salah yang menimpa mereka. Oleh karenanya mereka tidak dapat membaguskan persaksiannya terhadap wahyu yang cemerlang dan terjatuh dalam kenistaan yang abadi.

    Berkata Al-Hafidzh Ibnu Hajar : “Berkata Imam Nawawi, bahwa yang dimaksud yaitu mereka tidak ada bagian kecuali hanya melewati lidah mereka, tidak sampai pada kerongkongan mereka, apalagi ke hati mereka. Padahal yang diminta adalah dengan men-tadaburi-nya supaya sampai ke hatinya”. (Lihat Fathul Baari, XII/293).

    Kerusakan pemahaman yang buruk dan dangkalnya pemahaman fiqih mereka mempunyai bahaya yang besar. Kerusakan itu telah banyak membingungkan umat Islam dan menimbulkan luka yang berbahaya. Dimana mendorong pelakunya pada pengkafiran orang-orang shalih. menganggap mereka sesat serta mudah mencela tanpa alasan yang benar. Akhirnya timbullah dari yang demikian itu perpecahan, permusuhan dan peperangan.

    Oleh karena itu Imam Bukhari berkata : “Adalah Ibnu Umar menganggap mereka sebagai Syiraaru Khaliqah (seburuk-buruk mahluk Allah)”. Dan dikatakan bahwa mereka mendapati ayat-ayat yang diturunkan tentang orang-orang kafir, lalu mereka kenakan untuk orang-orang beriman”. (Lihat Fathul Baari, XII/282). Ketika Sa’id bin Jubair mendengar pendapat Ibnu Umar itu, ia sangat gembira dengannya dan berkata : “Sebagian pendapat Haruriyyah yang diikuti orang-orang yang menyerupakan Allah dengan mahluq (Musyabbihah) adalah firman Allah Yang Maha Tinggi :

    Persamaan Wahabi / Salafi Gadunagan dengan KHAWARIJ menurut point diatas ;
    1. Suka Mencela dan Menganggap Sesat.
    ( suka mengatakan Tahayul, Bid’ah, Churafat Kepada yg tidak sepaham dengannya ).

    2. Berprasangka Buruk (Su’udzan)
    (Maulid , Tawasul ,Tahli & ziarah kubur di bilang syirik menduakan Tuhan )

    3. Berlebih Dalam Beribadah

    4. Keras Terhadap Kaum Muslimin
    ( Muslim Diperangi ( Tahayul, Bid’ah, Churafat ) , Nasrani & Yahudi Didukung (seperti Menyiapkan Pangkalan Untuk Amerika (di saudi arabia ).& Kerjasama Dgn Kerjasama Dengan Agen Israel )

    5. Sedikitnya Pengetahuan Mereka Tentang Fiqih
    Dalam masalah ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan kepada kita dalam sabdanya :

    “Artinya : …. Mereka membaca Al-Qur’an, tidak melebihi kerongkongannya”.
    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mempersaksikan akan banyaknya bacaan/tilawah mereka terhadap Al-Qur’an, tetapi bersamaan dengan itu mereka di cela. Kenapa ? Karena mereka tidak dapat mengambil manfaat darinya disebabkan kerusakan pemahaman mereka yang tumpul dan penggambaran yang salah yang menimpa mereka. Oleh karenanya mereka tidak dapat membaguskan persaksiannya terhadap wahyu yang cemerlang dan terjatuh dalam kenistaan yang abadi.

    Sekilas Tentang Persamaan Wahabi / Salafi Gadungan dengan KHAWARIJ.anehnya artikel mengenai KHAWARIJ ini ada di situs milik wahabi.hehe…IBARAT KERA MENGATAI LUTUNG….

    Baca di situs wahabi
    http://blumewahabi.wordpress.com/firqah-sesat/khawarij/

    Balas
  • 58. ainunnajib  |  Mei 8, 2007 pukul 3:32 pm

    mas2 admin, mau tanya aja, di link blogroll nya kok malah ngelink ke the wahhabi myth ? itu kan website pleidoi nya wahabi dan salafi plus juga berisi tulisan2 yang misleading tentang sufi/sufism. intinya, itu websitenya mereka gitu, kok malah di link ?

    Balas
  • 59. Abu kasim  |  Mei 9, 2007 pukul 9:14 am

    RENUNGANKANLAH…………..
    untuk kaum muslimin & muslimat…………
    dari komentar diatas sudah tentu , kita masing-masing merenungi, adakah Paham Agama yg kita Yakini sekarang ini ada PERSAMAAN dengan PEMAHAMAN KHAWARIJ ???????.

    Kembali kepada diri Anda Sendiri….
    dan hanya ANDA & ALLAH lah yg mengetahui…..

    RENUNGANKANLAH……….RENUNGKANLAH …………….

    Balas
  • 60. Haryo  |  Mei 12, 2007 pukul 6:17 am

    ckckckckck…..

    Balas
  • 61. Amd  |  Mei 12, 2007 pukul 1:50 pm

    Duh, pertanyaan saya belum dijawab pak Abu ya?? Padahal cuma satu kalimat??

    Balas
  • 62. edanpolcuk  |  Mei 13, 2007 pukul 10:03 am

    Sesama orang islam kok ndak akur. OKlah kalaupun agama itu bukan akal, tapi keyakinan,………. tapi jangan sampai kita menyalahkan keyakinan atau aliran islam yang lain dengan cap bi’dah, musrik, kafir dong. Prinsipnya jangan menjadi wakil tuhan dengan menghakimi aliran lain. Hak-hak tuhan jangan diambil alih, dosa itu. Jangan-jangan justru yang suka menghakimi itu yang di hadapan Gusti Alloh malah dianggap salah.

    Balas
  • 63. Abdullah  |  Mei 13, 2007 pukul 6:09 pm

    Antara Logika Dan Iman Untuk Abu Hanif,

    “garis bawahi pada kata bertentangan dg logika.
    agama ini bukan logika ya akhi. kalau logika, kata Ali radhiyallahu ‘anhu tentunya bagian bawah khuf lebih pantas untuk diusap daripada bagian atasnya (lha yang kotor itu ‘kan bawah to?)”

    Tanggapan:

    Ini namanya mencampuradukan antara logika yang berfungsi di dalam memahami aqidah dan ketaatan di dalam mengikuti syari’at.
    Aqidah harus sejalan logika, karena Nabi saw mengatakan bahwa agama adalah untuk orang yang berakal, karena orang yang tidak berakal tidak mampu memahami agama dan puluhan ayat mengatakan afala ta’qilun. Agama selalu sejalan dengan akal.

    Iman adalah suatu proses yang baru muncul setelah adanya proses berpikir. Anda tidak akan percaya api itu panas, kecuali setelah anda tahu api itu panas. Anda tidak akan menitipkan barang-barang anda yang berharga kepada seseorang yang tidak anda kenal/tahu karena anda belum percaya kepadanya.

    Iman baru mungkin muncul setelah adanya pengetahuan. Adapun syari’at adalah suatu perilaku mukmin yang telah mempelajari akidah dengan akal dan menerima dalil-dalilnya. Saat itu, Anda tidak perlu menanyakan mengapa sholat zuhur dan asar empat raka’at? Atau mengapa kalau batal wudhu tidak cebok, tapi malah mengambil wudhu lagi, atau mengapa babi itu haram?

    Semua itu terkait dengan perintah Ilahi yang telah kita terima melalui proses berpikir sehingga anda sudah yakin bahwa Yang Sempurna tidak mungkin menciptakan sesuatu secara sia-sia, artinya segala makhluk memiliki tujuan penciptaan. Aktifitas ibadah dibangun dari kesadaran atau pengetahuan yang semuanya rasional. Jadi, jangan dicampur aduk…

    Sedangkan ucapan Ali bin Abi Thalib ra itu tidak bertentangan dengan logika, tapi justru menguatkan perlunya berpikir dalam melakukan aktifitas ibadah. Beliau ra ingin mengajarkan bahwa berwudhu bukan sekedar aktifitas yang tujuannya untuk membersihkan tubuh lahiriah dari kotoran pasir atau tanah, seperti pandangan awam, yakni seperti orang mandi…

    Tapi beliau ra ingin memberitahukan bahwa realitas dibalik aktifitas wudhu adalah suatu kesadaran yang perlu dimunculkan bahwa dia akan menghadap Allah swt dalam sholat… Sehingga jangan disamakan dengan mandi lahiriah seperti yang biasa dikerjakan…

    Sebab, ketika tubuh kotor, kita akan serius dan tekun membersihkan bagian-bagian tubuh itu agar kita tidak terkena kuman, penyakit dsb…

    Demikian pula dengan wudhu, beliau ra ingin mengajarkan kaum Muslim agar jangan menganggap wudhu sebagai memoles pasir dan tanah seperti yang sederhananya anda pahami…

    Dan ungkapan anda akan sangat benar bila tujuan wudhu adalah untuk membersihkan pasir dan tanah dari bawah kaki, maka memoles bagian atas sepatu menjadi tidak logis, tapi wudhu bukan sekedar mencuci bagian-bagian lahiriah. Bahkan jika tujuan wudhu itu mencuci bagian lahiriah, maka seharusnya sepatu itu dibuka lebih dahulu…dan bukan dengan memolesnya…

    Kesalahan ini terjadi ketika anda menganggap tujuan wudhu itu adalah semata-mata ritual lahiriah yang tujuannya lahiriah juga…!!

    “trus, mustahil dalam semalan Rasulullah bisa ke langit yang ketujuh (kalau mikir dg logika tadi)”

    Tanggapan:

    Akal tidak memustahilkan hal ini, mungkin anda yang mengatakan ini mustahil. 1000 tahun lalu kalau anda bilang besi dan manusia bisa terbang, maka orang akan tertawa terbahak-bahak dan menyebut anda gila…tapi saat ini, kalau anda bilang besi dan manusia tidak bisa terbang, maka sekali lagi anda akan dibilang gila…

    Relativitas dan mekanika quantum mempostulatkan adanya batasan ruang dan waktu, sehingga apa yang kita bilang jauh pada dasarnya tidak demikian…

    Sedangkan mengenai waktu, manusia sudah menerima berbagai masukan baru tentang waktu yang rasional…percayakah bahwa ketika anda melihat bintang Alfa Senturi yang jaraknya empat tahun cahaya, maka setiap kali anda melihatnya, itu adalah kondisi bintang tersebut empat tahun lalu, artinya, secara tidak langsung anda tengah melihat ke masa lalu…

    Ini rasional dalam fisika dan saya tidak tahu dalam pikiran anda, apakah ini mustahil atau tidak…?

    ”tapi, yang namanya iman itu menyakini, walaupun terkdaang akal bisa juga berperan. tapi, cuma sedkit. akal kita itu terbatas ya akhi. jadi, ya terimalah al-haq walau kayaknya ‘edan’ bagi akal-akal kita. barakallaahu fiikum.”

    Tanggapan:

    Ilmu pengetahuan memunculkan sikap percaya, dan pengalaman pengetahuan memunculkan sikap yakin. Misalnya, teman anda mengatakanAbu Hanif…api itu panas? Ah..kata siapa…? Tapi, berhubung yang ngomong itu teman anda sendiri, maka anda percaya meski belum 100%, lalu ketika teman anda pergi anda memegang api tersebut dan WADDDAAAU!!! PANASSS…

    Nah sejak saat itu, anda pasti sudah yakin kalau api itu panas…

    Akal terbatas? Pertanyaan selanjutnya yang pasti muncul dari dalil anda ini adalah apakah Wahyu itu terbatas? Kalau tidak terbatas, lantas bagaimana akal anda yang terbatas bisa tahu dan percaya kepada Wahyu yang tidak terbatas?? Dan kalau anda katakan bahwa ia terbatas, berarti anda membatasi Wahyu Allah swt?

    Wahai akhina Abu Hanif…Al-Qur’an tidak pernah mengatakan bahwa akal manusia itu terbatas, tapi pengetahuan manusia-lah yang terbatas bukan akalnya? Sesuatu yang terbatas tidak mampu menampung hal yang tak terbatas, artinya apabila akal manusia terbatas, maka dia tidak bisa mungkin beriman kepada Allah swt…

    Jadi, jangan mengatakan sesuatu yang tidak ada di dalam Al-Qur’an…

    Maaf, saya tidak tahu kalau keimanan anda kepada Allah swt seperti ’edan-edanan’ dan akal-akalan anda saja (jangan pakai ”kita” ya akhi, itu problem anda)?

    ”oh ya selama saya ngaji salafy saya belum pernah melihat dan mendapati asatidz maupun ulama memvonis kafir atau bid’ah atau sesat seseorang sebelum terpenuhi kaidah-kaidah syar’iyyah dalam masalah ini.”

    Tanggapan:

    Apa kaidah-kaidah syar’i yang anda pikir layak untuk menentukan seseorang itu kafir atau tidak? Apabila karena dia tidak sholat, maka layakkah anda kafirkan…Padahal, bukankah dia seharusnya diberi pemahaman tentang rasionalitas ibadah kepada Allah swt?

    Jadi jangan membuat kriteria sesat dengan pandangan anda sendiri, lalu menjustifikasinya sebagai bagian dari syari’at Allah swt…

    ”jadi, ayolah. kita sesama muslim kalau kalian tuduh kami mengkafirkan, maka kami menyanggahnya. mohon jangan bebankan kepada kami beban yang kami tak sanggup tuk memikulnya dan tidak benar2 ada pada kami. tolong jangan fitnah kami.”

    Tanggapan:

    Tidak ada yang memfitnah anda, karena anda sendiri yang jatuh ke dalam fitnah dan anda sendiri yang membuatnya…

    ”Justru kami sayang kaum muslimin, makanya kami peringatkan mereka dari kebid’ahan dan kebuukan. kalau terkesan kasar, maka itu adl kesalahan sebagain ikhwah kami yang mungkin kurang paham cara dakwah dll. atau mungkin orang yang salah interpretasi. tapi, kesalahan itu bukan pada manhajnya Salafush Shalih yang kami jalani. tapi, pada pribadi penempuhnya yang penuh khilaf ya akhi.”

    Tanggapan:

    Ahsantum…semoga ucapan anda sesuai dengan niat di hati anda…(innama al-’amalu bi an-niyyah). Itulah Islam anda yang fitri…

    Semoga Allah swt melapangkan dada dan jalan anda dan saya kepada kebenaran seperti apa yang Allah swt kehendaki dan bukan seperti apa yang saya atau anda kehendaki…

    ”kalau kami salah, ingatkan ya akhi. tapi, tolong jangan main tuduh. bisa jadi tuduhan itu kan kembali kpd salah satu dari kita.”

    Tanggapan:

    Benar kata Nabi Isa as, ”jangan menghakimi kalau anda tidak mau dihakimi”…

    Berhentilah menghakimi dan carilah kebenaran Allah dengan petunjuk-Nya, begitu pula untuk diri saya sendiri dan seluruh kaum Muslim dan Muslimat, Mukminin dan Mukminat…Wallahu khairun haafizan wa huwa arhamurrahimin..

    wa akhir da’wana ’anilhamdulillahi rabbil ’alamin…

    jazakallahu khairan wa yahdikumullahu wa iyayya ilal haq wa nastaqimuhu fi dzalika.barakallahu fiikum

    Balas
  • 64. syafi'in  |  Mei 15, 2007 pukul 12:27 pm

    buat mas-mas pengikut salaf,

    aku dapat hadis di shahih Bukhori yang artinya begini:

    “[Dari al-Ala’ bin bin al-Musayyab dari ayahnya, berkata: Saya pernah bertemu dengan al-Barra’ bin al-Azib, lalu kukatakan kepada-nya; “ANDA BERUNTUNG TELAH BERSAHABAT DENGAN NABI SAW dan anda telah membaiat beliau saw dibawah pohon” (akan tetapi) al-Barra’ bin Azib berkata: “WAHAI PUTRA SAUDARAKU KAU TIDAK TAHU APA SEBENARNYA YANG TELAH KAMI ADA-ADAKAN (BID’AH) SEPENINGGAL BELIAU SAW”] -Shahih Bukhari, Bab ghozwah al-Hudaibiyah-

    hadis ke2:

    [berkata Rasulullah saw: Saya akan mendahuluimu sampai di al-Haudh, kemudian beberapa orang darimu diangkat lalu ditarik dari aku, aku berseru “Ya Robbi mereka itu adalah sahabat-sahabatku”. kemudian dikatakan: “SESUNGGUHNYA KAMU TIDAK MENGETAHUI APA YANG MEREKA ADA-ADAKAN (MENGUBAH-UBAH AJARAN AGAMA/BID’AH) SEPENINGGALMU”] -Shahih Bukhari, kitab ad-Da’wat, Bab fi al-Haudh-

    pertanyaan saya kepada mas-mas pengikut salaf, Dua hadis diatas menunjukkan bahwa sepeninggal Rasul saw, diantara kalangan sahabat ada yang mengubah-ubah ajaran agama/bid’ah. juga dibuktikan dengankesaksian sahabat al-Barra’ bin Azib bahwa benar diantara mereka ada yang melakukan bid’ah dengan kata2nya [“WAHAI PUTRA SAUDARAKU KAU TIDAK TAHU APA SEBENARNYA YANG TELAH KAMI ADA-ADAKAN (BID’AH) SEPENINGGAL BELIAU SAW”]

    kalo mas-mas salafi mengikuti salaf tentunya sahabat termasuk kategori salaf, pertanyaan saya apakah anda akan mengikuti semua ajaran para salaf [sahabat, tabi’in, tabi’-tabi’in] tanpa koreksi? padahal diantara mereka juga melakukan BID’AH.?

    anda-anda yang suka men-BID’AHKAN” GOLONGAN YANG TIDAK SEPENDAPAT DENGAN ANDA. BIAR FAIR tolong kami-kami ini ditunjukkan MANA BID’AH-BID’AH yang dilakukan PARA SALAF TERSEBUT? anda-anda kan “paling ahli dalam bidang bid’ah” supaya kami-kami ini dapat pencerahan!

    hadis-hadis seperti itu banyak sekali dalam shahih Bukhari dan Muslim. lalu klaim saudara bahwa anda mengikuti salaf, namun ternyata tidak semua salaf berkesesuaian dengan Rasul saw. sebagaimana kesaksian sahabat al-Barra’ tersebut. Kenapa anda-anda paling getol mengungkap prilaku muslimin (diluar golongan anda) yang anda anggap bid’ah, kenapa tidak pernah berbicara tentang prilaku SALAF yang melakukan bid’ah?

    saran saya jangan semua salaf anda ikuti, LAKUKAN KROS DAN CEK TERLEBIH DAHULU nanti-nanti anda terkena salaf yang melakukan bid’ah tersebut.

    SILAHKAN IKUT salaf atau siapa kah, tapi jangan sok yang paling benar sendiri. mereka-mereka itu manusia biasa bukan RASUL YANG MAKSUM!

    jangan sok menyalahkan golongan lain. Salaf yang anda ikuti saja ada yang melakukan bid’ah kok boroh-boroh nyalahkan orang lain, main tuduh syirik, bid’ah, dll!

    Balas
  • 65. samararanji  |  Mei 25, 2007 pukul 1:52 pm

    TANBIH BAGI SAUDARA MUSLIM SEPERJUANGAN
    (Khususnya Sedulur2 ASWAJA)
    A’udzubillahi minassyaithonirrojiim. Bismillahirrahmanirrahiim.
    Saya berlindung kepada Allah Subhanahu Tabaroka Wa Ta’ala dari tulisan/ ucapan yang sesat menyesatkan dan dari kalimah yang menimbulkan fitnah.
    * * * * * * * * *
    ASSALAMU’ALAIKUM WR.WB.
    Alhamdulillah, sholawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada Baginda Rasulullah SAW, keluarga, shohabat, serta para pengikutnya.

    Prolog :
    “Laa gholbata illa biquwwah” Takkan ada kemenangan tanpa kekuatan
    “Wa Laa quwwata illa bil jama’ah” Takkan ada kekuatan tanpa kebersamaan
    Wa Laa jama’ata illa bil imamah” Takkan ada kebersamaan tanpa kepemimpinan.

    Kita semua tahu, sejak zaman Rasulullah hingga sekarang masih ada sebuah konspirasi zionist yg bermaksud mengobrak-abrik kekuatan Islam, pengetahuan mereka ttg agama Islam pd gilirannya memunculkan strategi utk memecah belah umat dari dalam.
    Terus terang saya beranggapan “forum diskusi” bersifat virtual semacam ini memang terkesan modern (modern sendiri berakar dari kata “madhoron” ). Bagi yg membaca tdk hanya dng mata, bagi yg mendengar tidak hanya dng telinga pasti bisa merasakan bahwa “forum diskusi” virtual yg tidak memunkinkan bertatap muka langsung dng kawan diskusi seperti ini l-e-b-i-h b-a-n-y-a-k madhorotnya ketimbang manfaatnya. Diskusi yg dilakukan face to face saja masih bisa dikacaukan oleh penyusup, apalagi dng metode virtual macam gini, apa ga berpotensi mengundang penyusup yg dengan seenaknya merekayasa pendapat terencana utk memecah belah umat. Dalam hal ini, ada perbedaan mendasar antara su’udzon dengan kewaspadaan.

    >>> Sebatas Islamolog : “Belantara Mujadalah” ini masih bisa dikatakan sbg diskusi apabila masing-masing kita mau membaca/mendengar dengan hati dan dibarengi sikap introspeksi -emang terdengar klise-. Dewasa ini sudah banyak yg berdakwah dng “mauidhotu hasanah” namun sudah jarang yg berdakwah dng “uswatun hasanah”. Terkadang, seorang Muslim yg memiliki pengetahuan mendalam ttg Islam ternyata hanya sebatas sbg ISLAMOLOG. ‘Ulama sebatas Islamolog sudah mulai banyak bermunculan -tanpa disadari zionist lah yg ada dibalik sistem pabrik pencetak ‘Ulama versi mereka ini-, Pengetahuan Islamnya terkesan ilmiah dan valid namun biasanya orang2 seperti ini tidak punya niat tulus bagi kemaslahatan umat, niat tulusnya aja dipertanyakan apalagi karya tulus…pasti lebih meragukan.
    >>> Jangan Terjebak Provokasi Zionist : Musuh kita sebenarnya adalah zionist yg menjadi pelayan dajjal la’natullah, kebencian/hujatan kita seharusnya ditujukan kpd mereka bukan kepada Ibnu Taimiyah atau Muh. bin Abdul Wahab. Perlu saya sampaikan bahwa hingga saat ini saya belum pernah mendengar “Abu Ruh” kami mengeluarkan hujatan -atau bahkan mengkafirkan- kpd Ibnu Taimiyah, berangkat dari hal tsb kami sbg santri bukanlah pada kapasitasnya mengemukakan penilaian pada seorang ‘Ulama. “Abu Ruh’ kami hanya menyampaikan bahwa Ibnu Taimiyah adalah seorang jenius di zamannya, namun ilmunya tidak nafi’ dan barokah krn tdk punya sikap sami’na wa atho’na pada “Guru”. Sekali lagi…beliau berdua tanpa menyadari telah dimanfaatkan oleh konspirasi zionist, yg perlu kita lakukan hanyalah meluruskan faham penerusnya sekarang, namun tidak dng metode “amputasi”… yg menyulut dendam.

    >>> Pembagian Posisi : Hal ini sebenarnya sudah dicontohkan Baginda Rasulullah SAW, tatkala kondisi menuntut utk berjihad secara fisik, tidak semua orang Muslim diperintahkan perang fi sabilillah, namun ada sebagian kaum Muslim tetap tinggal di Madinah utk memperdalam/menghidupkan Agama. Sayang yg terjadi sekarang perjuangan umat Islam terkesan sporadis, berjuang sendiri-sendiri tanpa ada koordinasi dan pembagian posisi. Tidak perlu kita menghujat saudara Muslim yg berjuang scr radikal, kita membutuhkan mereka agar Islam tdk diinjak-injak & dilecehkan. Tidak perlu kita meremehkan saudara Muslim yg berjuang lewat ilmu & amal ibadahnya, karena kita butuh dukungan moril dan do’a.”Al-haqqu bi laa nidhom, yughollibu baathila bi nidhom”, kebenaran tanpa dimanajemen akan kalah oleh kebathilan yang termanajemen

    Epilog :
    Mohon maaf…bagi Akhwan yg selalu menuntut penggunaan dalil Al-Qur’an dalam setiap berdakwah…saya belum bisa memenuhi tuntutan itu. Saya sadar akan konsep “sampaikan walau satu ayat”, namun saya lebih sadar bahwa…kedangkalan ttg ‘Ulumul Qur’an hanya akan menimbulkan kedangkalan penafsiran.

    WASSALAMU’ALAIKUM WR. WB.

    Balas
  • 66. abu yusuf  |  Mei 29, 2007 pukul 3:41 pm

    Assalamu’alaikum akhi fillah
    Segala puji bagi Alloh yang barang siapa diberi petunjuk Alloh maka tidak ada yang mampu menyesatkannya dan barang siapa yang disesatkan oleh Alloh maka tidak ada yang mampu memberinya hidayah. Semoga kita termasuk orang yang mendapat hidayah.
    “Demi Masa sesungguhnya manusia itu dalam kerugian. kecuali orang yang beriman dan ber amal sholih dan saling bernasehat dalam kebenaran dan saling bernasehatan dalam kesabaran”(Al ‘Ashr)
    saya cuma mau menasehati diri sendiri dan teman-teman semua bahwa dalam Surat Al Maidah 3 Alloh berfirman”pada hari ini telah aku sempurnakan untukmu agamamu…” Pada hari ini tentu maksudnya pada saat ayat ini turun.
    Saya rasa ini sudah cukup menjadi jawaban bahwa yang namanya sempurna itu tidak memerlukan tambahan dan juga pengurangan. Apakah kita berani menuduh Rosululloh sebagai pengkhianat dalam agama Na’udzubillah sebab beliau mengatakan agama ini sudah sempurna tetapi belum mengajarkan tahlilan berjamaah, belum mengajarkan shalawatan berjamaah, maulidan dll. Bagaimana ini?

    Balas
  • 67. narimo  |  Juni 2, 2007 pukul 7:07 am

    sekali lagi, masih ada manusia yang keliru menerjemahkan tentang kesempurnaan agama Islam, dan uswatun hasanahnya nabi. Islam memang sempurna, dan nabi adalah sebaik-baiknya teladan. Tetapi sempurnakah manusia dan sejauh manakah manusia mengambil teladan?
    jangan jadikan idiom bahwa risalah islam adalah agama yang sempurna, lantas menjadikan itu untuk menikam saudara yang lain yang kebetulan tidak semanhaj dengan anda.
    Islam memang sempurna? tetapi adakah yang sempurna dalam berislam? bahkan rasul yang dijamin maksumpun pernah mendapat tegoran dari Allah.
    Shahabat, memang dijamin kesurga, Rasul yang menjamin, dan kita meyakini itu. Tetapi apakah Rasul menjamin para shahabat luput dari kesalahan? tidak khan? jangan anggap semua shahabat itu selalu berhubungan dengan mulus-lus, tanpa hambatan komunikasi. Apakah pergantian pucuk pimpinan ummat dari nabi muhammad ke Abu bakar, kemudian umar, utsman dan ali berjalan adem ayem, santai mengalir begitu saja? Fakta tidak begitu. Disana, sebagai layaknya manusia terdapat juga hambatan komunikasi, salah sangka dan konflik. Dan puncak konflik anda lihat juga khan friksi antara muawiyah dan Ali r.a?. Jadi janganlah anda menutup mata pada fakta ini.
    Tabiin, dan generasi di bawahnya, tidak ada yang menyangkal keimanan mereka? tetapi siapa menjamin bahwa mereka tidak terpisah dalam kelompok kepentingan. Siapa yang berani menjamin kalau mereka tidak memiliki khilaf, alpha dan dosa? Salah dan kurang?
    Islam memang sempurna tetapi jangan karena itu lalu menganggap generasi salaf itu telah sempurna, sehingga muncul idiom ” jika satu amal dianggap kebaikan, maka yang pertama melakukan kebaikan adalah para shahabat” Jika idiom itu digunakan maka Islam akan berhenti dan stagnan sebab idiom itu berarti “tidak ada amal kebaikan selain yang telah dilakukan oleh para shahabat” Maka perbuatan/amal sholeh itu akan terbatas dan teridentifikasi dalam sebuah list/daftar, sebab semua yang pernah dilakukan para shahabat sangat mungkin untuk direkap, dan dibuat tabel panjang, dan diluar tabel itu maka bukan sebuah amal sholeh. Ah betapa suksesnya Ibn Abdul Wahab mengeliminir otak umat Islam.
    saya kasih contoh yang mashur : Abu Bakar As Sidiq tidak melakukan dan mencontohkan “shalat tarawih berjamaah di masjid”
    Apakah ini artinya Abu Bakar As Sidiq menganggap “shalat tarawih berjamaah di masjid” bukan sebuah kebaikan?

    Balas
  • 68. abu yusuf  |  Juni 4, 2007 pukul 1:20 pm

    Ikwan fillah rokhimaniy wa rokhimakumulloh, sesungguhnya manusia pasti berbuat salah dan sebaik-baik yang berbuat salah adalah yang bertaubat. Allohumaj’alni minat tawwabina waj’alni minal mutatohirin.
    sekali lagi ya ikhwan, ketika ada seseorang yang berusaha untuk bersungguh-sungguh mengikuti jalan yang lurus yaitu apa yang sesuai dengan Al Quran dan Sunnah Rosululloh, namun kemudian ketika ia melakukan sebuah kesalahan maka salahkan orangnya jangan menyalahkan syari’at itu sendiri. Di dunia ini memang tidak ada manusia yang lepas dari dosa bahkan ketika Rosululloh mengabaikan Abdulloh bin Umi Maktum yang buta dan ingin belajar agama tapi Rosululloh lebih mendahulukan orang2 Quroisy maka turunlah surat ‘Abasa yang kita semua tahu bahwa isinya adalah teguran Alloh kepada beliau.
    Kami juga berlindung dari apa yang mereka tuduhkan terhadap para sahabat rosululloh yang mereka ridho kepada Alloh dan Allohpun ridho terhadap mereka dan semoga kami digolongkan kedalam golongan mereka.
    Rosululloh adalah seorang yang amanah sehingga meskipun yang datang dari Alloh itu sebuah teguran kepada beliau tetapi tetap beliau sampaikan. Dan ketahui juga wahai saudaraku bahwa dalam hadits Rosululloh tentang berpecahnya ummat ini ke dalam 73 golongan yang selamat hanya 1 golongan, para sahabat adalah orang yang pandai, mereka tidak menanyakan siapa yang 72 itu? tetapi mereka menanyakan tentang golongan yang selamat itu untuk diikuti, dan bahwa yang selamat dalam hadits tersebut adalah Rosululloh berkata”apa yang aku dan para sahabatku berjalan di atasnya”
    Ketahui juga bahwa dalam hadits Rosululloh sebaik-baik manusia adalah qurunku(masaku/Rosululloh dan Sahabat beliau) kemudian setelahnya(tabi’in) kemudian setelahnya(tabi’ut tabi’in) lalu kenapa kita tidak mencontoh sebaik-baik generasi itu dan lebih mengedepankan yang lain.
    Ketahui juga bahwa dulu semasa imam Malik pernah ada seseorang yang bertanya pada sang imam” Wahai imam dimanakah aku harus mualai ihrom?” dijawab oleh Imam Malik”mulailah kamu dari dzulhulaifah. Kemudian si penanya ini mengatakan “bagaimana jika aku memulai dari masjid Nabawi dekat makam Rosululloh?” Imam Malik menjawab” Wahai fulan sesungguhnya aku takut akan fitnah yang akan menimpamu jika kamu tidak mulai ihrom dari dzulhulaifah” dijawab” Fitnah apa yang akan saya dapatkan lha wong saya cuma mulai lebih dulu yaitu dari dekat makam Nabi yang mungkin 10 menit lebih jauh dari Dzulhulaifah?”
    Imam Malik mengatakan”Fitnah apa yang tidak lebih besar daripada seseorang yang menganggap sesuatu yang dilakukan itu lebih baik dari yang Rosululloh lakukan” ini tentu bukan masalah lebih awal atau bagaimana, tetapi adakah orang yang menganggap bahwa yang dilakukan itu lebih baik dari apa yang dilakukan oleh Rosululloh.
    Kemudian juga ketika kita lihat para imam-imam madzhab seperti imam Syafi’iy beliau (semoga Alloh merohmatinya) mengatakan bahwa apa yang sesuai dengan Rosululloh dariku maka lakukan dan apa yang tidak sesuai tinggalkan. Juga dari Imam Ahmad bin Hambal(semoga Alloh juga merohmatinya) beliau berkata” setiap pendapat boleh ditolak kecuali pendapat Rosululloh.
    Jika para imam yang hafal bahkan paham tentang Quran dan Sunnah saja mengatakan hal demikian maka apakah kita yang masih bergelimang dengan maksiat akan mengambil apa-apa yang selain dari Rosululloh?
    kembali ke bahasan jika kita semua tahu bahwa Islam itu sempurna kenapa kita masih menutup diri dan tidak berusaha mengikuti syari’at yang mulia ini? Mengapa juga ketika Rosululloh memberi sebuah kunci jawaban tentang bagaimana cara selamat tetapi kita tidak mengambil apa yang diberitahukan oleh Rosululloh? malah mencari jalan yang lain yang kita anggap lebih selamat dari yang dikatakan Rosululloh?
    Karena itu wahai saudaraku marilah kita semua mengambil sebaik-baik petunjuk yaitu petunjuk rosululloh dan menjauhi perkara yang mengada-ada di dalam dien ini. Semoga Alloh menunjukkan kepada kita semua bahwa yang haq itu haq dan memberi kemampuan kepada kita untuk mengikutinya. Mudah mudahan bermanfaat, dan kami juga menantikan nasehat dari antum sekalian

    Balas
  • 69. samaranji  |  Juni 4, 2007 pukul 2:16 pm

    ASSALAMU’ALAIKUM WR. WB.

    Orang yang sakit biasanya tidak/belum bisa merasakan nikmatnya “suplemen” ibadah. Kemalasan menambah amal ibadah mereka tutupi dengan perisai “yang penting kan ibadah wajibnya”, kedangkalan ilmu ttg sunah Nabi mereka tutupi dengan perisai, “hal tersebut bid’ah !!!”.

    Malah biasanya mereka beranggapan suplemen tersebut digolongkan sebagai “makanan” yg berkalori tinggi, dan tubuh sakit mereka tak bisa menerimanya disebabkan kedangkalan ilmu dan ketakutan akan bayang-bayang sendiri.

    Namun yang perlu disadari, pengetahuan ttg “suplemen” berikut dasar dalilnya harus kuat. Pengkonsumsian “suplemen” ibadah tersebut harus proporsional dan sesuai dosis yang benar, karena Allah Subhanahu Tabaroka Wa Ta’ala tidak suka yang berlebih-lebihan.

    epilog:
    jangan mudah mengatakan setiap apa yang kita ketahui, tapi ketahuilah setiap apa yang kita sampaikan.

    WASSALAMU’ALAIKUM WR. WB.

    Balas
  • 70. cinta Rasulullah  |  Juni 5, 2007 pukul 2:45 am

    BID’AH

    I. Nabi saw memperbolehkan berbuat bid’ah hasanah.
    Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw: “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan makna Bid’ah hasanah dan Bid’ah dhalalah.

    Perhatikan hadits beliau saw, bukankah beliau saw menganjurkan?, maksudnya bila kalian mempunyai suatu pendapat atau gagasan baru yg membuat kebaikan atas islam maka perbuatlah.., alangkah indahnya bimbingan Nabi saw yg tidak mencekik ummat, beliau saw tahu bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tapi ribuan tahun akan berlanjut dan akan muncul kemajuan zaman, modernisasi, kematian ulama, merajalela kemaksiatan, maka tentunya pastilah diperlukan hal-hal yg baru demi menjaga muslimin lebih terjaga dalam kemuliaan, demikianlah bentuk kesempurnaan agama ini, yg tetap akan bisa dipakai hingga akhir zaman, inilah makna ayat : “ALYAUMA AKMALTU LAKUM DIINUKUM..dst, “hari ini Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, kusempurnakan pula kenikmatan bagi kalian, dan kuridhoi islam sebagai agama kalian”, maksudnya semua ajaran telah sempurna, tak perlu lagi ada pendapat lain demi memperbaiki agama ini, semua hal yg baru selama itu baik sudah masuk dalam kategori syariah dan sudah direstui oleh Allah dan rasul Nya, alangkah sempurnanya islam.

    Namun tentunya bukan membuat agama baru atau syariat baru yg bertentangan dengan syariah dan sunnah Rasul saw, atau menghalalkan apa-apa yg sudah diharamkan oleh Rasul saw atau sebaliknya, inilah makna hadits beliau saw : “Barangsiapa yg membuat buat hal baru yg berupa keburukan…dst”, inilah yg disebut Bid’ah Dhalalah. Beliau saw telah memahami itu semua, bahwa kelak zaman akan berkembang, maka beliau saw memperbolehkannya (hal yg baru berupa kebaikan), menganjurkannya dan menyemangati kita untuk memperbuatnya, agar ummat tidak tercekik dengan hal yg ada dizaman kehidupan beliau saw saja, dan beliau saw telah pula mengingatkan agar jangan membuat buat hal yg buruk (Bid’ah dhalalah).

    Mengenai pendapat yg mengatakan bahwa hadits ini adalah khusus untuk sedekah saja, maka tentu ini adalah pendapat mereka yg dangkal dalam pemahaman syariah, karena hadits diatas jelas-jelas tak menyebutkan pembatasan hanya untuk sedekah saja, terbukti dengan perbuatan bid’ah hasanah oleh para Sahabat dan Tabi’in.

    II. Siapakah yg pertama memulai Bid’ah hasanah setelah wafatnya Rasul saw?
    Ketika terjadi pembunuhan besar-besaran atas para sahabat (Ahlul yamaamah) yg mereka itu para Huffadh (yg hafal) Alqur’an dan Ahli Alqur’an di zaman Khalifah Abubakar Asshiddiq ra, berkata Abubakar Ashiddiq ra kepada Zeyd bin Tsabit ra : “Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas ahlulyamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur’an, lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis Alqur’an, aku berkata : Bagaimana aku berbuat suatu hal yg tidak diperbuat oleh Rasulullah..??, maka Umar berkata padaku bahwa Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar, dan engkau (zeyd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Alqur’an dan tulislah Alqur’an..!” berkata Zeyd : “Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan sebuah gunung daripada gunung-gunung tidak seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan Alqur’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yg tak diperbuat oleh Rasulullah saw??”, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Alqur’an”. (Shahih Bukhari hadits no.4402 dan 6768).

    Nah saudaraku, bila kita perhatikan konteks diatas Abubakar shiddiq ra mengakui dengan ucapannya : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”, hatinya jernih menerima hal yg baru (bid’ah hasanah) yaitu mengumpulkan Alqur’an, karena sebelumnya alqur’an belum dikumpulkan menjadi satu buku, tapi terpisah-pisah di hafalan sahabat, ada yg tertulis di kulit onta, di tembok, dihafal dll, ini adalah Bid’ah hasanah, justru mereka berdualah yg memulainya.

    Kita perhatikan hadits yg dijadikan dalil menafikan (menghilangkan) Bid’ah hasanah mengenai semua bid’ah adalah kesesatan, diriwayatkan bahwa Rasul saw selepas melakukan shalat subuh beliau saw menghadap kami dan menyampaikan ceramah yg membuat hati berguncang, dan membuat airmata mengalir.., maka kami berkata : “Wahai Rasulullah.. seakan-akan ini adalah wasiat untuk perpisahan…, maka beri wasiatlah kami..” maka rasul saw bersabda : “Kuwasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengarkan dan taatlah walaupun kalian dipimpin oleh seorang Budak afrika, sungguh diantara kalian yg berumur panjang akan melihat sangat banyak ikhtilaf perbedaan pendapat, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’urrasyidin yg mereka itu pembawa petunjuk, gigitlah kuat kuat dengan geraham kalian (suatu kiasan untuk kesungguhan), dan hati-hatilah dengan hal-hal yg baru, sungguh semua yg Bid’ah itu adalah kesesatan”. (Mustadrak Alasshahihain hadits no.329).

    Jelaslah bahwa Rasul saw menjelaskan pada kita untuk mengikuti sunnah beliau dan sunnah khulafa’urrasyidin, dan sunnah beliau saw telah memperbolehkan hal yg baru selama itu baik dan tak melanggar syariah, dan sunnah khulafa’urrasyidin adalah anda lihat sendiri bagaimana Abubakar shiddiq ra dan Umar bin Khattab ra menyetujui bahkan menganjurkan, bahkan memerintahkan hal yg baru, yg tidak dilakukan oleh Rasul saw yaitu pembukuan Alqur’an, lalu pula selesai penulisannya dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra, dengan persetujuan dan kehadiran Ali bin Abi Thalib kw.

    Nah.. sempurnalah sudah keempat makhluk termulia di ummat ini, khulafa’urrasyidin melakukan bid’ah hasanah, Abubakar shiddiq ra dimasa kekhalifahannya memerintahkan pengumpulan Alqur’an, lalu kemudian Umar bin Khattab ra pula dimasa kekhalifahannya memerintahkan tarawih berjamaah dan seraya berkata : “Inilah sebaik-baik Bid’ah!”(Shahih Bukhari hadits no.1906) lalu pula selesai penulisan Alqur’an dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra hingga Alqur’an kini dikenal dengan nama Mushaf Utsmaniy, dan Ali bin Abi Thalib kw menghadiri dan menyetujui hal itu. Demikian pula hal yg dibuat-buat tanpa perintah Rasul saw adalah dua kali adzan di Shalat Jumat, tidak pernah dilakukan dimasa Rasul saw, tidak dimasa Khalifah Abubakar shiddiq ra, tidak pula dimasa Umar bin khattab ra dan baru dilakukan dimasa Utsman bn Affan ra, dan diteruskan hingga kini (Shahih Bulkhari hadits no.873).

    Siapakah yg salah dan tertuduh?, siapakah yg lebih mengerti larangan Bid’ah?, adakah pendapat mengatakan bahwa keempat Khulafa’urrasyidin ini tak faham makna Bid’ah?

    III. Bid’ah Dhalalah
    Jelaslah sudah bahwa mereka yg menolak bid’ah hasanah inilah yg termasuk pada golongan Bid’ah dhalalah, dan Bid’ah dhalalah ini banyak jenisnya, seperti penafikan sunnah, penolakan ucapan sahabat, penolakan pendapat Khulafa’urrasyidin, nah…diantaranya adalah penolakan atas hal baru selama itu baik dan tak melanggar syariah, karena hal ini sudah diperbolehkan oleh Rasul saw dan dilakukan oleh Khulafa’urrasyidin, dan Rasul saw telah jelas-jelas memberitahukan bahwa akan muncul banyak ikhtilaf, berpeganglah pada Sunnahku dan Sunnah Khulafa’urrasyidin, bagaimana Sunnah Rasul saw?, beliau saw membolehkan Bid’ah hasanah, bagaimana sunnah Khulafa’urrasyidin?, mereka melakukan Bid’ah hasanah, maka penolakan atas hal inilah yg merupakan Bid’ah dhalalah, hal yg telah diperingatkan oleh Rasul saw.

    Bila kita menafikan (meniadakan) adanya Bid’ah hasanah, maka kita telah menafikan dan membid’ahkan Kitab Al-Quran dan Kitab Hadits yang menjadi panduan ajaran pokok Agama Islam karena kedua kitab tersebut (Al-Quran dan Hadits) tidak ada perintah Rasulullah saw untuk membukukannya dalam satu kitab masing-masing, melainkan hal itu merupakan ijma/kesepakatan pendapat para Sahabat Radhiyallahu’anhum dan hal ini dilakukan setelah Rasulullah saw wafat.

    Buku hadits seperti Shahih Bukhari, shahih Muslim dll inipun tak pernah ada perintah Rasul saw untuk membukukannya, tak pula Khulafa’urrasyidin memerintahkan menulisnya, namun para tabi’in mulai menulis hadits Rasul saw. Begitu pula Ilmu Musthalahulhadits, Nahwu, sharaf, dan lain-lain sehingga kita dapat memahami kedudukan derajat hadits, ini semua adalah perbuatan Bid’ah namun Bid’ah Hasanah. Demikian pula ucapan “Radhiyallahu’anhu” atas sahabat, tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah saw, tidak pula oleh sahabat, walaupun itu di sebut dalam Al-Quran bahwa mereka para sahabat itu diridhoi Allah, namun tak ada dalam Ayat atau hadits Rasul saw memerintahkan untuk mengucapkan ucapan itu untuk sahabatnya, namun karena kecintaan para Tabi’in pada Sahabat, maka mereka menambahinya dengan ucapan tersebut. Dan ini merupakan Bid’ah Hasanah dengan dalil Hadits di atas, Lalu muncul pula kini Al-Quran yang di kasetkan, di CD kan, Program Al-Quran di handphone, Al-Quran yang diterjemahkan, ini semua adalah Bid’ah hasanah. Bid’ah yang baik yang berfaedah dan untuk tujuan kemaslahatan muslimin, karena dengan adanya Bid’ah hasanah di atas maka semakin mudah bagi kita untuk mempelajari Al-Quran, untuk selalu membaca Al-Quran, bahkan untuk menghafal Al-Quran dan tidak ada yang memungkirinya.

    Sekarang kalau kita menarik mundur kebelakang sejarah Islam, bila Al-Quran tidak dibukukan oleh para Sahabat ra, apa sekiranya yang terjadi pada perkembangan sejarah Islam ? Al-Quran masih bertebaran di tembok-tembok, di kulit onta, hafalan para Sahabat ra yang hanya sebagian dituliskan, maka akan muncul beribu-ribu Versi Al-Quran di zaman sekarang, karena semua orang akan mengumpulkan dan membukukannya, yang masing-masing dengan riwayatnya sendiri, maka hancurlah Al-Quran dan hancurlah Islam. Namun dengan adanya Bid’ah Hasanah, sekarang kita masih mengenal Al-Quran secara utuh dan dengan adanya Bid’ah Hasanah ini pula kita masih mengenal Hadits-hadits Rasulullah saw, maka jadilah Islam ini kokoh dan Abadi, jelaslah sudah sabda Rasul saw yg telah membolehkannya, beliau saw telah mengetahui dengan jelas bahwa hal hal baru yg berupa kebaikan (Bid’ah hasanah), mesti dimunculkan kelak, dan beliau saw telah melarang hal-hal baru yg berupa keburukan (Bid’ah dhalalah).

    Saudara-saudaraku, jernihkan hatimu menerima ini semua, ingatlah ucapan Amirulmukminin pertama ini, ketahuilah ucapan ucapannya adalah Mutiara Alqur’an, sosok agung Abubakar Ashiddiq ra berkata mengenai Bid’ah hasanah : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”.

    Lalu berkata pula Zeyd bin haritsah ra :”..bagaimana kalian berdua (Abubakar dan Umar) berbuat sesuatu yg tak diperbuat oleh Rasulullah saw??, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun(Abubakar ra) meyakinkanku (Zeyd) sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua”.

    Maka kuhimbau saudara-saudaraku muslimin yg kumuliakan, hati yg jernih menerima hal-hal baru yg baik adalah hati yg sehati dengan Abubakar shiddiq ra, hati Umar bin Khattab ra, hati Zeyd bin haritsah ra, hati para sahabat, yaitu hati yg dijernihkan Allah swt, DAN CURIGALAH PADA DIRIMU BILA KAU TEMUKAN DIRIMU MENGINGKARI HAL INI, maka barangkali hatimu belum dijernihkan Allah, karena tak mau sependapat dengan mereka, belum setuju dengan pendapat mereka, masih menolak bid’ah hasanah, dan Rasul saw sudah mengingatkanmu bahwa akan terjadi banyak ikhtilaf, dan peganglah perbuatanku dan perbuatan khulafa’urrasyidin, gigit dengan geraham yg maksudnya berpeganglah erat-erat pada tuntunanku dan tuntunan mereka.

    Allah menjernihkan sanubariku dan sanubari kalian hingga sehati dan sependapat dengan Abubakar Asshiddiq ra, Umar bin Khattab ra, Utsman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib kw dan seluruh sahabat.. amiin

    Balas
  • 71. bond  |  Juni 5, 2007 pukul 9:54 am

    tlg bc sebagai referensi tambahan…..
    dan tlg renungkan apakah kita berhak menuduh sesama muslim apalagi meng-kafirkan….

    Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dan An-Nasa’i, Anas bin Malik menceritakan sebuah kejadian yang dialaminya pada sebuah majelis bersama Rusulullah SAW.
    Anas bercerita, “Pada suatu hari kamu duduk bersama Rasulullah SAW., kemudian beliau bersabda, “Sebentar lagi akan muncul dihadapan kalian seorang laki-laki penghuni surga.” Tiba-tiba muncullah laki-laki Anshar yang janggutnya basah dengan air wudhunya. Dia mengikat kedua sandalnya pada tangan sebelah kiri.”

    Esok harinya, Rasulullah SAW. berkata begitu juga, “Akan datang seorang lelaki penghuni surga.” Dan munculah laki-laki yang sama. Begitulah Nabi mengulang sampai tiga kali.
    Ketika majelis Rasulullah selesai, Abdullah bin Amr bin Al-Ash r.a. mencoba mengikuti seorang lelaki yang disebut oleh Nabi sebagai penghuni surga itu. Kemudian dia berkata kepadanya dia berkata kepadanya, “Saya ini bertengkar dengan ayah saya, dan saya berjanji kepada ayah saya bahwa selama tiga hari saya tidak akan menemuinya. Maukah kamu memberi tempat pondokan buat saya selama hari-hari itu ?”

    Abdullah mengikuti orang itu ke rumahnya, dan tidulah Abdullah di rumah orang itu selaga tiga malam. Selama itu Abdullah ingin menyaksikan ibadah apa gerangan yang dilakukan oleh orang itu yang disebut oleh Rasulullah sebagai penghuni surga. Tetapi selama itu pula dia tidak menyaksikan sesuatu yang istimewa di dalam ibadahnya.
    Kata Abdullah, “Setelah lewat tiga hari aku tidak melihat amalannya sampai-sampai aku hampir-hampir meremehkan amalannya, lalu aku berkata, Hai hamba Allah, sebenarnya aku tidak bertengkar dengan ayahku, dan tidak juga aku menjauhinya. Tetapi aku mendengar Rasulullah SAW. berkata tentang dirimu sampai tiga kali, “Akan datang seorang darimu sebagai penghuni surga.” Aku ingin memperhatikan amalanmu supaya aku dapat menirunya. Mudah-mudahan dengan amal yang sama aku mencapai kedudukanmu.”

    Lalu orang itu berkata, “Yang aku amalkan tidak lebih daripada apa yang engkau saksikan”. Ketika aku mau berpaling, kata Abdullah, dia memanggil lagi, kemudian berkata, “Demi Allah, amalku tidak lebih daripada apa yang engkau saksikan itu. Hanya saja aku tidak pernah menyimpan pada diriku niat yang buruk terhadap kaum Muslim, dan aku tidak pernah menyimpan rasa dengki kepada mereka atas kebaikan yang diberikan Allah kepada mereka.” Lalu Abdullah bin Amr berkata, “Beginilah bersihnya hatimu dari perasaan jelek dari kaum Muslim, dan bersihnya hatimu dari perasaan dengki. Inilah tampaknya yang menyebabkan engkau sampai ke tempat yang terpuji itu. Inilah justru yang tidak pernah bisa kami lakukan.

    Memberikan hati yang bersih, tidak menyimpan prasangka yang jelek terhadap kaum Muslim kelihatannya sederhana tetapi justru amal itulah yang seringkali sulit kita lakukan. Mungkin kita mampu berdiri di malam hari, sujud dan rukuk di hadapan Allah SWT, akan tetapi amat sulit bagi kita menghilangkan kedengkian kepada sesama kaum Muslim, hanya karena kita duga pahamnya berbeda dengan kita. Hanya karena kita pikir bahwa dia berasal dari golongan yang berbeda dengan kita. Atau hanya karena dia memperoleh kelebihan yang diberikan Allah, dan kelebihan itu tidak kita miliki. “Inilah justru yang tidak mampu kita lakukan, ” kata Abdullah bin Amr (Hayat Al-Shahabah, II, 520-521).

    Pada halaman yang sama, Al-Kandahlawi menceritakan suatu hadis tentang sahabat Nabi yang bernama Abu Dujanah. Ketika Abu Dujanah sakit keras, sahabat yang lain berkunjung kepadanya.
    Tetapi menakjubkan, walaupun wajahnya pucat pasi, Abu Dujanah tetap memancarkan cahayanya, bahkan pada akhir hayatnya. Kemudian sahabatnya bertanya kepadanya, “Apa yang menyebabkan wajah Anda bersinar?” Abu Dujanah menjawab, “Ada amal yang tidak pernah kutinggalkan dalam hidup ini. Pertama, aku tidak pernah berbicara tentang sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Kedua, aku selalu mengahadapi sesama kaum Muslim dengan hati yang bersih, yang oleh Al-Quran disebut qalbun salim”.

    Al-Quran menyebut kata qalbun salim ini ketika Allah SWT. berfirman tentang suatu hari di hari kiamat, ketika tidak ada orang yang selamat dengan harta dan kekayaannya kecuali yang membawa hati yang bersih.
    Pada hari itu tidak ada manfaatnya di hadapan Allah SWT, harta dan anak-anak kecuali orang yang datang dengan hati yang bersih (QS 26:88-89).
    Di dalam Islam, Rasulullah yang mulia sejak awal dakwahnya mengajarkan kepada kaum Muslim untuk memperlakukan kaum Muslim yang lain sebagai saudara-saudaranya. Al-Quran mengatakan bahwa salah satu tanda orang yang beriman ialah menjalin persaudaraan dengan sesama kaum beriman lain. Al-Quran menggunakan kalimat yang disebut adat al-hasr, yaitu “innama” -artinya yang tidak sanggup memelihara persaudaraan itu tidak termasuk orang yang beriman.

    Imam Al-Ghazali ketika menyebutkan ayat ini juga menegaskan bahwa orang yang beriman sajalah yang dapat memelihara persaudaraan dengan sesama kaum Muslim. Hanya yang beriman yang bisa menumbuhkan kasih sayang kepada kaum Muslim. Rasulullah SAW. menegaskan ayat ini dengan sabdanya : “Tidak beriman di antara kamu sebelum kamu mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri.”
    Rasulullah yang mulia menyebutkan bahwa salah satu tanda orang yang beriman ialah mempunyai kecintaan yang tulus terhadap kaum Muslim. Dan dalam riwayat yang lain, Rasulullah SAW. bersabda : “Agama adalah kecintaan yang tulus.”

    Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh As-Suyuthi dalam kitabnya, Ad-Durr Al-Mantsur. Ketika sampai pada ayat yang mengatakan bahwa Allah menolak segolongan manusia dengan segolongan manusia yang lain, pada surah Al-Baqarah, As-Suyuthi meriwayatkan hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani bahwa Rasulullah SAW. bersabda, “Setiap masa ada orang yang sangat dekat dengan Allah (yang oleh Rasulullah disebut ABDAL). Kalau salah seorang di antara mereka mati, maka Allah akan menggantikannya dengan orang lain. Begitulah orang itu selalu ada di tengah-tengah masyarakat.”

    Rasulullah mengatakan bahwa berkat kehadiran mereka Allah menyelamatkan suatu masyarakat dari bencana. Karena merekalah Allah menurunkan hujan, karena merekalah Allah menumbuhkan tetanaman, dan karena merekalah Allah mengidupkan dan mematikan. Sehingga para sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Apa maksudnya karena merekalah Allah menghidupkan dan mematikan?” Rasulullah menjawab : “Kalau mereka berdoa agar Allah memanjangkan usia seseorang, maka Allah panjangkan usianya. Kalau mereka berdoa agar orang zalim itu binasa, maka Allah binasakan mereka”. Kemudian Rasulullah bersabda : “Orang ini mencapai kedudukan yang tinggi bukan karena banyak shalatnya, bukan karena banyak puasanya, bukan pula karena banyaknya ibadah hajinya, tetapi karena dua hal : yaitu memiliki sifat kedermawanan dan kecintaan yang tulus kepada sesama kaum Muslim.”

    Balas
  • 72. abu yusuf  |  Juni 5, 2007 pukul 11:56 am

    Jazakalloh khoir atas nasehat teman-teman semua.
    Yang di maksudkan dengan bid’ah adalah ibadah yang diada-adakan. Jadi selama itu bukan merupakan sebuah ibadah dan menyangkut urusan kemashlahatan maka dianjurkan. Seperti kebanyakan orang menganggap semua yang baru itu adalah bid’ah kalau begitu mobil itu juga bid’ah sebab dijaman rosululloh belum ada mobil jadi sekarangpun harus pakai unta. Ya ikwan saya katakan sekali lagi bahwa bid’ah itu berhubungan dengan masalah ibadah yang diada-adakan, lantas apakah ada ibadah naik mobil”ayo kita ibadah yuk” “ibadah apa?” “ibadah naik mobil”??? jadi yang dimaksud bid’ah itu adalah yang menyerupai syari’at, tujuannya ibadah untuk Alloh, tetapi tidak ada dalil baik dari Quran ataupun Sunnah. Jadi apakah mikrofon, mobil, pesawat itu termasuk ibadah. bukankah itu hanya sarana saja, dan mengenai Al Quran bukankah itu juga sebagai sarana agar orang-orang dapat membacanya dan bukankah yang diberi pahala adalah orang yang membaca dan bukan membuat mushaf itu sendiri. Quran itu hanya sarana dan bukan bentuk ibadah. Dan mengenai Umar ibnul Khothob tentang peryataannya “sebaik-baik bid’ah adalah ini…” Ya ikhwan ulama-ulama sunnah tidak pernah menggolongkan bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan dholalah. Bahkan Rosululloh memperingatkan bahwa
    fainna likulli bid’atin dholalah(maka sesungguhnya SETIAP bid’ah itu adalah sesat) wa kulla dholalatin finnaar
    adapun perkataan Umar itu adalah bid’ah dalam bahasa, maksudnya pada jaman jahiliyah dulu tidak pernah ada sholat tarawih maka Umar mengatakan bahwa sebaik-baik hal yang baru adalah ini.
    Ya ikhwan ketika rosululloh telah menunjukkan jalan yang benar maka apakah kita akan mengambil jalan lain dan menganggap itu lebih baik dari rosululloh. Ya ikhwan akan kita kemanakan dalil-dalil dari Alloh dan Rosulnya itu, akan kita kemanakan? Pertanyaan lagi Sudahkah kita melaksanakan Sunnah-sunnah beliau yang banyak terdapat dalam kitab2 para ulama seperti RiyadhushSholihin, Adabul Mufrod, dll. Sudah tahukah kita bahwa hal-hal yang sepelepun diajarkan oleh beliau diantaranya ketika meludah maka jangan ke arah kiblat dan ke arah kanan. Sudahkah kita laksanakan sunnah-sunnah beliau sehingga kita telah mampu mengungguli beliau dalam hal ibadah bahkan membuat ibadah-ibadah baru yang belum pernah beliau ajarkan. Wallohu a’lam

    Balas
  • 73. Khaylif  |  Juni 6, 2007 pukul 2:33 am

    assalamu’alaikum…
    akhirnya….
    ketemu lagi ma teman senasib seperjuangan
    kemaren dah ke salafyindonesia.wordpress.com
    bener-bener mencerahkan n cocok buat orang2 awam kayak saya
    dah beberapa artikel saya print untuk teman2 yang mulai ragu akan ajaran ASWAJA yang asli karena pesatnya dakwah salafy wahabi…
    teruslah berjuang, lawan wahabi!!!
    do’aku untuk kalian…
    semoga Alloh SWT selalu bersama orang2 yang benar

    Balas
  • 74. ompu  |  Juni 11, 2007 pukul 7:57 am

    untuk para tholabul ilmi yang terus mencari ilmu yang haq untuk keselamatan di akhirat yang kekal nanti…gak usah lagilah masuk ke situs gebleg ini….,ok?? banyak-banyak belajar and janganlah sedih dengan cemoohan orang-orang yang mencemooh.

    kullun mukhdasatil bid’ah wakullun bid’atid dholalah wakulun dholalatil fin nar!

    Balas
  • 75. bond  |  Juni 14, 2007 pukul 4:48 am

    @ompu

    dah ketahuan lagi…..
    apa bisanya cuma marah2 aj yaa…
    apa emang doktrinnya spt itu?

    Balas
  • 76. narimo  |  Juni 14, 2007 pukul 7:32 am

    mau tahu “ibadah naik mobil”, sopir taxi, sopir angkot, sopir pribadi, mereka semua berbadah naik mobil.
    Mau ibadah yang sepele lainnya?
    Rasul memang memberi contoh sampai hal yang sepele, tapi ana yakin tidak semua hal harus dicontohi. Rasul tahu koq, umatnya sangat cerdas. Emangnya umat islam ini cuma robot, harus pake contoh, model or program. Lha kalo semua harus bercontoh, bagaimana dengan amalan yang belum bercontoh? ngga’ perlu dilakukan?
    LHa kalo bapak ana tukang gali sumur, mau masuk sumur doa “ya Allah, lindungi aku, mudahkan pekerjaanku, singkirkan batu-batu yang menghalangiku, semua terjadi karena kehendakMu” (ini terjemahan doa jawa), bid’ah enggak ya.
    atau kalo apes nemu batu besar di kedalaman, beliau doa “aku berniat, menghilangkan gangguan, yang datang dari kegelapan. semoga semua saudara, lahir dan batin membantuku. Mudahkanlah aku memecah batu, berikan kekuatan kepada lenganku, kuat karena kehendakMu”
    nah …. bid’ah enggak tuh.

    diskusi masalah tarawih, ana lihat ada tiga fakta:
    1. Rasul melakukannya, hanya beberapa kali, dan beliau MENGHENTIKAN karena khawatir dianggap wajib. Sampai akhir hayatnya beliau tidak pernah melanjutkan shalat tarawih berjamaah di awal malam lagi. Rasul juga tidak menyatakan “bila kekhawatiranku telah hilang” maka boleh dilakukan lagi.
    2. Khalifah Abu Bakar As-Sidiq, tidak melakukan/memerintahkan. Padahal Beliau adalah orang diluar kerabat Nabi yang pertama membenarkan ajaran Nabi Muhammad. Maka Abu Bakarpun juga tidak memerintahkan shalat tarawih untuk dilakukan lagi.
    Kalau kawan wahabi punya doktrin ” jika sebuah amalan itu merupakan kebaikan maka para shahabatlah yang pertama melakukannya” maka pertanyaannya adalah apakah Abu Bakar tidak menganggap shalat tarawih berjamaah adalah kebaikan?
    3. Khalifah Umar Ibn Khattab, Beliau memulai lagi shalat tarawih berjamaah dan sampai sekarang.
    Perintah rasul mana yang dijadikan acuan Shahabat Umar Ibn Khattab untuk menghidupkan lagi shalat tarawih berjamaah?
    Setiap malam, bukan hanya bulan ramadan, Rasul sholat malam, tetapi shalat tarawih berjamaah, hanya dilakukan beberapa kali dalam satu bulan Ramadhan. Mengapa kita melakukannya satu bulan penuh?
    Pertanyaanya adalah:
    Mana haditsnya????

    Balas
  • 77. abu yusuf  |  Juni 18, 2007 pukul 2:20 pm

    akhi fillah rohimaniy warohimakumulloh
    jazakalloh khoir atas ilmunya yang antum berikan.
    Gini akh, ketika para sopir itu naik mobil maka ana yakin dia ibadah bukan lantaran naik mobil itu akan tetapi karena ia sedang mencari nafkah untuk keluarga yang dicintainya. Kalau mencari nafkah untuk keluarganya itu wajib maka bagi sang sopir itu wajib ia lakukan. Dan jika berfikiran seperti itu berarti banyak sekali ibadah, mengelas itu juga ibadah, nyervis sepeda motor itu juga ibadah, mengumpulkan botol bekas itu juga ibadah. Terus jika sang sopir itu mengantarkan seseorang ke tempat maksiat?
    Ikhwani fiddin mudah-mudahan bermanfaat, yang saya tahu bahwa kita disuruh oleh rosululloh untuk berpegang pada sunnahnya dan sunnah khulafaur Rosyidin yang diberi petunjuk. Sebab mereka itu langsung berguru kepada Rosululloh dan ijtihad mereka bukan berdasar kepada hawa nafsunya dan kami berlindung dari fitnah-fitnah yang telah disebarkan untuk menjelek-jelekkan sahabat Beliau sholallohu ‘alaihi wasallam. Adapun sholat tarowih yang saya pahami itu bukan sholat wajib, banyak sekali riwayat yang menunjukkan bahwa sholat tarowih itu bukan sholat wajib. Beliau takut jika itu dianggap wajib oleh umat Islam.
    Ya ikhwan marilah kita menyibukkan diri dengan yang telah disunnahkan oleh Rosululloh dahulu. Tapi kalu antum telah mampu melaksanakan semua sunnahnya(InsyaAlloh lebih dari ratusan sunnah beliau dalam sehari mulai dari dzikir pagi petang, sampai tidur dan didalam tidur) dan antum menganggap lebih baik dari Rosululloh dalam hal beribadah, ya wallohu a’lam

    Balas
  • 78. Ibnu Taymiah  |  Juni 19, 2007 pukul 4:15 am

    Salam kenal

    Balas
  • 79. aswaja semarang  |  Juni 28, 2007 pukul 3:10 pm

    wa’alaikum salam wr. wb.

    Balas
  • 80. narimo  |  Juni 30, 2007 pukul 7:44 am

    assalamu ‘alaikum
    begitulah akhi, ibadah itu bukan hanya banyak, tetapi seluruh hidup kita adalah ibadah. Yang ada contohnya dan diikuti itu amatlah baik, walaupun itu masih ada perbedaan persepsi antara kita. apakah sekedar leterleks, apa yang tertulis, apa yang terucap dari hadits rasul, atau kita memahami sampai pada essensi hadits tersebut. Juga ibadah yang belum dicontohkan secara tertuliis, seperti saya contohkan itu. do’a ayah saya itu ndak ada contoh dari nabi, tetapi semua orang maklum dan dan yakin kebenarannya bahwa setiap perbuatan baik yang akan kita lakukan akan lebih mulia lagi jika disertai dengan permohonan kepada Allah. Maka disinilah perlunya kecerdasan kita dalam beragama sangat diperlukan. Ini baru dalam hitungan belasan abad, sepeninggal rasul. Tiga puluh atau 50 abad lagi, insya allah lebih diperlukan lagi kecerdasan dalam beraislam, mengingat struktur masyarakat, pola pikir dan teknologi akan berkembang semakin maju. Misalnya, hukum waktu sholat bagi orang yang dimungkinkan hidup menetap di luar angkasa, bagaimana arah kiblatnya dll. Jangan beralibi, itu khan baru mungkin? kecerdasan kita akan melihat “mungkin” yang ahnya sekedar mungkin dan “mungkin” yang menuju arah nyata. Maka hemat saya akhi, jangan jadikan jargon “mana contohnya” sebagai azimat sakti untuk menebas saudara sendiri.

    Balas
  • 81. samaranji  |  Juli 2, 2007 pukul 9:39 am

    Wassalamu’alaikum , yaa…ibnu taymiah

    Balas
  • 82. samaranji  |  Juli 4, 2007 pukul 5:53 pm

    assalama’alaikum wr. wb.

    amat disayangkan ketika ucapan “assalamu’alaikum wr. wb” digeser menjadi “selamat pagi/sore/siang/malam”. namun lebih disayangkan lagi bila ucapan salam saudara Ibnu Taymiah di atas diterapkan.

    jika mereka punya niat tulus mendo’akan saudara muslim lain yang hendak di”murni”kan, seharusnya do’a selamat dan rahmat mereka tebarkan. inikah sikap ketulusan mereka dalam memurnikan sunnah salafus salihin ?

    wassalamu’alaikum wr. wb.

    Balas
  • 83. Kenal Juga  |  Juli 5, 2007 pukul 1:07 am

    Salam kenal juga

    Balas
  • 84. Andra  |  Juli 11, 2007 pukul 6:14 am

    Kadang saya masih bingung alias ragu jika sahabat dijamin ke surga. Kalau “sahabat” saya yakin ya…karena beliau pendukung utama da’wah Nabi. Kenapa saya ragu terhadap sahabat tetapi tidak dengan “sahabat”?
    Dari sejarah sudah jelas yang namanya sahabat banyak yang bertengkar saling kafirkan bahkan saling bunuh. Ingat pada peristiwa perang yang terjadi pasca Nabi wafat. Ini cukup menjadi bukri bahwa yang namanya sahabat tidak bisa dijadikan rujukan. Kita haruslah merujuk pada “sahabat” yaitu orang-orang khusus yang disiapkan Nabi.

    Balas
  • 85. abu yusuf  |  Juli 14, 2007 pukul 3:48 pm

    benar sekali yaa akhi, salam kita bagi sesama musli adalah assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuhu, hal itu jarang sekali kita temui di jaman sekarang ini, salah satu pertanda kiamat adalah orang yang mengucapkan salam dan berjabat tangan dengan muslim yang dikenalnya saja. Marilah kita sebarkan salam, salam untuk sesama muslim, jangan diganti dengan selamat pagi atau yang lainnya karena adab salam sudah diajarkan oleh Rosululloh. Jazakalloh atas nasehatnya dan memang begitulah sesama kita harus saling mengingatkan

    Balas
  • 86. abu yusuf  |  Juli 14, 2007 pukul 3:52 pm

    banar sekali yaa akhi, salam kita kepada sesama muslim adalah seperti yang dicontohkan oleh Rosululloh yaitu assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuhu. Jangan diganti dengan selamat yang lain, selamat pagi, sore atau yang lain. Semua telah rosululloh ajarkan tinggal diaplikasikan. Jazakalloh khoir atas nasehatnya dan begitulah sesama muslim harus saling mengingatkan

    Balas
  • 87. aq  |  Agustus 2, 2007 pukul 2:18 am

    “Assalamu’alaikum Wr.Wb”

    He…….he……
    jadi inggat kejadian di sini,pas Maulid tiba salafi bikin ulah ceramah di masjid – masjid tentang bidah mulid. mo tau hasilnya ?
    di diseprot(marah) sama jamaah masjid yang di datanggi dan di tuntut minta maaf,juga di beri peringgatan kalo aneh – aneh lagi di larang shalat berjamah di masjid yang dia datanggi tadi, sadis sekali .

    Balas
  • 88. pro sunnah  |  September 7, 2007 pukul 3:58 am

    memang kehadiran mereka yang mengaku paling salafy dan paling ahlu sunnah wal jamaah membikin onar dan kekacauan. tenggok saja kasus di NTT dan NTB mereka sampai diusir dari tempat mereka berdakwah. lo wong masalah maulid dibahas sampai mengatakan “saudara semuslim seiman masuk neraka” emang neraka miliki mereka ta? jika para salafy ini menggungkapkan dalil yo monggo mawon, namun di atas kan yang pro maulid juga sudah mengungkapkan dalil tidak ngawur mengapa dalil ini tidak mau diterima? apakah dalil yang menentang maulid saja yang paling benar? lo yo opo mereka “salafy” itu kanjeng nabi Muhammad Sholollohu ‘alahissalam.

    mbok yo perdebatan maulid ini gak akan pernah selesai hingga kiamat nanti. yang terpenting adalah mau menerima perbedaan dalil-dalil yang ada bukannya merasa dalil yang diungkapkan itu adalah dalil yang paling rojih. apalagi diikuti dengan kata-kata “bid’ah, kafir, taqlid” sungguh kalimat ini tidak pernah terlontar dari kanjeng Nabi selama beliau hidup hanya untuk perbedaan-perbedaan yang tidak terkait sama sekali dengan aqidah. silahkan para salafy berdakwah tetapi jangan sekali-kali kalian melontarkan kalimat “bid’ah” yang ente-ente sendiri belum termasuk kategori sebagai seorang mujtahid, kalian hanya mengekor dan comot dalil-dalil yang kalian sendiri belum tahu 100% bagaimana maksud dalil tersebut. orang sekelas Imam Syafii saja sangat menghormati perbedaan penafsiran dalil. hal ini terlihat ketika beliau diminta menjadi imam sholat shubuh dilingkungan paham hanafi. beliau tidak memakai qunut padahal kita ketahui beliau sholat shubuh selalu memakai qunut. toh beliau tidak pernah melontarkan “barangsiapa yang sholat shubuh tidak memakai qunut tertolak”. memang sungguh besar perbedaan antara orang yang alim lagi tawadhu dengan orang-orang yang baru menemukan dalil ditambah nemu dalilnya dari nukil sudah berani berkata “bid’ah, khurafat, taqlid”.

    mengapa kalian tidak pernah mau menerima perbedaan dalil? kalian katakan tidak boleh taqlid toh kalian juga taqlid dengan orang-orang yang menyerukan kepada bid’ah.

    heran…

    Balas
  • 89. abdul_wahab  |  September 8, 2007 pukul 3:15 am

    Kutip :
    “Pemandangan yang begitu tidak enak, tragis dan menyedihkan itu menyentakkan nurani saya ketika saya lihat di lapangan ternyata tradisi suci warisan leluhur dari aknjeng Nabi itu dan sudah mendarah daging di tubuh kaum Nahdliyyin hampir-hampir saja punah dan moksa oleh virus Bid’ah, Syirik dan khurafat. Tradisi yang disunahkan oleh ajaran Islam itu di cap dan diberi segel sesat dan menyesatkan. Sedih…”

    Yasinan, tahlilan ala orang NU, muludan, isro’ mi’roj adalah Warisan Kanjeng Nabi ??

    Janganlah berdusta atas nama Nabi .. Dosa besar.
    Pikir dong, apakah pernah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alahi wa sallam melakukan Yasinan ? Tahlilan ala orang NU ? Muludan ? Isro’ Mi’roj ?
    Kok bisa2nya diaku2 sebagai warisan Kanjeng Nabi..
    Kok ngawur sih..

    Balas
  • 90. ABU JIHAD  |  September 14, 2007 pukul 9:34 am

    Memang yang menjadi masalah, ada satu golongan yang suka mensesatkan golongan lain, jika anda tahu yang dianggap sesat bukan hanya tabligh tapi dibawah ini Listnya :
    -PKS (Ikhwanul Muslimin)
    -HT ( Hiztbut Tahrir)
    – Semua orang Islam yang menganut 4 mahzab ( Syafii, hambali, hanafi & maliki)
    -NU, Muhamadiyah
    -dll

    Siapa Dalangnya, ialah yang mengaku (WAHABI BERKEDOK) SALAFI /As-Sunnah
    ( Salah Fikir ) SELAIN mereka dikatakan SEMUANYA SESAT….!!!!!

    Siapa yang sesat kalau begitu………………????????????

    Alhamdulillah Ustdz.Jafar Umar T, sudah keluar dari bayang2 yahudi, Kerajaan Saudi,
    Setan USA.

    WAHAI WAHABI/SALAFY kenapa kalian mengkafirkan umat islam selain kalian, mengapa tidak
    mencela SETAN AMERIKA……

    Saya Kasihan sama, Para Salafy Indonesia yang bodoh2 dimanfaatkan agen2 yahudi
    MENGHALALKAN DARAH SESAMA MUSLIM SATU TANAH AIR INDONESIA LAGI……..

    Balas
  • 91. ABU WAHABI  |  Oktober 1, 2007 pukul 2:01 pm

    ALLOHUMMA IKFINAHUM BIMAA SYI’TA, AMIN

    Balas
  • 92. ali  |  Oktober 23, 2007 pukul 2:46 pm

    Assalamualaikum. Wr. Wb

    Kepada Yth. Mas Sastro

    Dengan ini saya memperkenalkan diri, nama saya Ahmad Ali Velayati, saya terus mengikuti perkembangan dari blog Mas di https://wahabisme.wordpress.com, terkhusus tentang masalah Debat Maulid Nabi Antara Halal dan Haram. Hingga pada suatu hari ada keinginan saya untuk membukukan perdebatan itu. Sebelumnya saya mohon maaf tidak meminta ijin kepada Mas Sastro tentang pembukuan perdebatan itu. Buku yang saya cetak memang untuk pribadi saya, tetapi kalau mas sastro ijinkan ada keinginan saya untuk mencetak yang lebih banyak, dan kalau memang bisa dapat dicetak dipenerbitan. Tiada lain keinginan saya karena banyaknya teman-teman yang jarang membuka internet bahkan tidak sama sekali. Kalau Mas Sastro ijinkan dan memberi masukan kepada saya mungkin dapat menghubungi saya di ali_velarock@yahoo.co.id . Ini bentuk buku yang cetak khusus untuk pribadi saya:

    Atas perhatian Mas Sastro saya ucapkan banyak terimakasih.

    Wassalamualaikum Wr. Wb

    Balas
  • 93. wahhabi tulen  |  Oktober 23, 2007 pukul 3:21 pm

    Assalamu’alaikum warohmatullah wabarokatuh
    Saya harap anda yang selalu menghujat wahabi sudah mengetahui bahwa Imam Muhammad bin Abdul-wahhab tidak pernah mewajibkan para santrinya untuk memakai nama wahhabi. Penamaan ini sebenarnya muncul dari pihak-pihak yang merasa terusik dengan keberadaan dakwah beliau yang tidak tedeng aling-aling dalam mengingkari pelanggaran2 yang bersifat prinsip dalam islam, seperti: berdoa kepada selain Allah ta’ala atas nama tawassul, menyembelih buat roh-roh yang diklaim sebagai roh para wali dsb.
    Tentu perkara-perkara ini sangat digemari oleh kalangan kuburiyyin dan syi’ah rafidhoh, memang kedua kelompok ini seperti saudara kembar, makanya enggak heran kalau ibnu khaldun berkata: “Kalau bukan karena syi’ah tidak mungkin ada aliran sufi’ah”. Bedanya kalau Syi’ah nyembah para imam dari ahlul bait, sebagian orang sufi nyembah para wali. Lihat aja, masing2 dari sufiah dan syi’ah, ada yang gemarnya tawaf dikuburan..Ahlus-sunnah macam apaan ini..بئس أهل السنة هم إن كانوا فعلا أهل السنة

    Balas
  • 94. salafi tulen  |  November 7, 2007 pukul 3:38 pm

    Terima kasih Mas Wahhabi Tulen, kini jelas kenapa yang dipakai
    nama “Salafi” 😉 dan bukan Wahhabi. Wahhabi memang beda dari
    Salafi, seperti Salafi gadungan beda dari Salafi, seperti bedanya
    “untuk” dan “kepada” 😉

    Yang Anda sebut pihak-pihak yang merasa terusik dengan
    “tidak wajib memakai nama Wahhabi” jauh lebih banyak dari
    hanya dua golongan yang Anda sebutkan 😉
    Jelas karena hampir semua golongan terusik karena sedikit-sedikit
    Salafy gadungan sudah menuduh golongan lain musyrik, kafir,
    (apa itu sebutan penyakit batuk rejan milik Salafi gadungan)
    oh iya, TBC.

    Balas
  • 95. herman  |  Desember 3, 2007 pukul 1:41 am

    Assalamu’alaikum.
    Untuk Pak Cinta Rasullullah dan Abu Yusuf dan Juga yg lainnya yg mendukung web ini semoga Allah selalu memberikan Rahmat dan AnugerahNya untuk anda semua…amin3x.

    Dari Siapa saya lupa ? menulis
    —————————————-

    “Aku benci al ma’tam yaitu berkumpul – kumpul di rumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbaharui kesedihan” (al Umm I/318)

    Ucapan beliau itu selaras dengan atsar sahabat. Dari Jabir bin Abdullah Al Bajalii, ia berkata, “Kami (para sahabat Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam) menganggap bahwa berkumpul – kumpul di tempat ahli mayit dan membuat makanan sesudah ditanamnya mayit termasuk dari bagian meratap (niyahah)” (HR. Ibnu Majah no. 1612 dan ini adalah lafazhnya serta Imam Ahmad dalam Musnadnya 2/204)

    Al Imam an Nawawi rahimahullah di kitabnya al Majmu’ Syarah Muhadzdzab (5/319-320) telah menjelaskan tentang bid’ahnya berkumpul-kumpul dan makan-makan di rumah ahli mayit dengan membawakan perkatan penulis Kitab asy Syaamil dan ulama yang lain serta beliau menyetujuinya dengan hadits Jarir yang beliau tegaskan sanadnya shahih.

    ———————————————————————————————-

    Jadi bingung, banyak banget hadist2nya tapi kok memahaminya seperti fahaman anak TK. Kalo di bilang ortunya “Jangan nyebrang jalan ntar di tabrak mobil”, maka di tidak akan menyebrang jalan “menuruti nasehat ortunya”. Setelah anak TK beranjak besar akhirnya dia tahu apa maksud dari peringatan ortunya itu. Jadi untuk anda yg menulis, tafsiran anda berbeda dgn saya tapi saya tidak menyalahkan itu dan mohon anda juga tidak menyalahkan tafsiran saya…saya menafsirkan “berkumpul-kumpul” disini adalah berkumpul-kumpul sepertinya saat manten misal tertawa terbahak-bahak, teriak2, main gaplek tapi dsinilah perlunya kearifan kita untuk memahami arti berkumpul2 tersebut. tapi memang agak repot sih jika memerlukan pembuktian karena soal rasa agak susah membuktikannya jadi anda saya kira juga berat untuk menerimnya, sedangkan bumi mengelilingi matahari yg sudah di buktikan dgn teknologi anda tidak percaya karena sumbernya dari kaum kafir (anda bilang), sekarang coba renungkan deh….dari anda baru lahir sampai anda seperti sekarang apakah anda tidak lepas dari kemajuan teknologi, anda punya motor/mobil, anda sekolah, anda makan, anda tidur, anda bekerja atau anda saat mengetik di blog ini apakah tidak terlepas dari itu semua jadi jangan giliran isi perut anda bisa berkata lain, dan yg patut di garis bawahi bukan karena kafirnya kita menjauh tapi dari aqidahnyalah kita harus menjauh sejauh-jauhnya, mungkin itu hal yg perlu kita renungkan. Dan satu lagi Mas sepertinya yg dibilang Bapak Cinta Rasul janganlah engkau menyandarkan amal ibadahmu di hadapan Allah karena itu ibadahnya Pedagang (yg hanya mencari untung dan rugi), dan janganlah beribadah karena takut Neraka karena itu ibadahnya Anak kecil (yg takut karena hukuman) tapi beribadahlah untuk mendapatkan ridho Nya karena itulah Ibadah yg paling mulia. Jadi untuk Mas2 WAHABI silahkan jika anda tetap berpegang dgn kepercayaan anda tapi jangan memaksakan kepercayaan anda kepada Kami yg tidak mengakui eksistensi ajaran Ibnu Taimiyyah. mungkin demikian dari saya yg masih baru menemukan jalan lurus ini……semoga Allah memberikan kita hidayah dan RidhoNya kepada kita Manusia yg merupakan tempatnya salah dan Khilaf…

    Balas
  • 96. ahmad abu faza  |  Desember 9, 2007 pukul 3:41 am

    Sungguh Anda telah membuat fitnah yang besar.., Engkau akan mempertanggungkan semua perbuatanmu dihadapan Allah Subhanahu wa ta’ala.
    INGAT setelah ini akan ada HISAB !.

    Balas
  • 97. Sawali Tuhusetya  |  Desember 9, 2007 pukul 3:35 pm

    Terus terang saja, Pak, saya juga awam tentang agama. Tetapi ketika orang dengan mudahnya mengkafirkan kelompok lain karena dianggap tidak se-mazhab, saya jadi ikutan sedih. Meski banyak yang tidak senang terhadap kehadiran blog ini, tapi saya juga yakin tak sedikit pula yang menanti kehadiran blog2 seperti ini agar tidak makin banyak kelompok tertentu yang mengklain dirinya paling benar dan menganggap kelompok lain kafir. Semoga kehadiran blog ini bisa memberikan banyak pencerahan bagi umat Islam. Semoga. Salam kenal.
    *Saya tidak menyebarkan virus TBC loh!*

    Balas
  • 98. Abu Zubair  |  Desember 10, 2007 pukul 5:53 am

    Perayaan Hari Kelahiran Nabi [Maulid Nabi]

    Oleh
    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

    Pertanyaan
    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin : Apa hukum perayaan hari kelahiran Nabi?

    Jawaban
    Pertama: Malam kelahiran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diketahui secara pasti, tapi sebagian ulama kontemporer memastikan bahwa itu pada malam kesembilan Rabi’ul Awal, bukan malam kedua belasnya. Kalau demikian, perayaan pada malam kedua belas tidak benar menurut sejarah.

    Kedua: Dipandang dari segi syari’at, perayaan itu tidak ada asalnya. Seandainya itu termasuk syari’at Allah, tentu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melakukannya dan telah menyampaikan kepada umatnya, dan seandainya beliau melakukannya dan menyampaikannya, tentulah syari’at ini akan terpelihara, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman,

    “Artinya : Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” [Al-Hijr : 9].

    Karena tidak demikian, maka diketahui bahwa perayaan itu bukan dari agama Allah, dan jika bukan dari agama Allah, maka tidak boleh kita beribadah dengannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mendekatkan diri kepadaNya dengan itu. Untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah, Allah telah menetapkan cara tertentu untuk mencapainya, yaitu yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bagaimana mungkin kita, sebagai hamba biasa, mesti membuat cara sendiri yang berasal dari diri kita untuk mengantarkan kita mencapainya? Sungguh perbuatan ini merupakan kejahatan terhadap hak Allah Subhanahu wa Ta’ala karena kita melaksanakan sesuatu dalam agamaNya yang tidak berasal dariNya, lain dari itu, perbuatan ini berarti mendustakan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    “Artinya : Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu” [Al-Ma’idah : 3]

    Kami katakan: Perayaan ini, jika memang termasuk kesempurnaan agama, mestinya telah ada semenjak sebelum wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan jika tidak termasuk kesempurnaan agama, maka tidak mungkin termasuk agama, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman,.

    “Artinya : Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu.” [Al-Ma’idah :3]

    Orang yang mengklaim bahwa ini termasuk kesempurnaan agama dan diadakan setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ucapannya mengandung pendustaan terhadap ayat yang mulia tadi. Tidak diragukan lagi, bahwa orang-orang yang menyelenggarakan perayaan hari kelahiran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah hendak mengagungkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menunjukkan kecintaan terhadap beliau serta membangkitkan semangat yang ada pada mereka. Semua ini termasuk ibadah, mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga merupakan ibadah, bahkan tidak sempurna keimanan seseorang sehingga menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dicintai daripada dirinya sendiri, anaknya, orang tuanya dan manusia lainnya.

    Mengagungkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga termasuk ibadah. Demikian juga kecenderungan terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk bagian dari agama karena mengandung kecenderungan terhadap syari’atnya. Jadi, perayaan hari kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengagungkan RasulNya merupakan ibadah. Karena ini merupakan ibadah, sementara ibadah itu sama sekali tidak boleh dilakukan sesuatu yang baru dalam agama Allah yang tidak berasal darinya, maka perayaan hari kelahiran ini bid’ah dan haram.

    Kemudian dari itu, kami juga mendengar, bahwa dalam perayaan ini terdapat kemungkaran-kemungkaran besar yang tidak diakui syari’at, naluri dan akal, di mana para pelakunya mendendangkan qasidah-qasidah yang mengandung ghuluw (berlebih-lebihan) dalam mengagungkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sampai-sampai memposisikan beliau lebih utama daripada Allah. Na’udzu billah. Di antaranya pula, kami mendengar dari kebodohan para pelakunya, ketika dibacakan kisah kelahiran beliau, lalu bacaannya itu sampai pada kalimat ‘wulida al-musthafa’ mereka semuanya berdiri dengan satu kaki, mereka berujar bahwa ruh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hadir di situ maka kami berdiri untuk memuliakannya. Sungguh ini suatu kebodohan. Kemudian dari itu, berdirinya mereka itu tidak termasuk adab, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak menyukai orang berdiri untuknya. Para sahabat beliau merupakan orang-orang yang paling mencintai dan memuliakan beliau, tidak per-nah berdiri untuk beliau, karena mereka tahu bahwa beliau tidak menyukainya, padahal saat itu beliau masih hidup. Bagaimana bisa kini khayalan-khalayan mereka seperti itu?

    [Majalah Al-Mujahid, edisi 22, Syaikh Ibnu Utsaimin]

    [Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, Darul Haq]

    Balas
  • 99. Abu Zubair  |  Desember 10, 2007 pukul 6:02 am

    BEBERAPA CONTOH BID’AH MASA KINI

    Oleh
    Syaikh Dr Sahlih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan
    Bagian Pertama dari Dua Tulisan 1/2

    Di antaranya adalah :

    [a]. Perayaan bertepatan dengan kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Rabiul Awwal.

    [b].Tabarruk (mengambil berkah) dari tempat-tempat tertentu, barang-barang peninggalan, dan dari orang-orang baik, yang hidup ataupun yang sudah meninggal.

    [c]. Bid’ah dalam hal ibadah dan taqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
    Bid’ah-bid’ah modern banyak sekali macamnya, seiring dengan berlalunya zaman, sedikitnya ilmu, banyaknya para penyeru (da’i) yang mengajak kepada bid’ah dan penyimpangan, dan merebaknya tasyabuh (meniru) orang-orang kafir, baik dalam masalah adat kebiasaan maupun ritual agama mereka. Hal ini menunjukkan kebenaran (fakta) sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    “Artinya : Sungguh kalian akan mengikuti cara-cara kaum sebelum kalian” [Hadits Riwayat At-Turmudzi, dan ia men-shahihkannya]

    [1]. Perayaan Bertepatan Dengan Kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Pada Bulan Rabiul Awwal.

    Merayakan kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bid’ah, karena perayaan tersebut tidak ada dasarnya dalam Kitab dan Sunnah, juga dalam perbuatan Salaf Shalih dan pada generasi-generasi pilihan terdahulu. Perayaan maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam baru terjadi setelah abad ke empat Hijriyah.

    Imam Abu Ja’far Tajuddin berkata : “Saya tidak tahu bahwa perayaan ini mempunyai dasar dalam Kitab dan Sunnah, dan tidak pula keterangan yang dinukil bahwa hal tersebut pernah dilakukan oleh seorang dari para ulama yang merupakan panutan dalam beragama, yang sangat kuat dan berpegang teguh terhadap atsar (keterangan) generasi terdahulu. Perayaan itu tiada lain adalah bid’ah yang diada-adakan oleh orang-orang yang tidak punya kerjaan dan merupakan tempat pelampiasan nafsu yang sangat dimanfaatkan oleh orang-orang yang hobi makan” [Risalatul Maurid fi Amalil Maulid]

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “Begitu pula praktek yang diada-adakan oleh sebagian manusia, baik karena hanya meniru orang-orang nasrani sehubungan dengan kelahiran Nabi Isa ‘Alaihis Salam atau karena alasan cinta kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menjadikan kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai sebuah perayaan. Padahal tanggal kelahiran beliau masih menjadi ajang perselisihan.

    Dan hal semacam ini belum pernah dilakukan oleh ulama salaf (terdahulu). Jika sekiranya hal tersebut memang merupakan kebaikan yang murni atau merupakan pendapat yang kuat, tentu mereka itu lebih berhak (pasti) melakukannya dari pada kita, sebab mereka itu lebih cinta dan lebih hormat pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari pada kita. Mereka itu lebih giat terhadap perbuatan baik.

    Sebenarnya, kecintaan dan penghormatan terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tercermin dalam meniru, mentaati dan mengikuti perintah beliau, menghidupkan sunnah beliau baik lahir maupun bathin dan menyebarkan agama yang dibawanya, serta memperjuangkannya dengan hati, tangan dan lisan. Begitulah jalan generasi awal terdahulu, dari kaum Muhajirin, Anshar dan Tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik” [Iqtida ‘Ash-Shirath Al-Mustaqim 1/615]

    [2]. Tabbaruk (Mengambil Berkah) Dari Tempat-Tempat Tertentu, Barang-Barang Peninggalan, Dan Dari Orang-Orang Baik, Yang Hidup Ataupun Yang Sudah Meninggal.

    Termasuk di antara bid’ah juga adalah tabarruk (mengharapkan berkah) dari makhluk. Dan ini merupakan salah satu bentuk dari watsaniyah (pengabdian terhadap mahluk) dan juga dijadikan jaringan bisnis untuk mendapatkan uang dari orang-orang awam.

    Tabarruk artinya memohon berkah dan berkah artinya tetapnya dan bertambahnya kebaikan yang ada pada sesuatu. Dan memohon tetap dan bertambahnya kebaikan tidaklah mungkin bisa diharapkan kecuali dari yang memiliki dan mampu untuk itu dan dia adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah-lah yang menurunkan berkah dan mengekalkannya. Adapun mahluk, dia tidak mampu menetapkan dan mengekalkannya.

    Maka, praktek tabarruk dari tempat-tempat tertentu, barang-barang peninggalan dan orang-orang baik, baik yang hidup ataupun yang sudah meninggal tidak boleh dilakukan karena praktek ini bisa termasuk syirik bila ada keyakinan bahwa barang-barang tersebut dapat memberikan berkah, atau termasuk media menuju syirik, bila ada keyakinan bahwa menziarahi barang-barang tersebut, memegangnya dan mengusapnya merupakan penyebab untuk mendapatkan berkah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Adapun tabarruk yang dilakukan para sahabat dengan rambut, ludah dan sesuatu yang terpisah/terlepas dari tubuh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana disinggung terdahulu, hal tersebut hanya khusus Rasulullah di masa hidup beliau dan saat beliau berada di antara mereka ; dengan dalil bahwa para sahabat tidak ber-tabarruk dengan bekas kamar dan kuburan beliau setelah wafat.

    Mereka juga tidak pergi ke tempat-tempat shalat atau tempat-tempat duduk untuk ber-tabarruk, apalagi kuburan-kuburan para wali. Mereka juga tidak ber-tabarruk dari orang-orang shalih seperti Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu, Umar Radhiyallahu ‘anhu dan yang lainnya dari para sahabat yang mulia. Baik semasa hidup ataupun setelah meninggal. Mereka tidak pergi ke Gua Hira untuk shalat dan berdo’a di situ, dan tidak pula ke tempat-tempat lainnya, seperti gunung-gunung yang katanya disana terdapat kuburan nabi-nabi dan lain sebagainya, tidak pula ke tempat yang dibangun di atas peninggalan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Selain itu, tidak ada seorangpun dari ulama salaf yang mengusap-ngusap dan mencium tempat-tempat shalat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di Madinah ataupun di Makkah. Apabila tempat yang pernah di injak kaki Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yan mulia dan juga dipakai untuk shalat, tidak ada syari’at yang mengajarkan umat beliau untuk mengusap-ngusap atau menciuminya, maka bagaimana bisa dijadikan hujjah untuk tabarruk, dengan mengatakan bahwa (si fulan yang wali) –bukan lagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah shalat atau tidur disana ?! Para ulama telah mengetahui secara pasti berdasarkan dalil-dalil dari syariat Islam, bahwa menciumi dan mengusap-ngusap sesuatu untuk ber-tabarruk tidaklah termasuk syariat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam” [Lihat Iqtidha’ Al-Shirath Al-Mustaqim 2/759-802]

    [Disalin dari buku At-Tauhid Lish-Shaffits Tsani Al-‘Aliy, Penulis Syaikh Dr Sahlih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, edisi Indonesia Kitab Tauhid-3, Penerjemah Ainul Haris Arifin, hal 152-159, Darul Haq]

    Balas
  • 100. Abu Zubair  |  Desember 10, 2007 pukul 6:04 am

    HUKUM MERAYAKAN HARI KELAHIRAN NABI DI MASJID

    Oleh
    Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

    Pertanyaan:
    Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Bolehkah kaum muslimin berkumpul di masjid untuk mengkaji peri kehidupan Nabi pada malam 12 Rabi’ul Awwal dalam rangka hari kelahiran beliau yang mulia tanpa meliburkan siang harinya sebagai hari raya? Kami berselisih pendapat dalam masalah ini, ada yang mengatakan bahwa ini bid’ah hasanah dan ada juga yang mengatakan bukan bid’ah hasanah.

    Jawaban:
    Kaum muslimin tidak boleh menyelenggarakan perayaan hari kelahiran Nabi pada malam 12 Rabi’ul Awwal atau malam lainnya, dan tidak boleh juga menyelenggarakan perayaan hari kelahiran selain beliau Saw, karena perayaan hari kelahiran termasuk bid’ah dalam agama, sebab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah merayakan hari kelahirannya semasa hidupnya, padahal beliaulah yang mengajarkan agama ini dan menetapkan syari’at-syari’at dari Rabbnya , beliau juga tidak pernah memerintahkannya, Khulafa’ur Rasyidin dan para sahabat serta para tabi’in pun tidak pernah melakukannya. Maka dengan demikian diketahui bahwa perayaan itu merupakan bid’ah, sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

    “Artinya : Barangsiapa membuat sesuatu yang baru dalam urusan kami (dalam Islam) yang tidak terdapat (tuntunan) padanya, maka ia tertolak.”

    Dalam riwayat Muslim yang dianggap mu’allaq oleh Al-Bukhari namun menguatkannya, disebutkan,

    “Artinya : Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang tidak kami perintahkan maka ia tertolak.”[1]

    Merayakan hari kelahiran ini tidak pernah diperintahkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan ini merupakan hal baru yang diada-adakan oleh manusia dalam agama ini pada abad-abad belakangan, maka perubahan ini ditolak. Sementara itu, dalam suatu khutbah Jum’at Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

    “Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Muhammad, seburuk-buruk perkara adalah hal-hal baru yang diada-adakan dan setiap hal baru adalah sesat.” [2]

    Dikeluarkan pula oleh An-Nasa’i dengan tambahan,

    “Dan setiap yang sesat itu (tempatnya) di neraka.” [3]

    Tidak perlu dengan merayakan hari kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika bertujuan untuk mengajarkan berita-berita yang berkaitan dengan kelahiran beliau, sejarah hidupnya pada masa jahiliyah dan masa Islam, karena semua ini bisa diajarkan di sekolah-sekolah dan di masjid-masjid serta lainnya. Jadi tidak perlu dengan menyelenggarakan perayaan yang tidak disyari’atkan Allah dan RasulNya dan tidak ada dalil syar’i yang menunjukkannya. Hanya Allah-lah tempat memohon pertolongan. Semoga Allah memberikan petunjuk kepada semua kaum muslimin agar mereka merasa cukup dengan sunnah dan waspada terhadap bid’ah.

    [At-Tahdzir minal Bida’, hal. 58-59, Syaikh Ibnu Baz]

    [Disalin dari kitabAl-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Musthofa Aini Lc, Penerbit Darul Haq]
    __________
    Foote Note
    [1]. HR. Muslim dalam Al-Aqdhiyah (18-1718).
    [2]. HR. Muslim dalam Al-Jumu’ah (867).
    [3]. HR. An-Nasa’I dalam Al-Idain (1578).

    Balas
  • 101. Imam Mawardi  |  Desember 12, 2007 pukul 4:21 am

    Mas, saling link blog agar semakin gayeng diskusinya dan persaudaraannya, salam

    Salam Ustad….. blognya udah saya link…..
    Selamat berjuang

    Wassalam wr wb

    Balas
  • 102. RETORIKA  |  Desember 12, 2007 pukul 7:26 pm

    @ wahabisme

    Saya Tau betul tentang kaum wahabi, dan saya benci betul dengan kaum seperti itu.
    Karena merekalah umat islam dicap sebagai agama barbar oleh dunia luar.
    Mungkin faham anda dan saya berbeda tetapi saya yakin tujuan saya sama, mencegah wahabi merusak islam dan indonesia Merdeka!!!

    =======================================================
    Yup saya, Anda dan semua yang mempunyai hati dan jiwa merdeka, pasti menolak mazhab apa saja yang merubah wajah Islam hanif menjadi garang dan kasar seperti wahabisme.

    Balas
  • 103. santri  |  Desember 19, 2007 pukul 3:58 am

    Abu Hanif | April 13, 2007 at 9:59 am
    ” afwan ya akhi, ana mau tanya nih.
    kalau Ummat Islam memperingati MAulid (kelahiran Rasulullah) lantas apa bedanya kita dg Nashara yang memperingati hari kelahiran Nabi Isa/Yesus kata mereka (menurut Anggapanmereka)
    ‘man tasyabbaha biqaumin fahuwaminhu’ hadits ini bukan berarti menjadikan penirunya ‘kafir’ besar,tapi hanya kafir kecil yang tidak keluar dari Millah ini. jadi,cukuplah bagi kita teladan Nabi dan para sahabat beliau.kalau MAulid ini baik , tentu para sahabat melakukannya sepeninggal Rasulullah.tapi, ternyata mereka nggak melakukannya tuh. jadi, ya itulah al-haq. katanya namanya Ummat Rasulullah,jadi konsisten donk tuk ikuti Rasulullah. gitu ya… yahdikumullahu wa iyayya wa barakallahu fiik satu lagi, kami TIDAK MENGKAFIRKAN KAUM MUSLIMIN SELAMA MEREKA MASIH MENAMPAKKAN KEISLAMAN & KAMI TIDAK SEMBARANGAN DALAM MASALAH INI. MOHON HATI-HATI DALAM MELEMPARKAN TUDUHAN. KLAU KAMI SALAH, MAKA INGATKAN, KALAU MEMANG SALAH, KAMI RUJU’ KEPADA YANG BENAR. TBC JUGA, KAMI TIDAK MENTA’YIN PERSONAL,TAPI HANYA SECARA UMUM & ITU PUN SANGAT HATI-HATI. SALAH SEDIKIT SAJA, FATAL AKIBATNYA,JADI MOHON DIMAAFKAN. TERIMALAH AL-HAQ WALAU PAHIT RASANYA.

    sama aja bung abu hanif jika matahari mengelilingi bumi adalah faham gereja zaman dulu berarti orang yang percaya dengan itu berdasarkan hadits yang anda sebutkan “man tasyabbaha biqaumin fahuwaminhu” berarti masuk kategori hadits ini ndak?…KALO WAHABY PERCAYA MATAHARI MENGELILINGI BUMU GIMANA YA HUKUMNYA…?

    SANTRI NDESO..

    Balas
  • 104. Dimashusna  |  Januari 2, 2008 pukul 8:50 am

    @Abu Hanif
    Jangan Dilihat prosesnya , mbok ya dilihat esensinya. Itukan salah satu upaya kami dalam mensyi’arkan Agama.

    Anda tentu lihat sendiri bagaimana prosesinya orang-orang yang Merayakan Maulid, Isinya Ceramah Agama, Do’a dan lalu biasanya berbagi keceriaan dengan makan bersama.

    Kalau semua harus ada contoh Exact dari Rosul, Sahabat dan Tabi’in maka Budaya Sungkeman dan keliling Kampung ketika Idul Fitri juga Masuk Neraka dong?!

    Dalam penyebarannya Islam pasti akan bersinggungan dengan Budaya Lokal, jika dalam penyebarannya Islam memakai paham yang anda anut, maka pasti Islam menjadi agama Pemusnah Budaya, tapi kan tidak demikian. Karena anda pasti tahu Bahwa Habbit(kebiasaan/perilaku) / Budaya dalam ilmu Ushul Fiqh terbagi atas 2 :

    1. Budaya Syar’iyyat : Budaya yang secara Konten dan Esensi tidak betentangan dengan Konten dan esensi Islam, walaupun tidak ada contohnya dari Sohabat dan generasi Salaf. Ini dibolehkan, seperti Maulid Rosul, peringtan Isro’ Mi’roj. Ziarah dengan tujuan mengingatkan kita kepada kematian.

    2. Budaya Mafsadat : Budaya yang secara Konten dan Esensi bertentangan dengan konten dan Esensi Islam. Ini dilarang. seperti Mabuk rame-rame. Meminta-minta ke kuburan.
    ==================================================

    @ H N WAWAN

    Saya dukung Anda, tapi bagaimana jika bahasa penyampaiannya diperhalus, tidak perlu ada kata-kata kasar. Kita buktikan bahwa kita lebih baik dari mereka.

    Balas
  • 105. moslem  |  Januari 6, 2008 pukul 7:32 am

    Mari kita bersama menjunjung tinggi Habibullah wa maulana wa sayyiduna Muhammad Shallahu ‘Alaihi wa Aalihi, serta para Sahabat beliau yg senantiasa membela beliau untuk menyampaikan ajaran ilahiyyah… untuk yang wahabi / salafy : jangan bisanya menggembor2kan bid’ah2 aja, apa dan kenapa anda ini? mungkin anda bangga akan ke ekstrimisan anda dlm dunia Islam, anda baku, anda beku, anda patung, anda tak menggunakan apa yg di karuniakan kepada kita, hati anda sesak dipenuhi kedengkian kepada para pecinta Rosulullah yang mana Allah dan Malaikat-Nya bersholawat kepada beliau SAW !!! ya akhi fillah, hilangkan noda hitam yg memekat dlm hati anda, bernafaslah dengan nafas Islam, jangan bid’ah aja kau gemborkan!! masih banyak hal2 lain yang harus anda pikirkan!!

    Ya Allah, berilah kami kelapangan dalam mencintai siapa yang Kau cintai… terangkanlah hati dan jiwa kami…

    Balas
  • 106. moslem  |  Januari 6, 2008 pukul 9:39 am

    Mari kita bersama menjunjung tinggi Habibullah wa maulana wa sayyiduna Muhammad Shallahu ‘Alaihi wa Aalihi, serta para Sahabat beliau yg senantiasa membela beliau untuk menyampaikan ajaran ilahiyyah… untuk yang wahabi / salafy : jangan bisanya menggembor2kan bid’ah2 aja, apa dan kenapa anda ini? mungkin anda bangga akan ke ekstrimisan anda dlm dunia Islam, anda baku, anda beku, anda patung, anda tak menggunakan apa yg di karuniakan kepada kita, hati anda sesak dipenuhi kedengkian kepada para pecinta Rosulullah yang mana Allah dan Malaikat-Nya bersholawat kepada beliau SAW !!! ya akhi fillah, hilangkan noda hitam yg memekat dlm hati anda, bernafaslah dengan nafas Islam, jangan bid’ah aja kau gemborkan!! masih banyak hal2 lain yang harus anda pikirkan!!

    Ya Allah, berilah kami kelapangan dalam mencintai siapa yang Kau cintai… terangkanlah hati dan jiwa kami

    Balas
  • 107. moslem  |  Januari 6, 2008 pukul 9:41 am

    Mari kita bersama menjunjung tinggi Habibullah wa maulana wa sayyiduna Muhammad Shallahu ‘Alaihi wa Aalihi, serta para Sahabat beliau yg senantiasa membela beliau untuk menyampaikan ajaran ilahiyyah… untuk yang wahabi / salafy : jangan bisanya menggembor2kan bid’ah2 aja, apa dan kenapa anda ini? mungkin anda bangga akan ke ekstrimisan anda dlm dunia Islam, anda baku, anda beku, anda patung, anda tak menggunakan apa yg di karuniakan kepada kita, hati anda sesak dipenuhi kedengkian kepada para pecinta Rosulullah yang mana Allah dan Malaikat-Nya bersholawat kepada beliau SAW !!! ya akhi fillah, hilangkan noda hitam yg memekat dlm hati anda, bernafaslah dengan nafas Islam, jangan bid’ah aja kau gemborkan!! masih banyak hal2 lain yang harus anda pikirkan!!

    Ya Allah, berilah kami kelapangan dalam mencintai siapa yang Kau cintai… terangkanlah hati dan jiwa kami dan jiwa manusia yang masih gelap hatinya

    Balas
  • 108. eldewa  |  Januari 14, 2008 pukul 1:11 pm

    Saudara2ku, cobalah istirahat sebentar. Mari kita renungkan dalam2,
    SIAPAKAH YANG PALING DI UNTUNGKAN DENGAN ‘PERTENGKARAN’ INI?
    SADARLAH, SADAAARLAH WAHAI KAUM MUSLIMIN !!!
    APA TIDAK SEBAIKNYA KITA BERTENGKAR MENCARI JALAN AGAR BANGSA 80% MUSLIM TIDAK TERPURUK?
    YA ALLAH, AMPUNI DOSA DAN KESALAHAN KAMI !!

    Balas
  • 109. jono  |  Januari 30, 2008 pukul 5:08 am

    Saya ingin minta tolong saya ingin tahu sebab musababnya turun hadizt berikut
    “Berhati-hatilah dari perbuatan muhdats (baru dalam agama, pent) karena setiap yang baru dalam agama adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah di Neraka tempat kembalinya” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi).
    Berkata At-Tirmidzi:”Hadits Hasan Shahih”1) (Al-Muntaqo min Jami’ Al-’Ulum wal Hikam, hal: 96-97. Asy-Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaliy hafizahullah Ta’ala).
    sauya ingin tahu sebab hadist ini banyak menimbulkan perbendaan sehingga saya saya penasaran kenapa sampai ada hadist itu nggak mungkin kan ? rasul tanpa sebab kemudian bersabda seperti itu coba siapa yang bisa menolong

    Balas
  • 110. Nartono  |  Januari 30, 2008 pukul 4:49 pm

    Sudahlah kalian Wahabi Mania,ga usah berdebat masalah Bidah. Kalau kalian emang Islam,kok mau berlindung di bawah ketiak orang kafir dan minta bantuan mereka?Apakh pantas itu disebut ISLAM? ARab Saudi sudah ternoda oleh cokor cokor orang kafir gara-gara KALIAN!!!!!!!! Sedangkan kalian bangga dengan mereka. Masihkah kalian disebut ISLAM?

    Balas
  • 111. Nartono  |  Januari 30, 2008 pukul 5:06 pm

    Kalau sesuatu yg baru itu BIDAH, berarti orang yg kalian kafirkan pertama kali yaitu para SAHABAT NABI dong?.Lebih bertakwa mana kalian para Wahabi dengan PARA SAHABAT yg udah dijamin masuk sorga? AYO MANA? Udahlah wahabi, kalian ga usah NGOCEH lagi. Dimana mana kalian ini ga LAKU. JADI NGACA DONG? SADAR YA? OCE?

    Balas
  • 112. thezainic  |  Februari 6, 2008 pukul 4:04 am

    Kepada saudaraku, pandanglah peringatan maulid dan hari besar islam lainnya sebagai bagian dalam menyiarkan eksistensi agama Islam. Orang kafir pun tidak tinggal diam menyiarkan millah mereka. Apa jadinya kalau negara kita khususnya lebih menonjolkan perayaan orang kafir seperti waisak,nyepi,natal,valentines day,dll. Mungkin lebih banyak generasi Islam yang lebih mengenal tokoh-tokoh kafir dan hari-hari besarnya. Mereka akan lebih mengenal natalan daripada mauludan. Mereka akan lebih mengenal sosok valentine daripada manusia teragung dan termulia yakni Muhammad Shollalloohu alaihi wa aalihii wasallam. Mereka akan lebih mengenal 25 desember daripada 12 robiul awwal. Mereka akan lebih mengenal nyanyian duniawi yang penuh nafsu yang banyak didendangkan oleh group band,penyanyi dangdut,atau mungkin nyanyian gereja daripada tilawah quran,pembacaan sirah nabawiyyah atau sholawatan. naudzubillah.

    Ya Alloh Engkaulah Yang Maha Tahu.
    Jika peringatan mauludan dan hari besar Islam itu buruk di sisiMu. Peringatkanlah kami, tegurlah kami, berilah kami halangan yang berat untuk melakukannya.
    Engkaulah hakim Yang Maha Adil

    Balas
  • 113. nursopian  |  Februari 14, 2008 pukul 12:47 pm

    alhamdulillah di cap wahabi karena wahabi adalah nama allah dalam asma’ul husna buat bapak cinta rosul yang paling aswaja tolong ta;rif dari sunnah itu apa ?

    Balas
  • 114. nursopian  |  Februari 14, 2008 pukul 12:59 pm

    secara bahasa sunnah adalah: maa udifaa minannabbi sholallahu ‘alaihi wassalam qaulan, fi;lan wa taqriiron, tapi secara istilah sunnah ialah thooriqoh (jalan) yaitu jaalan nya nabi yang mulia beserta para sabat di dalam belajar islam ,mengamalkan islam , dan menda’wahkan islam . jadi melihat langsung praktik ibadah para sahabat rhodiallahu ‘anhum ajma’inkalau mereka merayakan maulid nabi kita juga harus merayakan , kalau mereka tahlilan ya, kiya juga tahlilan kalau mereka berjenggot kita juga berjenggot, kalau mereka qunut kita juga qunut tapi apakah mereka semua mengerjakan itu/ lihat surat attaubah ayat 100 wallaziina taba’uhum bi ihsanin kalau untuk kita , tapi kalau buat para sahabat sudahdi jamin penghuni surga makanya gelar buat mereka adalah rhodiallahu ‘anhu

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


%d blogger menyukai ini: